• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MADGIRL!



Yang satu sekolah sama aku pasti tahu ini di mana. Hahaha. Foto diambil dari web almamater.


Yang namanya sekolah, pasti nggak bisa lepas dari satu kegiatan rutin yang namanya upacara bendera. Suka nggak suka, seenggaknya seminggu sekali tiap hari Senin harus ada upacara bendera. Petugas upacara bendera kalau di sekolahku digilir tiap kelas. Kelas satu sama dua sih, kelas tiga udah enggak. Jadi gantian tiap minggu beda kelas. Hal ini dimaksudkan agar semua anak pernah ngerasain jadi petugas upacara. Ada yang jadi pengibar bendera, komandan upacara, komandan pleton, yang bacain naskah UUD, trus petugas apa lagi lupa, dan sisanya jadi paduan suara. Nah, si petugas upacara ini akan dilatih oleh pengurus OSIS tiap Sabtu sepulang sekolah. Masalahnya, karena menjadi petugas upacara ini bersifat wajib alias paksaan, anak-anak pada nggak ikhlas gitu menjalankannya. Terutama anak yang bandel-bandel, kaya kelasku gitu.
Pas aku kelas satu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, petugas upacara harus remidi. Coba kalian bayangkan! Jadi petugas upacara sekali aja udah pada males. Ini malah disuruh ngulang. Gara-garanya ya itu, saking ndlewernya kami, upacaranya jadi berantakan. Dan yang lebih parah lagi, petugasnya malah pada cekikikan bin ribut sendiri. Aku kesusahan ngejelasinnya di sini, tapi pas kejadiannya tu lucuuu banget sampai kami nggak kuasa menahan tawa. Terpingkal-pingkal sampai sakit perut bahkan. Sikap yang sama sekali tidak terpuji bukan? Akhirnya, kelas kami ngulang lagi jadi petugas minggu depannya. Dan pas ngulang itu semuanya serius. Nggak ada yang becanda. Karena kami kapok dan telah mengambil pelajaran dari kesalahan yang lalu? Bukan. Tapi demi supaya jangan sampai disuruh ngulang lagi.
Kalau nggak lagi jadi petugas ya otomatis jadi peserta dong. Paling seneng itu kalau barisnya pas jejer sama barisan kakak kelas. Biar bisa lirik-lirik gebetan gitu. *halah kaya yang punya gebetan -_- Kalaupun enggak ya baris jejer sama kelas lain yang seangkatan. Tetep boleh lah, lirik-lirik cari gebetan. Tapi di manapun barisnya, yang namanya upacara itu tetep bosen gila. Belum lagi diawasi sama guru-guru di belakang. Jangankan bisik-bisik. Komunikasi cuma pakai isyarat mata dan cuping hidung aja ketahuan. Udahlah pokoknya bosen mampus. Apalagi Pembina upacara kan kalau pidato pasti gayanya serius bin resmi gitu ya (yaiyalah Pel, namanya aja upacara wehh). Aku mikir aja gitu gimana kalau Pembina upacara itu pidatonya ala-ala stand up comedy?
“Halo, nama saya Budi dan saya guru BK. Saya itu suka nggak ngerti banget sama tingkah murid-murid cewek jaman sekarang. Datang ke ruang BK, nangis-nangis, pas ditanya ‘Kenapa?’ jawabnya ‘Nggak papah,’ trus saya tanya lagi ‘Kok kamu nangis?’ eh dia malah bilang saya yang nggak peka,” dan seterusnya. Pasti seru bin lucu dan semua anakpun akan menanti dengan gembira. Mau upacara? Semangaaaat!
Bagian favoritku kalau pas mengheningkan cipta. Soalnya itu kan sedih. Sebagai remaja mellow, tentu saja aku suka momen kaya gitu. Biar bisa main terharu-terharuan. Jadi nangis lebay kaya minion pas ditinggal Dr. Nefario gitu deh. Setelah gede aku tahu kalau perbuatanku dulu itu kurang ajar dan nggak banget dan harusnya aku nggak gitu. Masa itu momen penting mengenang jasa pahlawan kok malah dibecandain. Kalian yang masih sekolah kalau baca ini, pliz, nggak usah ditiru.
Yang jelas sih kalau upacara semua muanya harus sera tertib. Seragam harus kumplit-plit dan sesuai aturan. Tiap hari emang gitu sih, tapi kalau pas upacara, pengawasannya seribu kali lebih ketat. Mulai dari topi, dasi, baju, ikat pinggang, sampai kaos kaki dan tali sepatu. Iya, tali sepatunya harus item dong gaes. Kalau tali sepatunya putih ala-ala sepatu Chuck Taylor gitu, sebenernya nggak boleh. Cuma kadang dibiarin karena buanyak bangeeet yang sepatunya kaya gitu. Masa upacara mayoritas anak copot sepatu semua sih? Tapi kadang-kadang kalau pas ada razia mendadak gitu, sepatu-sepatu kaya gitu ikut terjaring. Modusnya, sepatu suruh nyopot, dikumpulin, trus disiram air. Kami-kami yang jadi korban kan jadi nggak bisa pakai sepatu tuh, eeh, ntar ada guru yang ngatain “Anak primitif.” Iya, sekolah itu memusingkan kan, I know.
Soal seragam kumplit ini, aku punya trik. Topi, dasi, kalau perlu ikat pinggang, sampai tali sepatu dan kaos kaki ditinggal di laci meja semua. Jangan bawa pulang. Habisnya kalau sampai bawa pulang udah pasti lupa. Kalian kan tahu aku pelupanya kaya gimana. Kebiasaan ninggal-ninggal ini bukan hanya urusan kelengkapan seragam aja, tapi juga semua buku pelajaran. Tinggal aja. Kalau ada PR ya kerjain besok paginya aja di sekolah. Ha wong kalau dibawa pulang juga paling lupa kok. Kalau nggak lupa ya malah sengaja pura-pura lupa. Sama aja kan? Seenggaknya, dengan ditinggal di sekolah, resiko buat ketinggalan lebih sedikit.
Tapi meskipun sudah pakai trik ya tetep aja kadang kejadian lupa juga. Nggak pakai topi, gitu misalnya. Hukumannya ya gitu, barisnya dipisah. Udah gitu posisinya nggak banget lagi. Di samping tiang bendera gitu. Biar diliatin oleh seluruh peserta upacara yang lain. Hal itu memalukan bagi anak yang pemalu. Untunglah aku anaknya nggak tahu malu. Nggak cukup dipisah aja, ntar pas bubar yang melanggar ini nggak boleh ikut bubar juga. Masih harus baris lagi beberapa lama, trus ntarnya harus siap menerima hukuman bangsanya mungutin sampah, ngelap-ngelap kaca jendela, dan lain sebagainya. Setelah selesai masih juga harus ke kantor BK, buat dicatet pelanggarannya apa, trus dikasih surat ijin masuk kelas.
Itu aja sih kayaknya yang tak inget dari upacara. Mulai dari petugas upacara, sampai pelanggaran udah semua kan? Emm, nggak ada juga kejadian yang gimanaa gitu pas upacara yang bikin aku terkenang-kenang. Gitu-gitu aja palingan. Eh, ada ding, sekali. Pas aku dihukum berdiri di deket tiang bendera karena lupa nggak bawa apaan gitu. Trus pas bubaran, kakak kelas yang gebetan ngelewatin aku sambil pamerin senyum yang seketika bikin aku pengen nyari petugas PMR biar bisa pingsan dengan aman. Hihihi. (Norak lu Pel. Nggak penting.)
Yasudah lah ya kaaak. Ntar aku update kalau ada inget hal-hal nggak penting lagi seputar upacara. *nggak ada yang nungguin update-nya juga kali Pel. Nyadar plis!
Kalau upacara di sekolah kalian gimana? Cerita doong, di kolom komentar.
Seperti biasa, makasih banyak sudah baca dan sampai jumpa!

LOVE,
Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Oke, sebelumnya, aku mau klarifikasi. Setiap kali aku nulis tentang film, aku nggak pernah bermaksud untuk menulisnya sebagai review ya. No! Tapi lebih ke engg, pelajaran apa yang kuambil dari film itu dan pandanganku terhadap film itu dan lain sebagainya. Clear? Jadi aku sama sekali nggak mengikuti film yang terbaru. Bisa aja aku mendadak nulis tentang film jadul kalau aku mau. Dan yahh, aku nggak selalu nulis tentang film yang baru saja kutonton. Bisa aja aku nontonnya udah berbulan-bulan yang lalu dan setelah beberapa kali mikir, akhirnya aku baru mau nulis tentang film itu sekarang. Semuanya lagi-lagi tergantung mood aja sik.
Tapiiii, khusus untuk film yang satu ini, aku langsung nulis begitu selesai nontonnya. Alasannya antara lain karena malam ini aku lagi nggak ada kerjaan, belum bisa tidur, masih terlalu muak dengan buku yang sedang kubaca karena haduuuh membosankan banget, dan yaa, mumpung masih fresh aja sik. Jadi aku belum banyak lupa dan nggak usah susah-susah nengok-nengok lagi ke filmnya. Hehehe.
Dari judulnya udah ketahuan yah, ini film tentang peselancar. Belum nonton aja aku udah suka. Aku nggak bisa surfing sih. Belum pernah mencoba belajar, lebih tepatnya. Tapi aku selalu suka dengan apapun yang berhubungan dengan laut, atau air. Yaa, kadang-kadang aku mikir apa jangan-jangan aku ini reinkarnasi dari ubur-ubur?
Tadinya tak kirain ini film seru-seruan surfing mirip kaya film Point Break gitu lah. Nggak taunya itu film motivasi. Eh, nggak tahu ding, dimaksudkan untuk motivasi apa enggak. Yang jelas, aku jadi termotivasi pas selesai nontonnya. Tuhan memang selalu punya cara yang unik untuk menonjokku biar bangun dan segar bugar kembali saat aku lagi manja. Hehe.
Film ini dibuat berdasarkan kisah nyata. Tentang seorang surfer bernama Bethany Hamilton yang pas remaja itu tangannya digigit hiu sampai putus. Ini beneran, ada orangnya beneran di kehidupan nyata. Ngeri nggak sih gaes? Putus tus setangan-tangan lho. Dan itu terjadi pas karir berselancarnya lagi nanjak-nanjaknya. Habis dapet juara satu, baru dapet sponsor, dan lagi persiapan buat kompetisi berikutnya.
Yang bikin keren itu, di filmnya diceritakan kalau Bethany sama sekali nggak panik. Sedih? Iya, dia nangis pas cerita sama temennya. Tapi dia sama sekali nggak panik dan apalagi tenggelam ke dasar kesedihan seperti yang mungkin akan aku lakukan kalau aku yang mengalami.
Bethany malah ceria, menguatkan semua orang di sekitarnya, and she didn’t give up surfing. Dia latihan dong, latihan keras. Latihan fisik, latihan menakhlukkan ombak. Dia ikut kompetisi dan nggak mau diperlakukan istimewa seperti dikasih tambahan waktu. Sempet kalah di awal, trus juara lima, sampai akhirnya jadi juara satu nasional. Intinya, Bethany sama sekali nggak manja.
Aku ketampar di sini. Pertama, aku manja. Batuk dikit aja langsung sok-sokan pengen bermanja-manja selimutan, dibikinin lemon tea hangat, trus nonton Sponge Bob sesorean. Kedua, di film itu Bethany menemukan kalau surfing (hal yang dia suka), bukanlah hal terpenting di dunia. Ada yang lebih besar dari itu yaitu cinta. Mungkin emang klise sih kedengarannya. Tapi tak pikir bener juga. Kita punya cinta, dikelilingi cinta, dan kalau kita membagikan cinta kita ke sekitar kita, kita akan bahagia. Begitulah. Bethany yang tadinya sempet menyerah karena diakui atau tidak, memegang papan dengan satu tangan memang jauh lebih sulit daripada dua tangan, akhirnya bangkit lagi. Karena meskipun kalah ternyata dia sudah menginspirasi banyak anak lain di dunia. Jadi aku mendapat pelajaran penting di sini. Kita nggak harus selalu menang, yang penting kita mencoba. Kaya Bethany pas juara lima padahal dia harusnya dapet poin tinggi cuma sayang yang terakhir nggak diitung karena kehabisan waktu, dia bilang “I don’t come to win. I come to surf.” 
Surfing itu hidupnya, jiwanya. Dia mencintai surfing dan akan melakukan yang terbaik setiap kali. Menang kalah bukan masalah, asal sudah melakukan yang terbaik. Lagian menang kalah itu di hadapan siapa sih? Nggak lebih dari sekedar pengakuan manusia lain kan? Bethany toh sudah sangat-sangat memenangkan hidupnya sendiri.
Atau seperti superhero favoritku, Hit Girl bilang “I don’t wanna win. I wanna make the world a better place.” Dalam hal ini aku belajar banget, aku nggak perlu pengakuan dari orang lain bahwa aku benar, bahwa aku hebat. Itu cuma pengakuan.  Yang terpenting adalah apa yang kulakukan.
Beberapa waktu yang lalu ada seseorang yang salah mengerti aku dan tiba-tiba aja ngasih nasihat yang bahkan nggak nyambung sama sekali sama aku. Pertamanya aku pusing maksudnya apa sih? Kemudian selama beberapa waktu setelahnya aku pengen banget menjelaskan, kalau aku nggak seperti yang dia bilang. Tapi aku jadi mikir, orang yang dengan mudahnya menjudge tanpa terlebih dahulu berusaha memahami, nggak akan ada gunanya dikasih penjelasan. They won’t listen karena udah merasa paling benar. Iya sih, pertamanya aku kayak yang ngebatin dalam hati “Haaah? What are you talking about? Do you even know what are you talking about?” dan diikuti perasaan kesal dan sedih, “Kok bisa sih, dia salah ngerti aku? Kok bisa sih aku dikira kaya gitu? Kok bisa sih dia salah menilai akunya jauh, jauuuuuuuuuh banget?” dan pengen banget menjelaskan sampai aku nulis surat cinta segala (yang nggak kukirimkan).
Tapi aku inget temen aku pernah bilang “Nggak usah menjelaskan. Lakukan saja! Kalau nggak buta juga orang pasti bisa lihat.” Dan yaaah, setelah tak pikir-pikir lagi, fase menjelaskan untuk mendapatkan pengakuan bahwa aku benar itu sudah lama berlalu. Pas aku SMP mungkin ya. Mereka yang nggak paham, yaudah, maklumi aja, Toh setelah aku melakukan tes kecil-kecilan, yang lain paham kok. Yang nggak paham cuma sebutir palingan. Dan di titik ini, aku sudah bisa ketawa.
Oke, balik lagi ke Bethany, ini dia Bethany Hamilton yang asli.



Aku belajar banyak dari dia. Ketangguhan, keceriaan, nggak panik, nggak manja, nggak menyerah, nggak merengek minta pengertian dan pengakuan, dan masih tetap berusaha membantu orang lain, menginspirasi banyak anak lain. 

Oya, poin penting lain, Bethany itu punya keluarga yang kompak banget dan saling mencintai lohh. Menurutku hal ini banyak sekali berpengaruh ke kepribadian seseorang. Pelajaran banget kalau nanti aku membangun keluarga, aku akan memastikan anakku mendapatkan banyak cinta dan dukungan terutama dari orang tuanya. Eyaaaa. Jadi kapan nih kak, kita bangun rumah tangga? *plak
Final statement, mungkin sama sekali nggak nyambung dengan pesan moral dari filmnya, tapi aku mau bilang, ini hidup kamu. Lakukan hal yang kamu cintai dengan sepenuh cinta juga. Ada orang yang salah paham, ya keep going aja. Nggak ada gunanya memaksakan diri melakukan semua hal seperti yang menurut mereka benar karena kamu nggak bisa menyenangkan hati semua orang. Kaya waktu Bethany galau karena temennya marah dia nggak jadi ikut kerja sosial ke Meksiko karena harus latihan, ibunya bilang, “It’s your call. If you wanna go, go! If you don’t wanna go, don’t!”

Bahagialah, lakukanlah hal-hal yang membahagiakan, bagikan kebahagiaan sebanyak-banyaknya. Kalaupun masih saja ada orang yang nggak puas dengan apa yang sudah kamu lakukan, well, memang selalu ada orang seperti itu. Dan jujur saja, itu masalah mereka. Nggak perlu membuktikan kalau kamu benar, atau nggak seperti yang mereka pikirkan. Lakukan saja. Bahagia saja. Hidup!

Kalau kamu punya cerita inspiratif seperti Bethany ini, atau malah pengalaman kamu sendiri, cerita ke aku yaa. Kutunggu komentarnya.
Seperti biasa, terimakasih banyak sudah baca.

I love you so much,
Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Film Zoom ini bagus banget. Ceritanya tentang dunia paralel. Cerita dalam cerita. Hampir mirip Supernova gitu lah. Kalau di KPBJ kan ada Ruben dan Dimas yang menulis cerita, dan paralel dengan itu di dunia nyata ada orangnya beneran. Gitu kan?
Kalau Zoom ini ceritanya tentang cewek, namanya Emma. Profesinya bikin sex doll gitu. Selain itu, dia punya hobi menggambar komik. Dan dia bikin komik tentang cowok. Cowok ini diceritakan sempurna sesuai impian Emma. Namanya Edward, dia sutradara. Edward memproduksi film tentang cewek namanya Michelle. Michelle ini model tapi punya cita-cita pengen jadi penulis. Jadi dia menulis cerita. Cerita tentang apa? Yup, Emma.
Keputusan-keputusan yang mereka lakukan tanpa sadar mempengaruhi hidup satu sama lain yang artinya mempengaruhi kehidupan mereka sendiri-sendiri.
Jadi ceritanya Emma kurang pede dengan ukuran payudaranya. Akhirnya dia melakukan operasi implant payudara. Tapi ternyata setelah operasi dia merasa payudaranya kegedean dan akhirnya malah nggak nyaman. Gara-gara itu semua dia merasa kesal pada Edward, tokoh dalam komiknya yang terlalu sempurna. Dream boy. Jadi dia mengecilkan ukuran penis Edward sampai ukuran kecil banget. Gara-gara mengecilnya penis ini, Edward jadi galau sendiri. Dia nggak bisa bercinta karena malu dan nggak pede. Hal ini berpengaruh ke filmnya. Yang biasanya dia memproduksi film action penuh adegan tembak-tembakan dan ledakan, dia memproduksi film nyeni tentang lesbian, ya si Michelle itu tadi. Masalahnya, semua tindakan Emma itu ya Michelle juga yang menuliskan. Pusing kan?
Di akhir filmnya juga nggak dijelaskan yang asli kehidupan nyata mana, atau justru si pembuat fim pengen menegaskan kalau mereka bertiga aslinya nggak ada yang beneran eksis. Semua cuma sebatas ide di dalam sebuah film yang kutonton. Yang judulnya Zoom itu. Apapun itu, aku sukaaa banget sama idenya.
Hal ini membuatku berpikir kembali. Berpikir kembali karena aku udah pernah mikirin ini sebelumnya. Oke deh, sering banget mikirin hal ini sebenernya.
Gimana kalau aku ini ternyata cuma tokoh rekaan seseorang? Gimana kalau aku ternyata hanyalah ide di dalam kepala seseorang? Bagaimana kalau aku ternyata hanya bagian dari imajinasi seseorang? Dan semua yang kualami ini nggak nyata. Kalian nggak nyata, aku nggak nyata, kehidupan yang kita jalani hanya cerita dari buanyaaaak cerita lain. Aku bahkan pernah bertanya-tanya, bagaimana kalau bumi dan alam semesta yang kita tahu ini hanya satu buku di antara jutaan buku lain di sebuah perpustakaan raksasa? Jadinya menggelikan bukan kalau kita sampai bertengkar, eyel-eyelan, dan bahkan perang padahal kita nggak beneran ada? Hehehe.
Kaya kalau kita bikin artwork deh, misalnya. Kita melukis tentang seseorang yang menderita. Kita melukiskannya dengan teramat sangat baik. Siapa yang tahu kan, kalau kita telah menciptakan ‘kehidupan seseorang’ yang terjebak dalam penderitaan selama-lamanya? Dia merasa menderita banget, padahal bagi kita, ya dia cuma a piece of artwork.
Di Zoom, masing-masing dari mereka akhirnya menyadari sih kalau mereka itu nggak nyata dan ada yang membuat. Akhirnya Michelle nulis di bukunya WAKE UP! Well, mungkin yang kita alami sekarang ini, termasuk tahun-tahun yang mengerikan penuh kesedihan dan hari-hari penuh kejutan yang membahagiakan juga nggak lebih dari sekedar mimpi. Suatu hari nanti kita akan terbangun dan dengan entengnya melanjutkan kehidupan sebagai apapun itu, untuk kemudian tidur dan mimpi yang lain lagi nanti. Atau malah hanya satu di antara kita yang bangun. Aku hanya peran figuran dari cerita seseorang. Cameo yang numpang lewat. Bahkan seorang cameo paling nggak pentingpun di dalam cerita pasti punya latar belakangnya sendiri kan? Mereka cuma nggak dikasih porsi banyak dalam cerita. Atau yahh, masing-masing dari kita adalah pemeran utama dalam cerita kita sendiri, sekaligus cameo untuk cerita orang lain. Tentu saja semua hal ini terlalu membuatku pusing. Jadi kalau kamu pusing juga mikirin ini, berarti kita sama. *tos
Tapi untungnya sih aku malah jadi lebih tenang. Kalau memang begitu, aku nggak perlu terlalu serius menanggapi semua masalah yang datang ke dalam kehidupanku karena itu cuma bagian dari plot cerita. Kalau ada masalah, aku nggak perlu depresi sampai jedug-jedugin kepala ke tembok lagi karena mungkin itu hanya satu klimaks yang selalu diikuti dengan antiklimaks. Dan aku pernah mengalami percakapan lucu dengan Tuhan begini:
Aku        : Tuhan, kenapa sih, hidupku kok gini banget? Up and downnya ekstrim?
Tuhan    : Ibarat kamu nulis cerita, pembacamu bakal seneng nggak kalau ceritanya lempeng-lempeng aja? Kamu lahir, besar, nikah, punya anak, mati tanpa ada masalah sama sekali? Nggak seru kan?
Aku nurut-nurut aja sih, waktu itu. Tapi kali ini duhai maker, kalau Kau membaca ini. Tentu saja Kau membaca ini, You’re my maker, right? Aku cuma mau bilang, tolong dong, pertimbangkan genre lain. Bukannya aku nggak bersyukur dengan ceritaku sekarang. Tapi bisa kali yah, dikurangi dikit unsur drama ala sinetronnya. You know, I try to play it cool, but, masih aja gitu kadang-kadang kejungkel sendiri tanpa peringatan ke plot twist yang sinetron abis dan sorry to say, penontonnya cuma typical ibu-ibu rumah tangga kurang kesibukan.
Bisa kali di ceritaku ditambahin plot seperti emm, aku nemu mesin waktu, gitu misalnya. Atau aku jalan-jalan di luar angkasa kaya di Star Trek, atau aku jadi Wonder Woman dan menyelamatkan dunia, atau aku jadi super villain yang punya banyak minions. Ah, banyak kalau sekedar ide sih. Dan karena ide ini mungkin datangnya dari Kau yang membuatku juga, jadi please, silakan pilih aja yang mana yang paling seru. Asal jangan jatuh di masalah ortu cerai karena perselingkuhan, ditinggal pacar nikah karena menghamili cewek lain, perjodohan, dan sebangsa-bangsa itu lagi yah, yahh. You know, I’m done with that kind of drama. Lagian kenapa sih aku nggak diceritain bertetangga sama professor aja yang bisa membuat kostum spesial yang bisa mengecilkan badan ke ukuran semut? Kenapaaa?
Tapi sebagai ciptaan yang baik dan nggak mau dianggap nggak tau diri, aku tetep makasih banyak lohh atas semua ini. Hidupku masih jauh lebih mendingan lah daripada banyak makhluk lain yang kurang beruntung di luaran sana. Lalat buah, misalnya.
Buat kalian gaes, para pembaca yang budiman, tulisan ini nggak usah dianggap terlalu serius. Kalian kan tahu aku suka becanda. Dan lagian juga, nggak usah serius-serius amat menghadapi hidup ini. Apalagi sampai ngotot-ngototan adu bener sendiri. Wong siapa tahu lho, siapa tahu, kita ini cuma bagian dari imajinasi seseorang. Hanya cuilan ide. Kita hidup sebagai kita yang sekarang mungkin hanya satu kali. Hiduplah dengan hepi.
Sekian.
Seperti biasa, terima kasih sudah baca, dan serius ditunggu lho, komentarnya (kalau yang ini kalian harus serius gaes). ;)

Penuh cinta,
Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar


Ilustrasi dari Up from The Grave (seri Night Huntress).


Jeanine Frost adalah seorang penulis novel err, aku nggak tau genrenya apa aja, tapi terakhir kali aku ngecek di webnya, bukunya seri-seri vampir semua sih. Aku tadinya nggak kenal blas nama Jeanine Frost. Lha trus aku kenalan dari mana? Dari mbak Umi yang jualan novel murah-murah 18ribuan. Aku nggak mikir itu novel apa tadinya asal beli aja sih mumpung murah. Di back cover ada tulisannya genre paranormal-romance. Kirain bakal mirip-mirip Hex Hall gitu (yang baru kubaca buku pertamanya). Ternyata eh ternyata, ini novel vampir, pemirsa.
Aku sendiri suka cerita vampir. Bahkan kadang-kadang aku mengalami kebingungan serius nggak yakin aku ini vampir apa manusia? Soalnya tanda-tanda kevampiran banyak banget di aku. Misalnya, aku kalau malam begadang dan begitu matahari terbit ngantuk, trus aku juga suka sakaw darah. Hahaha. Oke, itu anemia, dan well, ternyata aku masih belum punya taring yang keren dan kemampuan hipnotis. Jadiii, bukan, aku bukan vampir. Tapi aku suka cerita vampir.
Novel vampir yang pertama kali tak baca tentu saja tak lain dan tak bukan adalah Twilight. Aku baca buku pertamanya aja sih tapi. Soalnya aku nggak terlalu suka dan emm, menurutku banyak hal tentang dunia pervampiran yang nggak kusetujui di Twilight.
Vampire Academy aku baca buku pertama dan kedua dan aku suka. Mungkin karena Vampire Academy rasanya lebih remaja banget dan aku setuju sama konsep donor darah manusia (yang ada juga di dunia vampire Jeanine).
Terus, aku baca novel judulnya Dark Blood, yang itu bagus banget, asik banget, dan nggak tak sangka-sangka ternyata ditulis oleh orang Indonesia (aku lupa namanya, novelnya ada di kosnya Ibing). Kalau di Dark Blood nggak disebut vampir sih, apaa gitu namanya lupa. Tapi sama lah intinya, tentang makhluk penghisap darah.
Terus aku punya The Vampire Chroniclesnya Anne Rice, tapi baru tak baca sampai halaman seratus berapa gitu lah, lupa. Alasannya? Ini buku ketiganya (Queen of The Damned), dan aku belum baca yang pertama (Interview With The Vampire) dan kedua (The Vampire Lestat) sehingga aku banyak yang agak-agak bingung. Oke, itu alasan yang nggak jujur banget. Alasan jujurnya, ini buku versi bahasa Inggris dan karena ini buku lama, aku kok susah ya memahaminya? Beda kaya pas aku baca Divergent atau Hunger Games gitu. Di Vampire Chronicles banyak istilah-istilah yang bikin aku mengkerut dan ngebatin “Apa lagi ini?” “Kalimat ini maksudnya gimana sih?” dan seterusnya. Lagian, setelah tak tabah-tabahin baca halaman per halaman, Queen of The Damned ini membosankan banget. Terlepas dari bahasanya yang emang bikin aku mengkerut, kebanyakan isinya adalah narasi, narasi, dan narasiiiiii. Dialognya cuma dikit, dan ntar aku bikin postingan terpisah aja deh soal ini.
Kemudian aku ketemu sama Jeanine ini. Sejauh ini aku sudah beli empat biji. Twice Tempted, trus Eternal Kiss of Darkness, trus Once Burned, baru First Drop of Crimson. Pertama beli dua, Twice Tempted sama Eternal Kiss of Darkness. Kenapa pilih dua itu? Karena mengikuti stoknya mbak Umi. :D
Pertama baca Twice Tempted, dari blurbnya aja udah ketahuan kalau itu adalah cerita lanjutan. Trus tak tengok-tengok, di cover belakang bagian dalam, itu ada tulisannya keterangan Seri Night Prince: 
1. Once Burned
2. Twice Tempted
Pas baca Eternal Kiss of Darkness juga ada tulisannya Seri Night Huntress World:
1. First Drop of Crimson
2. Eternal Kiss of Darkness
Makanya kemudian aku pesen ke mbak Umi dua buku sebelumnya itu.
Pas baca-baca, aku sadar kalau semua novel Jeanine ini berada di semesta yang sama. Tokoh-tokohnya saling kenal, saling mengisi, dan saling muncul bergantian sebagai tokoh utama. Terus, di salah satu ucapan terima kasih aku baca kalau Cat dan Bones yang muncul di hampir setiap judul ternyata adalah tokoh utama dari seri Jeanine yang pertama, yaitu seri Night Huntres (yang malah belum kubaca satupun) dan bikin aku bertanya-tanya, emang ceritanya Cat sama Bones gimana sih?
Daaaan setelah kuselidiki dengan lebih seksama di webnya Jeanine yaitu www.jeaninefrost.com, aku baru tahu kalau ternyata plot utamanya justru ya ceritanya Cat sama Bones itu. Empat novel yang udah kubeli ternyata novel spin off. Dan semua itu tergabung di Night Huntress Universe yang udah keluar 19 judul (termasuk ebook novella) dan masih akan ada satu judul lagi Oktober 2016 ini. Yah, aku baru punya empat, so, 16 more to go, dan mungkin aku akan mengikuti terus seri ini. Hehe.
Kok tumben Pel? Biasanya juga nggak sampe segitunya.
Soalnyaaaah, aku suka sama dunia vampirnya Jeanine ini. Ini beberapa alasannya:

1.      Ada Vlad.

Vlad yang Dracula itu. Kalau kalian adalah tipe yang percaya kalau pembaca bisa jatuh cinta pada tokoh dalam buku yang dibacanya, maka well, aku berharap bisa pacaran sama Vlad. Vlad itu ada orang benerannya lho. Dan cerita Vlad ini menginspirasi novel Draculanya Bram Stoker itu. Kalau nggak percaya, gugling aja pakai kata kunci Vladislav Basarab Dracul. Eh, btw, aku baru tahu dari Wikipedia kalau dracul itu ternyata artinya naga. Diambil dari kata draco/drago gitu. Tadinya aku nggak mikir sampai sana.

2.      Kehidupan vampir yang masuk akal

Ada donor manusia kaya di Vampire Academy. Ini lebih masuk akal dibanding minum darah hewan demi supaya tidak membunuh manusia. Ya kan porsi makannya vampire itu nggak banyak-banyak banget sampai darah punya satu orang habis ya kan? Kecuali udah lama nggak makan dan haus darah, atau vampir baru yang masih lapar karena mengeluarkan banyak energi untuk menyesuaikan diri. Dan oya, di sini, manusia nggak bisa serta merta berubah jadi vampir cuma karena digigit.

3.      Penokohan yang pas

Ini perlu banget aku pelajari dari Jeanine. Selama ini aku kalau nulis cerita, karakter utamanya hampir pasti mirip-mirip semua. Yup! Mirip aku. Bukan karena narsis, bukan. Tapi karena itu jauh lebih gampang untuk dilakukan. Aku otomatis tahu kalau menghadapi situasi begini maka si tokoh akan bagaimana karena pada dasarnya, aku menceritakan diriku sendiri. Ini nggak akan jadi masalah kalau aku cuma nulis sepotong cerita. Masalahnya adalah ketika nulis banyaaak cerita, dengan macam-macam judul dan bahkan genre yang berbeda, tapi karakter tokoh utamanya sama semua. Pembaca bakalan muntah-muntah dan bosen karena lama-lama mereka apal, ah paling ntar dia begini, ntar paling begitu.
Aku ketemu tiga pasang tokoh utama di seri ini dan gaya dan karakter orangnya beda-beda semua. Leila di Once Burned sama Twice Tempted, anaknya keras kepala, semau sendiri, nggak mau diatur, dan meledak-ledak. Paaaas banget untuk dipasangin sama Vlad yang songong, arogan, kejam, dan juga keras kepala.
Kira di Eternal Kiss of Darkness karakternya dewasa, tenang, kuat, mampu menguasai keadaan. Paaas banget dijodohin sama Mencheres yang ceritanya adalah vampire terkuat di dunia sekaligus bijak banget karena sudah berusia 4000 tahun.
Denise di First Drop of Crimson ceritanya gegabah tapi sayang keluarga. Sebenernya Denise agak nyebelin sih dan aku nggak terlalu suka karena dia itu ceroboh, panikan, dan hampir nggak pernah mikir dulu sebelum memutuskan sesuatu. Yaa mungkin cocok dipasangin sama Spade yang pengertian dan lumayan ngalahan dan pantang menyerah.

4.      Adegan panas

Hahaha. Abaikan saja poin ini. Tapi serius lho, di semua judul, Jeanine pasti menyelipkan beberapa adegan panas yang dituliskan secara teramat sangat jelas. Jadi yeah, ini itu novel dewasa, nggak kaya Vampire Academy yang cocok dikonsumsi remaja. Lagian kalau dilihat dari usia tokoh-tokohnya juga memang dewasa semua sih. 

Itu dia alasannya gaes. Selain itu semua, adegan aksi yang ditampilkan juga bagus, menantang, klimaksnya pas, dan yahh, semuanya pas deh buat aku. 
Sebelum-sebelum ini aku nggak pernah niat sama sekali untuk nulis cerita vampir. Kepikiranpun enggak. Tapi sejak baca novel Jeanine ini aku kok jadi pengen nulis cerita vampirku sendiri ya?
Btw, selesai ngepost ini aku mau langsung pesen ke mbak Umi buat melengkapi koleksi. Kamu mau juga? Hubungi sana, di akun facebook Umi Sumiyarsi. Murah lho, cuma lapan belas ribuan. Kalau nggak suka cerita vampir, don’t be worry. Mbak Umi masih sedia banyak judul lain.
Atau kamu suka vampir juga ternyata? Punya novel vampir recommended? Bagi-bagi infonya dong di kolom komentar.
Akhir kata, thank you so much for reading, and see you in the next post!

Love,
Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit conseat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amei.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Juni 2019 (2)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (15)
  • Februari 2018 (1)
  • Januari 2018 (1)
  • Oktober 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (2)
  • Juni 2017 (3)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (2)
  • Maret 2017 (8)
  • Februari 2017 (10)
  • Januari 2017 (3)
  • Desember 2016 (6)
  • Oktober 2016 (4)
  • September 2016 (6)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (3)
  • Juni 2016 (8)
  • April 2016 (1)
  • Maret 2016 (6)
  • Oktober 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • Kesumat Sang Raja Jerawat
  • Ngeblog seaktif Facebook-an. Gimana sih caranya?
  • Mengukur Kualitas Diri Tidak dengan Membandingkan
  • PESAN MORAL LOMBA-LOMBA AGUSTUSAN
  • PENTINGNYA MEMPERHATIKAN LINGKUNGAN PERGAULAN ANAK

Yang Nulis

Isthar Pelle
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates