• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MADGIRL!




               Aduh, Emak. Sebenernya baru aja kemarin pas ulang tahun aku bilang tahun ini nggak mau nulis resolusi-resolusian kayak tahun sebelumnya. Hahaha. Takut aja ntar begitu memasuki Februari aku udah nggak inget lagi resolusiku apa. Tapi seharian tadi aku lagi mikir mau melakukan beberapa perubahan terutama dalam hal penampilan dan mengingat masa-masa jaya dulu, trus barusan aku baca lagi postingan resolusi tahun lalu. Dan ternyata … I did! Aku nggak benar-benar menyadarinya, tapi ternyata semua yang aku tulis dalam resolusi itu aku lakuin semua, sungguh. 

               Aku bahas dikit. Pertama, aku pengen ngeblog lebih rajin. Tentu saja aku nggak melakukannya sedisiplin yang kuharapkan dulu, but I do write on blogs. Malahan aku punya tiga blog dengan niche yang beda-beda dan sebenernya bagus cuma aku nggak konsisten aja, hahaha. Untuk ketidakkonsistenan ini aku masih menyalahkannya pada facebook. Wkwkwk. Ya beginilah akibatnya generasi yang dibesarkan dengan cara kalau jatuh, kodok yang disalahin, atau jatuh kesandung, dikasih tahu batunya yang nakal. Hahaha. Jadi gedenya terbiasa playing victim. *grin

               Aku masih terlalu rajin facebook-an. Masih nulis status panjang-panjang di facebook yang bisa mencapai seribu kata yang sebenernya sih dimasukin ke blog aja mendingan. Cuma ya itu, aku males. Habisnya kalau di facebook langsung bisa dibaca banyak orang sementara di blog well, nggak sebanyak itu (ya gimana mau banyak yang baca kalau posting aja nggak pernah, woiii!). Plus kalau facebook-an kan nggak kerasa ya. Sambil nunggu pesanan nasi goreng mateng juga bisa. Trus sekarang aku mikir, gimana sih, kalau status yang aku tulis di facebook itu, aku copas, aku edit dikit, lengkapi pakai gambar-gambar trus aku masukin blog? Bisa tuh, sekalian buat arsip. Soalnya di facebook cepet tenggelamnya kaaan? Mau nyecroll juga aduh, men, udah ketumpuk panjang banget. Jadi ini kayaknya adalah ide brilian yang bisa aku coba mulai tahun depan. Muehehehehe. 

               Kedua, aku pengen nulis fiksi … and I did! Tahun 2016 aku nggak nulis fiksi sedikit pun. 2017 lumayan banyak. Yahh, meskipun belum ada satupun yang wow cetar membahana layak dibukukan, tapi aku udah nulis, dan itu sudah satu langkah lebih mendingan daripada tidak sama sekali. Hahaha. 

               Ketiga, aku pengen baca lebih banyak buku. And I did it, again! Masih sama, nggak sebanyak kayak yang aku rencanakan, tapi aku baca buku lebih banyak daripada tahun sebelumnya. Ini terima kasih banyak karena aku dapet beberapa hibah, hahaha. Lumayaaan. Sebenernya sih bukannya aku males baca, tapi lebih ke aku sekarang kok jadi lambat ya, kalau baca. Kecuali buku-buku yang emang super ringan ya. Kalau buku yang rada berat aku bacanya lamaaaa. Nggak tahu sih, susah konsen kedistrek bunyi notifikasi hape mulu (hoiii -_- ). Tapi kata temenku, bacalah buku seolah kau akan hidup selamanya. Alias nggak usah buru-buru. Lagian aku juga nggak mau jadi jenis pembaca spons. Yang nyerap segala sesuatunya dengan begitu cepat, tapi begitu diperes langsung ilang lagi dalam sekejap, Cuma agak sedikit lebih kotor. Mending baca pelan-pelan tapi paham dan bisa mengambil moral op de storihnya. :D

               Trus ada rencana-rencana lain yang rahasia. Ini yang hampir bisa dibilang gagal total. Huhu. Aku udah kerjain sih, dikit, pas awal-awal tahun, but then I stopped. Alasannya yah, ada lah. Another drama. Tapi aku nggak menyalahkan ini pada diri sendiri atau apapun dan siapapun. I’ve been stupid, I know. I’ve been trusted people so easily and listen to them, I know. Aku tahu aku salah dan apa yang kulakukan itu bodoh karena membuatku membuang begitu banyak waktu. Tapi nggak ada yang perlu disesalkan toh penyesalan nggak akan mengubah apapun. Jadiin pelajaran aja biar ke depannya aku nggak mengulang kesalahan yang sama. 

               Oke, tahun ini udah sip! So far, apa yang aku rencanakan di awal tahun aku kerjain semua meski belum maksimal. Lucunya, aku bahkan nggak merasa niat mengerjakan itu semua karena tbh, aku lupa sih pernah bikin resolusi apa aja. Hehe. Tapi yang udah aku lakuin itu bagus. Sekarang sambil mengingat-ingat, aku merasa bangga pada diri sendiri. Mungkin ini yang orang bilang dengan “Ucapan adalah doa.”

               Sooo, tahun ini pun aku mau berdoa lagi. Lumayan lohh, siapa tahu sambil nggak nyadar dan nggak sengaja tahu-tahu aku kerjain semua juga kaan? Hahaha. 

Keep Up the Good Work

 

               Yang pertama dan paling utama adalah … melanjutkan resolusi tahun lalu. Menurutku, arti penting dari bikin resolusi adalah biar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi resolusi itu project jangka panjang. Bukan yang masa kontraknya habis setahun trus habis itu dilupakan ganti sama yang baru. Jadi aku akan melanjutkan semua hal yang aku sebutin tadi, plus beberapa hal baru. Aku pernah baca quote yang bilang kalau mau sukses itu, kita melanjutkan melakukan hal-hal yang kita bisa, meningkatkan hal yang kita sudah kerjakan, sambil mengembangkan diri dengan hal-hal baru. Quotenya nggak kayak gitu ding, persisnya. Yang barusan ini aku bikin-bikin sendiri karena lupa yang aslinya gimana. Wkwkwk. 

Fashion Resolution

               
 Really, Pel? Hahaha. 

               Yes, this is for real. Selama seharian tadi nggak ada hal lain yang aku pikirkan selain perubahan terutama dalam hal penampilan. Aku teringat masa-masa jaya dulu ketika aku bisa dress up, tampil menawan sehingga merasa sangat sangat sangat pede kalau sedang berada di tempat umum dan secara acak orang nggak dikenal akan tahu-tahu komen “Mbak, bajunya lucu banget.” “Penampilannya seru deh.” “Sepatunya lucu, beli di mana?” “Kereen.” “Mbak model ya?” dan lain sebagainya. 

               Apa ini untuk menyenangkan orang lain? Tentu saja tidak. Ini untuk diriku sendiri. I like to dress up. Kalau pakai baju bagus aku bahagiaaaaa banget. Maksudnya, aku cinta diriku sendiri apa adanya, tapi kalau dandanannya lucu itu berasa karakterku keluar banget and that makes me love myself even more. 

               Ya terus terang aja dua tahun ini pakaianku cuma terdiri dari dua item: kaos sama jeans. Jangan salah, aku juga suka kaos sama jeans. Tapi nggak tiap hari selama dua tahun berturut-turut juga keleees. Kadang aku pengen tampil lucu yang bikin orang-orang memperhatikan (yeah, I am such an attention whore). Hahaha. Dan selama dua tahun ini aku nahan-nahan karena nggak punya duit. Hahaha. Nggak ding, sebenernya mau tampil lucu nggak harus mahal kok. Cuma mantan eike yang kemarin itu tiap kali aku mau dandan agak aneh itu selalu bilang jangan, nggak usah aneh-aneh, dan lain sebagainya. I thought he was giving me a good advice, turns out, he just want to dime my fucking shine. 

               Oh yeaaaah, tentu saja aku goblok karena nurut-nurut aja. Aku sendiri sekarang ini juga heran kok aku bisa-bisanya nurut nahan melakukan hal-hal yang aku suka. Hahaha. Tapi yahhh, sekali lagi kebodohan di masa lalu tidak untuk disesali. 

               Jadi tahun depan aku mau pakai apapun yang aku mau, apapun yang bikin aku jauh lebih pede dan bahagia. Oke sip!

               Tapi kan, kamu nggak pernah main ke mana-mana, Pel. Dandan kece juga siapa yang mau lihat? Inilah ledis en jentelmen, kenapa aku punya satu resolusi di bawah ini.

Bersosialisasi

 

               Ini bakal jadi tantangan berat bin maha susah buatku karena aku benci manusia. Hahahaha. Apalagi setelah kejadian menyedihkan dulu, aku kehilangan banyak teman, aku melihat bagaimana sifat asli mereka muncul setelah topeng kepura-puraan mereka runtuh, dan sebagainya. Aku jadi punya trust issue sama manusia. Aku nggak percaya siapapun. 

               Lagian, menemukan temen yang bener-bener asik itu susahnya kayak petualangan nyari bulu domba emas buat menghidupkan pohon yang udah mati. Langka banget. Orang yang kelihatannya oke, super duper bijak dan matang bisa jadi ternyata terlalu ‘bijak’ dan menyebalkan dengan mengatur cara hidup kita sesuai sama standarnya. Orang yang kelihatannya ramah dan peduli bisa jadi ternyata cuma kepo. Duh, banyak lah kecurigaanku sama manusia. Wkwkwk. 

               Tapi trus aku mikir, ya nggak harus percaya. Berteman cuma buat fun-fun aja kan nggak apa-apa. Nggak usah curhatin masalah pribadi, dll. Pokoknya berteman aja. Aku merasa punya teman ini penting karena aku udah sendirian terlalu lama. Aku udah menghindari orang-orang terlalu lama dan ini nggak bagus buat kesehatan jiwa. 

               Jadi meskipun ini bakalan berat banget, tapi aku akan berusaha buat ketemu lebih banyak orang, kenal lebih banyak orang, ngobrol dengan lebih banyak orang di dunia nyata. Dengan memunculkan niat ini juga aku sadar sepenuhnya kalau aku bakalan ketemu sama banyak orang yang obrolannya membosankan buatku sekaligus menganggap obrolanku membosankan juga dan mungkin selera humornya beda sehingga menganggap satu sama lain itu garing, dll. Tapi ya enggak apa-apa sih, sesekali hang out ngobrol omong kosong. Ini toh cuma soal berinteraksi dengan lebih banyak orang kok, bukan nyari calon suami. :D

Memaksimalkan Potensi Social Media

 

               Buat apapun. Entah dapet duit dari jualan, meningkatkan visitor blog, atau apapun lah. Yang penting lebih dari sekadar haha hihi ketawa tiwi. Yahh, tentu saja aku masih akan ketawa tiwi, tapi nggak cuma gitu tok. Tahun ini udah aku cobain sih. Aku jualan kaos di akun personal dan laku. Hahaha. Buat temen-temenku di sosmed yang baca ini juga jangan keburu unfriend dan unfollow ya. Aku nggak akan berubah jadi yang 100% jualan kok. Aku nggak sekejam itu. Prinsipku dalam bersosmed masih tetep: 10% jualan, 90%nya caper. -_- Lagi pula, aku sayang kalian, sungguh. Aku memandang kalian sebagai teman dan sahabat, bukannya pasar. Bitiwi, khusus buat jualan juga aku udah bikin fanspage. Jadi tolong dilike. :p

Run a Fashion Line

 

               Aku udah memimpikan ini hampir seumur hidupku. Aku mau jualan baju, yang nggak hanya kaos, kaos, dan kaos lagi. Aku bahkan mikir mau tinggal di daerah pantai dan bikin beach wear. So much fun. Soal jualan ini, dulu udah hampir terwujud, tapi yasudah lah ya, kegagalan di masa lalu nggak usah dibahas lagi. Kan kita hidup di masa kini. 

               Kali ini aku akan menerapkan pendekatan yang berbeda. Dream big, start small. Instead of nungguin duit jatuh dari plafon buat modal, aku akan mulai aja langsung. Misalnya dari bikin desain dulu, bikin sampel, dan lain sebagainya. Tapi aku punya impian besar di sini karena setelah aku pikir-pikir lagi, dari dulu paassionku emang di sini. I know I’m good at this. Mungkin ini ada hubungannya sama bakat turunan karena dari mbah buyutku dulu juga business woman yang jualan kain batik keliling dan sangat sukses pada masanya. Mbah putriku (anaknya mbah buyut) juga sama, business woman yang traveling mulu ke berbagai kota naik gerobak sapi sebagai saudagar buah yang jualannya sampai mana-mana. Juga sangat sukses pada masanya. Padahal mereka itu angkatan sezaman oldnya zaman old. Zaman ketika wanita berkarir apalagi punya bisnis sendiri itu belum dianggap umum. Mereka nggak sekolah, bahkan nggak bisa baca. But they make it to leave a legacy. That was super cool. Aku yang di masa serba gampang kayak sekarang sungguh kebangetan kalau nggak bisa mengikuti jejak mereka. “Build an empire, leave a legacy,” kata Sophia Amoruso. And I’m about to set the first stone of my own kingdom. 

 Ini sengaja aku tulis jelas karena sekali lagi, ucapan adalah doa. Amin. 

Bikin Web Series

 

               Oke, ini perpanjangan rencana dari ngeblog secara serius, sebenernya. Aku mulai mikir kenapa aku kok suka nggak disiplin ngeblog? Karena aku nggak merasa punya kewajiban untuk itu. Dengan bikin seri, misal tiap hari apa aku mau ngepost soal apa, akan memudahkanku untuk lebih istiqomah ngepost. Hahaha. Sama memudahkanku kalau misal bingung “Dyuh, mau ngebahas apa ya?” Heuheu. 

               Sebenernya hal lain yang bikin mengganjal dan masih aku pikirin sampai sekarang juga karena blogku yang kepisah-pisah. Aku mikir mau tak jadiin satu aja baru dipisah kategorinya. Tapi aku masih nggak yakin karena dengan cara dipisah-pisah kayak kemarin sebenernya bagus karena nichenya jadi jelas. Target pembacanya juga jadi jelas. Cuma kadang ya bingung juga, misal aku nulis sesuatu trus, duh ini lebih cocok dipublish ke blog yang mana ya? dan sebagainya. Nah, ini aku masih pusing tujuh keliling antar disatuin atau dibiarkan terpisah tapi harus bener-bener dirawat semua? Nggak perlu dicemasin sih, ntar aku pertimbangkan dulu plus minusnya. 

Nerbitin Buku

 

               Yess! Kalau tahun lalu resolusinya untuk nulis lagi, tahun ini adalah untuk menerbitkannya. Aku masih harus banyak belajar banget nih, jelas. Tapi akan ada banyak teman yang membantuku belajar dan tumbuh. 

               Ebuseet, postingan nggak sengaja ini udah dua ribu kata aja. Udah kutulis semua sih yang aku mau buat tahun depan. Impianku terlalu muluk, utopis, dan nggak rasional? Ah, enggak. Sederhana banget kok dan aku tahu langkah-langkah apa aja yang harus kuambil buat mewujudkannya (ih, gilak, sejak tertampar dan dibuka matanya beberapa waktu lalu aku balik jadi keren lagi, sumpah).

               Kalau ada yang mau mencemooh, silakan aja, tapi tahun ini aku udah mempelajari satu hal penting: untuk mendengarkan orang, tapi tidak menelan semuanya. I made a mistake and that was enough. Aku akan mendengarkan saran dan masukan apapun karena itu penting, tapi nggak akan ngikutin semua kata orang kalau itu bertentangan dengan kata hati kecilku. Karena yah, berdasarkan pengalaman sih beberapa orang ngasih saran itu bukan buat membantu, tapi menghalangi kita untuk ambil risiko dan maju. So listen, but don’t trust so easily. 

               Selain itu yang di luar hal-hal nyata, aku juga pengen memperbaiki kepribadianku. Untuk lebih peduli, nggak terlalu sinis pada semua hal, dan sekali lagi, percaya pada mimpi-mimpi. Amin.


               I love you. Have a very happy happy new year, everyone! Mmuachh. :*
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



               Okai, jadi ceritanya beberapa waktu yang lalu di postingan jualan aku dapet komen dari Cici Indriani Susanto soal nama Madgirl. “Tulisannya diganti dong, jangan Magdirl. Nice Girl apa Pretty Girl gitu. Nama itu doa lohh,” kurang lebih kaya gitu. Aku lupa persisnya gimana. Wkwkwk. It’s a good comment, tho. Soalnya mungkin sebenernya banyak juga yang ngebatin tapi nggak enak mau bilangnya. Hahaha. Thank’s Ci. :D

               Jadi pada kesempatan yang berbahagia ini ijinkanlah aku membagikan sepatah dua patah kata sehubungan dengan nama Madgirl. Ehem ehem.

Turunan dari Madsick Street

 

               Alkisah, pada awal tahun 2000an (aku lupa tepatnya tahun berapa dan lagi males ngecek), Ibing mendirikan cloth line namanya Madsick Street. Waktu itu the business went so good soalnya belum banyak distro dan cloth line kaya sekarang. Semua produknya selalu sold out. 


               Di ujung lain bumi, aku waktu itu masih SMP dan ingusan, tapi punya cita-cita pengen punya cloth line juga. Cita-cita itu aku pendem aja sampai pada tahun 2012 aku kenal sama Ibing trus aku curhat-curhat doong, soal cita-citaku itu. Sebenernya itu entah kebetulan atau memang takdir kok aku curhatnya sama Ibing, soalnya sebelum kenal Ibing aku juga sempet pacaran sama orang yang jualan merchandise metal yang mereknya nggak perlu aku sebutin di sini soalnya mayan femes, ntar aku dikira ngaku-ngaku doang. Lol


               Singkat cerita, Ibing bilang “Kalau mau bikin cloth line bareng aja.” Eh, bukannya bikin cloth line beneran, kami malah pacaran. #yawlo -,-



               Tahun 2013 aku pindah ke Magelang dan kami masih tetep nggak pernah ngebahas soal cloth line. Hahaha. Sampai kemudian pada tahun 2014 aku bilang sama Ibing “Bikin dong, Madsick yang versi cewek.” Waktu itu aku terinspirasi sama Rumble yang bikin Rumble Girl. Nhaaa, dari situ lah aku menemukan ide brilian. “Namanya Madgirl aja.” 


Everything went Mad

               Kami lalu jadi seneng banget sama kata Mad yang membuat segala sesuatu kami kasih nama depan Mad. Hahaha. Lihat aja ada Madventura, Madmonkey, dan Madbelbie. 


               Segala sesuatu yang dinamai mad ini bener-bener buat kesenangan kami. Bisa dibilang idealisme lah. Kalau buat yang komersil, kami kasih nama lain. Misal Ibing dengan Leopard dan Dewa Rusa, dan aku dengan Bantal Emesh dan Tryle. Nama-nama yang bisa dengan mudah diterima orang tanpa menimbulkan keheranan. 


Madgirl sebagai Identitas


               Karena sering pakai kata ‘mad’ di mana-mana, madgirl malah menjadi semacam identitasku pribadi. Secara sebelum ini aku malah semacam nggak niat gitu bikin kaosnya. Bikin cuma buat dipakai sendiri (woiii -_-). Tapi nama Madgirl selalu kupakai di mana-mana, termasuk nama blog ini juga. Jadilah dia identitas. Aku emang pengennya kalau ada kata madgirl, orang akan otomatis teringat pada Isthar Pelle. 

Logo


               Logo Madgirl ini Ibing yang bikin sesuai requestku. Logo ini aku kasih nama Dionade. Kepanjangannya diamond grenade. Wkwkwk. Maksa kan, kan, kan? Biarin! 

               Filosofinyaaaa. Nggak ada sih. Cuma yah, diamond itu berlian, grenade itu granat. Jadi granat berlian. *hoiiiii -,-

               Aku suka aja sama berlian karena … berlian itu mahal. :v

               Nggak deng. Ya karena dia itu keras, trus mengalami proses yang aduhai sekali yang pasti kalian semua udah pada ngerti. Basi lah, nggak usah dibahas juga. Zzzz.

               Trus soal grenade itu sebenernya itu bukan grenade, lebih ke bom sih. Bom yang pakai sumbu gitu apa namanya yah? Petasan? Ya pokoknya itu lah. Yang perlahan tapi pasti terbakar dan akan tiba saatnya meledakkan berlian itu.



               Jadi maksudnya apa sih? Maksudnya, berlian itu mewakili kebanggaan akan harta yang fana, yang akan meledak dan lenyap tak berbekas pada akhirnya. Begitu. Udah mantap belum cocokloginya? :D #timpuksayasekarang

Arti di Baliknya


               Nah, sekarang balik ke pokok permasalahan kaya yang aku ungkapin di awal postingan ini. Kenapa sih namanya Madgirl? Kok lu mau banget sih, dicap gila? 

               Khusus untuk pertanyaan satu itu, aku malah punya jawaban nyeleneh gini: jaman sekarang banyak orang gila mengaku waras. Ada berapa banyak yang berani mengakui kegilaannya? Mungkin aku jadi satu dari sedikit yang berani. Iya, aku gila. Apa yang salah dengan itu? Makanya Madgirl itu punya tagline apa coba? Proud to be Mad! Aku gila dan aku bangga. Hahahah.



               Tapi sebenernya, maksudnya sama sekali nggak ke situ. Mad di sini bukan gila yang gila. Okelah, gila. Tapi gila in the positive way (is that even possible?). 

               Maksudnya, kami berani jadi beda. Berani melawan arus dan nggak selalu follow the crowd. Berani stand out dengan apa adanya kami. Dengan segala kekurangan, dan tetap happy dengan itu. 



               Dan yahh, seperti yang selalu terjadi di belahan bumi manapun. Setiap orang yang berbeda, ide-idenya nyeleneh, nggak selalu ngikutin arus, dan melakukan hal-hal yang totally nggak kepikiran sama orang lain selalu disebut gila. Selalu. 

               Misalnya orang yang jaman dulu itu kekeuh banget pengen nemuin bohlam lampu. Disebut gila. Orang yang nawarin resep ayam goreng dan ditolak ribuan kali tapi nggak nyerah, disebut gila. Ada orang kepengen bisa terbang, disebut gila. Ada pejabat yang nekat jujur, bersih, melayani, dan anti korupsi, disebut gila. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

               Spirit semacam itu yang kami ambil. Kaya quote yang kami amini banget itu. “No great genius ever existed without some touch of madness.” 



               Kerja keras, apalagi yang absurd buat ngejar passion, biasanya memang menyebabkan kesan gila. Penelitian-penelitian baru, sebelum orang tahu apa manfaatnya, dibilang gila. Penemuan-penemuan baru, disebut gila. Kok jadi inget kisah mbah Sadiman yang nanam hutan sendirian sampai ratusan hektar. Dia sampai dapet gelar besar buat usahanya itu: EDAN. 



               If you wanna do something different, something great, you need to be a little bit mad, really. Kalau yang kamu lakuin itu standar-dtandar aja kaya orang ‘waras’ kebanyakan, ya jangan expect kalau bakal mencetak sejarah. Jadi madness semacam itulah yang kami maksud. Mad in the positive way (so it is possible now, eh?), mad yang bikin kamu jadi proud. Bukan gila yang hilang kesadaran sampai kalem aja jalan-jalan tanpa celana. Dan to be honest, I won’t judge those crazy people who wandering around streets. Mereka gila dan bahagia dalam kegilaannya itu kok. Sungguh, apa yang salah dengan itu? 

Campaign


               Mungkin kalian belum tahu karena aku nggak melakukan campaign ini secara massif dan terstruktur, apalagi sampai pakai jasa buzzer segala (dear, influencer. Maukah kalian buzzing my campaign for free? Hahah). 

               Jadi Madgirl itu punya campaign. Selain yang Proud to be Mad yah, aku punya campain Proud to be Brown. Ini buat cewek-cewek (khususnya Indonesia) yang punya kulit coklat sawo busuk kaya aku yang lantas minder sama cewek lain yang putih-putih. Yah, kan kita tahu sendiri. Standar cantik orang Indonesia itu harus putih. 



               Aku sendiri menerima bully-an perihal kulit itemku ini dari kecil. Bully-an itu datang terutama dari orang-orang terdekat: keluargaku sendiri. Tanteku yang anaknya kebetulan putih selalu mengejek karena aku item. Ibuku sendiri malu punya anak item karena beliau kulitnya kuning bersih. Padahal aku mewarisi kulit item ini dari suaminya sendiri, bapakku itu. Hahaha. 

               Waktu jaman remaja dulu aku sempet sih, merasa down. Merasa jelek di antara temen-temenku yang cantik-cantik banget dan putih. Merasa buruk rupa, dst. Tapi makin lama aku malah suka. 

               Waktu itu aku suka banget olahraga. Renang dan basket outdoor yang membuat kulitku makin kelihatan gelap. Tapi apa itu membuatku jadi nggak disukai cowok-cowok? Ternyata enggak. Yang naksir juga banyak. *penting??*




               Trus makin dewasa, lingkungan pergaulanku makin luas, aku makin menghargai kulitku sendiri. Betapa bule-bule berkulit pucat itu sangat iri dengan warna kulit kaya gini. Kelihatan sehat banget dan punya glownya sendiri. 

               Dulu aku pernah foto-foto sama cewek-cewek putih, dan anehnya, aku bukannya tenggelam karena kelihatan paling kusam, tapi malah kelihatan paling stand out dan warna kulitku kelihatan baguuuus banget. 



               Tentu saja dengan begitu bukan berarti aku nggak merawat kulit. Aku merawat kulit lah tetep. Luluran, pakai body scrub, dll. Tapi tujuannya bukan biar putih. Biar bersih aja dan kelihatan glowing sehat. Efeknya kelihatan banget. At least meskipun item, warna kulitku rata seluruh badan. Sama semua warnanya kaya gitu. Yang beda cuma muka yang kadang keliahatan lebih cerah, kadang kelihatan lebih kusem, tergantung aku berapa lama panas-panasan di bawah matahari. Hahaha. 



               Mungkin gara-gara aku pede, aura kecantikan kulitku jadi memancar dan orang berangsur-angsur nggak melabeli ‘item’ lagi, tapi eksotis. #uhuk Bahkan beberapa kali dikomen “Mbak Pelle itu rajin berjemur ya, kulitnya coklat rata banget.” Bukan berjemur sih, panasan lebih tepatnya. Lol. 

               So yeah, buat kalian yang punya kulit coklat kaya aku, jangan minder. Nggak perlu bersedih apalagi kalau cuma gara-gara iklan produk pemutih. Kulit coklat itu juga cantik, kulit item pun juga cantik. Bahkan albino pun cantik. Yang bikin cantik itu ya diri kita sendiri. Penerimaan kita sendiri. I’m proud to be brown. Are you? 

               Udah ah, itu dulu aja. Perasaan tadi niatnya mau nulis banyak deh soal fakta-fakta tentang Madgirl ini, tapi aku lupa. Besok-besok sambung lagi. Zzzz. Udah sih, intinya #BeliKaosSaya. :p
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Image source: Not your ordinary gift

               Kalau lagi nonton MMA di tivi gitu, aku suka komentar jauuuuh lebih heboh daripada komentatornya. 

               “Harusnya dikunci aja dulu yang kuat, ya Bing.”
               “Yahh, kurang pas tendangannya.”
               “Coba pas kena rahang, pasti langsung pingsan.”
               “Kayaknya bakalan menang yang biru deh. Walau badannya kecil tapi otot semua.”
               “Kayaknya yang merah nggak bakal menang kalau caranya agresif gitu. Yang biru lebih tenang dan terukur.”

               Daaan sebagainya. Enteng aja gitu komentar panjang lebar kaya ahli. Padahal aku ngerti soal MMA? Enggak. Praktik bela diri dalam keseharian? Blas. 

               Komentar sok tahu itu emang gampang kok. Nggak perlu jadi ahli, nggak perlu bekal ilmu pengetahuan. Ngemeng aja sekenanya. Namanya juga sok tahu. Kalau tahu beneran biasanya malah nggak bakal kebanyakan omong, tapi mengamati dulu, karena bener-bener paham. Orang kaya aku cenderung enteng mengomentari segala sesuatu justru karena aku nggak tahu apa-apa. Celakanya, dengan berkomentar sok tahu, aku sudah merasa pintar. 

               Kalau dalam hal ngomentar pertandingan di tipi sih oke-oke aja. Sesekali merasa sok pintar demi menghibur diri sendiri itu boleh. Hahaha. Ya maklum, di realita level kecerdasanku kalah sama lumba-lumba. Toh komentar sok tahuku nggak ada efeknya ke pertandingan. Yang main ya biasa-biasa aja. Fighter yang kukatain nggak bakalan menang ternyata malah bisa menang dengan keagresifannya yang melumpuhkan. Dari situ aku tahu kalau masing-masing fighter memang punya cara sendiri untuk meraih kemenangan. Ada yang agresif, ada yang terukur dan menang dengan sekali tendangan telak, ada yang mengulur waktu untuk membuat lawannya kelelahan, dll. 

               Sejak aku tahu itu, apa coba? Aku nggak berani ngomentar sotoy lagi. Bahkan kalau ditanya Ibing “Menurut Kecil, ini bakal menang yang mana?” aku jawab dengan “Nggak tahu. Lihat aja nanti.” Karena broooo, aku nggak tahu pasti. Yang badannya kelihatan bagus belum tentu staminanya bagus. Yang kelihatannya lemah ternyata malah gesit banget, dll. Itu padahal kalau aku ngomentar sok tahu juga nggak ada pengaruhnya lohh ke fighter-fighternya. Lha gimana dengan dunia nyata? Komentar-komentar sotoy yang mungkin berdampak ke orang yang dikomentari?

Sotoy dan Saran-saran Gratisan


               Dulu, aku juga enteng banget, boy, kalau ngomen sotoy ke orang yang aku kenal. Merasa paling paham masalah kehidupan, aku berani banget sok ngasih saran ini itu. 

               “Halah, aku juga pernah kaya gitu. Gini gini gini, aja.”
               “Temenku pernah ada yang jauh lebih parah dari kamu. Mbok nggak usah lemah!”
               “Kamu tuh nggak cocok jadi penyanyi. Cocoknya jadi upik abu aja,” dll. 

               Banyak banget saran sok tahu yang kulemparkan ke orang. Mungkin iya, aku pernah mengalami masalah serupa. Mungkin iya, banyak orang di luar sana yang pernah mengalami masalah lebih gawat. Tapi waktu itu aku belum paham kalau masing-masing orang itu fight their own fight. 

               Masalah ortu cerai yang kualami nggak mungkin sama dengan yang temenku alami. Masalah ditinggal pacar nikah, juga mungkin menghantam perasaannya beda lagi. Kalau aku dikasih mental kuat untuk menghadapi itu, aku harusnya bersyukur. Bukannya sombong dan trus menganggap temen yang nangis mewek putus asa itu lemah. Yang dirasain orang-orang itu beda-beda, oke? Kita nggak pernah tahu apa yang dia rasakan di dalam hatinya. Makanya aku berusaha keraaas buat nggak sok tahu lagi. 

               Tentu saja hasrat sok tahu itu masih ada. Namanya juga orang nggak pinter. Pasti hawanya pengen kelihatan pinter. Kalau ada temen posting masalah di media sosial, duuuuh, pengen banget ngasih saran rasanya. Kan aku pernah mengalami yang lebih berat dari itu. Pasti saranku brilian luar biasa dan applicable nggak peduli kondisi dia gimana, ya kan ya kan ya kan? Ada pikiran-pikiran semacam itu. Tapi lalu ada Haf yang mengingatkan. 

               “Ingaaat, Pelle. Kamu nggak tahu seujung kuku pun masalah dia, latar belakang, dan kondisi saat ini gimana. Nggak usah sok tahu!” di situ aku mengaktifkan rem darurat. Kalau postingannya sedih dan aku pengen menunjukkan simpati, paling aku kasih reaksi sedih atau paling banter kirim pesen bilang “Sabar yaa,” trus kasih tanda bintang peluk. Udah, gitu aja, nggak akan komen “Kamu harusnya gini, kamu harusnya gitu.” 

               Kalau pun cerita “Dulu aku pernah gini juga,” atau “Temanku dulu pernah mengalami kaya gitu juga,” itu paling cuma buat berbagi cerita aja, biar dia nggak merasa sendirian. Bukan buat menghakimi “Kamu lemah deh, kaya kami doong, kuat.” Bukaaaan.

               Soal rem mengerem ini memang nggak gampang. Wong udah sadar aja masih sering kelepasan. Apalagi kalau nggak sadar blas. Hiks hiks hiks. Aku kadang ngeri kalau ada yang posting masalah trus banyak yang dengan entengnya ngasih saran dan nasihat menurut pandangannya sendiri. Udah gitu bukannya karena simpati, tapi karena pengen menunjukkan kalau diri sendiri lebih baik aja. T__T

               Aku sendiri pernah menerima komentar sok tahu nggak? Ha ya seriiing. Komentar-komentar dan saran-saran yang bikin angkat alis. Gemesnya, saran-saran dan komentar itu bahkan berdatangan sendiri tanpa diminta. Tanpa aku nanya-nanya. 

Jadi aku hidup biasa-biasa aja gitu, tenang dan damai, trus tiba-tiba ada orang yang menilai kehidupanku nggak bahagia trus ngasih saran aku harus begini harus begitu. Kan mumet. Kalau aku nggak lakuin saran-saran gratisan itu karena aku nggak suka dan bahkan nggak sesuai sama apa-apaku, aku dibilang suka cari alasan. 

               “Ya nggak bakalan sukses kalau kamu kaya gitu terus,” katanya. Lhaaa, kamu siapa sih? Bidadari kesleo? Emang kamu tahu cita-citaku apa? Emang kamu tahu standar sukses buatku itu gimana? Emangnya bahkan tahu apa yang aku mau? Yaelaah,  tuh, kangkung di gigi bersihin dulu! *emot nyengir sambil keringet netes di dahi

Gemar Bicara Tak Gemar Mendengarkan

 

               Setelah mengamati perilaku norakku sendiri, aku akhirnya menyimpulkan kalau aku itu orangnya gemar bicara tapi tak gemar mendengarkan. Nyimak enggak, udah nyerocos aja ngasih komentar panjang lebar, saran yang menurutku baik dan benar. #sigh

               Semakin bertambahnya usia, aku paham. Orang yang menceritakan masalahnya itu kadang nggak minta saran kok. Nggak selalu butuh nasihat. Kadang cuma pengen didengarkan aja. Pengen berbagi. Istilah bahasa Jawanya itu ‘sambat’. Karena dengan demikian, beban di hatinya akan berkurang. Sesederhana itu, bosque. 

               Logika aja sih, kalau udah ada orang yang cukup mendengarkan, dia nggak akan posting ke sosmed. Dia sampai posting di sosmed itu ya karena dia butuh lebih banyak ‘telinga’ untuk ‘mendengarkan’. Butuh sambat. Dan plis, itu manusiawi. Jadi jangan dianggap lemah. 

               Well, beklah. Aku juga pernah ngasih saran buat jangan posting massalah di sosmed. Tapi itu sebatas saran, bukan berarti aku benci sama mereka yang curhat di sosmed loh. Aku ngerti banget lah, kebutuhan curhat itu sebesar apa dan kaya gimana rasanya. Kenapa kok aku ngasih saran begitu? Karena yhaa, sosmed isinya kebanyakan orang yang gemar komentar tak gemar menyimak postingan. Wkwkwk. Apalagi curhatnya panjang. Duh, skip, langsung komen ajah biar cepet. Dan akhirnya komentarnya nggak nyambung. Nggak on point. 

               Curhat sekali-sekali buat melegakan perasaan itu silakan. Tapi harus sadar risikonya. Bukannya lega, bisa jadi malah tambah dongkol karena banyak komentar sok tahu yang nggak nyambung sama point yang kamu maksud. Atau tambah sedih karena malah dihakimi. Hahaha. 

               Eh, aku bilang sekali-sekali lho ya. Bukannya curhat setiap saat setiap waktu. Kalau terus-terusan kaya gitu malah melas di kamunya, sis.  Mungkin kamu memang butuh bantuan profesional, dan bukan hanya curhat di medsos.

               Duh, maap, aku malah mbleber ke mana-mana. Intinya, sebagai seorang curhaters, aku berusaha mengurangi kadar curhatku. Kalau bisa sih malah jangan sampai ada orang yang tahu masalahku apa. Soalnya males sih, banyak yang kepo cuma biar bisa ngetawain doang. Kan jahat. 

               Kedua, sebagai nyimakers, aku berusaha untuk mengaktifkan rem darurat di saat-saat memang dibutuhkan. Nggak akan ngasih saran kecuali diminta. Kalau ada yang curhat, kudengerin aja dengan baik tanpa kebanyakan sok tahu. Apalagi kalau curhatnya cuma curhat lewat di timeline tanpa bener-bener bermaksud curhat ke aku. Kalau aku nggak suka dan nggak bisa mengatakan hal yang manis-manis buat menghibur, yaudah skip aja. Nggak harus berkomentar sok tahu soal masalah yang tengah ia hadapi. Kecuali dia memang minta saran secara personal. Itu juga aku hati-hati banget, bosque. Sungguh, ada tanggung jawab yang besar dari keberanian memberi saran. Apalagi kalau dasarnya cuma sok-sokan. *tobat
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit conseat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amei.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Juni 2019 (2)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (15)
  • Februari 2018 (1)
  • Januari 2018 (1)
  • Oktober 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (2)
  • Juni 2017 (3)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (2)
  • Maret 2017 (8)
  • Februari 2017 (10)
  • Januari 2017 (3)
  • Desember 2016 (6)
  • Oktober 2016 (4)
  • September 2016 (6)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (3)
  • Juni 2016 (8)
  • April 2016 (1)
  • Maret 2016 (6)
  • Oktober 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • Kesumat Sang Raja Jerawat
  • Ngeblog seaktif Facebook-an. Gimana sih caranya?
  • Mengukur Kualitas Diri Tidak dengan Membandingkan
  • PESAN MORAL LOMBA-LOMBA AGUSTUSAN
  • PENTINGNYA MEMPERHATIKAN LINGKUNGAN PERGAULAN ANAK

Yang Nulis

Isthar Pelle
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates