• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MADGIRL!

Aku udah sampai enggak inget berapa kali aku bilang "Aku udah enggak mau main Tinder lagi ah." 

Kalimat itu mungkin aku ucapin setiap kali pulang kencan dan enggak berakhir baik. Hahaha. 

Tadinya emang niat awal aku main Tinder itu buat seneng-seneng aja. Tapi ternyata, bukannya seneng, hidupku malah makin miserable. Trus kenapa dong aku kok masih betah terus main Tinder? Padahal berangkat masuk aplikasi dengan peraasaan was-was, match sama orang langsung dipenuhi kecurigaan, trus ya seperti yang kalian bisa tebak. Main aplikasi kencan emang enggak ada gunanya selain buat isi waktu luang (yang sebenernya bisa dimanfaatkan buat melakukan berbagai macam kegiatan bermanfaat) dan memperparah krisis eksistensi. 

Tapi sebelum itu, mungkin ada baiknya aku jawab satu pertanyaan dulu. 

Jadi sebenernya ada sisi menyenangkan enggak sih dari main Tinder? 

Jawabannya adalah iya, ada. Kadang aku ketemu sama orang-orang yang menyenangkan dan bisa berteman sama mereka. Berteman beneran yaa, bukan berteman pura-pura padahal sebenernya cuma napsu-napsu doang. Bahkan ada yang ngasih-ngasih kerjaan segala. Sungguh menguntungkan bukan? 

Sayangnya, ketemu sama yang kayak gini tuh kejadiannya sangat langka. Paling cuma 1%. Wkwk. Sisanya ya gitu deh. Miserable, miserable, miserable. 

Trus kalau sisi enggak menyenangkannya apa? 

Wooo lha ya jelas banyaaaak. Di antaranya, 99% populasi di Tinder kebanyakan cuma main-main. Seenggaknya aku ngelihatnya dari akunku yang adalah perempuan straight yaa. Jadi kebanyakan aku ketemu cowok-cowok yang pengen ketemu sama sebanyak mungkin cewek untuk direkrut masuk asrama putri. Iykwim. 

Jadi kalau aku main Tinder buat dapetin pacar, ya bakal susah banget. Masih mending kalau cowok-cowok ini bilang jelas dari awal enggak mau pacaran. Kehidupan akan bisa kita lalui dengan lebih mudah. 

Masalahnya 98% dari mereka kan pembohong. Jadi alih-alih langsung menolak mentah-mentah, mereka bakal bikin aku merasa diterima dan disayang dulu. Kayak mereka serius aja ngajak pacaran. Kalau udah dapet yang mereka mau (yang merupakan salah satu kebutuhan dasar paling primitif), yaudah mereka akan pergi gitu aja tanpa epilog, trus langsung nyari cewek lain deh. 

Ya emang sesederhana itu kalau mau jadi bajingan di era teknologi. Kan gampang. Tinggalin yang kemarin, masuk Tinder lagi, udah langsung tersedia berbaris-baris cewek single available. Tinggal pilih. Enggak harus sesuai selera (karena beberapa orang bahkan enggak punya selera), yang penting ganti-ganti aja. Sebanyak-banyaknya. 

Oke oke. Aku juga bukan orang baik. Bisa dibilang aku anaknya adventurous juga. Tapi masa main-mainku kayak gitu rasanya udah habis di usia 20an dulu. Karena dulu emang udah aku niatkan. Aku pengen punya pengalaman sebanyak mungkin, biar ntar pas udah waktunya settle, enggak norak lagi. 

Nah sekarang memasuki usia 30an (astaga, tidak pernah terbayang olehku suatu hari bakal nulis kalimat ini), aku pengen sesuatu yang lebih stabil dan bisa diandalkan. Kan capek lah ya gerilya kenal-kenalan sama orang baru terus. Aku enggak pengen nikah, tapi aku pengen hubungan jangka panjang yang solid. Aku pengen punya pasangan yang bisa ada untuk satu sama lain dan saling support. 

Sederhana kan? Harusnya. Sayang enggak segampang itu praktiknya. Kalau cuma nyari yang mau ewe sih gampang. Aku bisa dapetin kapanpun aku butuh. Tapi kalau nyari sama yang bersedia komitmen, itu rasanya lebih susah dibanding aku harus kerja keras dan nabung biar bisa beli rumah. 

Mungkin ini yang sering bikin aku sedih. Soalnya gara-gara sering ditinggalin semena-mena kayak gitu, aku jadi mempertanyakan self worthku sendiri. Jangan-jangan aku enggak cukup berkualitas? Akhirnya aku jadi merasa undesirable, unwanted, unlovable, dll. 

Ini jelek banget buat kesehatan jiwa, aku tahu. Padahal kalau aku baca-baca artikel atau nontonin video essay tentang dating apps, ya sebenernya bukan cuma aku yang mengalami hal-hal ini. Hampir semua orang mengalaminya. Kecuali beberapa orang yang beruntung beneran dapetin pasangan yang cocok banget sampai akhirnya berkeluarga yaa karena cerita-cerita kayak gini emang sungguhan terjadi. 

Akibatnya, tercipta trust issue sama jadi ada image buruk tentang dating apps seperti:

1. Cuma orang yang desperate aja yang main dating apps;

2. Dating apps cuma buat cari pasangan sex;

3. Semua cowok di dating apps brengsek;

4. Semua cewek di dating apps fake;

and so on, and so forth. 

Semua orang mengalami pengalaman buruk menggunakan dating apps. Semua orang pernah ngerasain perihnya dighosting. Semua orang pernah mengalami sedihnya dibohongi bilang "Iya, aku juga nyari yang serius kok, siap komitmen jangka panjang," tapi ternyata jangka panjang yang dimaksud hanya sebatas dua kali ngopi dan satu sesi bobo bareng. 

Sebenernya aku berharap di dating apps ada pilihan buat misahin orang-orang yang cuma lagi nyari kesenangan sesaat sama orang yang nyari hubungan jangka panjang. Jadi yang lagi cari pacar yang bakal match sama yang sama-sama nyari pacar juga. Yaaa meski bakal banyak yang bohong, tapi seenggaknya sedikit membatu memudahkan. 

Soalnya udah susah payah nulis di bio secara jelas dan tegas juga kadang bahkan merekanya enggak baca. Udah gitu, pas chat dan bilang terus terang "Aku nyari pacar nih," juga enggak bikin mereka yang cuma nyari kesenangan sesaat ini mundur. Malah maju dengan berbagai omong kosong. Padahal kalau cuma mau sex kan ya tinggal cari yang sama-sama cuma mau sex. Biasanya banyak tuh yang nulis "FWB only." Ngapa sempet-sempetnya gangguin yang lagi mau serius coba? 

Sialnya, setelah aku merasakan sendiri kalau main Tinder sebenernya lebih banyak mudharat daripada manfaatnya, aku juga susah banget berhenti. Alasan-aalasannya antara lain sebagai berikut:

1. Instant Gratification

Jadi kalau aku lihat profil orang yang aku suka, trus aku geser kanan, dan ternyata match, itu langsung  seneng. "Yess, he likes me too." Ini yang sering aku rasain terutama dulu pas awal-awal main Tinder. Apalagi aku sendiri anaknya sangat picky dan selectif. Jarang banget swipe right kecuali aku beneran sangat suka banget sama orangnya. Baru kemudian aku tahu kalau ternyata kebanyakan cowok ya swipe right aja semuanya. Dengan alasan "Dari sekian banyak digeser kanan semua, ntar juga pasti ada yang nyantol." Heuheuheu.

2. False Sense of Power

Dating apps kayak Tinder emang dangkal banget sih sebenernya. Pilihannya cuma suka atau enggak suka dan 99% keputusan diambil berdasarkan tampang. Soalnya meski disediakan kolom bio juga banyak banget yang enggak nulis apa-apa. Aku udah nulis panjang-panjang juga bahkan enggak dibaca. 

Dengan sistem kayak gini, user jadi merasa punya power atas pilihan-pilihan yang disodorkan. Kita bisa milih yang kita suka dan enggak (tentu saja melalui penghakiman yang dangkal itu tadi) trus kayak yang sok berkuasa gitu bisa menentukan seseorang layak untuk match atau enggak hanya dalam hitungan detik. 

Aku termasuk merasa bersalah dalam hal ini karena aku melakukan yang persis sama kok. Aku ngejudge orang-orang seenaknya, aku kadang ngetawain gaya mereka, dan terutama menghina footwear mereka. Wkwk. Dan iya, aku merasa sombong juga. Sering kepikiran "Cih, apaan? You're not good enough for me." Padahal kenal aja belum. :(

This is a sad reality about dating apps and why we keep starring at our damn phone swiping. 

Hari ini aku baru bilang lagi "Mulai sekarang tiap aku merasa pengen buka Tinder aku akan ngelakuin hal lain yang bermanfaat." 

Tapi kan ngomong emang gampang. Praktiknya, siapa yang tahu? Ada saat-saat ketika aku merasa kesepian. Terlalu kesepian sampai berharap pengen curhat sambil dipeluk seseorang. Siapa saja.



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 

Y'all know I'm a whiny person. I complain a lot and being cynical most of the time. This ain't wrong. It's my coping mechanism ya know. For me, it's not me being negative. I'm just telling the truth. By acting this way, I can survive life a little bit easier. 

But I'm not always whiny, you see? Every once in a while, during weird times, I can talk in a less negative way. I can be cheerful and positive. Today is one of those rare days. 

Today I supposed to have a date. I made a promise to come over someone's house. We both agreed. But of course, as expected, I ended up go home feeling sad due to the last minute cancellation. "Sorry I have a recording session tonight," he said. 

But I know he's working on his new album right now. And I know how passionate he is when it comes to music and work. I think he's really on the mood to work he can't afford any kind of distraction (even when the distraction is hella cute, lol). I understand this because sometimes I get struck by some kind of revelation and all I want is just work on it. And I think about the other reasons of why he had to cancel. Like he's not in a very good situation right now, or all of the problems that comes along with the pandemic, etc. 

So I understand. Really. I am disappointed, but I'm not angry. 

Of course I feel a little bit pissed. That's why on my way home, I visited a local supermarket to window shopping. I try to have more financial responsibility but hey, window shopping ain't hurt anyone. 

So I did. Wandering around the supermarket picking up some cheap goodies that won't make me regret buying. After that, I spent the rest of the night hanging out with my friends in a coffee shop, casually chatting around things. And that's when I realize that my day went actually very well.

The Wine Making

Earlier today, me and Mia attempted to brew our own homemade wine using rice, sugar and ... sorry, the rest of the recipe is confidential. :D 

Why, tho? Because we love to drink, we miss getting drunk, but miras has becoming more and more expensive these days so we decided to make our own. 

This is our first attempt. I don't know what to expect, but I'm excited. This give me some kind of life purpose. Lol. If I felt like 'nothing on the outside, nothing on the inside' before, now I feel a little something. Just a little, but still something. 

The Photo-shoot

After that, I go to downtown Bandung cause I had a photo-shoot. It was for my friend's new clothing line. I'm not a professional model by any means, but helping a friend feels so good to me. On top of that, I had a chance to meet my other friend who also model for the line and we spent a good amount of time chatting. Mostly about kegabutan selama pandemi and how we realize that we watched too much movies during quarantine, and that how excited we are about the upcoming offline gigs that we miss badly and about the future even when none of us know what to expect. It was a good time and a pretty nice convo we had.

I haven't receive the photos yet, but here a selfie with me wearing one of the t-shirt.  Looking cool as always. No matter how pandemic, fuckbois, and life in general try to mess me up, I'm still look cool as fuck. Nope, I'm incapable to be any less cool than this, sorry. Ye, you can push me off the cliff anytime now. Lol. 

Great Friends

 

So, these are my friends. Not in full formation since one of us went camping with her friends, but these are the people that I live with and since we're still on quarantine right now, we spend basically 24 hours a day together. Hehehe. 

I used to be a loner with no real friends at all. Who I considered as friends were usually people I know in social media and that was all. But now I have people that I can talk to and be there to support me anytime I need them. To every boys I met, I always tell about how grateful I am to have them not just as friends, but also family. 

A New Pair of Shoes

All of my friends know my obsession towards shoes. I love shoes. I even judge people by their shoes. And that's why, when my friend give me a new pair of shoes, I feel like it's the purest form of love. Hahahahaha. 

 

Anyway, don't give me flowers on Valentine's day. Give me shoes. But if you don't have time to buy shoes for me, fresh money will do. Thank's!

Shopping Therapy

As I mentioned earlier, I went window shopping to cheer myself up. But I picked up some things too. I keep telling myself not to waste my money so I didn't. Clearly I don't have that much time of money to waste so I just picked what I really need. 

Like this new bra. 

 

I desperately need a new bra and after a very very very looooong session of looking and guessing, and measuring, I finally found one that fits me. Do you even have any idea on how hard it is for me to find a perfect bra? I am pretty thin I can say but I have big boobies. Finding a well fitted bra always been a challenge to me. Even when I go to a fancier underwear store, there's no guarantee that I will find a perfect bra for me. The struggle is real, yo! Even the shop assistants usually get stressed helping me find the perfect one. Lol. 

So, when I finally find a bra that actually fits and in a good price (read: cheap), I have nothing to complain about. 

Umm, not really. I have to complain to the lack of size range and why all of those bras have too much padding on them? Like I don't need padding, I have more than enough so can anyone fix this? Wider cup size range, please!

Nail Polishes

I love nail polishes. I have my nails covered with nail polish for years. Well, sometimes I have one or two days off not wearing them but that's extremely rare. I ran out of nail polishes since I use them a lot and the other ones were drying. And looking at my nails being naked is just the weirdest feelings to me. So of course, buy new polishes is a necessity. Nail polish is basic needs. 

 

I pick a black one cause I love black nail polish (obviously) and the blue one cause it's just soooo pretty. Buying this stuff and try it for the first time made me think about writing again on my other blog about beauty to review product like this. Kinda miss being a beauty blogger, tho. 

Hair Ties

 

I live with my girl friends and we share a lot of things including hair ties. Us being us, we lost stuff all the time. No one ever knows where all the ties gone. Lol. So this is another basic needs that I need to buy. And these are really cheap. IDR 2,5k for two. Like what? 

Puff Puff

 

Being a smoker, cigarettes also become basic needs that I need to buy daily. We joke around about lacking of money, but still prioritize buying cigarettes. Cause you know, being able to smoke make life a lot more bearable. No matter what come to me, as long as I can still smoke, then I'll be fine. 

I've been spending too much time working on this entry. Mostly because of the internet connection that suddenly decided to act like a dumb bitch every time I try to work on something. But I'm having so much fun creating all of these. And I'm happy now. Yay! I am happy for real. I know, right? Hehehe. 

Anyway, I have a lot of things to do tomorrow but I still have so much energy. So maybe after this, I will make some drawings and read a bit then go to sleep. 

It is a good day, everyone. And I'm really grateful for everything that I have today. And hopefully this feeling last longer. So I can feel that I matter and worth living. I don't know. What I know is that happiness lays on simple everyday things. Glad that I get it now.

Until next time!

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
  

Barusan di Instagram aku kenalan sama fitness brand yang nyari brand ambassador buat produk mereka. Karena aku anaknya celamitan, aku nanya-nanya caranya. Seperti yang sudah bisa ditebak, itu hanya salah satu strategi marketing buat nyari fitness babe yang mau beli produk mereka, foto, direpost, kemudian dikasih personalised promo code sebagai kompensasinya. Komisinya lumayan sebenarnya: 30% per item. Kalau seandainya niche Instagramku fitness dan aku punya cukup banyak pengikut setia yang akan rela ngeluarin duit 60an dollar buat beli setelan legging sama sport bra, maka aku akan mendapatkan cukup banyak uang.

Dalam hal ini, brand yang bersangkutan enggak ngebayar si "ambassador". Malah nyuruh si ambassador beli dulu produknya, Wkwkwk. Tapi sistem kerja sama dengan promo codes kayak gini menurutku cukup adil. Terutama bagi influencer yang baru mau belajar jalan, baru nyari followers, lagi mau ngembangin social media mereka. 

Baru aja tadi malem aku nonton videonya Peter McKinon (ma bae, mumumu) tentang awal mula karirnya dulu gimana. Sebagai fotografer dan videografer yang sekarang udah memiliki banyak pengikut, Peter udah nggak kesulitan lagi dapet klien. Ibaratnya klien sekarang berdatangan ketuk pintu nawarin kerjaan. Tapi apa dulunya langsung gitu? Enggak. 

Secara terang-terangan Peter bilang nggak ada salahnya kerja gratisan. Dulu awalnya dia beli-beli produk dari merek yang dia bidik, Dia bikin foto-foto cantik, dia upload sambil ngetag si brand. Itu pun awalnya dicuekin. Habis itu dia beli-beli lebih banyak produk, upload-upload lagi sampai akhirnya dinotice "Hey, we love your work, can we reupload it?" 

Yang dia jawab "Tentu saja. Eh, ngomong-ngomong kalau misal kamu butuh foto buat promosi dan konten di website, bisa ke aku aja. Foto pertama gratis." 

Dia nawarin kerja gratisan secara sukarela. Habis itu si brand ngirimin banyak barang buat difotoin (gratis), lama-lama bayar, trus sekarang Peter punya merch kerjasama bareng mereka. Dan jadi best friend sama pemiliknya.

Itu jalan panjang yang harus dia tempuh hanya demi menarik perhatian satu brand. Jadi emang bener kalau dulu ada orang yang bilang "Rahasianya adalah nggak ada rahasia. Only lots of works." 

Kerja gratisan nggak selalu buruk, apalagi kalau kita baru mulai. Banyak alasan kenapa kerja gratisan baik:

Portofolio


Kerja gratis yang kita lakukan bisa jadi tambahan portofolio. Portofolio ini penting banget apapun bidang kerjaan kamu. Karena ini modal dasar buat ditawarin ke calon klien nanti-nantinya. 

Batu Loncatan


Nggak cuma portofolio, hasil kerja gratisan ini bisa juga jadi batu loncatan. Kayak Peter pernah sekali bikin video promotional gratis buat satu merek, trus habis itu ada brand lain yang tertarik dan minta dibikinin video yang serupa. 

Keuntungan Lainnya


Ada banyak kok keuntungan lainnya. Misalnya, fotomu direpost trus kamu nambah followers. Kan lumayan. Hey, di zaman seperti sekarang kan followers itu aset. Yang rela jadi goblok demi ningkatin followers aja banyak. Kalau cuma kerja gratisan ya masih jauh lebih mending lah. 
Selain itu kalau kayak kasus fitness brand yang aku bahas di awal tadi, kita masih bisa dapet keuntungan dari promo codes. Kalau ada penjualan ya kita untung juga. Jadi itungannya nggak gratis-gratis amat. Malah bisa menang banyak. 

Nah, di sinilah letak kesalnya aku sama kemiskinan. Mempelajari penawaran itu sebenernya aku sangat tertarik. Apalagi lihat produk mereka yang emang bagus sih. Ibaratnya aku juga pasti bakal beli kalau aku banyak duit. Cuma sayangnya masih mahal. 60 dollar satu set itu sama aja kayak aku kerja keras nulis artikel sebulan. Wkwkwkwk. Murah amat sih tarifku, bangsat! Tapi nih, kalau aku banyak duit, aku akan melakukannya dengan senang hati. Kenapa enggak? Aku bahkan akan rajin bikin konten fitness dan home workout biar bisa mamerin setelanku dan bikin orang pada beli. Hahahahaha. 

Tapi ya sayangnya sekarang aku lagi terlalu kere sehingga kesempatan semacam ini pergi begitu saja. Bahkan untuk kerja gratisan pun aku nggak bisa. Bayangkan! Kurang sedih gimana? Wkwkwk. Nggak ding, aku nggak sedih, biasa aja. 

Sebenernya banyak sih contoh lain kayak misalnya salah satu Youtuber yang sering aku tonton Nava Rose yang suka bikin konten fashion sama DIY. Bertahun-tahun dia bikin konten pakai produk-produknya DollKills dan nggak pernah dinotice. Sampai akhirnya dinotice juga, direpost, dan mungkin nextnya bisa dapet tawaran sponsor atau mungkin malah kepilih jadi angel. 

See? Kesempatan bisa banyak berdatangan ketika di awal kita mau kerja walau itu gratis. 

Yaaa, ya. Tentu saja bukan berarti habis ini kita menyerah pada kuasa pemilik modal dan kerja gratis selama-lamanya. Dengan followers kita yang meningkat, jam kerja yang  makin tinggi, dan portofolio yang makin banyak, kita akan memiliki daya tawar. Saat itulah kita bisa nego. Baik tarif per postingan maupun jumlah komisi yang kita dapatkan. 

"Know your worth!" they said. Dan itu memang benar. Bahkan dari awal kita bersedia kerja gratis juga bukan berarti kita menempatkan diri kita sebagai pengemis job yang nggak punya harga. Kita tetap tahu betul value kita. Kerja-kerja gratis itu hanya bagian dari anak-anak tangga yang harus kita panjat untuk sampai ke sana. 

Secara pribadi, aku belum pernah sih kerja gratisan. Kalau kerja dengan tarif sangat murah nggak masuk akal baru pernah. Dulu aku pernah nulis artikel bayarannya cuma lima ribu per judul. Lima ribu! Kalau mau bisa makan hari itu seenggaknya aku harus nulis lima artikel. Dan aku melakukannya. Kerja keras bagai quda cuma buat uang makan. Aku melakukannya dengan effort yang sama dengan yang kulakukan saat aku nulis artikel bertarif ratusan ribu sekarang. Karena aku mau semua yang aku hasilkan beneran bagus. Jadi di saat ada yang nanyain portofolio aku bisa dengan mudahnya nyodorin hasil kerjaan yang bener-bener berkualitas hasil usaha maksimal, bukan kerja asal-asalan.

Begitulah. Mudah-mudahan sih tulisan ini nggak ditelan mentah-mentah. Masih banyak banget yang harus dipertimbangkan. Kayak aku sekarang nggak akan keberatan kalau disuruh kerja gratisan selama masih ada keuntungan buatku di kemudian hari. Kalau nggak ada ya ngapain? Hahahaha. 



*ditulis dalam keadaan gabut libur lebaran di tengah pandemi sambil ngitung kerjaan-kerjaan yang belum kebayar, banyak juga lumayan oi! -__-
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Aku udah pernah cerita apa belum sih, soal cita-cita? Pastinya udah sih ya. Sering malah. Hihihi. Kalau ditanya cita-citaku pengen jadi apa, dari kecil aku selalu jawab "Mau jadi penyanyi." Sampai sekarang pun masih. Kalau aku punya kesempatan untuk menyanyi dan dibayar, tentu aku akan menjalaninya dengan penuh suka cita lah. Makanya sungguh tidak aneh kalau aku mempertimbangkan pekerjaan sebagai pemandu karaoke. Karena yha kerjanya nyanyi beberapa jam, dapet duitnya lebih banyak dibanding nulis seharian. (((hoiiii)))

Sayangnya hidup memaksaku untuk gagal dan belajar menerima kenyataan. Mau jadi penyanyi, bahkan sekadar biduan dangdut di hajatan sekalipun, ternyata enggak mudah. Ya mungkin jujur aja dalam hal ini aku belum pernah yang serius banget ngejar gitu sih. Paling ikut lomba beberapa kali sama bikin video youtube. Jadi kalau dibilang gagal ya sebenernya enggak juga. Karena aku belum pernah benar-benar mencoba. Entahlah, mafren. Banyak hal yang bikin aku nggak yang fokus banget ngejar karir di dunia musik. Banyak hal. Keterbatasan bakat salah satunya. Wkwkwkwk.

Oke, anggap saja menjadi penyanyi bukan lagi pekerjaan impian, cuma hobi sampingan aja. Trus apa sih sebenernya kerjaan yang paling aku suka?

Mungkin aku udah sering, terlalu sering mengulang-ulang cerita suksesku ketika jualan baju. Post power syndrome banget iya sih. Tapi ya gimana. Kenyataannya aku suka banget menjalani peran itu. Aku kangen banget jualan baju. Aku kangen banget bantu pembeli milih outfit yang cocok buat mereka dan bikin mereka menjadi lebih bahagia dan percaya diri. Aku kangen semuanyaaaa.

Aku emang punya passion di bidang fashion sejak lama. Mungkin sih gara-gara pas remaja terlalu terpengaruh sama film-film kayak The Devil Wears Prada, Confession of A Shopaholic, dan Sex and The City. Atau pengaruh-pengaruh lain yang mungkin aku sendiri nggak sadar masuk ke otak bawah sadarku. Di samping sejak kecil emang aku ngebantuin ibuku jualan baju. Tapi itu lain hal.

Ibuku sendiri selalu bilang seleraku buruk. Ketika mungkin sebenarnya cuma beda aja dan beliau nggak paham. Buat ibuku modis itu ya anggun, basic, elegan, dan semacamnya. Sementara aku lebih suka gaya alternatif. Kalau dideskripsikan mungkin gambarannya kayak e-girl zaman sekarang gitu lah.

Itupun aku masih terkendala lagi banyak hal. Misalnya, nggak punya duit buat beli bajunya. Hahahahaha. Nggak usah diceritain juga kali ya, bagian ini, -,-

Singkat cerita, aku punya ketertarikan yang sangat kuat di bidang fashion. Kalau sekarang aku masih boleh punya cita-cita, aku pengen berkecimpung di industri fashion entah bagaimana caranya. Jadi model, udah nggak mungkin. Mimpi aja. Jadi desainer, pengen banget sih astaga, tapi aku kan nggak bisa menggambar. Paling pol mentok bikin-bikin desain kaos sendiri. Huvt.

Jualan baju, yha aku suka dan mau banget lah. Nggak ada perasaan yang lebih indah dibanding melihat pembeli wajahnya berbinar-binar, merasa cantik karena pakai baju yang memaksimalkan kecantikan alaminya. Atau aku pengen juga jadi stylist atau professional shopper gitu, hihhh. I wiiiish.

Karena sekarang aku lagi belum bisa jualan lagi ya aku sabar aja. Paling pol jualan kaos. Hehehe. Dulu aku masih sempet-sempetin jualan kaos pakai bikin OOTD set. Menyalurkan sedikit hasrat mendandani orang lah. Sekarang udah nggak lagi sih.

Kemudian, kemarin aku dapet job nulis tentang fashion. Astaga, cuma gitu aja aku udah seneng banget. Hemm. Did you hear that? That was my heart, falling in love.

Kebetulan temanya tentang desainer lokal Indonesia. Sialnya, selama ini aku malah nggak ngikutin perkembangan fashion dalam negeri karena aku pikir boring aja gitu nggak menarik. Ternyata oh ternyata, aku ketinggalan banyaaaaaak. Desainer-desainer Indonesia banyak yang gayanya asyik. Sepanjang riset jantungku berdebar-debar. Rasanya mirip banget kayak kalau lagi jatuh cinta sama cowok. Eh, enggak ding, malah lebih parah deg-degannya. Antara mau nangis haru sama pengen pingsan. Saat itulah aku tahu, ibarat ikan, maka fashion itu airku.

Aku nggak tahu ke depannya hidup mau bawa aku ke mana. Kemarin-kemarin aku sempet agak fokus ke musik, ternyata enggak membawaku ke mana-mana. Hahahaha. Dan musik nggak bikin aku berdebar sampai segitunya sih. Lebih parah fashion lah asli, parah banget mau nangis.

Tentu saja aku masih punya banyak keinginan. Masih aku simpen dulu. Sambil aku melihat dari kejauhan. Aku nggak peduli sekalipun ibuku selalu bilang seleraku jelek. Buktinya aku bisa membahagiakan banyak orang yang beli bajuku dulu. Yang penting aku mau kerja di bidang ini, entah gimanapun jalannya. Nulis kolom tentang fashion kayak Carrie Bradshaw juga aku mau banget mau banget mau banget.

Dengan nulis ini, aku semacam meyakinkan diriku sendiri kalau memang ini yang aku mau. Dan aku udah berada di jalan yang benar selama ini. Aku nggak kesasar.

Semoga wabah-wabahan segera berakhir, dan aku cepet kerja di bidang yang aku suka. Dan cepet kaya raya. Amin. Hihihihi.

I love you, me. :*
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Foto profil yang akhirnya dipakai. Lol

Omg!
Akhirnya aku ngeblog lagi. Waaaaw.
Nggak usah seneng dulu! << ngomong sama diri sendiri. Karena sebenernya postingan ini tak lain dan tak bukan hanyalah upaya untuk menunda-nunda pekerjaan. Ngahahaha.

Jarang ngeblog kalau dulu alesannya males, nggak ada waktu, sibuk, dan lain sebagainya. Sekarang sebenernya aku nggak sibuk sama sekali. Jauh lebih nggak sibuk dibanding dulu saat aku nggak sibuk.

Kalau dulu rate kebergunaanku di muka bumi ini ada di angka 0, maka sekarang udah minus. Itupun minusnya banyak.

Singkat cerita, karena saking nggak sibuknya, akhirnya aku jadi nggak punya kegiatan dong. Karena nggak punya kegiatan ya akhirnya aku nggak punya bahan buat diceritain, gitu lho. But damn! I miss blogging.

Kabar baiknya, status ketidakbergunaanku itu tidak bertahan lama. Selama periode tidak berguna, aku sibuk nyari kerjaan ke sana ke mari. Masuk-masukin lamaran, kirim-kirim CV, nyari-nyari job freelance, dan banyak deh. Mulai dari jadi waitress, penjaga kantin, sampai kerja di karaoke. Pokoknya semuanya aku coba dan kerjaan apapun akan aku ambil. Jadi kalau ada yang sampai hati berkata "Yha usaha dong!" rasanya sungguh ingin kupancal ndasnya.

Semua usaha itu tentu saja tidak banyak menghasilkan, kecuali sekumpulan harapan palsu. Enggak apa-apa sih. Udah biasa kalau cuma dikecewakan sih.

Nah, akhirnya, sesuai hukum probabilitas, dari berjuta-juta kegagalan, pastilah ada yang nyantol juga. Singkat cerita aku dapet job menulis lagi. Yaaaayyyyy!!! Kali ini buat klien luar negeri jadi in enggres tapi ya bayarannya juga mashook banget kok. Aku juga suka karena 'agent'nya (idk how else to call her) sangat baik dan profesional. Sa suka bekerja bersama rang-orang profesional tuh. Komunikasinya jelas, efektif, nggak khawatir untuk ngasih kritik dan masukan, dan yang jelas nggak perlu pakai drama.

Kemudian, paymentnya kan harus pakai PayPal. Nha akutu belum punya akun akutu. Jadi sebelumnya aku bikin dulu kan. Karena buru-buru, tak sempatlah aku mengupload foto profil. Aku mikirnya, "Ntar aja lah, gempil." Hahahaha.

Yang ternyata ... tidak gempil sama sekali.

Tadi berhubung rasanya lagi pengen menunda-nunda pekerjaan, aku masuk ke akun paypalku dengan maksud dan tujuan untuk mengganti foto profil. Aku pikir bakal gampang dong, ya kan? Biasanya juga pasti ada di menu profil atau setting. Kan?

Tentu saja tidak ada.

Kucari dan selalu kucari, tetep nggak ketemu. T___T

Berhubung aku adalah anak yang tumbuh dewasa di era internet, aku tak kehabisan akal. Langsung kuketik di google search bar "Cara Mengganti Foto Profil di Paypal." Ketemu hasilnya, Google tidak pernah mengecewakan. Sayangnya, itu adalah artikel dari tahun 2015.

Yap! Betul! sudah lima tahun kadaluarsa. Dan tentu saja udah nggak berguna lagi lah, orang tampilan PayPalnya aja udah ganti. Heuuuuft.

Setelah menghabiskan beberapa puluh menit di google dan halaman komunitas, disela main sama para kucing, akhirnya aku tercerahkan. Oleh artikel tutorial? Tidak sama sekali. Melainkan oleh kecerdasan dan keberuntunganku sendiri.

Singkat cerita, aku iseng masuk ke halaman PayPal dot Me. Bukan PayPal dot com. Aku masih muter-muter di situ sampai aku akhirnya menyadari bahwa di sudut kanan atas ada menu MyPayPalMe atau apalah lengkapnya, lupa aku males cek. Intinya kayak halaman profil kita itu.

Nah, di situuuuu, di situuuuu akhirnya aku menemukan menu 'manage profil' dan bisa mengganti foto profilku semudah mengganti foto profil di platform social media lain.

Luar biasa sekali bukan, pengalamanku hari ini?

Tapi oh, kerumitan foto profil ini tidak berakhir sampai di situ saja mylof, karena habis itu aku terlalu repot memilih foto mana yang akan aku pakai. Akutu baru sadar kalau ternyata aku enggak punya foto profesyenel gitu lho. Yang layak dipasang di cover buku bagian Tentang Penulis atau biasanya ditaruh di pamflet acara buat para pembicara itu lhooo. Aku nggak punya satupun. Foto-fotoku cuma ada dua macem: kalau nggak alay kayak orang gila ya telanjang. Hahahahaha.

Syukurlah, setelah bolak balik keluar masuk folder, akhirnya aku tercerahkan dengan adanya foto ini. Yang tetap nampak imut menggemaskan, cukup sopan, dan terlihat terpelajar. Wkwkwkwk.

Udah ah.
Btw, this is fun!
Dan aku baru nyadar dari kemarin aku stress pengen berkeluh kesah tapi malu kalau dibaca orang. Kan tinggal aku tulis di sini aja ya. Nggak ada yang peduli ini. Heuheuheu.

Kayaknya besok-besok kalau seluruh dunia udah kembali sehat, aku bakal ngapeh-ngapeh cantik sembari berghibah ngeblog.

Oke byee!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Read: I’m better than all of you, bitches!

Dulu aku kayak gini. Merasa nggak kayak cewek kebanyakan. Tapiii aku membela diri nih ya, hal itu kulakukan sebagai respon atas tuntutan sosial masyarakat umum. Bahwa cewek itu harus begini dan begitu. Aku kesel diatur-atur dan aku nggak mau ikut-ikutan standar.

Tapi sekarang hal ini makin populer. Ngahahaha. Ya bagus sih, buat nggak nurut gitu-gitu aja sama konstruksi sosial masyarakat. Tapi sama halnya dengan pendulum-pendulum lain yang berayun kejauhan, tren inipun lama-lama malah jadi njelehi. Yang bikin aku mikir “Kalau kalian semua -the so called unique bitches- kelakuannya kayak gini, aku mending jadi basic aja.”

Aku dari dulu paling males mengaku sebagai feminis dan kalau ada orang yang ‘menuduh’ aku sebagai feminis, aku pasti buru-buru meralat. “Nggak. Aku biasa aja. Aku masih nggak masalah nonton film tiketnya dibayarin sama cowok dan kadang aku minta dibukain tutup botol akua.”

Kenapa? Karena ada feminis-feminis sok yang bukannya empowering woman, tapi malah kesempatan buat menjatuhkan perempuan lain dengan ngatain mereka goblok, lemah, kurang berpendidikan, dan mau-mau aja dandan demi membahagiakan laki-laki. Bitj, wut?

Kalau ada yang tersinggung baca ini, bagus. Di blog ini aku emang nulis tanpa filter. Blogku, sakmangapku.

Hal yang sama juga terjadi di tren “I’m not like other girls.” Tadinya hal ini fungsinya cuma buat melawan tuntutan sosial, tapi sekarang malah jadi banyak cewek yang menggunakannya sebagai senjata buat menjatuhkan banyak cewek lain hanya biar dirinya sendiri kelihatan lebih baik.

“Kamu kan cantik doang. Aku dong, pinter, lucu, baca buku yang judulnya aja udah bikin mata berkunang-kunang, cuma mau dengerin musik alternatif yang nama bandnya aja kamu belum pernah denger. Aku nggak membosankan, bla bla bla.”

Merasa lebih baik, trus membenci cewek lain. Internal misogini. Emang kalau suka dandan trus otomatis nggak bisa baca? Puh-lease.

Yang kalau dirangkum sih intinya cuma: you’re all basic and I’m better than you.

Yang jadi korban dari tren ini adalah cewek-cewek yang secara umum dilihat sebagai cantik, girly girl, suka dress, makeup, sepatu, dan hal-hal girly lain. Trus secara semena-mena mereka semua dianggap lemah dan nggak berpendidikan hanya karena suka dandan. Bitj, wut? (2)

Aku lupa udah pernah cerita apa belum. Tapi ada satu youtuber yang aku suka dan aku ikuti karena menurutku dia keren. Namanya Sorelle Amore. Konten youtubenya tentang traveling, filmmaking, dan banyak tentang fotografi. Dia terkenal dengan hashtag #AdvancedSelfie yang dia temukan untuk foto-foto yang pada dasarnya adalah selfie tapi dibuat lebih profesional. Bukan cuma selfie biasa muka memenuhi layar gitu.

Aku suka banget sama dia. Sampai sekarang pun masih ngikutin. Cuma, dulu dia pernah bikin film pendek yang bikin blunder. Di filmnya itu dia jelek-jelekin basic girls. Menurut dia, cewek yang suka pink dan glitter itu lemah, nggak menginspirasi, minus prestasi. Lebih parah lagi, dengan pedenya dia merasa sendirian karena dia satu-satunya cewek yang suka traveling, nggak suka makeup, pakai baju itu-itu aja, dan gaul sama cowok-cowok.

Yahh, di film itu banyak orang yang kesel. Karena faktanya, banyaaaaak byanget ‘basic girls’ yang suka fashion, makeup, girly things, dan tetep menginspirasi cool berprestasi. Kedua, aku merasa aneh aja. Sebagai orang yang travelling sebanyak itu, dia masa sih nggak pernah ketemu cewek lain yang kayak dia? Harusnya banyak lah. Jadi kenapa merasa so unique sampai bilang “I feel lonely,” segala? Wkwkwk.

Yahh, tapi setelah banyak komen yang membantah pendapatnya, dia akhirnya mikir dan minta maaf sih. Dan dia mengakui bikin film itu emang kurang dipikir. Dan akhirnya dia mengakui kalau cewek mau suka pakai pink dan glitter juga tetap bisa menginspirasi. Oke.

Tapiiii, ini satu contoh dari banyaaaaak orang lain yang merasa jauh lebih baik daripada cewek lain hanya karena melakukan hal yang berbeda.

“Kalian suka party pakai rok mini dan mabuk-mabukan semaleman? Aku lebih suka di kamar pakai sweatpants baca buku.”
“Justin Bieber who? I only listen to Marilyn Manson. Jiz, I’m so unique.”
“Kalian diet? Aku lebih suka makan pizza sekotak. Plus nasi padang, plus martabak manis, plus gorengan.”
“Kalian suka makeup? Aku mending tidur.”

Dan sebagainya. Banyak banget yang kayak gini yang bikin aku menghembuskan nafas ‘plis deh’.
Masalahnya, orang-orang yang nyebelin kayak gini ini bikin orang yang aslinya biasa aja jadi ikut kena getahnya juga. Misalnya aku yang ujug-ujug disama-samain kayak si ini dan si itu hanya karena mereka dengerin Eyes Set to Kill dan Alesana. Yeah, so yunik. Wkwkwkwk.


Oh, so you like The Avengers? So unique. Meh!

Yang tadinya positif, buat melawan konstruksi masyarakat dan membela diri, malah dipakai buat menjatuhkan orang lain yang nggak salah apa-apa. Kan hihhhh.

Selain Sorelle, youtuber lain yang aku rutin tonton videonya itu Amber Scholl. Dia ini kebalikannya 180 derajat dari Sorelle. Dia suka fashion, suka sepatu, suka glitter, suka berlian, ngefans sama Harry Styles, dan cewek banget gitu lah. Semua hal yang Sorelle benci dari cewek, ada di Amber.

Sebenernya secara style, aku juga nggak mungkin berpenampilan kayak Amber karena dia tuh tipe yang glamor banget gitu loh. So extra. Nggak ke mana-mana aja dia pakai dress, sepatu high heels, dan faux fur. Tapiii aku suka dia untuk banyak hal lain. Kayak dia bisa bikin baju murah kelihatan mahal, bisa nemuin barang-barang bagus tapi murah, bikin-bikin barang sendiri, dll.  Jadi buatku, baik Sorelle maupun Amber sama-sama menginspirasi. Cuma dengan caranya sendiri-sendiri.

Nah ini yang banyak orang lupa. Karena gaulnya cuma di tempurung yang itu-itu aja, jadi nggak tahu kalau dunia di luar yang dia sukai itu ya bagus juga. Trus akhirnya merasa lebih baik deh.

Aku juga paling sebel sama pelabelan dan pengkotak-kotakan. Hanya karena aku suka Sorelle, misalnya, trus aku langsung dilabeli sebagai cewek adventurous, suka sinematografi, lebih peduli pada ‘mainan’ keren kayak drone, camera gear, dll dibanding makeup.

Enggak lah. Buktinya aku suka Amber juga. Selain Amber, aku juga ngikutin banyak style vlogger lain kayak misalnya Shea Whitney, yang gayanya lebih nggak aku banget lagi karena dia itu tipe mamah muda trendy professional gitu. Tapi aku tetep suka dia karena banyak hal.

Meskipun aku sekarang lagi nggak suka pakai makeup (aku udah lama banget kayaknya nggak pakai makeup, kalau keluar juga cuma bedakan pakai bedak bayi sama pakai lipbalm gitu), bukan berarti aku benci cewek bermakeup. Malah aku respect kalau ada cewek cantik yang makeupnya bagus. Dan kalau Jeffree Star ngeluarin koleksi baru, aku masih yang “Gimme all of thooooooose!!”

Hanya karena aku suka gaya ‘alternatif’, bukan berarti aku benci cewek yang ‘basic’. Aku tetep respect sama cewek yang katakanlah pakai skinny jeans, blouse, sama nude heels. Meski basic tapi kelihatan put together. Dan aku menghargai mereka meski secara selera beda gaya dan aku tetep memuji dalam hati. “She knows how to style.”

Pada dasarnya, sama aja kayak semua hal lain di dunia, ini cuma perkara selera. Perkara beda pilihan. Bukan soal yang mana lebih baik dari yang mana.

Trus satu lagi ya, buat klen yang merasa so yunik en different and much cooler: hanya karena kalian suka dengerin music indie folk, nggak membuat kalian seunik itu. Hanya karena kalian suka makan dan nggak suka diet, nggak membuat kalian seberbeda itu. Hanya karena kalian nggak sudi minum kopi saschetan dan cuma mau minum kopi yang awalnya masih berbentuk biji, digrind di depan mata kalian sendiri dan diseduh dengan air yang suhunya terukur untuk mendapatkan tingkat keharuman dan keasaman yang pas oleh seorang barista professional di sebuah warkop edgy, nggak membuat kalian seistimewa itu.
Mengerty?

Ingaaat, semua orang di dunia ini unik. Yang itu berarti pada dasarnya kita semua sama aja. Nggak unik sama sekali. Jadi nggak usah sok. *lap umbel
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sike! I don’t even have a plan. Lol

Jadii, Januari kemarin berjalan sangat bagus sebagai pembuka tahun.

Pada awalnya. :v

Memasuki minggu ketiga, karena satu dan lain hal, aku ketrigger dan stress dan depresi, dan menyakiti diri lagi, dan pengen mati. Wkwkwk.

I’m such a weak ass bitch, I know.

Gara-gara itu, tentu saja semuanya jadi kacau balau. Perasaan di awal-awal aku kerja sangat keras dan sangat gembira. Gara-gara masalah sepele, sekadar update blog aja aku nggak mampu. Padahal draft juga udah ada. Tinggal klik posting aja apa susahnya coba?

Sebenernya momen breakdown-nya enggak lama sih. Paling cuma dua hari, kalau nggak tiga. Pemulihannya yang lama.

Makanya aku sebisa mungkin menghindari drama tuh ya kayak gini. Aku kalau udah ketrigger, butuh waktu agak lama buat netralinnya. And I hate it, to be honest. I don’t like to be depressed, to feel low, feel so sad for no reason, and doesn’t have any will to live.

Kurasa nggak ada orang yang suka itu juga sih. Nggak mungkin ada lah, aneh.

Apa ada pelajaran berharga yang bisa kupetik dari kejadian itu? 


Hemm. Nggak tahu ya. Biasanya selalu ada pelajaran berharga yang bisa kupetik dari setiap kejadian. Tapi ini tuh apa ya, semacam nggak penting banget gitu sampai aku nggak ngerti lagi. Wkwkwk.

Kalau ada satu hal yang aku pahami mungkin cuma: aku terlalu menyetresskan hal-hal yang sebenernya biasa aja.

Jadi sebenernya masalahnya tuh nggak masalah banget. Nggak penting banget. Nggak gede banget. Tapi aku mikirinnya seolah itu berhubungan sama kiamat dan keselamatan umat manusia. Wkwkwk. Serius. Aku jadi merasa harus mundur selangkah, narik nafas, dan mikir santai.

Akhirnya aku bisa keluar dari kegilaan sementara itu dengan cara nggak mempedulikan apapun. Wong toh dari awal tahun aku udah bilang kan, nggak mau berharap terlalu banyak sama apapun (termasuk kehidupan sialan) dan bodo amat sih, emang apa ruginya juga? Apa kemungkinan terburuknya coba? Apa? Nggak ada kan? Jadi aku mikir secara berlebihan itu sebenernya konyol sih.

Hal yang Patut Disyukuri

Meski demikian, ada hal yang tetep patut disyukuri di bulan Januari. Salah satunya aku kenal sama banyak orang yang nggak tahu gimana ceritanya curhat sama aku dan ternyata kisah hidup mereka malah jauh lebih apes dari aku. Wkwkwk.



Illustration: pixabay/la_petite_femme

Maaf, aku anaknya kalau dicurhatin emang gitu. Bukannya turut prihatin tapi malah ketawa ngakak dan bersyukur: idih, ternyata yang aku alami belum ada apa-apanya ya. Hahaha.

Biasanya emang selalu kayak gitu sih. Tiap kali aku manja nggak mutu, pasti akan adaaa aja orang datang ngasih pelajaran. “Gausah cengeng lu, bajingan! Gue mengalami tujuh kali lipat dari yang lu alami. Ya sedih lah, pengen mati juga. Tapi jangan lah,” gitu kurang lebihnya. Hahaha. Lumayan, jadi nggak merasa sendirian.

Okee, so, apa aja rencana di bulan Januari yang aku ingkari?


Pertama, bullet journaling mandeg fungsinya di tengah jalan. Padahal di awal-awal udah bangus banget lohh. Tapi namanya juga orang lagi stress dan nggak peduli-peduli amat sama hidup, mana sudi ngelirik bullet journal? Akhirnya dilupain gitu aja di pojokan meja. Heuuuft.

Kedua, ini yang bikin aku sedih. Aku nggak jadi ngelanjutin nulis novel. Gimana sih. Huhu. Habisnya pas minggu-minggu awal itu aku kan sibuk banget. Trus nunda-nunda. Giliran breakdown, aku nggak peduli. Oh God! I’m sorry, me!


Ketiga, aku emang nulis dan posting cukup banyak di blog ini, tapi blog Madbelbie malah nggak aku update sama sekali. Hiks hiks. Padahal draft juga udah banyaaaak.
Mungkin itu tiga hal yang teringkari.

Sisanya, berjalan cukup baik-baik saja meski tertatih-tatih. Posting instagram tetep (sekali narsis selamanya narsis). Tapi ini lebih karena sebelumnya aku udah siapin materi dan tinggal posting-posting aja. Kalau instagram kan gampang tinggal klik klik di hape. Blog rada males karena harus nyalain laptop segala. Wkwk. Alesan aja nih.

Trus youtube tetep bisa posting and I kinda proud karena di saat rasanya kayak mau mati juga tetep bisa bikin video, wagelaseh. Padahal kan butuh effort ya, kayak latihan, rekaman, bikin videonya, ngedit, dll. Kok aku mau? Kok giliran posting blog susah? Heuuuft. Emang kebanyakan alasan aja nih, dasar! -_-

Terus buat bulan Februari gimana dong? 


Akhirnya, dengan ini aku memutuskan buat menjadwalkan semua postingan blog (aku juga udah pernah ngomong gini di postingan yang nggak tahu mana, cuma ngomong doang tibaknya), trus aku mau serius meluangkan waktu buat nulis. Serius ini. Prioritas. Soalnya aku keburu tua. Kapan lagi bisa nerbitin buku.
illustration: pixabay/skeeze

Aku juga mikir pengen ikut lomba sih. Tapi emm, ini kayaknya terlalu muluk. Lihat ntar aku ada waktu apa enggak. #bedebahsongongsoksibuk

Trus mau diy-an lagi. Januari udah mulai sebenernya. Bikin boneka, bikin tas rajut plastik, dll. Kurang banyak aja. Ngahaha.

Trus apa lagi ya? Oya, youtube lanjut, bikin lagu sendiri, sama aku pengen bikin konten lain yang bukan musik, tapi ntar dulu aku nunggu gear rada bagusan. Bukan karena manja sok kebanyakan alesan. Tapi emang butuh. Kalau cover-cover sih gpp. Lagu orang ini. Wkwk. Tapi kalau konten original kan sayang dong. Apalagi kalau produksinya serius. Masa iya mau disia-siakan dengan kualitas video yang menyedihkan.

Trus apa lagi ya? Kerja lebih keras biar bisa nabung. Hahaha. Aku pengen bikin rumah kuciiiil, yawlaaah. Ini impian sederhana banget lho ya. Rumah kucil aja gausah gede-gede.

Oooooh ya, satu lagi. Aku mau mulai declutter dan belajar hidup jadi minimalis. Soalnya aku terawang-terawang, aku bakal banyak pindah-pindah bepergian tahun ini. Karena aku nggak punya home base, barangku yang kebanyakan ini bakal nyusah-nyusahin. Mana di sini nggak ada yang namanya storage unit lagi. Ini bakal jadi tantangan berat buatku karena aku anaknya sentimental kalau sama barang.

Kaos udah bolong-bolong aja aku sayang mau jadiin lap dan masih mikir “Tapi kaaan, kaos ini udah jadi kesayangan aku selama bertahun-tahun.” T__T Plis deh. Tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin buat ‘tega’ ngelepasin barang. Mungkin dengan demikian hidupku juga akan berkurang kerumitannya. Hahaha.

Trus apa lagi ya? Banyak amat nih, sok banget. Satu lagi deh, bikin desain kaos lagi mungkin? Sama aku ada kepikiran mau jual foto dalam bentuk print gitu buat dekorasi. Hahaha. Ada yang mau beli nggak ya? Nggak ada juga nggak masalah sih. Sekali lagi, apa ruginya? Wkwk.

Sama satu lagi deh: mau berusaha lebih niat ngeblog. Kasih gambar ilustrasi yang banyak. Mungkin bikin infografik, wkwk. Kalau sempet ngegambar sendiri. Aku ada impian bikin stiker juga astaga. 
Udah dulu ya, lof! Aku mau jadwalin semua postingan habis ini. Jadi habis ini salam sayangnya otomatis yaa. Nggak semua sih. Aku pasti ntar bakal juga ujug-ujug pengen nulis apa gitu trus posting dadakan. Lagian yang udah kedraft juga cuma beberapa.

Thank you so much for being here. You are awesome! I love y’all. Kisses till next time! Byeee!

Xo,
Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Hubungan di sini maksudnya dalam konteks asmara ya. Pacaran gitu. Hahaha.

Suatu hubungan itu butuh banyak faktor biar bisa berhasil dan kedua belah pihak merasa bahagia. Ini aku nggak lagi ngomongin syarat ya. Yang percaya kalau cinta itu tak bersyarat, silakan. Atau yang mau ngegombal bisa menerima dan mencintaiku apa adanya juga silakan aja. Haha.

Aku pribadi merasa aku saat ini sedang nggak bisa menjalin hubungan (asmara) dengan siapapun karena alasan-alasan berikut ini:

Mentally Unstable


Ini mungkin alasan paling besar dan paling utama yang bikin aku nggak bisa menjalin hubungan. Secara mental, aku belum stabil. Kadang-kadang aku bisa stabil dan berfungsi normal seperti biasa sih, tapi kadang aku kumat lagi. Kalau kumat bisa macem-macem kelakuannya. Tantrum, nangis nggak jelas kayak balita, merengek manja memelas, merasa terzalimi, menyakiti diri sendiri, dsb.

Yhaa, aku juga pengennya stabil terus lah pastinya. Siapa juga yang suka jadi kenthir. Tapi nggak tahu. Kadang aku bisa tenang banget, santai, kuat, dan nggak terpengaruh. Tapi kadang masalah sepele banget aja bisa men-trigger aku dan bikin aku jadi suicidal lagi.

Mungkin kalau ada orang yang beneran mencintaiku tanpa syarat, hal ini nggak akan jadi masalah dan dia akan mengambil risiko itu. Tapi aku sendiri sadar kelakuanku yang kayak gini tuh melelahkan.

Jangankan orang lain, wong aku sendiri juga capek kok ngerasainnya. Makanya kalau aku menjalin hubungan sama orang itu aku malah merasa kasihan. Dia mungkin akan berusaha membahagiakan aku dan nolongin aku biar sembuh. Tapi kemungkinan besarnya, selama proses itu, dia sendiri akan merasa nggak bahagia dan malah ketularan stress juga. Wkwk.

Belum Cukup Mencintai Diri Sendiri


Oke, aku emang narsis dan aku sering mempromosikan self love. Itu memang iya. Dan aku mencintai diriku sendiri kok, kalau lagi normal. Kalau lagi kumat kadang aku benci diri sendiri. Itulah kenapa poin nomor satu itu jadi masalah utama. Hahaha.

Jadi gini, mencintai diri sendiri itu syarat utama sebelum menjalin hubungan dengan siapapun. Kalau kita udah cukup mencintai diri sendiri, kita nggak akan merongrong pasangan, memaksa mereka untuk melimpahi kita dengan kasih sayang biar kita merasa dicintai. Singkatnya, kalau kamu udah cukup mencintai dirimu sendiri, ada dia kamu bahagia, nggak ada dia juga kamu tetep bahagia.

Nah, aku belum bisa kayak gitu. Jujur aja aku merasa kesepian. Dan ini alasan kenapa aku justru nggak mau ada orang yang mengisi kesepian itu. Karena begitu orangnya pergi, aku akan kehilangan pegangan. Aku udah pernah mengalami ini.

Dan rasanya jahat juga sih, mengundang orang datang ke kehidupanku cuma buat mengisi kesepian dan menambal yang kosong. Secara otomatis aku akan menuntut orang itu untuk membahagiakanku. Dan ketika ternyata aku masih nggak bahagia (karena akunya belum cukup mencintai diri sendiri), aku akan menyalahkan orang itu dan menganggap dia nggak mampu membahagiakan aku. Kan jahat banget.

I’m Broke


Emang ya, nggak harus kaya raya dulu kalau cuma mau pacaran. Tapi kondisiku sekarang ini bisa dibilang lagi nggak punya apa-apa. Aku malesnya, kalau aku berhubungan sama orang, aku trus akan minta-minta dari dia. Atau dikasih-kasih.

Oke, aku emang sering becanda soal matre, tapi itu cuma becanda ya, my lof. Banyak aja yang percaya beneran. Haha. Faktanya, aku malah jarang banget minta uang, hadiah, barang, atau apapun ke pasangan. Aku terlalu gengsi untuk itu.

Bahkan makan dibayarin pun, kalau besoknya aku punya uang, aku akan gantian traktir. Kalau bisa yang lebih mahal. Hahaha.

Dan berdasarkan pengalaman sih, selama aku punya uang aku malah maunya yang bayar-bayarin.
Nggak tahu. Aku merasa kayak ada harga diri di situ. Jadi biar pasanganku nggak bisa berbuat semena-mena atau nuntut aku melakukan hal-hal yang aku nggak mau lakukan hanya karena dia yang bayarin makanan. Heuuft.

Dan buatku, mandiri finansial itu penting banget nomor satu. Nggak peduli punya pasangan atau enggak, kalau finansial aman, hati tentram. Itu udah pengetahuan umum lah ya.

Nah, kalau lagi nggak kaya kayak sekarang, menurutku mending sendiri daripada berpasangan dan jadi kayak harus ‘ditolong’ banget gitu.

Ini kalau pacaran serius pakai acara jatuh cinta dan komitmen ya. Kalau cuma kencan asal-asalan sih, beda lagi. Nggak usah terlalu ribet dipikirin juga.

“Tapi kok kamu suka banget becandaan soal matre, Pel?”

Iya, sengaja. Salah satu alasannya buat mengusir cantik cowok-cowok biar nggak pada deketin aku. Hehe. Alasan lainnya, emang ada benarnya. Aku emang suka uang dan hal materialistik lainnya. Cuma maksudnya, aku maunya aku yang punya gitu lho. Aku aja yang kaya. Bukannya trus mau cari pasangan yang udah kaya raya biar aku dimanjain dan aku nggak usah kerja selamanya gitu, bukaaan. Kalau kayak gitu trus letak keseruannya di mana? Ntar aku jadi nggak keren dong.

Tapi kalau misal mau ngebantu buat aku mewujudkan impianku misalnya, ya enggak apa-apa. Ntar kalau uangnya berkembang dan aku jadi kaya raya, aku balikin deh modal awalnya. Kembaliannya ambil sekalian! Wkwkwk.

Kayaknya itu aja sih gaes, alasan utama kenapa sebaiknya aku untuk sementara nggak menjalin hubungan sama siapa-siapa.

Intinya,aku nggak mau malah nyalahin pasanganku karena aku nggak bahagia. Kebahagiaanku bukan hanya tanggungjawab dia. Aku juga nggak mau malah jadi beban yang nyusahin dan ngerepotin. Aku udah pernah mengalami itu, dan aku masih merasa bersalah sampai sekarang.

Tapi aku cukup belajar dari masa lalu. Sekarang, dari pada mengharap disayang orang, aku mending berusaha gimana caranya jadi keren lagi. Mandiri, hebat, pede, semangat, dan lain sebagainya.

Kalau misal nanti aku ketemu orang yang bikin aku jatuh cinta dan kondisi kami siap dalam segalanya, kami sama-sama dewasa (dalam segala hal), dan stabil, baru mungkin aku akan mempertimbangkan kemungkinan menjalin hubungan. Hehehe.

Gitu aja sih. Intinya, buatku relationship itu saling, dan bukannya aku aja yang minta dipenuhi semua kebutuhannya sama orang yang sempurna. Pfffft.

Btw, ini pandangan dan pilihan pribadi ya. Kalau ada di antara pembaca sekalian yang berada dalam situasi yang sama kayak aku tapi memutuskan untuk mencari pasangan, aku nggak melarang.

Thank you so much for reading this nonsense! I’ll see you later, byeee!
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Makanya kalau berharap itu hati-hati. Hahaha.

Baru juga beberapa waktu yang lain aku berharap “Kalau aja aku nggak punya perasaan. Kalau aja aku nggak bisa ngerasain apa-apa.”

Trus terkabul beneran dong. Dan ternyata rasanya nggak enak.

Nih ya, udah dua hari ini aku mental breakdown. Dan seperti biasa, kalau levelnya agak parah aku akan mengalami naik turun kondisi kayak histeris, melukai diri sendiri, trance, ngelamun, kosong blong, nggak bisa diajak komunikasi, dan menurutku level terparah ketika aku udah nggak ngerasain apa-apa dong.

Sedih, nggak juga. Seneng apa lagi. Marah, nggak ada alasan buat marah. Cuma pusing aja. Kayak pusingnya itu saking padatnya sampai aku nggak bisa ngerasain hal lain gitu lho. Hahaha.
Yang paling menjengkelkan, aku makan apa-apa juga nggak ada rasanya.

Makan kayak asal ngunyah sama nelen gitu nggak kerasa enak. Beli es krim, cuma dingin doang nggak merasa enak. Bahkan yupi sekalipun, my holy grail, yang biasanya selalu sukses menyelamatkan segala perasaan, nggak ada rasanya dong.

Aku tuh jadi yang cuma bengong doang gitu. Melukai diri sendir juga nggak ada rasanya. Latihan gitar sampai jarinya lecet-lecet nggak ada rasanya. Pokoknya aku nggak ngerasain apa-apa. T___T

Trus ya ngelakuin segala hal kayak nggak berarti gitu, orang nggak kerasa apa-apa. Nonton yang lucu-lucu juga nggak ketawa dong. Atau aku ketawa sih, cuma ketawanya itu karena aku tahu itu lucu dan harusnya aku ketawa gitu. Bukan yang asli beneran ketawa alami.

Trus aku sekarang bingung. Kirain nggak bisa ngerasain apa-apa itu enak. Asik kan, nggak perlu sedih, marah, dan emosi lain yang bikin repot. Kalem aja kayak robot. Tapi aku trus merasa aku hidup cuma sekadar fungsi tubuh doang yang masih bekerja. Aku masih nafas, jantungku masih memompa darah, aku masih pipis, dan seterusnya. Tapi di dalam, pada dasarnya aku udah sama aja kayak mati.
Dan kalau udah kayak gini nggak ada yang bisa ‘menyentuh’ku lagi. Aku ngelihat karya seni juga yang lempeng aja gitu. Nggak yang tergelitik gimana.

Apa ini suatu hal yang buruk? Aku nggak tahu. Mungkin baik. Mungkin aku nggak apa-apa mati rasa kayak gini. Toh aku juga pernah berharap dan waktu itu harapanku dengan begini aku bisa kerja keras kayak robot tanpa harus kerepotan ngurusin mood sama emosi.

Tapi ternyata, seiring perasaan yang hilang, motivasi juga ikutan hilang. Kayak aku nggak ngerti apa pentingnya kerja. Buat apa. Toh aku nggak ngerasain apa-apa. Aku ngapain latihan nyanyi, toh aku udah nggak bisa ngerasain bahagia dari situ. Aku ngapain ngegambar, aku nggak punya pesan buat disampaikan. Dan seterusnya.

Ternyata, emosi manusia itu indah ya. Bahagia, sedih, galau, kangen. Itu semua indah. Ternyata mati rasa nggak membantuku menjadi lebih baik atau produktif. Aku cuma jadi gerak-gerak tanpa tahu maksudnya. Kayak zombie. Dan tentu saja hidup jadi nggak penting lagi.

Hal kayak gini nggak baru sekali aku alami. Biasanya kalau mental breakdown, pasti selalu ada fase kayak gini. Kayaknya ini tuh semacam benteng pertahanan terakhir yang otomatis diaktifkan oleh diriku untuk melindungiku dari kegilaan (anggap saja aku sekarang ini belum gila). Sengaja matiin semua rasa karena banyak hal terjadi dalam waktu bersamaan dan itu overwhelming. Aku nggak bisa mengatasinya bareng-bareng.

Sebenernya, masalahku sekarang juga udah teratasi satu per satu. Kurang dikiiit lagi beres semua.
Mungkin aku cuma capek aja. Sekaligus bosen, marah, juga kecewa dan sedih bareng-bareng. Itu semua memang terlalu banyak.

Tapi mudah-mudahan, minggu depan semuanya udah biasa-biasa aja. Aku bisa ketawa lagi biasa dan aku bisa mikir lagi, bikin apa-apa yang membahagiakan lagi. Dan menemukan cara untuk hidup yang lebih baik, bukannya terus-terusan kayak gini.

Mudah-mudahan. Aku toh nggak tahu mana yang lebih baik. Emosi yang menguras energi atau hidup tapi mati?

Yahh, seenggaknya nulis kayak gini sedikit membantu sih. Seenggaknya aku merasa mending gitu bisa menceritakan ini semua, apapun ini namanya. Haha.

Thank you so much for reading my other nonsense.

I’ll see you soon!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Image credit: pixabay/stux

Mungkin tulisan ini nggak penting. Atau aku hanya berusaha keras untuk menjadi relatable dan itu udah nggak mungkin karena masa remajaku udah kelewat jauh dan aku nggak mengalami masa remaja seperti yang remaja masa kini alami. Tapi mungkin, kalau ada remaja canggung yang kebetulan baca ini, asal kamu tahu aja: kamu nggak sendiri. Bukan kamu tok yang merasa aneh, canggung, nggak bisa fit in, bingung, insecure, dan lain sebagainya. Hampir semua temenmu merasakan hal yang persis sama. Tenang aja. 

Aku barusan nonton film judulnya Eight Grade. Ya ceritanya tentang anak udah mau lulus SMP dan dia masih nggak mudeng sama dirinya. Dia pengen jadi cool, tapi cool kids nggak mau gaul sama dia. Dia berusaha keras jadi cool, tapi tetep aja awkward jatuhnya. Dia berusaha keras jadi pede, tapi tetep merasa grogi. Dia merasa nggak keren, insecure, dan takut salah mulu mau ngapa-ngapain. 

Sebagian besar orang, pas remaja ya mengalami semua keanehan itu. Dari awalnya mereka anak-anak yang inosen, kemudian tiba-tiba menjadi nggak terlalu inosen lagi, tapi belum tahu banyak juga. Banyak perubahan terjadi mulai dari fisik sampai emosional. Badan kamu tumbuh, suara berubah, bentuk badan berubah, yang cewek mungkin mulai mens, yang cowok mulai tumbuh jakun dan bulu-bulu di wajah, mulai merasa tertarik secara seksual pada orang lain baik lawan jenis maupun sejenis. Semua itu terlalu banyak dan terjadinya bareng-bareng. Membingungkan memang. 

Sebenernya, dengan aku ngomong kayak gini bukan berarti aku ngerti segalanya. Makanya dari awal aku bilang mungkin tulisan ini akhirnya hanya berupa aku berusaha menjadi related tapi kenyataannya can’t relate at all. 

Kenapa? Karena kebetulan aku kasus langka. Aku nggak mengalami itu semua. Terutama pas SMP ya. Pas SMP itu aku level kedewasaannya nggak ada bedanya sama aku pas masih TK. Masih bloon gitu aja bener-bener bacanya Bobo, nontonnya kartun, lebih nyambung kalau ngobrol sama anak-anak TK dibanding sesama anak SMP, trus masih pakai overall skirt gambar Winnie the Pooh dengan rambut dikucir njegrak. Tokoh cewek idolaku adalah Helga Pataki yang di Hey, Arnold! 

Such a mood!
Pas SMP temenku banyak. Dan jangan salah, mereka semua remaja normal yang pada mulai jatuh cinta, pacaran, dan lain sebagainya. Dan waktu itu meski aku nggak memperlihatkan, tapi sebenernya kalau mereka cerita soal ciuman itu aku ngebayanginnya masih yang jijik gitu lho. Tukeran liur? Ieeewh. Wkwkwk. Serius! 

Iya, aku emang pernah naksir temen sekelasku pas SMP kelas dua. Tapi ya cuma naksir-naksiran tok. Nggak kebayang mau ciuman atau apa. Hahaha. Ini sumpah konyol kalau diinget-inget lagi. Makanya nggak heran kalau di kehidupan dewasa, tiba-tiba ada temen SMP yang mendadak ngirim pesen bilang “Aku tuh dulu pas SMP sebenernya naksir kamu, tapi kamunya lempeng aja.” Wkwkwk. Ya iya lah. 
Orang kecerdaasanku masih setara anak TK. Mana aku mampu menangkap sinyal naksir-naksiran aelah. 

Jadi pas SMP aku sama sekali nggak mengalami apa yang Kayla (tokoh utama di film Eight Grade itu tadi) alami. Aku terlalu bloon. Aku belum mengenal konsep jatuh cinta-pacaran-patah hati dan oh damn, life was soooooo gooooooood!!! Love ruin us all. Lol

Hidupku waktu itu masih sesederhana hidupnya anak kecil. Bersenang-senang doang tahunya. Kalau nggak ada kegiatan setelah sekolah ya main, baca buku, baca komik, nonton kartun, mewarnai, dan gitu aja terus. Nggak kenal blas sama yang namanya derita asmara. Wkwk. 

Aku nggak mengalami fase insecure karena aku baik-baik aja meski aku nggak cantik dan dibully karena aku item dan jelek. Aku biasa banget. Nggak sedih blas. Aku tuh dari dulu kalau ada yang ngetawain, malah ikut ketawa lebih kenceng. Kalau ada yang ngebully, malah ngebully diri sendiri lebih parah. Jadi susah banget buat ngebully aku. Soalnya aku tenang-tenang aja. 

Aku juga nggak mengalami perubahan apa-apa di tubuhku kecuali nambah tinggi. Payudaraku baru tumbuh itu mungkin pas aku SMA kelas satu atau dua. Aku juga nggak mengalami roller coaster emosional karena aku belum mens dan nggak merasakan yang namanya PMS. Aku nggak struggle dengan jerawat karena waktu itu emang kayaknya aku belum puber jadi aku nggak pernah jerawatan setitik pun.
Jadi aku nggak mengalami itu semua. 

Pas SMA, mungkin aku baru paham dikit-dikit. Aku mens, perubahan bentuk badan mulai kerasa, aku mulai menyadari kalau kadang temen cowok suka ngelihatin dadaku, aku juga mulai jatuh cinta. Yang beneran jatuh cinta, bukan naksir-naksiran cinta monyet. 

Tapi aku tetep nggak mengalami yang merasa awkward nggak fit in gitu. Because I don’t want to fit in. Aku nggak masalah nggak gaul sama anak-anak populer karena aku nggak mau populer. I don’t wanna be cool. I knew I was different and I don’t want to change. I always act weird dan prinsipku dari dulu adalah: the crazier the better. Jadi aku tahu kalau aku aneh dan aku merayakan itu. Kalau ada satu hal yang aku mau, aku maunya orang mengenal aku sebagai sosok yang lucu. Udah gitu doang. Aku suka bikin orang ketawa. Kadang bahkan saking udah melekatnya, aku lagi serius aja orang pada ketawa karena mengira aku becanda. -_-

Jadi pada dasarnya, aku nggak berubah sama sekali. Sampai detik ini. Umur boleh tambah tua, tapi kedewasaanku aslinya masih segitu-segitu aja. Aku sekarang di youtube itu nontonnya masih serial Mattel Ever After High. Di waktu senggang, aku masih melamunkan hal-hal nggak masuk akal persis plek kayak aku pas masih TK dulu. Aku masih menganggap boneka-bonekaku adalah sahabatku dan aku ngobrol sama mereka tiap hari. Aku nggak pernah tumbuh dewasa. Kecuali makin tua agak semakin saru dan centil aja sih paling. Wkwk. 

Tekanan Media Sosial

Tapi yang kayak gini mungkin nggak banyak. Aku nggak bilang aku satu-satunya, tapi kebanyakan anak remaja mungkin mengalami fase awkward kayak yang dialami Kayla. 

Film lain yang menceritakan kehidupan anak SMP itu Diary of Wimpy Kids. Itu mungkin film family drama favoritku. Aku udah nonton puluhan kali dan mungkin masih sanggup nonton puluhan kali lagi. Hahaha. Kalau di situ kasusnya beda. Di film pertama masalahnya lebih ke hubungan dia sama sahabatnya, di film kedua hubungannya dengan kakak adiknya. Film ketiga aku belum nonton. ._. Tapi Greg sama sekali bukan tokoh yang insecure. Dia malah pede banget. Dan bahagia-bahagia aja. 
Mungkin karena waktu itu belum musim gadget karena itu kan kan film lamaaaa. Eight Grade  menurutku lebih relatable sama kehidupan remaja masa kini. 

Diary of Wimpy Kid

Jujur aja aku nggak bisa bayangin beratnya jadi remaja masa kini. Di zamanku dulu ya, kehidupan itu sangat sederhana. Mau dengerin lagu tinggal nyetel radio atau nonton MTV. Mau eksis, ya eksis di kehidupan sebenarnya. Ikut kegiatan, sosialisasi, dll. Dan itu semua jauh lebih sederhana karena kami nggak harus mikirin pencitraan di media sosial. 

Media sosial itu bisa jadi tekanan. Aku yang udah tua aja kadang merasa tertekan kok. Aku kadang iri sama Sorelle Amore yang jalan-jalan terus full time sementara umur kami hampir sama. Aku iri sama seniman-seniman atau fotografer yang aku follow di instagram yang bisa bikin karya bagus banget padahal usia mereka lebih muda dibanding aku. Padahal aku udah dewasa sekarang dan udah tahu mau ngapain dalam hidup. Dan aku juga cuma follow akun-akun bagus yang buatku menginspirasi atau aku bisa belajar dari mereka. 

Jadi aku susah ngebayangin kalau misal aku masih remaja, trus melihat semua ‘kebahagiaan’ yang ditampilkan temen-temenku. Mungkin karena aku masih belum tahu mau ngapain dalam hidup, aku akan berusaha menjadi terlihat yang paling cool juga di media sosial. Mungkin jumlah followers, like, dan lain sebagainya yang cuma dikit bener-bener bisa bikin hatiku patah. Mungkin aku nggak akan sebahagia aku pas remaja dulu karena banyak banget hal yang aku iriin dan aku nggak bisa miliki? 

Mungkin aku akan menghabiskan sebagian besar waktuku scrolling instagram ngelove-ngelove postingan temen-temenku yang berupa selfie dengan filter anjing imut. Mungkin aku akan melakukan itu semua dengan hati sedih “Kenapa aku nggak bisa sekeren mereka?” dan sebagainya. 

Mungkin bener penelitian yang bilang tingkat kebahagiaan orang menurun semenjak adanya media sosial. Orang gampang iri pada kebahagiaan yang ditampilkan orang lain sehingga menggerus kebahagiaannya sendiri. Ada film lain yang menceritakan soal gawatnya social media ini judulnya Ingrid Goes West. Ceritanya tentang social media addiction dan obsesi untuk jadi ‘cool’ dengaa lifestyle kekinian. Itu emang sedih, tapi itu bukan hanya di film aja. Di kehidupan nyata iya banget banyak yang kayak gitu.

Phone Comes First, Family Comes Later

Di film Eight Grade, yang paling bikin aku sedih itu hubungan Kayla sama ayahnya. Ayahnya ngajak ngobrol, Kayla nggak mau dengerin karena lebih milih sibuk scrolling instagram ngelove-ngelove postingan nggak mutu dari temen-temennya. Komunikasi jadi susah banget. 

Anak merasa insecure dalam gelembung sosial kecilnya sendiri dan nggak mau ngobrolin itu sama orang tuanya karena mereka menganggap orang tuanya nggak ngerti apa-apa. Sementara orang tua berusaha keras untuk bisa memahami anaknya dan bahkan nggak ngerti apa yang bikin anaknya murung sepanjang waktu. Ini kan sedih banget. 

Image credit: pixabay/marcino
Akhirnya banyak anak yang merasa sendirian, merasa nggak aada yang memahami, merasa anti sosial, nggak mau ngomong sama siapa-siapa karena merasa nggak ada satu pun yang mau mendengarkan.
Ya logikanya, gimana mau ada yang mendengarkan kalau kamu ngomong aja nggak pernah? 
Oke, emang nggak semua orang tua itu cool. Ada juga orang tua model jadul yang kaku banget dan memaksakan kehendak tanpa ngasih anak kesempatan buat mengutarakan pendapatnya sendiri atau menentukan pilihan sesuai keinginan mereka, itu memang ada. Tapi seenggaknya, ngobrol sama orang terdekat itu masih perlu sih kalau menurutku. 

Mungkin oke lah, aku sok banget ngomong kayak gini ketika kenyataannya aku juga ninggalin keluarga. Tapi kalau seandainya hubungan kami masih baik-baik saja, aku pasti masih ngajak mereka ngobrol. Seenggaknya sama Bapak. Karena kalau Ibuk bisa dibilang nggak cool, tapi Bapak termasuk cool banget. Tentu saja Bapak nggak paham segalanya tentang kehidupanku dan apa yang aku rasakan. Tapi kami masih bisa ngobrolin banyaaak sekali hal yang lucu-lucu dan itu menyenangkan. 

Jadi kids, kalau kamu sekarang merasa insecure, merasa nggak keren, merasa sendirian, merasa nggak ada yang paham, dan sebagainya, yang harus kamu lakukan sekarang adalah: tenang aja, kamu bukan satu-satunya. Sebagian besar dari temen-temenmu juga merasakan yang sama cuma mereka nggak ngaku aja. Wkwk. 

Kamu nggak perlu sama sekali berusaha terlalu keras biar bisa diterima dengan melakukan hal-hal yang sebenernya bukan kamu banget. Soal ini juga ada filmnya nih, aku lupa judulnya kalau nggak salah Click? Lupa aku udah lama banget soalnya. 

Trus sebisanya kurangi main hape deh. Coba ngobrol sama orang tua, saudara, teman, tetangga, hewan peliharaan. Di luar handphonemu itu, masih banyaaak hal yang bikin bahagia. Orang mungkin nggak ngelove fotomu di instagram, tapi di kehidupan nyata mungkin mereka menganggap kamu keren. 

Tentu saja main sosmed nggak masalah, bukan berarti trus harus stop nggak sama sekali karena iya, aku tahu sekarang zaman emang udah berubah dan banyak juga hal positif di internet. Iya. Aku team the power of social media juga kok, tenang aja. Aku juga meraaskan banget manfaaat internet untuk bisnis, belajar, dan lain sebagainya. 

Cuma tetep aja, jangan habisin waktu terlalu banyak buat natap layar. Ngabisin berjam-jam cuma buat scrolling tanpa belajar apa-apa. Kalau nggak ya introspeksi diri aja. Kamu main sosmed lebih banyak manfaat apa buang waktunya? Hayoo, jujur. Hahaha. 

Saran terakhir dan yang ini mungkin paling utama sekaligus inti dari semua ocehan nggak penting ini sih. Jadi ya, apapun yang menurutmu penting saat ini seperti jadi populer di sekolah, diakui, diterima di pergaulan, terlihat cantik, dll itu setelah kamu gedean dikit nanti bakal jadi nggak penting sama sekali. Jadi daripada mengkhawatirkan hal yang segera akan berlalu, mending nimati aja semua momen. Coba hal baru, ajak ngobrol orang yang selama ini kamu hindari, rawat diri, hidup bersih dan sehat, belajar hal baru, dll. 

Pokoknya bersenang-senanglah. Sekarang setelah aku gede aku merasa masa remaja adalah masa terbaik yang pernah aku miliki. Dan aku nggak menyesali satupun perbuatanku, yang terkonyol dan goblok sekalipun karena aku bisa ngetawain itu semua sekarang. Dan untungnya dulu aku hampir nggak mengkhawatirkan apa-apa. Jadi yang teringat bener-bener cuma seru dan lucu-lucunya gitu.
Hehe. 

Kalau kalian baca ini dan merasa aku cuma ngoceh sotoy doang nggak tahu apa yang sebenernya terjadi, iya, memang. Aku mengakui. Maaf ya. I’m not here to help. Aku nggak punya kapasitas untuk itu. Tapi kalau kamu butuh teman berbagi, pengen sekedar tahu kalau ternyata ada juga orang yang emang udah wagu dari dulu, ya, aku ada di sini. 

Gitu, my lof!
Please remember: rule number is to always have fun!
I love you so muuuch! 

Btw, aku akhirnya nulis panjang juga ya gengs. Bukan berarti bagus sih, masih sampah juga. Cuma rada panjangan gitu. Wkwk. 

Byee!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

About Me

Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit conseat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amei.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Juni 2019 (2)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (15)
  • Februari 2018 (1)
  • Januari 2018 (1)
  • Oktober 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (2)
  • Juni 2017 (3)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (2)
  • Maret 2017 (8)
  • Februari 2017 (10)
  • Januari 2017 (3)
  • Desember 2016 (6)
  • Oktober 2016 (4)
  • September 2016 (6)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (3)
  • Juni 2016 (8)
  • April 2016 (1)
  • Maret 2016 (6)
  • Oktober 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • Kesumat Sang Raja Jerawat
  • Ngeblog seaktif Facebook-an. Gimana sih caranya?
  • Mengukur Kualitas Diri Tidak dengan Membandingkan
  • PESAN MORAL LOMBA-LOMBA AGUSTUSAN
  • PENTINGNYA MEMPERHATIKAN LINGKUNGAN PERGAULAN ANAK

Yang Nulis

Isthar Pelle
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates