• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MADGIRL!



Ini bukan foto Syifa. Apalagi Fahri. Ini Zaza, anaknya Bu Umi. Bu Umi itu siapa? Yaallaaah, bisa jadi satu postingan sendiri nih caption.


Apaan nih, hamil aja belum pernah kok tau-tau bikin postingan tentang parenting?
Kalian tahu Syifa sama Fahri? Mereka ini pernah tak tulis di status lho. *penting?
Buat kalian yang selama ini nggak peduli-peduli amat sama statusku sehingga nggak kenal sama Syifa dan Fahri, nih aku ceritain dikit. Jadi kosku itu ada yang ngurus, suami istri namanya Mbak Siti dan Pak Abu. Mbak Siti dan Pak Abu punya dua orang anak, Syifa dan Fahri itu tadi.  Syifa kelas 2 SD, Fahri, kakaknya, kelas 3 SD.
Di postingan statusku yang ‘penting’ itu, aku nulis tentang betapa kagumnya aku sama Mbak Siti dan Pak Abu yang bisa ngedidik Syifa dan Fahri sehingga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang santun, rukun, suka membantu, ceria, bermain sesuai usianya, nggak pernah minta mainan aneh-aneh, nggak minta main gadget, hormat sama yang lebih tua, dan segudang hal positif lainnya tentang anak-anak. Aku sama Ibing bahkan sampai berencana menjadikan Mbak Siti dan Pak Abu sebagai role model dalam hal parenting kalau kami punya anak nanti.
Tapi semua itu berubah sejak Negara Api menyerang gaes. Lebih tepatnya sejak Mbak Siti nambah kerja di luar kos. Jadi kalau tugas bersih-bersih dan rapi-rapi di kos udah selesai, Mbak Siti pergi kerja jadi baby sitter di rumah orang yang agak jauhan lah pokoknya dari sini.
Kalau dulu, pulang sekolah itu Syifa sama Fahri langsung ‘dipegang’ Mbak Siti, dalam artian diajak makan siang bareng sambil anak dua itu cerita-cerita tadi di sekolah ngapain aja, belajar apa aja, ada hal seru apa aja, dan yang bikin aku tambah kagum lagi, mereka ngobrolnya selalu dalam bahasa Jawa halus.
Nah, sejak Mbak Siti kerja, otomatis pulang sekolah nggak ada acara makan siang plus ngobrol-ngobrol kaya gitu lagi. Aku nggak lagi mempermasalahkan Mbak Siti yang kerja ya, soalnya pada mulanya semuanya baik-baik aja, pulang sekolah mereka makan sendiri, ganti baju, trus main sama anak-anak sebaya keliling kompleks atau ke sawah deket kosan (kosanku deket sawah dong). Normal dan baik-baik aja.
Perubahan mengerikan baru terjadi setelah dua anak itu mulai sering hang out sama Mbak sebelah yang hobi goyang mujahir. Kalian yang ngikutin statusku juga pasti tahu siapa dia. Tapi bagi kalian yang belum tahu, baiklah, aku ceritain juga dikit.
Jadi tetanggaku sebelah kamar ini hobi banget dangdutan. Sehari-hari kerjaannya cuma dua: nyetel dangdut kalau nggak nonton tipi. Chanel yang ditonton apa lagi kalau bukan Indosiar? Lagu favoritnya adalah Goyang Mujahir yang seharian disetel on repeat dalam volume maksimal. Pagi-pagi langsung nyetel Goyang Mujahir puluhan kali. Siangan dikit lagunya distop, ganti nonton FTVnya Indosiar. Ntar siang nyetel Goyang Mujahir lagi. Stop buat nonton Golden Memories, Goyang Mujahir lagi, dan seterusnya.
Aku keracunan? Iya, dulu sampai nggak sengaja apal lirik lagunya (sekarang juga masih), tapi sekarang aku udah punya teknik jitu buat menangkal itu semua. Nyetel lagu tandingan. Nggak sekenceng dia sih, aku kan sopan anaknya. Tapi seenggaknya mending buat menangkal biar liriknya nggak merasuk-merasuk amat. Takutnya ntar tercetak di alam bawah sadarku dan tau-tau ntar gede aku jadi biduan.
Hubungannya sama Syifa dan Fahri apa? Sejak gaul sama mbak yang satu ini, mereka otomatis pertama, ketularan dangdutan. Tiap main ke kamarnya mbak sebelah mereka bertiga langsung dangdutan Goyang mujahir. Sesekali diselingi sama lagu lain, yaitu Sambalado. Kadang lagu dangdut lain yang aku nggak tau judulnya apaan. Yang Fahri apal banget sampai dinyanyiin terus tu yang liriknya gini “Biiiiirunya cintaaaaa, kiiiiita berduaaaaa.” Ada yang tahu nggak itu lagu judulnya apa?
Kedua, mereka jadi ketularan kelakuan mbak ini yang kalau ngomong itu selalu teriak-teriak nggak ada sopan santunnya sama sekali. Tadinya Syifa sama Fahri ngomongnya pakai Bahasa Jawa alus terus lho, kadang Bahasa Indonesia kalau sama anak kos, dan ngomong Bahasa Jawa ngoko kalau sama teman sepermainannya, tapi tetep halus normal. Sekarang jadi teriak-teriak. Harus banget gitu teriak-teriak.
Ketiga, mereka jadi nggak sopan. Tadinya kalau ada tamunya anak kos mereka sopan, main biasa, tapi nggak ngegangguin. Sekarang mereka nggangguin. Mondar-mandir lari-lari sambil teriak-teriakin yang teriakannya ini diajarin sama Mbak Goyang Mujahir itu tadi. Teriakannya bangsanya “Pacaran hepi-hepi ya?” gitu. Padahal mereka mana tau arti pacaran cobaa? Lagian tamunya anak kos belum tentu pacarnya juga.
Keempat, mereka mulai minta aneh-aneh. Yang paling gampang tau-tau minta dibeliin hape karena biasa pinjem hapenya Mbak Goyang Mujair. Dan kalau pinjem hapenya mbak ini kalian tau nggak apa yang mereka lakuin? Baca-baca chatnya si embak sama pacarnya yang isi obrolannya tu, aduuuh, aku aja miris dengernya. Yang biasanya mereka seneng main sama temen-temen sebayanya di sawah juga sekarang maunya jeng-jeng cyiiin, harus naik motor.
Sebagai tetangga, aku merasa miris. Kalau didiemin bisa gawat karena usia segitu lagi pembentukan karakter banget kan? Belum lagi si mbak goyang mujair ini suka cerita-cerita kalau misalnya dia habis jalan sama pacarnya (sementara dia punya suami dan Syifa dan Fahri tahu itu). Dia bilang “Kalau sama pacarku enak. Naik mobil, dibelanjain, dan bla bla bla.” Coba kalian bayangkan, dia ngomong kaya gitu sama anak kecil. Ini kalau jadinya anak-anak itu nangkepnya “Ooh, berarti udah punya suami masih boleh punya pacar lagi? Ooh, berarti yang enak itu pacaran sama orang yang punya mobil dan ngebelanjain?” gitu gimana cobaa?
Sementara itu, aku nggak bisa berbuat apa-apa. Ya masa aku ngelarang-larang Syifa sama Fahri biar jangan main ke kamarnya mbak sebelah sih? Sementara Mbak Siti sama Pak Abu yang sekarang mulai ngeh anak-anaknya berupahpun nggak kuasa ngelarang lagi. Kenapa? Karena dua anak ini sekarang berani ngeyel kalau dibilangin. Ngeyelnya karena apa? Karena si embak goyang mujair bilang gini “Ngapain sama Ibumu, Ibumu nggak bisa naik motor, nggak bisa ajak kalian jalan-jalan. Mending sama aku, jalan-jalan terus,” gitu. Kalian bayangin aja deh gaeees.
Tadi sore, mbak goyang mujair lagi telponan sama nggak tau siapa dan obrolannya bleh, aku aja yang udah gede risih dengerinnya sampai aku sengaja nyetel musik agak kenceng biar nggak denger. Dan Syifa mendekat ke kamarnya. Aku udah deg-degan. Yaallaaah, ini anak kecil apa ya harus denger kaya gituan? Untungnya karena si embak lagi sibuk di telpon, Syifa nggak jadi main, trus dia ngeliatin aku dari depan pintu. Aku sih biasa, lagi sibuk ngejahit.
Trus tak panggil. Dan tumben-tumbenan mau. Biasanya nggak mau sambil melet trus lari ke si embak untuk selanjutnya mereka ketawa-ketawa. Entah apa yang mbak mujair katakan tentang aku.
Pas Syifa udah masuk kamarku, tak ajakin bikin boneka sendiri. Tak kasih alat dan bahan. Tak suruh bikin pola sendiri, jahit sendiri, menghias sendiri. Dan dia mau. Sibuuuk banget bikin gantungan tas bentuk bunga. Meskipuan hasilnya masih berantakan nggak karuan, tapi dia bangga banget. Trus dia turun, manggil kakaknya. Dan mereka berdua sibuk di kamarku bikin prakarya sambil dengerin Deep Purple sampai malem jam sembilan lewat. Sampai aku makan malamnya telat. Hahaha.
Mereka sibuk banget, dan somehow berubah jadi normal. Jadi kaya dulu lagi. Sopan banget. Nanya-nanya kepo khas anak kecil, dan mereka banyak belajar.
Pertama, karena aku lagi ngerjain bantal dengan quote berbahasa Inggris, mereka nanya artinya, yang akhirnya berlanjut dengan les bahasa Inggris singkat. Syifa bahkan dengan cerianya lari ke bawah ngambil kamus anak-anaknya. Trus tebak-tebakan sama Fahri.
Kedua, mereka sukses bikin gantungan tas sendiri. Aku cuma ngarahin sama ngebantuin masang gantungannya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka tahu kalau mainan itu ternyata nggak harus beli tapi bisa bikin sendiri.
Ketiga, Fahri sempet nanya “Mbaaak, ini sampahnya banyak banget?” trus aku bilang “Itu perca. Nanti masih bisa dipakai lagi dibuat barang-barang baru kaya gini,” sambil nunjukin hiasan topi mini di bando yang aku pakai. Dan mereka surprise banget. “Bikin itu dari sampah?” Untuk pertama kalinya juga mereka belajar recycling.
Kemudian pas kami lagi seru bin asik banget bermain, berkarya, sambil belajar, mbak mujair yang udah selesai telponan tau-tau nimbrung dan ngapain cobaaaa? NGEGANGGUIN! Dia bahkan ngatain gantungan bunganya Syifa jelek. Coba kalian bayangkan!
Untungnya, karena dari awal udah aku support dengan bilang “Enggak apa-apa kalau belum rapi. Namanya juga belajar. Dulu aku jugaa masih kaya gitu jahitannya waktu kelas dua,” dan lain sebagainya, dianya tenang-tenang aja. Tetep bangga sama hasil karyanya.
Dan mbak mujair mulai lagi. Berusaha ngajak mereka main ke kamarnya dan dangdutan, dan merekanya enggak mau. Mereka terlalu asik learning English sama aku. Wkwkwk. Sampai sini aku merasa sedikit lega. Baru dikit. Soalnya nggak tau kan, kalau besok-besoknya mereka mendadak balik ke mujair mode lagi? -_-
Di sini aku nggak lagi mau bilang kalau aku lebih baik dari mbak mujair enggak. Aku juga blangsak anaknya. Cuma aku lihat-lihat lah. Kalau gaul sama anak kecil ya aku menyesuaikan sama usia mereka. Tema obrolan baiknya apa, ngajak main apa. Yahh, meskipun playlistnya Deep Purple sih karena aku nggak punya lagu anak-anak.
Yang jelas, dari penglihatanku (penglihatan? Apa ya istilah tepatnya?), lingkungan ternyata memang berpengaruh besar banget terhadap perkembangan dan tingkah laku anak.
Temenku pernah update status bilang “Anak tetanggaku, orang tuanya santun kok anaknya bisa nggak sopan gitu ya?”
Jawabannya kukira itu tadi. Karena anak-anak meniru apapun yang dilihatnya, nggak hanya dari orang tuanya tapi juga dari orang-orang di sekitarnya. Makanya penting banget buat orang tua untuk memperhatikan lingkungan pergaulan anak juga. Memang rada repot. Aku sendiri ngebayanginnya ntar kalau punya anak pasti repot banget ngawasinnya. Nggak mungkin juga melarang-larang dan membatasi.
Temen-temen yang udah punya anak adakah yang punya solusi jitu untuk mengatasi hal ini?
Bagi-bagi infonya dong di komen.

Makasih yaa, udah baca.

Love,
Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar



Aku suka melucu. Biarpun seringnya malah krik krik dan nggak ada yang ketawa, tetapi seenggaknya aku bisa menertawakan diri sendiri. Ini penting. Kenapa? Karena aku punya prinsip aneh: kalau aku bisa ngetawain diri sendiri, nggak ada orang lain yang bisa ngetawain aku lagi. Yang ada kami malah ketawa bareng.
Jadi gitu. Dari dulu, aku adalah orang yang paling tau kekurangan diriku dan menertawakannya paling keras. Bukan karena aku minder. Tapi justru karena aku tahu dan aku pede dengan itu. Aku tahu dan aku baik-baik saja. Jadi kalau ada orang yang ngece kekuranganku, aku nggak bisa sakit hati lagi, karena aku toh udah biasa ngece diriku sendiri.
Trus kekurangan-kekuranganku apa aja sih? Banyaaaaak. Dari segi fisik aja udah keliatan aku badannya tinggi, langsing, kakinya bagus, kulitku item, mukaku nggak cantik (aslinya emang nggak cantik gaes. Kalau aku biasanya bilang cantik itu pencitraan aja), jidatku jenong lebar banget, gigiku mencang-mencong nggak disiplin, kulitku jerawatan, rambutku jenis yang kusut susah dikendalikan. Cobaaaa, kurang ngenes gimana lagi cobaaa? Kalau aku minderan pasti aku udah mengurung diri di kamar atau kalau aku kaya raya, aku udah operasi plastik ke Korea. Sialnya, aku pede banget dengan semua itu. Aku jenis anak yang naïf banget yang percaya kalau kecantikan sejati itu muncul dan bersinar-sinar dari dalam. Keren itu dari jiwa. Fisik hanya kendaraan.
Trus, apakah kepedeanku itu menyelamatkan hidupku? Emm, mungkin iya, tapi mungkin sedikit merepotkan juga. Ibuku malu punya anak nggak cantik karena dia sendiri merasa cantik. Untuk ukuran wanita usia 47, ibuku masih keliatan muda banget kaya usia 30. Udah gitu kulitnya kuning langsat bersih lembut lembab dan sehat wal afiat. Dari lahir nggak pernah jerawatan barang setitikpun. Jadi dia malu kenapa anaknya nggak bisa kaya dia. Kenapa kulitku item (yang jelas banget keturunan dari Bapak), kenapa aku jerawatan (yang juga dari Bapak), dan kenapa kenapa yang lain yang aku sendiri juga nggak tau. Yakalii kalau aku bisa ngedesain fisik sendiri aku bakalan ngedesain diriku cantik banget sampai Gal Gadot sama Gigi Hadid nyingkrih-nyingkrih minder bahkan sekalipun aku nggak berada deket-deket mereka. Tapi kan bentuk fisik kita nggak bisa milih. Merawat mungkin iya, tapi merubah ya nggak bisa. Lagian, yang jadi masalah di sini dan bikin kami (aku sama Ibuku) nggak nyambung adalah karena aku bangga akan diriku apa adanya.
Terus apakah kepedean ini memudahkanku mendapatkan jodoh? Hemm, kalau pasangan sih iya. Rata-rata cowok yang pernah pacaran sama aku bilang kalau mereka nggak peduli lagi sama fisikku bentukannya gimana karena aku anaknya udah asik (((asique -_-))). Bahkan ada, banyak malah, yang dengan jahatnya bilang “Kamu itu nggak cantik. Cewek lain banyak yang lebih cantik. Mantan-mantanku jauh lebih cantik dari kamu,” gitu dan seterusnya. Aku sakit hati? Enggaaaaak. Aku kan kelewat pede anaknya. Aku malah bilang “See? Kecantikan itu bukan segala-galanya beibih!” Wkwkwk.
Tapi jodoh? Lha ini. Urusan jodoh kan nggak cuma kita sama pasangan. Tapi termasuk kita sama keluarga pasangan ya kaaan? Ibing sih menerima aku banget apa adanya sekalipun mantannya juga cantik-cantik. Aku tau itu dari manaaa? Dari Ibunya Ibing yang bilang. Iyes, ini masalahnya. Ibing nerima aku tapi Ibunya enggak. Ibunya malah di hadapanku bilang “Kok kamu malah milih yang kaya gitu sih? Dulu sama si A si B si C aslinya Ibu udah setuju.” Iya gaes, bilang kaya gitu. DI HADAPANKU! Aku nangis. Bukan, bukan karena ejekan fisik. Kalau soal fisik aku udah khatam. Tapi karena Ibunya Ibing nyindir-nyindir yang katanya gara-gara pacaran sama aku Ibing jadi kurus? Padahal dulu gendutnya Ibing itu gara-gara mabuk terus kerjaaannya sampai perutnya buncit. Trus sekarang perutnya nggak buncit lagi karena udah nggak alcoholic kaya dulu. Minum jarang-jarang. Gara-gara kekurangan fisik, aku jadi bertanggungjawab atas segalanya. Sekarang sih aku bisa nulis ini sambil ketawa-tawa. Dulu pas adegannya aku nangis karena aku kan emang terharuan anaknya (bagian mananya yang mengharukan woyyy???).
Sekarang Ibunya Ibing konon sudah menerima aku. Aku juga nggak tau aslinya. Kalau tak endus dari baunya sih belum (aku bisa nyium pikiran kan?) soalnya masih sempet-sempetnya nitip pesan ke Ibing katanya aku disuruh luluran biar putih. Lhahh, dikira aku nggak pernah luluran? Biar Madgirl juga aku rajin luluran dan body scrub-an lhoo. Tapi bukan biar putih. Cuma biar kulitku bersih dan sehat soalnya aku nyadar kulitku kering. Kalau nggak rajin discrub pasti jadinya kusem. Sekarang kan item-item juga yang penting glowing *halah. Tapi gimanaaa, orang tua kan? Aku nggak bisa jelasin kalau semua sudah dibatasi oleh phenotype yang ditentukan oleh genotype. Nggak bisa diubah. Bersih, cerah, glowing, dan nggak kusem, bisa. Tapi kalau disuruh jadi putih? Nggak bisa kecuali suntik putih. Dan aku nggak seinsecure itu sampai suntik putih segala. Balik lagi kan, aku pede apa adanya. Tapi tetep aja aku nggak enak mau ngejelasin. Apa baiknya aku susupin link blog ini ke hapenya ya biar beliaw baca postingan ini? Hihihi.
Itu baru soal fisik. Kekurangan lain masih ada juga kaya misalnya aku tu lahir dan menjalani masa kanak-kanak di kampung yang kampung banget, yang semua hal tentang kampungan yang bisa kamu bayangin ada di situ. Ndesaaaaaaa byanget. Ciri-cirinya? Jauh dari keramaian. Iya, bahkan sekedar keramaian aja jauh, apalagi kota. Jarak sama kantor kecamatan aja 24 km sendiri. Itupun bisa ditempuh dalam waktu satu setengah jam karena jalannya jelek banget sampai kadang-kadang aku mending milih jadi Sun Go Ku aja biar bisa naik awan. Jarak sama kantor kabupaten? Aku nggak tau ada berapa kilo, tapi yang jelas bisa ditempuh dalam waktu 3-4 jam. Trus, di kampungku tu nggak ada angkot. Jadi orang kalau mau pergi-pergi tuh naik mobil pick up gitu gaes. Udah kebayang? Ya pokoknya intinya itu.
Nha, setelah lulus SD, ceritanya aku kan SMP di kecamatan. Kenapa? Karena di kampungku nggak ada SMP lah. Ada MTs sih, tapi aku kelewat songong dan nggak mau sekolah di situ. Hahaha. Sekampung seangkatan cuma aku aja yang ngelanjutin SMP. Yang lain ada yang ngelanjutin ke MTs. Yang lain nggak ngelanjutin. Iyaaa, desaku masih segitunya. Nha, pas mau masuk SMP ini Ibuku cemas karena SMP itu kan di kecamatan yang notabene rada kota, sedangkan aku berasal dari kampung. Ibuku cemas kalau aku bakalan nggak punya temen sehingga Ibuku menyarankan aku untuk pura-pura nggak berasal dari kampung. Untuk pura-pura jadi anak kota yang gewl. Untuk menjadi seseorang yang bukan aku. Untuk menjadi palsu.
Who am I kidding? Aku sih cuma iya-iya aja. Kenyataannya? Aku malah ceritain dengan pedenya keunikan-keunikan di kampung yang nggak dimiliki temen-temenku. Aku malah ketawa keras-keras pas nyeritain jalan menuju rumahku yang aduhai jeleknya. Aku menunjukkan kalau iya, aku emang berasal dari kampung, tapi aku baik-baik saja. Trus apa bener kekhawatiran Ibuku kalau aku bakal nggak punya temen? Enggak. Aku punya temen. Banyaaak temen.
Besides, aku merasa pede banget waktu itu karena aku merasa pinter. Di SD aku rangking satu terus. Bukan karena aku jenius, tapi karena temen-temenku tiap pulang sekolah harus ikut ngebantuin di sawah sehingga nggak bisa belajar sedangkan aku yang putune mbah kaji ini punya waktu belajar sebanyak yang aku mau.
Kalian tahu apa yang om-om dan tanteku bilang pas aku mau melanjutkan SMP ke kecamatan? Mereka bilang “Nggak usah kepedean. Kamu kan pinter di sini karena nggak ada saingannya. Kalau di kota banyak yang lebih pinter,” gitu. Untungnya aku nggak percaya. Hahaha. Aku waktu itu mikir pelajaran SMP doang, apa susahnya. Ntar kalau SMA mungkin aku baru akan khawatir. Dan pas SMApun ternyata aku juga nggak khawatir. Bukan karena masih merasa pinter. Tapi itu adalah fase-fase aku lagi nggak peduli sama apa-apa termasuk prestasi akademik. Jadi mau pelajarannyaa susah mau nilainya jelek ya bodo amat, gitu.
Kesimpulannya dari banyak banget di atas itu tadi apa? Aku aslinya pede dan merasa baik-baik saja dengan apa adanya diriku baik secara kekurangan fisik, latar belakang, dan lain sebagainya. Yang ribut itu malah orang-orang di sekitarku. Ibuku, om dan tanteku, Ibunya Ibing. Bukan hanya ribut, banyak dari mereka yang mengecilkan. Ibuku sendiri pernah bilang katanya aku ngisin-isini karena nggak cantik sementara tetangga yang kerja jadi pembantu rumah tangga aja pulang-pulang jadi cantik. Tanteku apa lagi. Gencar banget kalau ngatain aku secara fisik karena anaknya (sepupuku) konon cantik banget. Omku selalu ngatain aku ndeso dan pas aku kecil dia bahkan nggak mau gaul sama aku, ngajakin aku ke mana-mana karena katanya bisa malu-maluin sedangkan sepupuku yang konon cantik itu diajakin karena tampangnya ngota. *nangis ngoser di sebelah pawon
Ibunya Ibing selalu membandingkan aku sama anak perempuannya (adiknya Ibing) yang cantik bin putih, dan calon menantu satunya (pacarnya adiknya Ibing yang cowok) yang juga cantik bin putih dan tetangganya yang juga cantik bin putih, dan sodaranya yang juga cantik bin putih, dan bintang filem,dan bihun, dan semuanya yang cantik bin putih deh pokoknya.
Apakah aku jadi minder gara-gara itu semua? Enggak. Aku emang rada nggak tau diri sih anaknya. Aku itu kaya Sanchai (kalian nggak usah pura-pura nggak tau Sanchai biar nggak keliatan tuanya gitu deh). Rumput liar yang biarpun diinjek, dipotong, dilindes, disemprot obat rumput, tapi tetep bisa tumbuh dan berdiri njegrik lagi. Dan ada untungnya juga aku keras kepala. Jadi aku kekeh berpendapat kalau cantik itu dari dalam. Cukup jadi diri sendiri dan orang lain akan suka pada kita (iya sih, if you were somebody else Pel).
Di akhir postingan yang khidmad ini, aku bersyukur karena aku pede apa adanya, karena aku masih punya banyak teman tanpa harus pura-pura, dan terutama karena aku bisa menertawakan diri sendiri sekeras-kerasnya. Dalam pergaulan, seni menertawakan diri sendiri ini terbukti ampuh. Temen-temenku udah nggak bisa ngece dengan maksud menyakitiku lagi. Kalaupun ngece paling becanda biasa. Ha gimana mau menyakiti kalau akunya sendiri udah sering ngece diri sendiri dan menertawakannya paling kenceng? Kalau nggak percaya, tanya aja sama temen-temenku. Udah berapa kali aja mereka niat ngece aku tapi mengurungkan niat, atau udah jadi ngece tapi nggak kena sasaran karena akunya malah ketawa paling keras.
Quote dari postingan kali ini adalah: sebelum orang lain ngetawain kamu, maka sebaiknya kamu ketawain dirimu terlebih dahulu. Itu!
Love,
Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
6 komentar



Orang-orang pada nulis cerita hijrah, aku juga mau aaaah. Tapi hijrahnya kali ini bukan dari celana gemes menuju hijab syar’i  ya, tapi dari jaman alayah menuju kedewasaan. Ciee, dewasa cieee. 

Oke, pertama-tama, ijinkan aku mengaku bahwa, aku pernah alay. Yup! Bahkan lama banget alay. Bertahun-tahun. Sekarangpun masih. Cuma sebisa mungkin kukurangi kadarnya. Setiap kali alaynya kumat, aku akan mengingatkan diri sendiri “Ingat, Pel. Hijraaaah. Ingat hijraaaah,” sambil bernafas secara teratur. And it helps a lot. 

Sebenernya, kalau bisa sih aku pengen kaya Peterpan yang nggak dewasa-dewasa, tinggal di Neverland tempat mimpi nggak ada habisnya. Tapi aku sadar kalau aku hidup di realita, dan bentar lagi aku akan ulang tahun ke 26. Dan aku inget, jaman masih unyu dulu, aku kalau liat cewek usia 26 tuh udah yang kaya mbak-mbak banget. Dewasaaa banget. 

Jadi aku pengen hijrah karena itu? Ya nggak juga. Tapi lebih karena proses. Fase alay is supposed to be over. Dan mungkin ini titiknya. Demi itu semua, aku mencanangkan program operasi demi meningkatkan kualitas diri yang lebih baik. Act like a grown up, think like a grown up, talk like a grown up, dan lain-lainnya like a grown up. 

Apa saja yang kulakukan?

1.      Lebih rapi dan disiplin.

Ini ngaruh banget ternyata. Jaman dulu, bangun tidur nggak lipet selimut sampai ntar melem tidur lagi tu aku biasa. Nggak ngerasa ada yang salah sama sekali. Tapi itu ternyata ngaruh ke kinerjaku seharian. Kalau bangunnya aja udah males, seharian bawaannya maleeees terus. Makanya aku sekarang berusaha keras jadi lebih rapi. Bangun tidur, selimut dilipet rapi, sprei dibenerin sampai rapi, trus seluruh kamar dibersihin dan dirapi-rapiin. Dan ternyata itu ngaruh. Berfungsi seperti pemanasan. Aku jadi semangat.
Yang kedua adalah disiplin. Dulu aku menganggap discipline is boring. Tapi ternyata enggak. Discipline can be fun, tergantung gimana kitanya. Aku sadar passionku banyak. Dan aku nggak bisa kalau disuruh memilih salah satu atau salah dua aja. Nggak bisa. Bertahun-tahun sudah aku coba.
Jadi ya semuanya emang harus dapet jatah. Kalau nggak disiplin, yang terjadi adalah malah nggak karuan semua. Makanya aku harus pinter-pinter mem-break down waktu seharian biar dapet semuanya. Dan yang terjadi malah aku jadi nggak gampang bosen soalnya seharian kegiatannya bervariasi.
Meskipun nggak saklek, urut-urutannya, tapi aku punya to do list yang harus diselesaikan tiap harinya. Harus. Nggak peduli gimana urutannya. Setelah terbiasa toh ternyata jadi terinstall di alam bawah sadar dan berjalan otomatis.
Misalnya tiap hari aku mewajibkan diriku sendiri untuk olahraga minimal 30 menit sama latihan nyanyi minimal sepuluh lagu. Aku akan memenuhinya meskipun waktunya nggak mesti. Soalnya kerjaan juga nggak pasti kadang bisa disambi, kadang nggak terlalu bisa disambi. Jadi kondisional aja. Tapi tetep harus ditunaikan.
Jualanpun ada to do listnya tersendiri. Upload desain baru, nulis status story telling berapa kali, share ke grup, jam berapa belanja supplies, jam berapa harus udah selesai packing, jam berapa kirim barang, dan sebagainya.
Dengan melakukan cara itu, semuanya dapet jatah dan tetep nggak bosen karena kegiatannya macem-macem.
Kalau to do list hariannya udah tercoret semuaaa, baru aku bisa santai-santai kaya misalnya nonton film, main instagram, atau baca bacaan ringan.

2.      Talk less do more.

Talk di sini nggak berarti mentah ngomong pakai mulut, tapi termasuk update status. Dulu aku seriiing banget update status. Sehari bisa sampai sejuta kali kayaknya. Soalnya dulu aku belum punya jadwal harian yang harus dipenuhi, jadi waktunya kaya selo banyak gitu dan aku suka mikir-mikir “Ngapain yaa, ngapain yaa,” trus akhirnya fesbukan deh. Padahal kerjaan aslinya banyak, cuma dodolnya, nggak kepikir. Ntar pas sadar, baru panik. Dan tentu saja nggak lupa update status dulu lagi: “Aduuh, baru sadar kalau ternyata banyak kerjaan.” *sigh
Gara-gara itu, 24 jamku jadi sama sekali nggak produktif. Aku kebanyakan ngomong, kerjanya nggak ada.
Kalau sekarang tak balik. Kerjain dulu semuanya, kalau ada waktu selo baru update status, gitu.
Namanya juga proses kak, belum bisa kalau mendadak jadi nggak update status sama sekali. Hihi.

3.      Read more.

Masa-masa alay itu, salah satunya ditandai dengan kurang ilmu kurang pengalaman, tapi sok merasa yang paling pintar. Serius deh, kalau aku nemu mesin waktu, aku akan balik ke masa lalu dan menyuruh diriku sendiri baca lebih banyak lagi. Dari dulu aku emang suka baca sih. Tapi masih kuraaaang. Kurang banget, kurang banyaaaak. Dan itupun udah bikin aku belagu. Ngerasa paling pinter sejagad.
Makin ke sini, makin banyak yang dipelajari, makin sadarlah aku betapa kesongongan masa lalu itu memalukan. Ooh ternyata gini ya? Ohh ternyata yang bener gitu? Kok dulu aku taunya gini sih? Duhh, salah dong. Heuheuheu. Dan seterusnya. Trus diriku terbelah jadi dua. Yang satu bisa terbang dan ngomong dengan bijak, “Makanya Pel, nggak usah songong. Baca lagi yang banyak!” Yang satu cuma bisa menundukkan kepala dengan muka merah. Malu sejadi-jadinya.
“I, i… iya.”

4.      Listen more.

Aku tu keras kepalanya nggak ketulungan. Sekarang juga masih sih. Mungkin emang sifat bawaan apa gimana ya? Cuma bedanya kalau sekarang ya aku akan berusaha bangeeeet untuk lebih mendengarkan orang lain. Kalau dulu, nggak peduli pendapatku bener atau salah, aku nggak mau dengerin orang. Yang penting ngeyel aja dulu. Makanya sering kejadian udahannya aku ‘kisinan’ kalau ternyata salah. Kisinan itu apa ya, aku nggak nemu istilah yang tepat dalam bahasa Indonesianya. Emm, mungkin malu sendiri gitu lah kira-kira.
Kalau sekarang, aku memaksa diriku sendiri untuk mendengarkan. Mendengarkan serius sekalipun aku nggak yakin yang orang omongin bener. Setelah itu, cari referensi lain, nyari pendapat ketiga, keempat, dan seterusnya, yang selanjutnya kuolah, kupikir lagi berkali-kali dan baru menghasilkan kesimpulan. Jadi bukan sebaliknya, ngeyel dulu, salah, kisinan, baru mikir. Hahahaha.
Dan sekarang kalau seandainya aku udah dengerin, cari-cari referensi ke sana ke mari, dan yakin kalau berada di posisi yang benar juga aku nggak akan ngeyel atau bersorak penuh kemenangan. Cukup tau aja. Ini perubahan besaaaaaar buatku. Lumayan bikin aku bangga pada diri sendiri. *menyibakkan alis

5.      Think deeper.

Jaman alay tuh pikiranku dangkal banget. Dan kedangkalan berpikir ini menyebabkanku jadi gampang ngejudje orang. Gampang banget, tanpa mempertimbangkan kemungkinan lain, tanpa melihat gambaran yang lebih besar, dan sering kali judgement ini berdasarkan kecenderungan kebencian atau iri hati saja. Makanya suka nggak nyambung dan maksa. Premisnya apa, kesimpulannya apa. 

Contoh:
Premis 1               : Temenku kayaknya nggak punya kerjaan karena hidupnya keliatannya santai banget. 
Premis 2               : Dia menolak pas tak ajakin seminar bisnis yang bermanfaat tanpa alasan yang jelas.
Kesimpulanku      : Dia anak pemalas kebanyakan alasan yang nggak mau sukses.
Padahal kenyataannya bisa aja dia udah punya bisnis mapan, dan waktu itu dia nggak bisa ikut karena ada jadwal kegiatan sosial berbagi sebagian dari penghasilannya. Cuma dia nggak mau bilang karena dia anaknya humble bangeeeet. Nggak kaya aku, yang dikit-dikit pamer. Siapa yang tahu kan?

Contoh 2:
Premis 1               : Ketemu cowok ganteng, cakep, penampilan rapi, pakai barang-barang branded,     nongkrongnya di tempat mahal-mahal.
Premis 2               : Pacarnya kebetulan juga cantik, keren, elegan, dan keliatan ‘mahal’.
Kesimpulanku     : Ni cowok pasti manja, kaya-raya karena warisan, bego, nggak pernah baca buku, plus nilai cewek dari luarnya aja nih. Pasti!
Pas ngobrol e la dalaaaah, pinter banget sampe bikin aku ngowoh-ngowoh. Pas baca tulisan-tulisannya apalagi. Dan ceweknya ternyata nggak cuma cantik di luar aja, tapi otaknya juga bikin minder lah pokoknya. Udah gitu mandiri lagi. Penampilan gaya abis gitu nggak mintain duit cowok atau ortunya. Jadi ‘kisinan’ lagi deh akunya.

Jadi gitu. Setelah gede ini aku baru sadar kalau orang itu multidimensional. Orang itu kaya bawang. Punya lapisan-lapisan yang buanyaaak yang kita belum tau. Yang kita lihat itu mungkin hanya kulit paling luarnya aja. Itupun tipiiiis banget. 

Ngejudge semena-mena tanpa tahu latar belakangnya, tanpa repot-repot nyari tau lebih banyak, atau bahkan tanpa sempet mempertimbangkan kemungkinan lain adalah sangat-sangat dangkal dan nggak dewasa. 

Dulu aku sering kaya gitu. Parahnya, seringnya judgement itu karena aku iri aja. Dia kok hidupnya bisa enak banget kaya gitu sih? Ini pasangan kok keren banget sih? Dan banyak lagi.
Dan seolah ngejudge tanpa dasar aja belum cukup, aku akan menghakimi mereka dengan standarku sendiri. “Kalau aku jadi kamu, aku bakal gini, gini, gini,” atau “Kalau aku jadi dia, aku nggak bakalan gitu,” atau “Halah, kalau dibayarin juga aku bisa jadi secantik dia.”

Padahal aku nggak tau lho, apa aja yang sudah mereka alami, latar belakangnya gimana, pertimbangan-pertimbangan apa yang mereka ambil, dan lain sebagainya. Ibaratnya aku maksa orang untuk pakai sepatuku dan aku bahkan nggak tau ukuran sepatunya apa. Apalagi selera sepatunya gimana. Ini sangat-sangat egois dan nggak adil. 

Betapa banyaknya orang yang udah kujudge secara nggak adil kaya gitu. Aku merasa berdosa dan kotooor, kakak. Aku kotooooooor. *kemudian mandi besar

6.      Sabaaaaaaaaaar.

Nama Pelle itu, kalau disandingin sama kata sabar sama sekali nggak matching. Pelle itu sama sekali nggak sabaran anaknya. Temperamen nggak jelas dan hobi banget marah.
Saking parahnya, dulu pas pertama-tama jualan online, karena belum terbiasa ya, kalau ada orang yang ngeselin pasti tak marahin. Misalnya orangnya mbuleeet gitu. Udah didesainin, masih minta revisi mulu sampai sebelas kali, habis itu ujung-ujungnya milih desain yang pertama, dan yang paling ngeselin lagi, abis itu bilang “Nanti ya sis, aku kabari lagi jadi apa enggaknya.” Habis itu berlalu nggak ada kabar. Hanya remah-remah chat yag tersisa.

Duluuuuu, dulu ni ya, pas masih alay, aku akan ngamuk sejadi-jadinya. Ngamuk langsung ke orangnya, sama ngamuk di status sampai puluhan lembaaaar.
Nggak penting banget pokoknya. Ada dua kerugian yang aku alami di sini. Pertama, waktuku jadi habis buat ngamuk yang nggak ada gunanya, kedua, calon pembeli lain malah jadi takut dan males buat deket-deket. “Yang jualnya nggak ramah.” Sungguh rugi bukan?

Kalau sekarang ada kejadian kaya gitu, yaa tetep kesel sih. Dan itu normal. Penjual On Line mana juga yang nggak kesel berhadapan sama orang kaya gitu? Hahaha.
Tapi sikapnya aja sekarang yang udah beda. Kalau sekarang, ada kejadian kaya gitu, aku akan narik nafas, trus ngebales “Oke sis,” terus ngasih emot peluk meski diem-diem sambil makan tang sih tetep.
Waktu yang harusnya terbuang percuma buat ngamuk, bisa tak pakai secara produktif untuk banyakin promo dan ngurusin customer lain. Akhirnya tetep ngomset. Tetep untung. *ngitung duit

7.      Self control. Lebih stabil.

Aku anaknya moody, dan itu parah banget. Ekstrim gitu lah. Semenit bahagia, menit berikutnya pengen bunuh diri. Semenit merasa bersyukur dan betapa hidup ini sangat berharga, menit berikutnya membenci seluruh dunia.
Kaya gituuuu terus sampai akunya capek sendiri.
Sekarang udah enggak untungnya. Mungkin karena udah capek itu tadi. Palingan kalau kumat cuma pas PMS aja, sehari tau-tau murung, tapi habis itu udah, normal lagi. 

Hal ini juga berpengaruh ke sikapku dalam menangani kritik, gosip, kesalahpahaman, cara diskusi, dan lain sebagainya. Lebih stabil, otomatis jadi nggak terlalu gampang tersulut emosinya.
Kalau dulu yang penting ngegaaaas aja. Sekalipun salah, yang penting marah-marah dulu. Tapi habis itu nggak berani diskusi sehat dan malah minggat ke akun sendiri, update status baru yang intinya menggalang dukungan sebanyak-banyaknya, plus nyindir-nyindir yang beda pendapatnya. Masih pakai acara bisik-bisik di grup pula. “Iiiih, si ini ternyata gini ya. Masa pendapatnya gini gitu.” Jijik banget ya, aku dulu? Hahaha.

Dulu nggak bisa menerima perbedaan pendapat. Yang pokoknya kalau orang lain nggak sependapat sama aku berarti dia salah, udah nggak usah jadi temennya lagi. Temen itu harus senantiasa sependapat, setuju sama pendapatku, karena aku yang paling bener. Titik.

Kalau sekarang kontrol lah ya. Kalau ada perbedaan pendapat, aku menerima dengan suka cita. Mikir juga, jangan-jangan pendapat dia yang bener.
Bahkan ada orang yang bilang bumi itu datar aja aku nggak langsung marah-marah, tapi mikir lagi. Jangan-jangan bener wong aku belum pernah liat bumi langsung dari luar angkasa kok. Main paling jauh juga baru ke Pacitan, belum ngerasain perbedaan waktu. Tapi ya nggak trus menelan mentah juga. Nyari referensi lagi, mempertimbangkan fakta-fakta, baru menarik kesimpulan mana yang lebih masuk akal. 

Emosi yang stabil ini berguna terutama untuk diriku sendiri. Dengan self control yang lebih baik, nggak gampang meledak atau mooodswing, jadinya makin bahagia. Jiwanya juga nggak terlalu lelah jadinya kak. Lelah jiwa itu nggak baik untuk kesehatan kan?

8.      Bisa menentukan prioritas.

Kalau dulu, mentang-mentang passionnya banyak, aku pengen semuanya. Nggak bisa menentukan prioritas sama sekali. Ini gawat, karena bukannya dapet semua, tapi jadinya malah berantakan semua. Aku harus atur prioritas. Mana yang harus dapet porsi pikiran paling banyak, mana yang nggak terlalu.
Mana yang penting banget, penting aja, nggak terlalu penting, sampai nggak penting sama sekali. 

Ibu-ibu salon depan pernah ngatain aku nggak bisa sosialisasi karena aku emang nggak pernah ngumpul. Paling nyapa-nyapa aja kalau lewat atau ketemu. Bukan karena aku sombong atau apa, tapi kalau ngumpul tuh kegiatannya tak lain dan tak bukan adalah ngegosip.
“Eh, Mbaknya yang kamar nomer ini kemarin datang sama pacarnya ya?”
“Bukan, itu suaminya.”
“Suami piye, wong belum nikah kok. Dia kan statusnya belum cerai dari suaminya yang dulu. Kadang orangnya juga ke sini,” dan bla bla bla deh. Itu petikan gosip yang aku denger secara nggak sengaja. Lha kalau aku ikut ngumpul? Bisa dibayangin gimana kotornya telinga ini? 

Dalam daftar skala prioritasku, acara ngegosip itu masuk ke kategori nggak penting sama sekali.
Soal sosialisasi, yang penting aku tetep ramah, selalu menyapa dengan ceria, dan kalau mereka butuh pertolongan, akunya ada. Ngapain juga tiap ngegosip rajin ngumpul tapi giliran temen ada masalah nggak ngebantuin, dan yup, malah sibuk ngegosipin?

Aku juga nggak akan bela-belain main ke luar kota sekalipun alasannya buat networking kalau kenyataannya di rumah aja banyak orderan belum dikerjain. Mungkin networkingnya emang dapet sama beberapa orang baru. Tapi belasan customer jadi protes gara-gara kerjaaannya molor? Ya mikir lagi lah. Dalam hal ini, networking dengan orang baru emang penting, tapi ketepatan waktu dan kepuasan customer masuk kategori penting banget. Jadi kalian juga pasti udah tau kan, mana yang kudahulukan? Yah, namanya juga usaha masih kecil, apa-apa masih dikerjain sendiri. Kecuali aku emang lagi selo banget, nggak ada kegiatan penting lain. Tentu aku akan pergi dengan senang hati. 

Itu dia beberapa hal yang kulakukan dalam rangka hijrah menuju kedewasaan.
Tentu saja aku masih jauh, jauuuuuuuuh dari jadi orang dewasa yang baik. Kadang juga masih suka lupa dan kumat alaynya. Namanya aja proses kan?

Oya, dengan mengatakan berusaha jadi dewasa di sini, bukan berarti aku akan meninggalkan sisi kanak-kanak yang berpikir tanpa kotak. Aku masih suka main ke rumah Piqui di atas awan dan berteman dengan hewan peliharaannya, si kura-kura terbang kok. Perubahan lebih ke sikap aja kali ya. Kalian ngerti lah, maksudku gimana.

Btw, kalau kalian punya saran apalagi yang bisa kulakukan untuk meningkatkan kualitas diri biar jadi lebih dewasa dan nggak kolokan, please feel free to comment yahh. Kutunggu lohh.
Makasih banyak sekali lagi, udah baca. 

Sampai jumpa di postingan berikutnya.
Bye!

Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit conseat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amei.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Juni 2019 (2)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (15)
  • Februari 2018 (1)
  • Januari 2018 (1)
  • Oktober 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (2)
  • Juni 2017 (3)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (2)
  • Maret 2017 (8)
  • Februari 2017 (10)
  • Januari 2017 (3)
  • Desember 2016 (6)
  • Oktober 2016 (4)
  • September 2016 (6)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (3)
  • Juni 2016 (8)
  • April 2016 (1)
  • Maret 2016 (6)
  • Oktober 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • Kesumat Sang Raja Jerawat
  • Ngeblog seaktif Facebook-an. Gimana sih caranya?
  • Mengukur Kualitas Diri Tidak dengan Membandingkan
  • PESAN MORAL LOMBA-LOMBA AGUSTUSAN
  • PENTINGNYA MEMPERHATIKAN LINGKUNGAN PERGAULAN ANAK

Yang Nulis

Isthar Pelle
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates