• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MADGIRL!


Suatu hari waktu aku masih kelas satu SMP, aku mendapati teman sebangkuku duduk murung. Waktu aku tanya kenapa, dia nangis sambil menunjukkan bekas biru di lengan atas dan pahanya. Bekas dicubit ibunya. Setelah itu, aku kerap mendengar ceritanya mengenai macam-macam kekerasan fisik yang dia alami. Mulai dicubit, dilempar barang, sampai dipukul menggunakan parutan kelapa. Waktu itu aku hanya bisa ikut sedih dan merasa kasihan. Tapi memangnya apa yang bisa kulakukan? 


Waktu aku main ke rumahnya, aku melihat sendiri bagaimana ibunya berlaku padanya. Omongan-omongan kasar yang dia tujukan ke anak kandungnya sendiri itu sungguh bikin bulu kudukku merinding (dan ikutan takut). Waktu itu usianya masih sama denganku: 12 tahun. 


Kemarin seorang teman di Facebook membagikan cerita pribadinya mengenai masalah dengan orang tua. Betapa orang tuanya tidak menghargai gaji pertamanya yang masih di bawah UMR. Dan menuntut dibelikan mobil di bulan pertamanya bekerja. Aku memahami sepenuhnya ketika dia bilang stress sampai pengen bunuh diri. Karena aku bisa membayangkan tekanan macam apa yang dia alami. Tuntutan dan ekspektasi tidak masuk akal dari orang tua yang bukan hanya bikin anak merasa terbebani tapi juga mungkin merasa gagal, merasa unworthy, dll. 


Seorang teman lain membela para orang tua. Dia bilang, meski anak memang tidak minta dilahirkan, hal itu tidak serta merta bisa dijadikan pembenaran anak berlaku kurang ajar dan enggan membalas budi. Bagaimanapun orang tua dan berjuang banyak berkorban untuk memberikan kehidupan yang baik bagi anaknya. 


Keduanya benar. Karena faktanya, anak yang kurang ajar juga memang ada. Banyak. Aku juga punya teman yang bergaya hidup layaknya bos besar ketika kuliah di kota. Gaya hidup hedon. Nongkrong di kafe dan gaul ke sana ke mari. Selalu belanja baju merek branded, kos di kos eksklusif, dan yang paling menjengkelkan dari semuanya, dia selalu bayar-bayarin temen-temennya saat nongkrong. Sambil sesumbar kalau dia bisnis sendiri. Semua anak pun terpukau dan memanggilnya bos. Bangga bisa menjadi bagian dari inner circle dia. 


Sementara, ayahnya yang bersahabat dengan ayahku menderita di kampung. Kerja keras bagai kuda sampai numpuk utang. Dan mengeluh bilang “Berat banget ya biayain anak kuliah.” Yang dijawab oleh ayahku dengan “Anakku sih udah enggak pernah minta uang lagi. Dia kerja sendiri.” Iya, aku ini. Yang di kalangan teman-teman sesama mahasiswa tidak dikenal sebagai bos melainkan si anak yang nggak asyik karena enggak bisa sering-sering diajak nongkrong. Entah alasannya sibuk kerja atau lagi enggak punya duit. :D


Kita mungkin juga sering mendengar cerita orang tua terlantar karena anak-anaknya enggak ada yang mau ngurus. Meski mampu. Mungkin banyak yang disebabkan karena dendam diperlakukan buruk oleh orang tuanya, tapi tidak menutup kemungkinan memang si anak kurang ajar aja. 


Jadi orang tua toxic memang ada, tapi anak kurang ajar juga tidak kalah banyaknya. Menurutku hal ini tidak kemudian layak dijadikan perdebatan karena kita enggak bisa memandangnya sebagai kesalahan satu pihak saja. Bahkan keduanya bisa jadi bercampur baur. Orang tua toxic melahirkan anak kurang ajar ya bisa juga kan? 


Jadi mungkin satu-satunya hal yang bisa kita lakukan sebagai spesies yang konon bijaksana adalah melihat kasus per kasus. Dan karena kita sebagai orang luar yang enggak melihat dengan mata kepala sendiri dinamika setiap keluarga, alangkah lebih baik kalau kita enggak langsung ngejudge. 


“Iya, parah banget tuh orang tua toxic emang. Ih jijik. Udah biarin aja mereka terlantar di hari tuanya.”
atau
“Kurang ajar banget anak mengeluh padahal cuma diminta bantuin bayarin SPP adiknya.” 


Kita enggak di sana. Kita enggak tahu. Kita tidak bisa melakukan apa-apa maka sebaiknya kita tidak buru-buru menghakimi.

Mau tahu cerita pribadiku?

Semua orang yang mendengar cerita pembangkanganku dari keluarga pasti akan serta merta mencap aku sebagai anak durhaka. Durhaka lari dari keluarga hanya biar bisa hidup bebas dan hedon, biar bisa berbuat maksiat sebanyak-banyaknya, mempermalukan keluarga hanya demi cinta terlarang, dan aku yakin banyak banget penghakiman-penghakiman serupa yang bertebaran. Yang salah cuma aku: si anak yang minggat dari rumah dan tidak pernah menoleh kembali ke belakang. 


Iya, aku termasuk dalam kelompok yang memakai alasan “Kan aku enggak pernah minta dilahirkan.”
Tapi tahu nggak, dulu, bahkan dengan kesadaran penuh bahwa aku enggak pernah minta dilahirkan, aku tetap berusaha jadi anak yang berbakti. Yang baik. Yang membanggakan keluarga dan bermanfaat bagi nusa, bangsa, dan agama (harapan yang apa banget untuk disematkan kepada orok yang baru lahir -__-). 


Bahkan dengan orang tua yang tidak pernah hadir dan sibuk dengan drama percintaan mereka sendiri pun aku masih berusaha ngasih yang terbaik. Aku berusaha keras biar bisa dapetin duit yang lebih banyak biar ibuku seneng. Nyari duit lebih banyak lagi biar ibuku lebih seneng lagi. Dan tetap terus berusaha meski tiap balik ke rumah ibuku selalu bilang kecewa karena aku belum kaya raya. -_-‘


Waktu itu, di dalam daftar prioritas orang-orang yang ingin aku bahagiakan, terdapat nama-nama kakek-nenekku, ibu-bapakku, adikku, dan anggota keluarga lain. Seenggaknya biar om dan tanteku bisa tutup mulut dan berhenti bikin gosip tidak masuk akal a la sinetron azab di kampung. 


Di dalam daftar itu, bahkan namaku sendiri tidak ada. Aku mengubur dalam-dalam semua hal yang aku inginkan. Aku melupakan persona dewasaku yang aku bayangkan waktu aku kecil. Aku menganggap semua passion dan impianku sendiri tidak penting. Dan aku membohongi diri sendiri. Berpura-pura jadi anak baik, santun, dan solehah. Yang tentu saja harus cantik, cerdas, dan punya banyak duit dalam waktu bersamaan. Sungguh ajaib aku tidak menjadi pecandu narkoba dengan banyaknya tuntutan, fitnah, hinaan, dan kebencian, dan rasa tidak diterima di keluarga sendiri. Eh, ya nggak ajaib banget ding. Orang duitnya enggak ada. Mabok aja cuma beli ciu plastikan, gimana mau beli narkoba. Wkwk. 


Aku sabar aja dan masih berusaha keras membahagiakan mereka meski diri sendiri enggak yakin apa itu bahagia. Sampai kemudian ibuku memutuskan untuk melangkah terlalu jauh, melanggar satu-satunya garis batas yang tersisa. Garis yang teramat tipis dan terlalu rapuh setelah selama ini kujadikan pegangan kuat-kuat.
Secara semena-mena, sisa kewarasan yang aku punya diobok-obok. Tidak hanya menghancurkan hatiku, tapi juga masa depanku. Aku sedetik ketawa sedetik menangis saking gilanya. Waktu itu. 


Ketika mengetahui kabar pelarian diriku dari rumah yang kulakukan semata demi menyelamatkan kewarasanku sendiri (entah semestinya aku bangga akan tindakan ini atau haruskah aku menyesalinya mengingat sekarang aku mulai berpikir mungkin sebaiknya aku tinggal dan mati saja) seseorang bilang padaku “Ora apa-apa, Nduk! Wong tua kaya ngono kui wis ra maladi.” Yang artinya kurang lebih “Enggak apa-apa. Orang tuamu udah enggak punya daya buat bikin kamu kualat.” Iya maaf, ini terjemahannya kurang cocok, tapi aku susah nemuin terjemahan tepatnya. 


Biasanya anak minggat dari rumah selalu dianggap durhaka dan pasti bakal kualat (terima kasih dongeng-dongeng nusantara). Tapi ada kasus-kasus tertentu ketika kutukan orang tua yang marah atau tersakiti perasaannya, tidak akan berpengaruh apa-apa pada si anak. Karena Tuhan (anggap saja memang ada) maha melihat. Dia pastilah tidak menutup mata trus ngasih privilege ke golongan tertentu hanya karena mereka orang tua. Ketika kutuk tertentu diucapkan, mungkin Dia malah dengan santai berkata:


“Ee, lha wong kamu yang kurang ajar kok seenaknya minta anakmu yang dihukum. Udah dikasih anak lucu, cerdas, pekerja keras, mandiri, nggak rewel, berbakti, gajian pertama waktu kuliah semester satu yang enggak seberapa aja dipakai buat beliin sepatu ibu, dan menggemaskan itu mbok ya tahu terima kasih, bukannya malah masih nuntut yang tidak-tidak. Sungguh cerminan makhluk yang tidak mengenal rasa syukur.” -,-


Aku anaknya emang enggak repot. Waktu kecil (mungkin baru umur tiga tahun) sendalku putus aja aku enggak minta dibeliin sandal baru. Sandalnya cuma dikasih peniti biar masih bisa dipakai ya aku nurut. Sans banget menjalani kehidupan. Ada uang saku terima kasih, enggak ya ga apa-apa. Gampang tinggal malakin anak-anak di sekolah. Eh. Udah biasa di sekolah enggak jajan. Naik angkot bayar satu buat berdua trus lari sekenceng-kencengnya sebelum sopirnya sempet ngomel. Pengen renang tapi ga bisa bayar tiket masuk, tinggal duduk pasang muka melas aja sampai yang jaga enggak tega trus bilang “Yaudah masuk sana.” Wkwkwk. Sesantai itu. Enggak pernah marah. Enggak nuntut sedikitpun. Paling mentok maksimal minta surat keterangan belum mampu bayar SPP dari Bapak kalau besok tes/ujian dan aku belum dapet kartu karena nunggak SPP beberapa bulan. Udah, itu tok. 


Setelah kejadian yang bikin aku minggat itu, Bapakku sempet menemuiku sekali. Waktu itu di teras kos, sambil nangis nggak kebendung aku sampai hati nanya “Emangnya aku pernah minta apa? Dari kecil aku pernah minta apa?” 


Bapakku dengan kepasrahan seorang ayah yang mencintai anak perempuannya tapi sekaligus takut dan tidak berdaya di hadapan istrinya hanya bisa menunduk sambil bilang “Emang nggak pernah minta apa-apa.” 


Hatiku remuk. Mungkin hati Bapakku sama saja berantakannya. Kami memiliki hubungan Bapak-anak yang baik dan menyenangkan. Bisa dibilang, dia adalah salah satu kawan terbaikku. Kami memiliki banyak in-jokes yang hanya kami yang paham. Dan biasanya tiap aku pulang, kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam ngobrol berdua. Tanpa kehadiran ibuku yang tidak memiliki selera humor yang sama. 


Ibuku toxic, tapi Bapakku baik. Ya terlepas dari berbagai macam kekurangannya yang lain sih. Masalahnya, dinamika keluargaku enggak cuma sebatas keluarga inti. Ada kakek-nenek yang merawatku dari kecil sehingga ibuku menganggap aku wajib balas budi pada mereka (kan aneh ya, orang dia yang nitipan anak, kok trus anaknya yang tanggungjawab?). Ada om dan tante yang problematik. Yang membeda-bedakan aku sama keponakan lain, yang memandang rendah, yang menghina, yang sempet-sempetnya mengarang cerita palsu biar citra diriku jadi buruk, yang memaksakan pandangannya, dan banyak lagi. 


Lahir dan besar di keluarga itu sungguh melelahkan. Karena aku harus secara konstan berpura-pura bahagia setiap saat meski sebenarnya sangat kebingungan. Diharapkan bisa membanggakan keluarga tapi saat aku butuh dukungan tentu saja tidak ada siapa-siapa. :’)


Makanya aku kemudian lari dan tidak pernah menoleh lagi. Tidak peduli seberapa keras orang-orang yang sok merasa berkepentingan berusaha menjawil-jawilku kembali. Demi Tuhan! Aku hanya ingin hidup tenang. 


Mungkin kalian bingung karena banyak sekali detail yang tidak kuceritakan. Tapi pengalaman sepanjang 25 tahun memang mustahil diringkas menjadi satu blog post kurang dari dua ribu kata. Tidak apa-apa. Kalian tidak harus paham setiap detailnya. 


Intinya, aku bisa mengerti sepenuhnya ketika ada orang yang cerita kalau dia merasa tertekan karena keluarganya memberinya terlalu banyak tuntutan. Aku mengerti ketika ada orang yang sampai ingin bunuh diri hanya karena orang tuanya meminta sesuatu yang tidak bisa dia beri. 


Anak-anak durhaka memang ada, tapi orang tua durhaka juga ada. Anak durhaka yang lahir dari orang tua durhaka ada, anak durhaka padahal keluarganya baik juga ada (mungkin karena salah gaul). Orang tua durhaka tapi melahirkan anak luar biasa penuh cinta kasih juga ada. 


Aku juga punya teman yang memiliki dinamika keluarga yang amat menyenangkan. Semua anggota keluarga saling sayang, saling support, saling menghargai satu sama lain. Tidak satupun dari mereka durhaka sampai kalau aku main ke rumahnya aku merasa ikut disayangi. Jadi ya memang rupa-rupa kehidupan berkeluarga kan? 


Jadi mungkin sebaiknya memang jangan meminimalisasi pengalaman seseorang. Hanya karena kamu “Keluargaku juga toxic tapi aku tetep balas budi,” bukan berarti semua orang harus menempuh jalan yang sama lho. Menurutku sih ini. 


Kalau masih mau menganggap aku (dan banyak anak lain) cuma cari alasan bilang keluarga toxic cuma biar bisa kurang ajar seenaknya ya silakan aja. Bukan kamu ini yang mengalami kegilaan jedug-jedugin kepala ke tembok selama setahun lebih. Bukan kamu yang punya banyak bekas luka tusukan di lutut akibat merasa sakit fisik bisa mengalihkan perhatian dari sakit batin. Bukan kamu yang paranoid sampai mual, keringat dingin, dan lemes sampai enggak berani keluar kamar. Bukan kamu yang tiap ketiduran langsung mimpi buruk dikejar-kejar dipaksa kawin sama orang yang kamu nggak kenal. :)
Udah gitu aja sih. Aku ikut seneng kalau tidurmu nyenyak.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Kita semua mungkin familiar dengan pernyataan-pernyataan semacam:
“Paling suka sama cewek yang natural enggak kebanyakan dandan.”
“Cewek natural biasanya lebih pinter daripada yang dandan karena alih-alih pakai duitnya buat beli makeup dan skin care, mereka biasanya lebih milih beli buku.”
“Cewek yang ngabisin waktu berjam-jam di depan cermin buat bikin alis sama eye liner yang sempurna pasti enggak punya waktu buat belajar.”
Dan semacamnya. 


Di era ketika semua orang udah mulai berevolusi cara pikirnya terutama dalam hal kesetaraan gender dan mengeliminasi stereotype-stereotype kuno mengenai peran gender, masih banyak aja mas-mas sok edgy yang ngomongin hal-hal kayak gitu. 


Tentu saja sebagian besar mas-mas kayak gini merasa diri mereka pinter dan berwawasan. Nah, kalau Anda segitunya pinter, berpikiran luas, dan berwawasan, kok bisa-bisanya sih enggak tahu kalau banyak banget cewek cantik seksi sekaligus cerdas berprestasi di luaran sana?


Kalau Anda segitunya open minded, kok bisa-bisanya masih terkotak-kotak banget membagi cewek ke dua golongan: cantik dan pinter. Seolah dua hal itu enggak bisa jadi satu. Seolah yang cantik enggak mungkin pinter dan cewek pinter itu ya udah semestinya enggak menarik secara fisik.
Gimana ya? Sebenernya ini bahasan lama banget tapi masih ada aja yang kayak gitu meski udah sampai bosen ngebahasnya. 


Trus sekarang yang ngeselin, banyak perilaku yang menurutku makin norak. Misalnya aja mbak-mbak pecinta alam yang kemudian trashing mbak-mbak yang suka travelling bawa koper pakai dress pink, dan pakai eye shadow glitter. Seolah cewek keren itu ya semestiya pakai ransel naik gunung, bukannya travelling manjhaaaa penuh kemewahan dengan nuansa pink bak seorang tuan putri. 


Atau ada juga yang dipuji cantik kemudian marah. Alasannya sih karena seolah enggak ada hal lain yang bisa dipuji dari dia. Lha masalahnya gini, orang kalau baru ketemu kamu, baru kenal, belum tahu kamu siapa, belum tahu hasil karya kamu, kalau mau sopan ngasih compliment yang paling gampang ya emang dari yang kelihatan dulu. 


“Kamu cantk.”
“Dress kamu bagus yaa.”
“Rambut kamu keren deh.”
Dan semacamnya. Mana mungkin orang baru ketemu sekali belum tahu kamu siapa trus mendadak komen bilang “Wah, disertasi kamu mengenai perasaan tumbuh-tumbuhan di lingkungan rumah tangga yang toxic itu benar-benar keren sekali. Sangat bermanfaat bagi masa depan house plants.”

 
Yhaa tentu saja beda kasus kamu emang terkenal banget dan hampir semua orang tahu hasil karya kamu. Wajar aja kalau ada orang baru ketemu trus komen soal karya dan bukan cuma look. Tapi bahkan pop star paling terkenal pun tetep bakal dapet komen mengenai looknya kok. Itu bagian dari pergaulan yang wajar aja. Orang-orang ini cuma berusaha sopan.
Dan menurutku, bagian dari sopan santun dasar pergaulan itu, kalau dipuji ya bilang “Terima kasih.” Bukannya marah-marah. Wkwk. 


Trus yang marah-marah gini malah dibilang keren dong. T__T
Karena apa? Ya karena edgy lah. Cool. So different. Not like the other girls. Therefore, pick me, pick me, pick me!!!


Di saat cewek-cewek lain berlomba-lomba pengen terlihat menarik biar dibilang cantik, mereka yang aslinya cantik malah ga terima dibilang cantik karena “Hey, I’m more than just the look!” Keren banget kan? Idaman!


Baiklah, aku juga pernah marah soal ini. Bukan karena marah dibilang cantik. Kalau dibilang cantik aku ya seneng banget lah. Baik itu jujur maupun cuma demi sopan santun. Wkwk. Aku akan langsung bilang terima kasih. 


Aku seringnya marah karena biasanya orang kalau nanya profesiku apa, trus pas aku jawab penulis, mereka suka enggak percaya. 


“Kamu enggak terlihat seperti penulis.”
Atau yang dengan polosnya nanya “Lho, kamu sempat kuliah?” 


Hah, aku keliatan goblok gitu? Jadi aku bukan marah karena dipuji cantik atau dikira model. Aku marahnya karena ketika aku udah bilang kerjaanku apa, trus mereka meragukan kebenarannya karena menurut mereka itu enggak cocok sama penampilanku. Ya bagaimana.
Mungkin mereka maksudnya muji gitu? Dengan mengatakan “Enggak ah, kamu enggak kayak penulis. Kamu cocoknya jadi model aja.” 


Salah saatu contoh berusaha terlalu keras yang sebenernya enggak perlu. Kalau mau muji ya cukup bilang cantik. Trus kalau tanya profesi dan dijawab yang sebenarnya ya udah enggak usah kebanyakan bicit bilang “Masa sih? Kamu? Nulis? Emang kamu bisa baca?” Wkwkwk. Hargai aja. Kalau masih pengen muji ya bilang aja keren. Udah titik. 


Jadi mungkin ini emang masalah di masyarakat aja yang masih gemar mengotak-ngotakkan dan menganggap cewek cantik biasanya enggak bisa baca. Cewek yang punya waktu buat put together satu outfit sebelum pergi keluar dianggap sudah pasti enggak peduli sama perkembangan ilmu pengetahuan. Dan sebaliknya. Cewek yang rajin baca mana punya waktu buat mix match baju, rok, sepatu, tas, topi, dan aksesoris lainnya. 


I can’t say this enough, but astaga, pemikiran kayak gini menurutku sungguh kuno. Karena banyak banget golongan cewek who can do both. Yang selalu tampil menarik, bisa makeup, keren, sekaligus well educated dan tahu banyak hal. Banyak cewek yang hampir tiap hari ngereview skin care tapi juga bisa coding ngedesain blognya sendiri. Yang outif sama rambutnya selalu lucu tapi bisa wood working. Cewek yang secantik peri dan sangat peduli sama fashion tapi dia juga sangat paham soal sejarah fashion dan enggak support brand yang non ethical. 


Cewek-cewek kayak gini banyak banget di mana-mana. Jadi kalau mas-mas sok edgy ini mengaku berpikiran terbuka dan berwawasan semestinya tahu: kalau kecantikan dan kecerdasan itu enggak harus berlawanan. Kalau mereka belum bisa liat ya berarti sebenernya mereka belum cukup teredukasi. Cuma sok aja.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Aku udah sampai enggak inget berapa kali aku bilang "Aku udah enggak mau main Tinder lagi ah." 

Kalimat itu mungkin aku ucapin setiap kali pulang kencan dan enggak berakhir baik. Hahaha. 

Tadinya emang niat awal aku main Tinder itu buat seneng-seneng aja. Tapi ternyata, bukannya seneng, hidupku malah makin miserable. Trus kenapa dong aku kok masih betah terus main Tinder? Padahal berangkat masuk aplikasi dengan peraasaan was-was, match sama orang langsung dipenuhi kecurigaan, trus ya seperti yang kalian bisa tebak. Main aplikasi kencan emang enggak ada gunanya selain buat isi waktu luang (yang sebenernya bisa dimanfaatkan buat melakukan berbagai macam kegiatan bermanfaat) dan memperparah krisis eksistensi. 

Tapi sebelum itu, mungkin ada baiknya aku jawab satu pertanyaan dulu. 

Jadi sebenernya ada sisi menyenangkan enggak sih dari main Tinder? 

Jawabannya adalah iya, ada. Kadang aku ketemu sama orang-orang yang menyenangkan dan bisa berteman sama mereka. Berteman beneran yaa, bukan berteman pura-pura padahal sebenernya cuma napsu-napsu doang. Bahkan ada yang ngasih-ngasih kerjaan segala. Sungguh menguntungkan bukan? 

Sayangnya, ketemu sama yang kayak gini tuh kejadiannya sangat langka. Paling cuma 1%. Wkwk. Sisanya ya gitu deh. Miserable, miserable, miserable. 

Trus kalau sisi enggak menyenangkannya apa? 

Wooo lha ya jelas banyaaaak. Di antaranya, 99% populasi di Tinder kebanyakan cuma main-main. Seenggaknya aku ngelihatnya dari akunku yang adalah perempuan straight yaa. Jadi kebanyakan aku ketemu cowok-cowok yang pengen ketemu sama sebanyak mungkin cewek untuk direkrut masuk asrama putri. Iykwim. 

Jadi kalau aku main Tinder buat dapetin pacar, ya bakal susah banget. Masih mending kalau cowok-cowok ini bilang jelas dari awal enggak mau pacaran. Kehidupan akan bisa kita lalui dengan lebih mudah. 

Masalahnya 98% dari mereka kan pembohong. Jadi alih-alih langsung menolak mentah-mentah, mereka bakal bikin aku merasa diterima dan disayang dulu. Kayak mereka serius aja ngajak pacaran. Kalau udah dapet yang mereka mau (yang merupakan salah satu kebutuhan dasar paling primitif), yaudah mereka akan pergi gitu aja tanpa epilog, trus langsung nyari cewek lain deh. 

Ya emang sesederhana itu kalau mau jadi bajingan di era teknologi. Kan gampang. Tinggalin yang kemarin, masuk Tinder lagi, udah langsung tersedia berbaris-baris cewek single available. Tinggal pilih. Enggak harus sesuai selera (karena beberapa orang bahkan enggak punya selera), yang penting ganti-ganti aja. Sebanyak-banyaknya. 

Oke oke. Aku juga bukan orang baik. Bisa dibilang aku anaknya adventurous juga. Tapi masa main-mainku kayak gitu rasanya udah habis di usia 20an dulu. Karena dulu emang udah aku niatkan. Aku pengen punya pengalaman sebanyak mungkin, biar ntar pas udah waktunya settle, enggak norak lagi. 

Nah sekarang memasuki usia 30an (astaga, tidak pernah terbayang olehku suatu hari bakal nulis kalimat ini), aku pengen sesuatu yang lebih stabil dan bisa diandalkan. Kan capek lah ya gerilya kenal-kenalan sama orang baru terus. Aku enggak pengen nikah, tapi aku pengen hubungan jangka panjang yang solid. Aku pengen punya pasangan yang bisa ada untuk satu sama lain dan saling support. 

Sederhana kan? Harusnya. Sayang enggak segampang itu praktiknya. Kalau cuma nyari yang mau ewe sih gampang. Aku bisa dapetin kapanpun aku butuh. Tapi kalau nyari sama yang bersedia komitmen, itu rasanya lebih susah dibanding aku harus kerja keras dan nabung biar bisa beli rumah. 

Mungkin ini yang sering bikin aku sedih. Soalnya gara-gara sering ditinggalin semena-mena kayak gitu, aku jadi mempertanyakan self worthku sendiri. Jangan-jangan aku enggak cukup berkualitas? Akhirnya aku jadi merasa undesirable, unwanted, unlovable, dll. 

Ini jelek banget buat kesehatan jiwa, aku tahu. Padahal kalau aku baca-baca artikel atau nontonin video essay tentang dating apps, ya sebenernya bukan cuma aku yang mengalami hal-hal ini. Hampir semua orang mengalaminya. Kecuali beberapa orang yang beruntung beneran dapetin pasangan yang cocok banget sampai akhirnya berkeluarga yaa karena cerita-cerita kayak gini emang sungguhan terjadi. 

Akibatnya, tercipta trust issue sama jadi ada image buruk tentang dating apps seperti:

1. Cuma orang yang desperate aja yang main dating apps;

2. Dating apps cuma buat cari pasangan sex;

3. Semua cowok di dating apps brengsek;

4. Semua cewek di dating apps fake;

and so on, and so forth. 

Semua orang mengalami pengalaman buruk menggunakan dating apps. Semua orang pernah ngerasain perihnya dighosting. Semua orang pernah mengalami sedihnya dibohongi bilang "Iya, aku juga nyari yang serius kok, siap komitmen jangka panjang," tapi ternyata jangka panjang yang dimaksud hanya sebatas dua kali ngopi dan satu sesi bobo bareng. 

Sebenernya aku berharap di dating apps ada pilihan buat misahin orang-orang yang cuma lagi nyari kesenangan sesaat sama orang yang nyari hubungan jangka panjang. Jadi yang lagi cari pacar yang bakal match sama yang sama-sama nyari pacar juga. Yaaa meski bakal banyak yang bohong, tapi seenggaknya sedikit membatu memudahkan. 

Soalnya udah susah payah nulis di bio secara jelas dan tegas juga kadang bahkan merekanya enggak baca. Udah gitu, pas chat dan bilang terus terang "Aku nyari pacar nih," juga enggak bikin mereka yang cuma nyari kesenangan sesaat ini mundur. Malah maju dengan berbagai omong kosong. Padahal kalau cuma mau sex kan ya tinggal cari yang sama-sama cuma mau sex. Biasanya banyak tuh yang nulis "FWB only." Ngapa sempet-sempetnya gangguin yang lagi mau serius coba? 

Sialnya, setelah aku merasakan sendiri kalau main Tinder sebenernya lebih banyak mudharat daripada manfaatnya, aku juga susah banget berhenti. Alasan-aalasannya antara lain sebagai berikut:

1. Instant Gratification

Jadi kalau aku lihat profil orang yang aku suka, trus aku geser kanan, dan ternyata match, itu langsung  seneng. "Yess, he likes me too." Ini yang sering aku rasain terutama dulu pas awal-awal main Tinder. Apalagi aku sendiri anaknya sangat picky dan selectif. Jarang banget swipe right kecuali aku beneran sangat suka banget sama orangnya. Baru kemudian aku tahu kalau ternyata kebanyakan cowok ya swipe right aja semuanya. Dengan alasan "Dari sekian banyak digeser kanan semua, ntar juga pasti ada yang nyantol." Heuheuheu.

2. False Sense of Power

Dating apps kayak Tinder emang dangkal banget sih sebenernya. Pilihannya cuma suka atau enggak suka dan 99% keputusan diambil berdasarkan tampang. Soalnya meski disediakan kolom bio juga banyak banget yang enggak nulis apa-apa. Aku udah nulis panjang-panjang juga bahkan enggak dibaca. 

Dengan sistem kayak gini, user jadi merasa punya power atas pilihan-pilihan yang disodorkan. Kita bisa milih yang kita suka dan enggak (tentu saja melalui penghakiman yang dangkal itu tadi) trus kayak yang sok berkuasa gitu bisa menentukan seseorang layak untuk match atau enggak hanya dalam hitungan detik. 

Aku termasuk merasa bersalah dalam hal ini karena aku melakukan yang persis sama kok. Aku ngejudge orang-orang seenaknya, aku kadang ngetawain gaya mereka, dan terutama menghina footwear mereka. Wkwk. Dan iya, aku merasa sombong juga. Sering kepikiran "Cih, apaan? You're not good enough for me." Padahal kenal aja belum. :(

This is a sad reality about dating apps and why we keep starring at our damn phone swiping. 

Hari ini aku baru bilang lagi "Mulai sekarang tiap aku merasa pengen buka Tinder aku akan ngelakuin hal lain yang bermanfaat." 

Tapi kan ngomong emang gampang. Praktiknya, siapa yang tahu? Ada saat-saat ketika aku merasa kesepian. Terlalu kesepian sampai berharap pengen curhat sambil dipeluk seseorang. Siapa saja.



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Pernahkah kalian terjaga pada pukul tiga pagi sibuk memikirkan hal-hal yang tidak ada gunanya? Tentu saja kalian pernah. Kalian semua kan pathetic. Hahaha. 

Tapi pernahkan kalian terjaga pada pukul tiga pagi, dan dengan narsisnya menggoogle nama kalian sendiri kemudian menemukan rekaman lama kalian menyanyi dan seketika ingin menggali lubang untuk mengubur diri sendiri hidup-hidup? 

Kalau belum pernah, good for you. Kalau udah pernah, sebenernya apa sih yang kalian pikirkan? 

Jadi kadang aku suka menggoogle diri sendiri. Selain untuk memenuhi hasrat narsis yang tak terkendali, kadang aku juga menemukan hal-hal ajaib semacam nemu postingan blogku dijadiin reference di blog orang (yang ini cukup membanggakan), nama blogku disebut dan dilink dari website orang, atau kadang namaku dipakai dan dibilang mereview produk tertentu padahal aku denger nama produknya aja enggak pernah. Hehe. 

Yang paling penting sebenernya karena aku mau ngecek apa aja yang tampil di Google ketika (misal) ada orang yang kepo nyari-nyari tentang aku. Karena ternyata ada hasil pencarian yang merujuk ke suatu hmm apa ya, anggap saja suatu kelompok I don't want to be associated with. 

Selain itu aku juga mau mengontrol jejak digital. Kayak yang anyeng banget yha sis, apa-apa yang kita upload ke internet beneran ga bakal ilang selamanya. Bahkan IG story yang konon ilang setelah 24 jam pun. Tadi aku bisa nemu IG storyku dari kapan tahun dong. Kan harusnya cuma aku aja yang bisa liat di arsip. 

Trus yha begitulah. Tiap Google diri sendiri hasilnya pasti beda-beda. Makanya aku suka dengan tidak tahu diri menggoogle diri sendiri for the sake of (((menjaga citra diri di depan publik))). 

Di hari-hari menyenangkan, hasil pencariannya aman-aman saja. Di hari-hari sial kayak tadi, aku menemukan rekaman lama. Ya enggak lama banget sih. Lima tahun yang lalu lah. Pernah aku menyanyi dengan penuh kepercayaan diri kemudian (dengan tingkat kepercayaan diri yang jauh lebih dahsyat) mengunggahnya ke internet. 

Waktu itu kayaknya aku pede banget dan ngerasa merdu apa gimana. Bahkan pas liat tadi awalnya aku masih senyum-senyum penuh pikiran positif. Karena seingatku ya rekaman amatir waktu itu cukup bagus. Wkwkwk. Buktinya diupload kan? 

Namun, begitu lantunan suaraku terdengar, aku langsung meringkuk dalam posisi janin, nutup muka, sambil berkata "SUARA GW NGAPA CEMPRENG GINI??" T__T

Gara-gara kejadian ini aku menghabiskan waktu yang cukup lama memandangi langit-langit kamar secara kontemplatif dan berencana untuk melakukan purging besar-besaran terhadap jejak digitalku. Seenggaknya di tempat-tempat yang bisa aku kontrol kayak blog, sosmed, dan platform lain yang aku upload sendiri.

Kenapa? Karena aku enggak mau nanti pas aku udah jadi diva internesyenel terkenal top nomor satu, jadi perbincangan semua orang, laguku ada di playlist Spotify semua orang, trus pas akunya lagi sibuk fotosyut buat cover Vogue tiba-tiba seseorang ngirimin link video YouTube Before They Were Famous dan judulnya "Isthar's real voice?" 

Kemudian semua orang akan mendengarkan rekaman suara yang bisa bikin iritasi gendang telinga itu sambil berspekulasi "Gadis ini tidak becus menyanyi. Pasti terkenal karena ikut iluminati." :(

Padahal akunya pengen ikut iluminati tapi merekanya yang enggak sudi. "Elu tuh bukan bagian dari sirkel!"

Oleh karena itu, sodaraku, marilah kita bersungguh-sungguh mematuhi pedoman "Hati-hati di internet" dan segeralah bersihkan jejak digitalmu demi masa depan yang lebih gemilang. 

Aku juga jadi inget kan, banyak pamer foto sama mantan yang juga harus dibersihin. Yha orang putusnya udah sejak beberrapa abad yang lampau. Akunya udah lupa, eh, Google menyimpan segalanya. Mengerikan memang dunia kaca hitam ini. 

Tapi yhaa, gara-gara dengerin rekamanku sendiri itu aku juga jadi ada bangga-bangganya dikit. Kayak yang aku dulu sejelek itu nyanyinya (dan anehnya waktu itu pede banget hahaha). Trus sekarang aku kalau nyanyi udah beda lah. Jauuuuuuuh lebih bagus dibanding waktu itu. Yang ini bikin aku bangga karena berarti kerja kerasku latihan sendiri emang ada hasilnya. Ada kemajuan dan aku tumbuh jadi lebih baik. 

Jadi walaupun memalukan, aku tetap menepuk diriku sendiri di bahu karena udah meningkatkan kualitas diri. Tapi ya tetep bakal aku hapus sih. Demi (((menjaga citra diri di depan publik))) itu tadi. 

Udah sih gitu doang. Sekalian say hi udah lama banget enggak masuk blog ini. Sampai banyak koloni laba-laba gini. Iyaaa, blog ini juga perlu dirapihin. Ntar nunggu blog sebelah beres dulu. Anjir aku banyak kerjaan gini ngapain sempet-sempetnya overthinking sih? Heran.

Sapa-sapa aku di Instagram yaa, biar aku ceria dan semangat ngeblog dan kerja yang lainnya. Modus ding. Maksudnya biar Instagramku bagusan gitu engagementnya. -,-


Xo,

Pelle

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Aku sering bilang, kalau apa-apa yang kita lihat di social media itu paling baru seperduajuta dari kenyataan yang sesungguhnya. Dan aku malah baru sadar betapa benarnya itu.

Kesadaran ini juga datangnya nggak serta merta, melainkan bertahap. Dan prosesnya sebenarnya sudah lama, terlalu lama bahkan. Cuma akunya aja yang terlalu lemot dan nggak kunjung paham.

Pas kuliah dulu aku punya temen yang kebetulan berprofesi sebagai jurnalis. Hubungan pertemanan kami ndilalahnya juga nggak ada kaitannya sama hal bermanfaat selain cuma sebatas senang-senang saja: mabok bareng dan tidur bareng (beneran tidur doang dalam arti yang sebenarnya karena aku nggak pernah mau ngapa-ngapain sama dia, seringnya malah ngapa-ngapain sama temennya, ngahaha).

Kami cukup akrab. Aku sering nginep di kosnya (biasanya kalau udah terlalu mabuk dan aku males pulang), dan dia juga pernah beberapa kali nginep di kosku (ajaibnya, tetep nggak pernah ngapa-ngapain). Kami nggak pernah memperbincangkan topik yang rada pakai mikir gitu. Ringan-ringan aja kayak misalnya cuaca, ban bocor, atau harga congyang yang makin lama makin naik.

Pas suatu ketika dia akhirnya tahu kalau di kampus aku pernah ikut persma, suka baca, dan kadang nulis, reaksi pertamanya adalah … nggak percaya. Bahkan secara menyakitkan dia bilang “Nggak mungkin ah, cewek kayak kamu.”

He.

Lama berselang, aku nggak pernah mengalami pengalaman sejenis. Sampai akhir-akhir ini. Beberapa bulan yang lalu, aku posting foto buku yang sedang aku baca di story facebook. Hal yang sangat jarang kulakukan. Itu juga tumben-tumbenan karena kebetulan aja bukunya udah ada di wishlist sejak bertahun-tahun lalu dan baru dapet, trus aku gembira, makanya posting.

Trus ada orang katakanlah hobi mikir tapi tidak hobi bekerja gitu yang ngirim pesan dan bilang “Aku nggak nyangka, ternyata kamu baca buku juga?”

Hehe.

Beberapa waktu setelah itu, ada orang yang terheran-heran sama gaya hidupku. Kok kayak selo banget punya seluruh waktu di dunia dan nggak ngapa-ngapain. Trus aku fungsinya di masyarakat itu apa. Kok beneran kayak numpang ngeborosin oksigen doang nggak ada gunanya.

Hehehe.

Trus beberapa waktu yang lalu aku ketemu seseorang. Kopdar lah ceritanya. Trus dia nanya aku tuh kerjaannya apa. Aku bilang “Sekarang sih lagi nulis.” Dan orangnya merasa perlu bertanya untuk meyakinkan kupingnya sendiri “Nulis??”

Seolah-olah itu adalah hal yang sangat aneh buatku. Seolah sangat jauh dari bayangan dia tentang aku.

Hehehehe.

Tentu saja aku nggak menyalahkan mereka. Karena mereka menilai dari apa yang mereka lihat dan apa yang mereka ¬sangka ketahui. Dan mereka menarik kesimpulan-kesimpulan itu dari luar.

Si jurnalis melihatku sebatas sebagai mahasiswi santai gaul ke sana ke mari dan kuat minum kayak ikan. Si teman yang ngomen storyku melihatku sebagai anak facebook penggemar jokes receh. Si teman kencan kopi daratku melihatku sebagai si toket gede yang gemar posting foto telanjang. Dan nggak lebih dari itu. Di mata mereka, aku nggak mungkin punya kualitas lebih dari itu.

Cewek yang doyan minum, bisanya cuma share humor nggak lucu, foto telanjang, dan pinter ngoral, nggak mungkin suka baca buku dan apalagi berprofesi sebagai penulis (yang dianggap harus cerdas dan memiliki kualitas tertentu).

Aku nggak tahu gimana awal mulanya, tapi cewek yang dianggap “nakal” selalu otomatis dianggap goblok. Hampir sama dengan stereotip cewek cantik hobi dandan yang dianggap nggak mungkin bisa baca. Padahal apa hubungannya?

Iya, itu typo, aku males benerin.

Balik lagi ke awal: apa hubungan semua ini dengan social media? 

Mau nggak mau, social media sekarang ya emang dianggap sebagai representasi kepribadian seseorang sih. Semacam etalase lah ya. Makanya banyak orang yang sampai rela berkorban melakukan hal-hal konyol demi pencitraan. Karena faktanya, we do judge a person by their social media.

Tentu saja dalam beberapa hal memang ada benarnya. Aku juga sering gitu. Hahaha. Misal ada cowok deketin, trus aku lihat di wallnya isinya sebaran berita hoax tolol semacam Prof. Tokuda, yha monmaap.

Cuma ya balik lagi, yang kita lihat di wall itu baru lapisan kulit luar banget. Ibarat bawang, ya baru kulit arinya yang biasanya dikupas itu. Kenyataannya, masih ada lapisan demi lapisan yang kita bahkan nggak pernah bayangkan. Misalnya aja yang nyebar hoax Prof. Tokuda bisa jadi ternyata justru penggemar film-filmnya. Cuma sengaja nyebar aja biar ramai. Biar mengaduh sampai gaduh.

Kita kan nggak pernah tahu.

Aku sendiri, apa-apa yang aku sebar di medsos, sebenernya malah lebih banyak yang nggak ada sangkut pautnya sama kehidupan nyata. Cuma ngereceh aja, sama kadang-kadang  jualan.

Aku hampir nggak pernah posting soal buku yang aku baca, karena ya biar apa? Hahaha. Aktivitas membaca buatku ya biasa aja, nggak perlu diumumin. Kecuali ada yang mau aku bahas. Dulu pernah sih beberapa kali aku nulis soal buku di sini. Tadinya mau aku jadiin series, tapi trus nggak lanjut. Nggak tahu ya, mungkin nanti-nanti bakal aku lanjutin lagi. Pernah juga aku sempet agak sering posting foto buku di instagram. Tapi cuma buat isi-isi doang waktu itu ngepasin sama warna tema feeds. -_-

Aku juga nggak pernah posting soal kerjaan. Paling promo-promo jualan. Trus udah. Nggak pernah pengumuman lagi bungkusin paket, atau posting chat mesra sama pembeli. Dahulu kala, zaman pertama-pertama banget ngolshop sih sering. Sampai foto-fotoin resi yang bertumpuk-tumpuk itu. Di akun jualan tapi. Tujuannya buat meningkatkan kepercayaan. Balik-balik ya buat kepentingan promosi.

Di akun pribadi juga pernah beberapa kali. Tapi habis itu seringnya nggak sempet lagi. Atau sebenernya sempet cuma aku males aja.

Dan aku jualan kan nggak cuma di facebook. Di facebook pun ada alter akun khusus jualan dengan market spesifik dan cuma pakai nama jualan. Yang beli, bahkan kalau sebenernya berteman sama akun pribadiku di facebook juga mungkin nggak akan pernah tahu kalau itu aku.

Dan aku nggak pernah cerita soal kerjaanku yang lain. Kadang aku nulis. Sebelum nulis buku cerita anak, aku nulis artikel buat blog dan lain sebagainya. Banyak yang pakai nama palsu karena aku cuma mau uangnya. :D

Dan banyak lagi. Banyak banget sisi kehidupanku yang menurutku nggak perlu aku bahas di medsos. Padahal aku kelihatannya kayak ceriwis ya kan? Rajin posting dan ngomongin diri sendiri ya kan? Tapi itu paling mungkin cuma 0,05%nya aja.

Yang salah menilai tentu banyak banget. Bukan hanya heran karena aku ternyata bisa baca, tapi juga yang mencap aku ini itu yang mendekati kebenaran sedikitpun enggak.

Dan mereka nggak salah. Wajar. Enggak dilarang juga. Aku juga mengerti kalau citra-citra itu yang mereka tangkap karena yang aku tampilkan emang kayak gitu kok.

Meski tadinya aku sempet heran juga sih. “Kok bisa ya fakta sesederhana aku bisa baca ternyata bisa seaneh itu di mata orang?” atau “Kok gitu aja dia heran sih?” karena aku merasa biasa aja dan aslinya emang kayak gini. Lha mereka tahu dari mana coba? Nggak salah lah.

Aku cuma lagi terkagum-kagum aja sama betapa emejingnya cara kita berprasangka dan merasa tahu hanya dari apa yang kita lihat di social media. Social media loh. Tempat orang bisa berpura-pura jadi apa saja. :D
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Dari video klip Die Antwoord - Banana Brain


Judul ini terinspirasi dari Banana Brainnya Die Antwoord tentu saja, yang entah kenapa terngiang-ngiang terus di kepalaku selama empat puluh delapan jam terakhir ini, setidaknya. 

Aku punya pertanyaan: bisakah orang mati karena jatuh cinta atau patah hati? 

Aku tentu saja terlalu malas untuk mencari jawabannya secara serius, jadi aku memilih untuk menanyakannya padamu saja, yang entah karena angin apa tak sengaja membaca ini. Jangankan serius mencari jawaban, sekadar melakukan pencarian sederhana di Google saja aku malas. 

Padahal hal itu yang akhir-akhir ini aku lakukan. Menggogle segala sesuatu, mengklik apapun yang muncul di halaman pertama, dan merasa cerdas setelah membaca beberapa paragraf di Wikipedia. Hahaha. Aku ini ikan, yang bernafas di dalam air dengan bantuan tabung oksigen. 

Begini, sebelum kau memberiku jawaban berdasarkan pemikiran mendalam yang bukan hanya berasal dari hasil pencarian google, aku ingin menjelaskan dulu latar belakang kenapa aku bisa sampai muncul dengan pertanyaan itu. 

Ini pertanyaan lama, sebenarnya. Aku pernah menanyakannya, dan kalau tidak salah aku juga pernah menemukan jawabannya. Hanya saja aku pelupa. Dan aku bersyukur karena aku pelupa. Bayangkan kalau tidak. Aku bisa terus-terusan menangis mengingat semua hal yang tidak ingin aku ingat. 

Katakanlah aku jatuh cinta. Karena perasaan itu, tentu saja wajar kalau kemudian muncul rasa rindu. Bagaimana tidak? Konsekuensi dari jatuh cinta adalah ingin bersama-sama dengan orang yang dicintai kan? Tapi bagaimana kalau dia tidak ada? 

Nah, perasaan rindu ini sebenarnya yang menjengkelkan. Dari dulu kalau rindu aku selalu mengalami gejala-gejala seperti melilit, mulas, merinding, pusing, berkunang-kunang, kurang fokus, jantung terasa bagaikan dipelintir-pelintir. Sangat menyiksa. Dan hal inilah yang membuatku bertanya-tanya. 

Bagaimana kalau gejala-gejala ini betul-betul bikin orang mati? Istilahnya bukan gagal jantung, melainkan gagal hati. 

Pernahkan ada orang yang tadinya sedang menjalani hidupnya dengan normal, mendadak teringat pada satu kenangan teramat menyakitkan dan meninggal? Atau orang lain yang sedang menjalani kehidupannya dengan santai, mendadak melihat nama orang yang pernah disayangi dan mendadak merasa begitu rindunya sampai mati? 

Kita ini tidak tahu apa-apa. Karena yang sudah mati tidak pernah kembali untuk bercerita. 

Aku sering membayangkan kehidupan setelah mati. Kita semua berkumpul di suatu tempat yang biasa-biasa saja, mungkin mirip seperti teras pertokoan. Sambil minum es kelapa dan makan tahu, seseorang berkata “Tahu nggak, dulu aku matinya tuh konyol banget. Masa cuma gara-gara aku inget mantanku kan. Mendadak aku kangeeeen banget sama dia. Beneran sakit banget aku nggak kuat lagi. Pas bangun aku udah di sini. Hahaha. Tolol banget, sumpah. Padahal lho, aku putusnya sama dia juga udah lama.”
Kita tidak tahu. Apa kita harus mati dulu untuk mencari tahu? 

Cinta adalah Distraksi

YoLandi di video klip Banana Brain
Katakanlah aku jatuh cinta. Meski temanku bilang “Itu perasaan sekilas saja kurasa.”

Dia benar. Aku juga tahu. Karena sebenarnya aku tidak pernah benar-benar jatuh cinta. Aku biasanya hanya terlalu menikmati yang tidak seharusnya. Dan aku senang menganggapnya serius meski sebenarnya bukan apa-apa. Aku suka melebih-lebihkan perasaan hanya karena aku tak punya hal lain untuk dipikirkan. 

Tapi aku tetap setuju: jatuh cinta, nyata atau tidak, lama atau hanya sementara, itu membawa kerugian tersendiri. Waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk meresapi kenangan-kenangan yang ternyata tidak memiliki arti sama pentingnya bagi orang yang kita cintai. Perasaan salah tingkah dan kecurigaan-kecurigaan tidak berguna: apa salahku sampai dia tidak memedulikanku sebesar aku memedulikannya? Apa kurangku sehingga dia bahkan tidak sedikitpun repot-repot ingin tahu tentang aku sementara aku pada titik ini, sudah tahu apa yang dilakukannya empat-lima tahun yang lalu? 

Buang-buang waktu adalah kerugian pertama dan paling nyata dari jatuh cinta. Dan ini bahkan belum apa-apa. 

Ada orang yang benar-benar bunuh diri karena urusan cinta-cintaan ini. Ada orang yang sakit jiwa karena alasan yang sama. Sampai sini aku heran kenapa jatuh cinta masih boleh dilakukan dengan bebas. Harusnya, ada semacam pil yang bisa membantu mengontrol seberapa banyak kita jatuh cinta. Jadi semuanya masih terkendali dan kita masih bisa berfungsi dengan normal sebagai bagian dari masyarakat. 

Begitu, mungkin. 

Pada akhirnya aku tidak peduli kalau suatu hari nanti aku akan mati karena apa. Toh semua orang akan mati pada akhirnya. Dan ketika saat itu tiba, aku akan menemuimu di emperan pertokoan. Kita minum es kelapa, tertawa terbahak-bahak mengetahui semua yang terjadi di kehidupan sekarang ini sama sekali tidak nyata. Dan aku akan menyenggol lenganmu sambil bilang “Tahu nggak, dulu aku tuh matinya konyol banget.” 

Pertanyaan tadi, tidak usah dijawab. Aku hanya ingin ada yang membaca ini. Dengan demikian, aku tidak merasa terlalu sendirian lagi. 

“Kamu tidak jatuh cinta, hanya kesepian,” temanku bilang.
Dia benar. Aku juga tahu. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Read: I’m better than all of you, bitches!

Dulu aku kayak gini. Merasa nggak kayak cewek kebanyakan. Tapiii aku membela diri nih ya, hal itu kulakukan sebagai respon atas tuntutan sosial masyarakat umum. Bahwa cewek itu harus begini dan begitu. Aku kesel diatur-atur dan aku nggak mau ikut-ikutan standar.

Tapi sekarang hal ini makin populer. Ngahahaha. Ya bagus sih, buat nggak nurut gitu-gitu aja sama konstruksi sosial masyarakat. Tapi sama halnya dengan pendulum-pendulum lain yang berayun kejauhan, tren inipun lama-lama malah jadi njelehi. Yang bikin aku mikir “Kalau kalian semua -the so called unique bitches- kelakuannya kayak gini, aku mending jadi basic aja.”

Aku dari dulu paling males mengaku sebagai feminis dan kalau ada orang yang ‘menuduh’ aku sebagai feminis, aku pasti buru-buru meralat. “Nggak. Aku biasa aja. Aku masih nggak masalah nonton film tiketnya dibayarin sama cowok dan kadang aku minta dibukain tutup botol akua.”

Kenapa? Karena ada feminis-feminis sok yang bukannya empowering woman, tapi malah kesempatan buat menjatuhkan perempuan lain dengan ngatain mereka goblok, lemah, kurang berpendidikan, dan mau-mau aja dandan demi membahagiakan laki-laki. Bitj, wut?

Kalau ada yang tersinggung baca ini, bagus. Di blog ini aku emang nulis tanpa filter. Blogku, sakmangapku.

Hal yang sama juga terjadi di tren “I’m not like other girls.” Tadinya hal ini fungsinya cuma buat melawan tuntutan sosial, tapi sekarang malah jadi banyak cewek yang menggunakannya sebagai senjata buat menjatuhkan banyak cewek lain hanya biar dirinya sendiri kelihatan lebih baik.

“Kamu kan cantik doang. Aku dong, pinter, lucu, baca buku yang judulnya aja udah bikin mata berkunang-kunang, cuma mau dengerin musik alternatif yang nama bandnya aja kamu belum pernah denger. Aku nggak membosankan, bla bla bla.”

Merasa lebih baik, trus membenci cewek lain. Internal misogini. Emang kalau suka dandan trus otomatis nggak bisa baca? Puh-lease.

Yang kalau dirangkum sih intinya cuma: you’re all basic and I’m better than you.

Yang jadi korban dari tren ini adalah cewek-cewek yang secara umum dilihat sebagai cantik, girly girl, suka dress, makeup, sepatu, dan hal-hal girly lain. Trus secara semena-mena mereka semua dianggap lemah dan nggak berpendidikan hanya karena suka dandan. Bitj, wut? (2)

Aku lupa udah pernah cerita apa belum. Tapi ada satu youtuber yang aku suka dan aku ikuti karena menurutku dia keren. Namanya Sorelle Amore. Konten youtubenya tentang traveling, filmmaking, dan banyak tentang fotografi. Dia terkenal dengan hashtag #AdvancedSelfie yang dia temukan untuk foto-foto yang pada dasarnya adalah selfie tapi dibuat lebih profesional. Bukan cuma selfie biasa muka memenuhi layar gitu.

Aku suka banget sama dia. Sampai sekarang pun masih ngikutin. Cuma, dulu dia pernah bikin film pendek yang bikin blunder. Di filmnya itu dia jelek-jelekin basic girls. Menurut dia, cewek yang suka pink dan glitter itu lemah, nggak menginspirasi, minus prestasi. Lebih parah lagi, dengan pedenya dia merasa sendirian karena dia satu-satunya cewek yang suka traveling, nggak suka makeup, pakai baju itu-itu aja, dan gaul sama cowok-cowok.

Yahh, di film itu banyak orang yang kesel. Karena faktanya, banyaaaaak byanget ‘basic girls’ yang suka fashion, makeup, girly things, dan tetep menginspirasi cool berprestasi. Kedua, aku merasa aneh aja. Sebagai orang yang travelling sebanyak itu, dia masa sih nggak pernah ketemu cewek lain yang kayak dia? Harusnya banyak lah. Jadi kenapa merasa so unique sampai bilang “I feel lonely,” segala? Wkwkwk.

Yahh, tapi setelah banyak komen yang membantah pendapatnya, dia akhirnya mikir dan minta maaf sih. Dan dia mengakui bikin film itu emang kurang dipikir. Dan akhirnya dia mengakui kalau cewek mau suka pakai pink dan glitter juga tetap bisa menginspirasi. Oke.

Tapiiii, ini satu contoh dari banyaaaaak orang lain yang merasa jauh lebih baik daripada cewek lain hanya karena melakukan hal yang berbeda.

“Kalian suka party pakai rok mini dan mabuk-mabukan semaleman? Aku lebih suka di kamar pakai sweatpants baca buku.”
“Justin Bieber who? I only listen to Marilyn Manson. Jiz, I’m so unique.”
“Kalian diet? Aku lebih suka makan pizza sekotak. Plus nasi padang, plus martabak manis, plus gorengan.”
“Kalian suka makeup? Aku mending tidur.”

Dan sebagainya. Banyak banget yang kayak gini yang bikin aku menghembuskan nafas ‘plis deh’.
Masalahnya, orang-orang yang nyebelin kayak gini ini bikin orang yang aslinya biasa aja jadi ikut kena getahnya juga. Misalnya aku yang ujug-ujug disama-samain kayak si ini dan si itu hanya karena mereka dengerin Eyes Set to Kill dan Alesana. Yeah, so yunik. Wkwkwkwk.


Oh, so you like The Avengers? So unique. Meh!

Yang tadinya positif, buat melawan konstruksi masyarakat dan membela diri, malah dipakai buat menjatuhkan orang lain yang nggak salah apa-apa. Kan hihhhh.

Selain Sorelle, youtuber lain yang aku rutin tonton videonya itu Amber Scholl. Dia ini kebalikannya 180 derajat dari Sorelle. Dia suka fashion, suka sepatu, suka glitter, suka berlian, ngefans sama Harry Styles, dan cewek banget gitu lah. Semua hal yang Sorelle benci dari cewek, ada di Amber.

Sebenernya secara style, aku juga nggak mungkin berpenampilan kayak Amber karena dia tuh tipe yang glamor banget gitu loh. So extra. Nggak ke mana-mana aja dia pakai dress, sepatu high heels, dan faux fur. Tapiii aku suka dia untuk banyak hal lain. Kayak dia bisa bikin baju murah kelihatan mahal, bisa nemuin barang-barang bagus tapi murah, bikin-bikin barang sendiri, dll.  Jadi buatku, baik Sorelle maupun Amber sama-sama menginspirasi. Cuma dengan caranya sendiri-sendiri.

Nah ini yang banyak orang lupa. Karena gaulnya cuma di tempurung yang itu-itu aja, jadi nggak tahu kalau dunia di luar yang dia sukai itu ya bagus juga. Trus akhirnya merasa lebih baik deh.

Aku juga paling sebel sama pelabelan dan pengkotak-kotakan. Hanya karena aku suka Sorelle, misalnya, trus aku langsung dilabeli sebagai cewek adventurous, suka sinematografi, lebih peduli pada ‘mainan’ keren kayak drone, camera gear, dll dibanding makeup.

Enggak lah. Buktinya aku suka Amber juga. Selain Amber, aku juga ngikutin banyak style vlogger lain kayak misalnya Shea Whitney, yang gayanya lebih nggak aku banget lagi karena dia itu tipe mamah muda trendy professional gitu. Tapi aku tetep suka dia karena banyak hal.

Meskipun aku sekarang lagi nggak suka pakai makeup (aku udah lama banget kayaknya nggak pakai makeup, kalau keluar juga cuma bedakan pakai bedak bayi sama pakai lipbalm gitu), bukan berarti aku benci cewek bermakeup. Malah aku respect kalau ada cewek cantik yang makeupnya bagus. Dan kalau Jeffree Star ngeluarin koleksi baru, aku masih yang “Gimme all of thooooooose!!”

Hanya karena aku suka gaya ‘alternatif’, bukan berarti aku benci cewek yang ‘basic’. Aku tetep respect sama cewek yang katakanlah pakai skinny jeans, blouse, sama nude heels. Meski basic tapi kelihatan put together. Dan aku menghargai mereka meski secara selera beda gaya dan aku tetep memuji dalam hati. “She knows how to style.”

Pada dasarnya, sama aja kayak semua hal lain di dunia, ini cuma perkara selera. Perkara beda pilihan. Bukan soal yang mana lebih baik dari yang mana.

Trus satu lagi ya, buat klen yang merasa so yunik en different and much cooler: hanya karena kalian suka dengerin music indie folk, nggak membuat kalian seunik itu. Hanya karena kalian suka makan dan nggak suka diet, nggak membuat kalian seberbeda itu. Hanya karena kalian nggak sudi minum kopi saschetan dan cuma mau minum kopi yang awalnya masih berbentuk biji, digrind di depan mata kalian sendiri dan diseduh dengan air yang suhunya terukur untuk mendapatkan tingkat keharuman dan keasaman yang pas oleh seorang barista professional di sebuah warkop edgy, nggak membuat kalian seistimewa itu.
Mengerty?

Ingaaat, semua orang di dunia ini unik. Yang itu berarti pada dasarnya kita semua sama aja. Nggak unik sama sekali. Jadi nggak usah sok. *lap umbel
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

25 February 2019

There’s not much happen to my life today, but I’ll probably never forget this day cause this is the day when I finally take my pants off, putting my glasses on, feeling sexy, and not giving a single fuck!

A big truck of ideas hit my small brain and crushed it into cramps. Leaving me realize how stupid and reckless I’ve been.

Shit happens, and they made me weak. I was distracted too far and I was out of focus. Wasting too many times to cry, to missing and thinking about everyone and even debating about options and possibility: will I finally meet the one?

I think I’m in love when I’m not even drunk. And I let myself believe that I need saving. All I did was trying to jump from a branch into other branches. I ignored the idea of digging the soil and grow myself a big strong tree.

I even questioned myself: is this a mistake? When the answer is clear: FUCK, YES, IT IS!

Why? Cause I forget all of my dreams, goals and plans and hoping that someone will do that for me instead. I was such a weak ass stupid little bitch!

*literally punching myself in the face while writing this*

NOW WHAT?


Now, I take a sit, drinking my coffee, light up a cigarette (damn, it’s good!), playing a non romantic song about pirates, robots, and missing crystal. I feel pretty much myself again. Not fully human. Part of alien, fairy, candy, or even a ketchup bottle who indeed have a heart but not planning to use it too much.

Yeah, it’s fun. Yeah, it’s okay to be bad. Yeah, be the villain cause life is not fair and this is the fucked up world. I should take nothing too seriously. Words, promises, hopes, loves, boys.

Only me can save me. Only me can protect my fragile heart. Only me can make the 6 year old me feel proud. And oh, what was my dream again? Be the star, not the moon that desperate for lights from other sources.

I’m sorry I fucked up. I was stupid, I know. Let’s start over again!

One more thing: never be completely honest. Human can be unbelievably evil.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sike! I don’t even have a plan. Lol

Jadii, Januari kemarin berjalan sangat bagus sebagai pembuka tahun.

Pada awalnya. :v

Memasuki minggu ketiga, karena satu dan lain hal, aku ketrigger dan stress dan depresi, dan menyakiti diri lagi, dan pengen mati. Wkwkwk.

I’m such a weak ass bitch, I know.

Gara-gara itu, tentu saja semuanya jadi kacau balau. Perasaan di awal-awal aku kerja sangat keras dan sangat gembira. Gara-gara masalah sepele, sekadar update blog aja aku nggak mampu. Padahal draft juga udah ada. Tinggal klik posting aja apa susahnya coba?

Sebenernya momen breakdown-nya enggak lama sih. Paling cuma dua hari, kalau nggak tiga. Pemulihannya yang lama.

Makanya aku sebisa mungkin menghindari drama tuh ya kayak gini. Aku kalau udah ketrigger, butuh waktu agak lama buat netralinnya. And I hate it, to be honest. I don’t like to be depressed, to feel low, feel so sad for no reason, and doesn’t have any will to live.

Kurasa nggak ada orang yang suka itu juga sih. Nggak mungkin ada lah, aneh.

Apa ada pelajaran berharga yang bisa kupetik dari kejadian itu? 


Hemm. Nggak tahu ya. Biasanya selalu ada pelajaran berharga yang bisa kupetik dari setiap kejadian. Tapi ini tuh apa ya, semacam nggak penting banget gitu sampai aku nggak ngerti lagi. Wkwkwk.

Kalau ada satu hal yang aku pahami mungkin cuma: aku terlalu menyetresskan hal-hal yang sebenernya biasa aja.

Jadi sebenernya masalahnya tuh nggak masalah banget. Nggak penting banget. Nggak gede banget. Tapi aku mikirinnya seolah itu berhubungan sama kiamat dan keselamatan umat manusia. Wkwkwk. Serius. Aku jadi merasa harus mundur selangkah, narik nafas, dan mikir santai.

Akhirnya aku bisa keluar dari kegilaan sementara itu dengan cara nggak mempedulikan apapun. Wong toh dari awal tahun aku udah bilang kan, nggak mau berharap terlalu banyak sama apapun (termasuk kehidupan sialan) dan bodo amat sih, emang apa ruginya juga? Apa kemungkinan terburuknya coba? Apa? Nggak ada kan? Jadi aku mikir secara berlebihan itu sebenernya konyol sih.

Hal yang Patut Disyukuri

Meski demikian, ada hal yang tetep patut disyukuri di bulan Januari. Salah satunya aku kenal sama banyak orang yang nggak tahu gimana ceritanya curhat sama aku dan ternyata kisah hidup mereka malah jauh lebih apes dari aku. Wkwkwk.



Illustration: pixabay/la_petite_femme

Maaf, aku anaknya kalau dicurhatin emang gitu. Bukannya turut prihatin tapi malah ketawa ngakak dan bersyukur: idih, ternyata yang aku alami belum ada apa-apanya ya. Hahaha.

Biasanya emang selalu kayak gitu sih. Tiap kali aku manja nggak mutu, pasti akan adaaa aja orang datang ngasih pelajaran. “Gausah cengeng lu, bajingan! Gue mengalami tujuh kali lipat dari yang lu alami. Ya sedih lah, pengen mati juga. Tapi jangan lah,” gitu kurang lebihnya. Hahaha. Lumayan, jadi nggak merasa sendirian.

Okee, so, apa aja rencana di bulan Januari yang aku ingkari?


Pertama, bullet journaling mandeg fungsinya di tengah jalan. Padahal di awal-awal udah bangus banget lohh. Tapi namanya juga orang lagi stress dan nggak peduli-peduli amat sama hidup, mana sudi ngelirik bullet journal? Akhirnya dilupain gitu aja di pojokan meja. Heuuuft.

Kedua, ini yang bikin aku sedih. Aku nggak jadi ngelanjutin nulis novel. Gimana sih. Huhu. Habisnya pas minggu-minggu awal itu aku kan sibuk banget. Trus nunda-nunda. Giliran breakdown, aku nggak peduli. Oh God! I’m sorry, me!


Ketiga, aku emang nulis dan posting cukup banyak di blog ini, tapi blog Madbelbie malah nggak aku update sama sekali. Hiks hiks. Padahal draft juga udah banyaaaak.
Mungkin itu tiga hal yang teringkari.

Sisanya, berjalan cukup baik-baik saja meski tertatih-tatih. Posting instagram tetep (sekali narsis selamanya narsis). Tapi ini lebih karena sebelumnya aku udah siapin materi dan tinggal posting-posting aja. Kalau instagram kan gampang tinggal klik klik di hape. Blog rada males karena harus nyalain laptop segala. Wkwk. Alesan aja nih.

Trus youtube tetep bisa posting and I kinda proud karena di saat rasanya kayak mau mati juga tetep bisa bikin video, wagelaseh. Padahal kan butuh effort ya, kayak latihan, rekaman, bikin videonya, ngedit, dll. Kok aku mau? Kok giliran posting blog susah? Heuuuft. Emang kebanyakan alasan aja nih, dasar! -_-

Terus buat bulan Februari gimana dong? 


Akhirnya, dengan ini aku memutuskan buat menjadwalkan semua postingan blog (aku juga udah pernah ngomong gini di postingan yang nggak tahu mana, cuma ngomong doang tibaknya), trus aku mau serius meluangkan waktu buat nulis. Serius ini. Prioritas. Soalnya aku keburu tua. Kapan lagi bisa nerbitin buku.
illustration: pixabay/skeeze

Aku juga mikir pengen ikut lomba sih. Tapi emm, ini kayaknya terlalu muluk. Lihat ntar aku ada waktu apa enggak. #bedebahsongongsoksibuk

Trus mau diy-an lagi. Januari udah mulai sebenernya. Bikin boneka, bikin tas rajut plastik, dll. Kurang banyak aja. Ngahaha.

Trus apa lagi ya? Oya, youtube lanjut, bikin lagu sendiri, sama aku pengen bikin konten lain yang bukan musik, tapi ntar dulu aku nunggu gear rada bagusan. Bukan karena manja sok kebanyakan alesan. Tapi emang butuh. Kalau cover-cover sih gpp. Lagu orang ini. Wkwk. Tapi kalau konten original kan sayang dong. Apalagi kalau produksinya serius. Masa iya mau disia-siakan dengan kualitas video yang menyedihkan.

Trus apa lagi ya? Kerja lebih keras biar bisa nabung. Hahaha. Aku pengen bikin rumah kuciiiil, yawlaaah. Ini impian sederhana banget lho ya. Rumah kucil aja gausah gede-gede.

Oooooh ya, satu lagi. Aku mau mulai declutter dan belajar hidup jadi minimalis. Soalnya aku terawang-terawang, aku bakal banyak pindah-pindah bepergian tahun ini. Karena aku nggak punya home base, barangku yang kebanyakan ini bakal nyusah-nyusahin. Mana di sini nggak ada yang namanya storage unit lagi. Ini bakal jadi tantangan berat buatku karena aku anaknya sentimental kalau sama barang.

Kaos udah bolong-bolong aja aku sayang mau jadiin lap dan masih mikir “Tapi kaaan, kaos ini udah jadi kesayangan aku selama bertahun-tahun.” T__T Plis deh. Tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin buat ‘tega’ ngelepasin barang. Mungkin dengan demikian hidupku juga akan berkurang kerumitannya. Hahaha.

Trus apa lagi ya? Banyak amat nih, sok banget. Satu lagi deh, bikin desain kaos lagi mungkin? Sama aku ada kepikiran mau jual foto dalam bentuk print gitu buat dekorasi. Hahaha. Ada yang mau beli nggak ya? Nggak ada juga nggak masalah sih. Sekali lagi, apa ruginya? Wkwk.

Sama satu lagi deh: mau berusaha lebih niat ngeblog. Kasih gambar ilustrasi yang banyak. Mungkin bikin infografik, wkwk. Kalau sempet ngegambar sendiri. Aku ada impian bikin stiker juga astaga. 
Udah dulu ya, lof! Aku mau jadwalin semua postingan habis ini. Jadi habis ini salam sayangnya otomatis yaa. Nggak semua sih. Aku pasti ntar bakal juga ujug-ujug pengen nulis apa gitu trus posting dadakan. Lagian yang udah kedraft juga cuma beberapa.

Thank you so much for being here. You are awesome! I love y’all. Kisses till next time! Byeee!

Xo,
Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

About Me

Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit conseat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amei.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Juni 2019 (2)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (15)
  • Februari 2018 (1)
  • Januari 2018 (1)
  • Oktober 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (2)
  • Juni 2017 (3)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (2)
  • Maret 2017 (8)
  • Februari 2017 (10)
  • Januari 2017 (3)
  • Desember 2016 (6)
  • Oktober 2016 (4)
  • September 2016 (6)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (3)
  • Juni 2016 (8)
  • April 2016 (1)
  • Maret 2016 (6)
  • Oktober 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • PESAN MORAL LOMBA-LOMBA AGUSTUSAN
  • Tekanan Sosial dan Kebutuhan Pamer
  • Kesumat Sang Raja Jerawat
  • SENI MENERTAWAKAN DIRI SENDIRI
  • [PEOPLE] NGOMONGIN AWKARIN DAN YOUNG LEX

Yang Nulis

Isthar Pelle
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates