• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MADGIRL!


Image source: pinterest


Cahaya berhamburan di antara kelopak mata gadis kecil penabur bunga. Cahaya bening jatuh perlahan, mengikuti langkah kaki sang pengantin. Bola-bola berpantulan di seluruh penjuru ruangan. Bukan barang pecah belah yang ia khawatirkan. Tapi bayi dalam kandungan dan sang mempelai pria yang belum juga datang. Di altar, orang-orang suci menanti dengan topi tertelungkup dan buku-buku jari terpasung. Rosario. Orang-orang menggunakannya sebagai pertanda dan hitungan puji-pujian. Akan tetapi Virsha memmbiarkannya teruntai manis di leher. Sedang tren, katanya.

Satu jam, mempelai wanita menanti dengan gugup. Bayi dalam kandungannya bisa berontak dan lahir kapan saja. Tapi si ayah belum juga datang. Dia memoleskan kempali cat kuku untuk menutupi kekhawatiran. Bunga-bunga sudah habis ditabur. Mata gadis kecil masih penuh cahaya. Tamu-tamu duduk tegang, menghayati musik yang dimainkan dengan nada patah hati. Burung merpati merontoki bulu-bulu mereka sendiri di depan pintu. Ada begitu banyak yang tidak bahagia hari itu.

Di deretan bangku tamu, nyaris tak kelihatan, Virsha memerhatikan seluruh ruangan. Ada begitu banyak mawar putih dan pita sebagai dekorasi. Para pria memakai tuksedo mereka yang telah disetrika dan para wanita memakai gaun-gaun indah rancangan desainer. Semuanya khusus dipersiapkan demi hari pernikahan ini. Anak-anak perempuan pula berpakaian rapi dan membawa bunga. Pita-pita menghias kepala mereka. Anak-anak lelaki sibuk bertengkar. Ibu-ibu mereka lebih tegang dari siapapun yanng ada di ruangan itu.

Kelana. Lelaki itulah sang mempelai pria. Lelaki itu lah yang membuat tegang seluruh ruangan karena dua jam terlambat. Lelaki itulah yang akan menjadi ayah dari bayi dalam kandungan sang mempelai perempuan. Lelaki itu lah yang memberikan rosario pada Virsha, memakaikannya di leher cantiknya untuk membuatnya tercekik amat perlahan. Sekarang, leher Virsha sudah amat terluka. Dirabanya leleran darah yang hampir mengental dan membasahi karangan bunga mawar di tangannya. 

Hampir tiga jam. Tamu sudah satu persatu meninggalkan ruangan. Virsha duduk diam memerhatikan pengantin wanita yang gelisah dan ketakutan anaknya lahir sekarang. “Kelana, kamu sampai mana?” Teriak perempuan dengan perut besar itu. Seperti badut karena make upnya telah luntur oleh air mata. Virsha seperti ingin menangis melihatnya. Juga tertawa. Begitu bergejolak emosi yang tak bisa dipahami sehingga bunga-bunga di tangannya mekar dan mengeluarkan duri-duri.

“Menurutmu, aku harus jadi pria yang bertanggung jawab atau tidak?”
“Tentu saja, bodoh!”
“Aku ingin lari,” begitulah yang Kelana katakan pada Virsha malam sebelumnya.

Pengantin wanita telah kian frustasi dan melempari dirinya dengan bangku-bangku patah ketika akhirnya Kelana tiba. 

“Aku tidak mencintaimu,” gumamnya. Kemudian mereka menikah. Sementara itu, di luar gereja, leher Virsha terjerat lebih erat. Tapi dia bahagia. Itu terbukti dari cahaya yang turut berjatuhan bersama air mata. Pandangannya ditimpakan pada burung-burung yang terbang dan hinggap. Berganti-ganti. Padahal mereka tak punya sayap.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


          
Image source: pinterest
“Mbak, apa salahku kalau suamimu tidak setia?”

          25 Desember. Pernikahan kalian. Aku menyanyi karena harus. Untuk pertama kalinya, aku merasa tidak bahagia di atas pentas. Meski seluruh yang datang hari itu bertepuk tangan. Tulus, aku tahu. Aku tahu itu dari sorot mata mereka yang bahagia, yang penuh harap aku segera menyanyikan lagu berikutnya. Untuk sepupuku, dan suaminya yang menikah di hari yang sama dengan pernikahan kalian. Cukup dijadikan jawaban atas pertanyaan orang-orang, “Kemana Maharani? Tidak hadirkah dia?” dan juga yang berbisik-bisik dengan suara nyaring “Ah, kasihan, pasti dia sangat patah hati.”

          Mereka tak tahu sama sekali, hari itupun aku dipuji. Aku tetap bintang seperti biasanya. Disorot kamera, diincar fotografer yang sedianya bertugas mengabadikan momen pernikahan sepupuku. Dan mereka memintaku menyanyikan lagu cinta, seperti selalu saat aku menyanyi di pernikahan. Tugasku adalah melagukan kebahagiaan mereka. Apa kalian bahagia? Apa kalian bahagia seperti umumnya pengantin?

          “Jangan datang!” kata suamimu.
          “Kenapa kau tak ingin aku hadir di pernikahan kalian?”
          “Aku tak ingin kehadiranmu mengacaukan segalanya.”
          “Jadi memang, aku ini pengacau,” ujarku tersinggung.
          “Bukan, maksudku.... aku khawatir akan berubah pikiran saat melihatmu.”
          “Kau tak bisa.”

          Hari itu, aku tak bahagia. Tapi aku tersenyum seperti biasa.

          “Menyanyilah di pernikahan adikmu,” kata Om beberapa minggu sebelumnya. Baiklah, aku menjadikan ini kado pernikahannya. Dan oleh karena itu, aku wajib tampak bahagia. Selain itu, semua orang lain juga berbahagia, bukan? Kau tahu ini hari natal. Aku telah menggantung kaus kaki semalaman. Tapi tak seorangpun mengisinya dengan hadiah. Aku percaya Sinter Klass itu tidak ada. Tapi aku terlanjur sering menonton film-film drama tentang dia. Oh, mungkin dia sedang sangat sibuk di natal tahun ini. Atau mungkin dia sudah tidak menganggapku anak-anak lagi. Atau mungkin juga aku dianggap anak nakal sehingga tak layak diberi hadiah.

          Hari itu. Pernikahan kalian. Aku tahu segalanya telah berubah. Dia berjanji akan selalu ada bagian-bagian waktu untuk berbagi bersamaku. Tapi dia tak akan pernah sama. Cincin di jari manis itu, misalnya.

          Ketika akhirnya dia menemuiku beberapa hari setelah pernikahan kalian yang tanpa bulan madu, aku melihatnya dengan wujud yang tetap sama. Tempat kerja yang sama, dan cerita yang nyaris tak berubah. “Aku benci ibunya,” katanya. “Kami butuh banyak uang. Dan lebih banyak lagi setelah ini.” “Aku menyesal mengapa dia tidak mengatakannya dari dulu.” “Dia ingin ikut bersamaku. Aku tahu, seorang istri harus mengikuti suami, tapi.. aku malu.” Dia masih sangat sama seperti yang selama ini kukenal. Tapi memandangnya, seperti bukan siapa-siapa lagi sekarang.

          Hari itu, telah kutandai. Aku sudah menghabiskan masa-masa berkabung lama sebelumnya. Hari itu aku telah siap dan tak menitikkan setetespun air mata. “Maybe she thought she won, but, her failure is just begun,” kataku menghibur sahabatku yang bahkan sangat membencimu karena ini.

          “Jadi sebenarnya ada apa antara kalian bertiga?”
          “Dia sudah beristri. Dan tetap menginginkanku. Lalu kenapa?”
          “Tidak boleh. Kalian tidak boleh bersama-sama seperti dulu.”
          “Bahkan Tuhan tahu, dia tak butuh wanita selain aku.”
          “Tapi mereka menikah.”
          “Itu dia lakukan hanya agar bayinya punya ayah.”
          “Tapi itu tidak adil.”
          “Cinta tidak pernah adil.”
          “Wanita itu curang dengan menjebaknya. Dia lebih buruk dari pelacur.”
          “Meski pada akhirnya tetap aku yang menang, bukan?”

          Adalah saat yang sulit ketika kau tak bisa melakukan apapun, sementara kau tahu banyak hal harus dilakukan. Sekali lagi, aku menyadari, aku telah memberikan cinta pada pria yang salah. Mungkin dia akan menjadi ayah yang baik bagi anak kalian nanti. Tapi jelas dia tidak bisa setia. Atau lebih buruk lagi, dia tak pernah mencintaimu.

          “Kalau bukan karena dia hamil, aku tak akan menikahinya. Kau tahu itu.”
          “Kamu sudah menghamili anak orang. Itu kenyataan yang aku tahu.”

         “Waktu itu aku tidak sadar. Aku sangat patah hati ketika kau memutuskan untuk tidak lagi bersamaku. Dan dia datang. Mengajakku ke rumah temannya yang kosong. Menawariku cinta. Dan aku laki-laki.”

          “Aku tahu kau laki-laki karena kau brengsek. Mengapa sekarang kau masih bercinta denganku? Pernikahanmu seminggu lagi.”  

          “Itu sebabnya aku ingin menghabiskan waktu-waktu ini bersamamu saja. Aku tak ingin kehilanganmu.”

          “Kau sudah kehilangan aku.”
          “Oh, please.... menurutmu aku harus jadi pria yang bertanggungjawab?”
          “Kau sendiri yang mengatakan bahwa kau lelaki.”
          “Aku ingin lari.”
          “Lari kemana?”
          “Ke negeri yang jauh. Kau boleh ikut.”
          “Bukankah sudah sangat terlambat?”

          Pada akhirnya, dia tetap harus memilih. Dan aku tahu dia akan memilihmu. Aku curiga dia jatuh cinta lagi padamu, tapi dia meyakinkanku bahwa tidak ada pilihan lain selain itu. Bahkan pilihan yang lebih buruk sekalipun.

          “Kalau aku tak mencintaimu,untuk apa aku masih selalu ada untukmu? Bahkan setelah aku menikahinya?” katanya saat kami sedang mengobrol berdua.

          Dan aku pikir benar juga. Kau ingat ketika kau memaksanya ikut ke tempat kerja? Dia menyelinap mendatangiku hanya untuk bercerita betapa malunya dia ketika orang-orang melihat perutmu yang semakin membesar.

          “Akan sangat aneh kalau sebentar lagi dia melahirkan. Baru dua bulan kami menikah dan dia sudah akan melahirkan.”

          “Itulah mengapa kukatakan padamu agar tak menggelar  pesta. Dengan demikian akan semakin sedikit orang yang menyadari ke’sangat aneh’an yang kau maksud.”

          “Tapi dia merengek meminta.”
          “Astaga!”

          Bulan berikutnya aku pindah ke tempat yang lebih baik. Agak jauh dari suamimu tentu saja. Tapi diapun pernah hampir menginap di sini kalau aku tidak memaksa mengantarnya pulang. Tapi tetap saja aku memasak untuknya. Seperti selalu kami bicarakan, kami akan masak dan makan bersama. Dan memang demikian. Kau lihat? Dia sangat bahagia. Bahkan dengan cincin di jari manisnya, dia berpura-pura tak mendengar teleponmu dan menciumku.

          Kau pasti ingat saat kami bersama dulu. Saat hubungan kami baru berumur beberapa minggu. Kau mengatakan hal-hal cengeng dan tak masuk akal padaku. Diapun bercerita kalau kau menangis.

          “Kalau dia masih sangat mencintaimu, untuk apa dia meninggalkanmu demi pria lain?”

          “Dia sendiri mengaku tidak tahu.”
          “Berarti dia bodoh,” kataku.

          Dan aku tak tahu lagi cinta itu apa, karena yang aku lihat sekarang hanyalah kamu terobsesi ingin memilikinya. Dan kamu mendapatkan itu. Aku bisa melihat betapa kau bangga, betapa kau merasa menang melihatku menderita. Tapi ceritanya sama sekali tak seperti itu. 

          “Mungkin sebentar lagi aku akan jadi duda, hehehe....” begitu selalu katanya. Bahkan di telingakupun, itu terdengar menyakitkan. Untung saja dia menikahimu, bukan aku. Betapa sedihnya memiliki suami yang memberimu ucapan “Selamat bobok, sayang!” dan memberiku kecupan selamat malam yang sesungguhnya?

          Pernah aku bertanya “Hei, bagaimana kalau yang di kandungannya bukanlah anakmu?” dan dia bersemangat menjawab “Akan segera kuceraikan dia.” Kau harus dengar itu.

          Aku tak akan memberimu nasihat apa-apa. Kau jauh lebih tua dariku. Aku bahkan tak mengatakan apapun di saat kau merebutnya dengan cara paling murahan seperti itu. Tidak sepertimu yang merengek seperti bayi saat dia mengatakan tak mencintaimu lagi dan hanya mencintaiku. Mungkin sebaiknya kau jangan terlalu percaya diri. Atau berpikir pintarlah sekali-kali.

          Jelas kau tak mengenal suamimu sendiri, Mbak. Dia lebih brengsek, bahkan lebih dari yang pernah kukira. Dan kau boleh tenang. Karena meskipun kami masih sering bersama, aku sudah tak lagi mencintainya. Sudah tak lagi ketika dia mengatakan akan menikahimu.

          “Kau sudah tidak berharap kita akan bersama lagi, bukan?” tanyanya tiga bulan yang lalu. Beberapa hari setelah kau memberitahunya untuk bertanggungjawab atas janin yang terus membesar.

          “Tentu saja tidak. Kenapa?”
          “Aku akan menikahinya.”
          “Aku tahu kau bodoh.”

          Aku tidak pernah bisa jatuh cinta pada pria bodoh, Mbak. Dan aku baru tahu, betapa bodohnya dia. Sungguh, apa salahku kalau suamimu tidak setia?
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Fotonya nggak tak kasih yang lagi pake jaket Bapak-bapak soalnya tak cariin nggak ketemu. Mungkin udah dihapusin satu per satu. Hihihi. Besides, kalau Ibing sampai tahu penampilannya yang kaya bapa-bapa tak pajang, bisa-bisa diboikot ini blog. :v

Ibing itu punya jaket spesial. Jaket itu tebal dan meskipun nggak punya kekuatan yang super-super amat, tapi sejauh ini sangat melindungi Ibing dari serangan pasukan angin jahat selama di perjalanan. Jaketnya berbahan parasut. Tebal dan hangat.

Aku nggak pernah ngeh penampilan Ibing kalau pakai jaket itu kaya apa jadinya toh aku sudah menerima dia apa adanya. *halah Jadi penampilan adalah satu hal yang sama sekali nggak jadi penghalang di antara kami. Aku menerima Ibing dengan jaketnya seperti dia menerima aku dengan jerawatku. Jadi kami setimpal.

Masalahnya, gara-gara jaket itu, Ibing berkali-kali salah dikenali. Bukan sebagai Batman, karena tep nggak ada mirip-miripnya. Tapi sebagai Bapak-bapak, pemirsa.

Begini petikan adegannya:

Suatu siang kami mampir di warung bakso. Buat makan lah, masa ke warung bakso buat nambal ban. Nah, pas udah duduk di bangku panjang khas warung bakso, pelayan datang menghampiri dan berkata “Pesen apa, Pak?”

Ibing tampak sedikit terguncang sementara aku menahan tawa. Ibing pun melepas jaketnya dan mas-mas pelayan langsung tergagap-gagap “M-ma… mas,” saking groginya.

Begitu mas pelayan pergi, aku meledak terbahak-bahak dan ikut-ikutan tergagap-gagap juga “Bp-baaaa… bapak. Hwahahahaha,” bukan karena grogi, tapi saking bingungnya antara pengen ngomong sekaligus ketawa. 

Belum sampai di situ. Malam harinya, ketika kami berencana untuk pulang ke rumah, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Beatle bocor bannya. Kamipun berjalan beriringan, sembari menuntun Beatle yang terpincang-pincang, berusaha mencari tabib sakti yang bisa menyembuhkan kakinya.

Saat itu muncul mas-mas baik hati yang menolong kami menunjukkan rumah tabib sakti terdekat.
“Pak, bannya bocor ya?”

Jelas saja Ibing senewen. Pertama, udah jelas-jelas lagi nuntun motor yang bannya menggepeng kaya gitu. Kalau bukan bocor bannya, kenapa lagi? Masa ya kami cuma iseng?
Kedua, untuk kedua kalinya dalam waktu satu hari, Ibing dipanggil ‘Pak’.

Tapi Ibing masih positive thinking. Siapa tahu itu mas-mas memang belum ngeh sama pesonanya yang sebenarnya.

“Iya,” jawab kami bersamaan.
“Oh, di depan sana ada tambal ban, Pak. Nanti Bapaknya lurus aja. Kanan jalan sebelum lampu merah. Deket kok dari sini,” jelas masnya tanpa merasa bersalah.
Dia nggak liat apa, Ibing rambutnya sudah naik dan menyala semua gitu?

“Oh, ya. Makasih ya mas,” kataku sambil tersenyum geli. Masnya siap-siap berlalu.
“Makasih, Pak,” kata Ibing. Balas dendam ceritanya. lol

Aku yang sudah menahan tawa dari tadi meledak lagi sepanjang jalan sampai di tempat tabib sakti yang akan menyembuhkan kaki motoborg kami.
“Bapak, hwahahahaha.”

Ibing hanya mampu menahan jengkel sambil diam-diam merencanakan upacara pembakaran jaket itu.

               Sekarang aku udah nggak pernah lihat jaket itu di mana-mana. Mungkin emang udah dibakar beneran, nggak tau soalnya Ibing dendam banget. Kalau seandainya cuma tersisa satu jaket itu di muka bumi dan Ibing kedinginan pun mungkin Ibing bakal lebih milih membeku daripada salah dipanggil 'Bapak' lagi. 

               Kejadian senewen karena masalah panggilan kaya gitu nggak cuma menimpa Ibing saja. Temenku pernah, cewek, usianya jauh lebih muda daripada aku, di sebuah minimarket dipanggi ‘Ibu’ sama kasirnya dan dia jengkel sampai harus memberikan respon ‘Tidak puas’ saat mengisi respon pelanggan (kalian pasti tahu kan, minimarket apa yang aku maksud?).

               Kalau aku sendiri sebenernya nggak masalah sama yang kaya gitu. Nggak kaya beberapa orang yang malu dan menutupi usia sebenernya dengan mengaku lebih muda, aku cuek-cuek aja. Lha kenapa ik? Kita ngaku-ngaku lebih muda toh waktu tetap berjalan sebagaimana mestinya. Usia tetep bertambah. Dan kenapa aku harus bingung wong pertambahan usia itu dialami semua orang? Setiap hari kita semua bertambah tua kan? 

               Tapi yah untungnya aku belum pernah sih dipanggil ‘Ibu’ kecuali oleh mbak-mbak customer service via telpon. Seringnya malah dipanggil ‘dedek’, bahkan oleh anak-anak yang usia sebenernya lebih muda dari aku. Ngoahahahaha. << Bedebah pencitraan. Mana pernah dipanggil ‘dedek’? Ada juga dipanggil ‘Mas’. -_-

               Yang kaya gitu itu apa namanya? Termasuk krisis kepercayaan diri bukan sih? Tadinya yang kaya gitu cuma bikin senewen cewek-cewek aja. Nggak taunya Ibing senewen juga gara-gara begitu lepas jaket itu sapaan orang-orang seketika berubah menjadi ‘Mas’ lagi. Bahkan si Abang tukang bakso aja sampai merasa bersalah dan tergagap-gagap bilang ‘Mas’. Wkwkwkwk. 

               Apa menurut kalian Ibing lebay? Sama, aku juga berpikir demikian karena melihat mukanya yang bete gitu aku bilangin “Kaya gitu aja dipikirin. Masih mending nggak dipanggil, Om. Hwaahahahaha.” 

               Tapi ternyata tidak, pemirsa. Gara-gara nulis ini aku sampai iseng ngebrowsing dan ternyata ada juga cowok lain yang senewen gara-gara salah sapaan. Kalau itu parah sih soalnya dia nggak pake jaket bapak-bapak juga dipanggil ‘Om’. Dan saking betenya itu cowok bahkan sampai complain ke manager pameran lho, gara-gara ada SPBnya yang salah manggil ‘Om’. 

               Tapi ya bener sih. Aku juga dulu kalau jualan pasti hati-hati banget kalau nyapa. Mending malah tak muda-mudain unless emang orangnya bener-bener keliatan udah berumur. Paling komplainnya nada seneng “Kok, panggil mbak sih? Anakku udah gede lho, sekamu,” trus aku bisa cengengesan sambil bilang “Hah? Masa sih? Keliatannya kaya masih muda gitu? Nggak percayaaa,” dan akhirnya belanja banyak deh orangnya. Ngoahahahahaha. 

               Sapaan itu penting. Apalagi di dunia jual-menjual. Salah sapa, bisa nggak jadi beli orangnya. Beneran. 

               Kalau kalian gimana? Pernah nggak salah disapa dengan sapaan yang ‘menuakan’ sampai bikin senewen gitu? Atau malah pernah salah nyapa? Cerita lah yuk, biar kita bisa ketawa sama-sama.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit conseat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amei.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Juni 2019 (2)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (15)
  • Februari 2018 (1)
  • Januari 2018 (1)
  • Oktober 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (2)
  • Juni 2017 (3)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (2)
  • Maret 2017 (8)
  • Februari 2017 (10)
  • Januari 2017 (3)
  • Desember 2016 (6)
  • Oktober 2016 (4)
  • September 2016 (6)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (3)
  • Juni 2016 (8)
  • April 2016 (1)
  • Maret 2016 (6)
  • Oktober 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • PESAN MORAL LOMBA-LOMBA AGUSTUSAN
  • Tekanan Sosial dan Kebutuhan Pamer
  • Kesumat Sang Raja Jerawat
  • SENI MENERTAWAKAN DIRI SENDIRI
  • [PEOPLE] NGOMONGIN AWKARIN DAN YOUNG LEX

Yang Nulis

Isthar Pelle
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates