• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MADGIRL!



Kamu pernah nggak sih merasa capeeek banget. Pengen nangis tapi kok nggak sedih, pengen marah tapi nggak marah, pengen ngamuk nggak ada yang diamuk. Cuma capek aja. Bener-bener capek banget sampai rasanya pengen maki-maki tapi sayang nggak lagi punya tenaga? 

Aku sedang ngerasain itu sekarang ini. Sebenernya aku paham kalau aku kayak gini mungkin bagian dari naik turunnya hormon karena bentar lagi aku mau menstruasi. Emang biasa kayak gini. Tapi sejak PMS menyerang aku tuh udah berusaha sebisanya untuk sestabil mungkin dan berusaha senyum terus biar selalu semangat. 

Hari ini juga sama. Aku bangun pagi, berusaha fokus sama hal-hal yang harus aku kerjakan, dll. Pada awalnya lancar-lancar aja. Sampai akhirnya tiba saatnya aku mau rekam cover lagu dan nggak tahu kenapa salah terus sampai berjam-jam. Mulai dari akunya yang goblok sampai menghabiskan waktu lama banget buat mencari jalan keluarnya. Pas udah ketemu, eh bengkel depan won’t stop blayer-blayering. Curi-curi waktu pas hening, ada lagi aja masalahnya. Memori kepenuhan lah, rekamannya putus-putus, akunya salah, akunya salah, akunya salah. Gitu aja terus sampai jari-jariku sakit.

Belum lagi masalah njelehi lain yang bikin aku mikir “Yahh, sometimes, things just won’t work.” Trus sabar aja sambil maki-maki dalam hati. Lha gimana. 

Di saat kayak gini ya kadang pengen gitu nyender bentar. Bukan buat curhat atau memindahkan beban. Cuma mbok plis tak nyender, bentaaar aja. Nggak usah ngomong apa-apa. Diem aja. Aku cuma buntuh nyender bentar. Nggak lama. 

Tapi ya beginilah seninya hidup sendirian. Nggak ada yang disenderin, akhirnya nyendernya ke laptop. Nulis sampah-sampah. 

Tapi nggak apa-apa. Blog ini toh nggak ada yang baca. Kesempataan aku buat nyampah apa aja. Buat ngamuk, berkata kasar, buat nyenderin diri sendiri, atau apapun. Daripada aku maksa curhat ke manusia beneran yang aku tahu nggak peduli dan bahkan nggak akan repot-repot mendengarkan. Mungkin malah merasa rugi waktunya udah terbuang gara-gara aku. 

Oyaaa, by the way, hari ini aku juga dapet kesadaran baru yang entah emejing entah miris. Wkwkwk. Bukan kesaadaran ding, ingatan. Orang dari awal tahun aku udah bilang sama diri sendiri untuk nggak berharap pada apapun, masih aja berharap. Akhirnya pas nggak berjalan sesuai yang aku mau ya kayak gini. Baper. 

Ya tapi gimana dong. Aku juga pengennya nggak berharap apa-apa. Misal, nyanyi trus nggak berharap harus langsung seratus persen lancar gitu. Hahaha. 

Tapi kan ya ternyata kenyataannya nggak segampang itu. Aku masih aja berharap. “Hemm, kali ini bakal bagus!”
“Yang kali ini pasti berhasil!”
“Sekali lagi, pasti jadi!” dan semacamnya.

Itu ya terlintas aja otomatis di kepalaku, aku ngga tahu harus ngaturnya gimana.
Trus ketika ternyata nggak sesuai sama harapan, aku kecewa, dan jadi capek karena merasa dikecewakan berkali-kali (oleh harapanku sendiri, hahaha). 

Di sini aku jadi aagak bingung. Antusiasme itu sama dengan harapan bukan? 

Soalnya kan di awal tahun yang aku maksud jangan berharap itu maksudnya harapan kosong. Misalnya bermimpi seorang pangeran berkuda terbang datang menyelamatkan gitu. Itu kan harapan konyol.
Tapi kalau harapan yang disertai dengan usaha masa nggak boleh? Kalau nggak ada ngen-ngen (harapan) yang dipengeni kan ya nggak mungkin susah-susah usaha segala dong. 

Nah trus di situ masalahnya aku pusing lagi. Kalau harapan nggak kosong yang disertai dengan usaha boleh, trus   ternyata hasilnya nggak sesuai sama harapan padahal usahanya udah mati-matian, itu gimana? 

Wajar aja bukan?
Manusia emang wajar kan merasa kecewa, merasa capek?
Ya wajar lah. Harusnya. 

Jadi emosi campur aduk yang aku rasain sekarang ini semestinya enggak apa-apa. 

And what makes all of this even weirder is the fact that in some way, I feel happy for pushing myself hard and for working my ass out. I feel like I become the person I always wanna be. Or if I may say, I feel like myself again.

I don’t know. I just wanna get drunk!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Image credit: pixabay/whoalice-moore


Pas ngetik ini aku beneran sambil dengerin City and Colour. Aku nggak ngerti mereka indie apa bukan. Aku malah sekarang jadi bingung yang dimaksud indie sama anak zaman sekarang itu gimana lagi. 

Kalau setahuku dulu indie itu ya independent. Dengan pembiayaan sendiri, produksi sendiri, promosi sendiri, dan seterusnya. 

Tapi makin ke sini kayaknya pengertian indie jadi makin geser. Pokoknya kalau nggak banyak orang yang tahu, ya itulah indie. Nggak peduli sebenernya mereka terikat kontrak sama label besar. 

Kayak contohnya nih, orang komen “Wah, indie banget kamu ya. Dengerinnya Billie Eilish.” Billie Eilish itu nggak independent. Dia kerja sama label besar. Udah gitu sebenernya kalau di ngamerika sana Billie Eilish itu udah mainstream juga. 

Kenapa aku suka Billie? Bukan biar dikatain “Wah, seleranya bagus. Seleranya beda. Seleranya aneh. Indie banget. So cool!” 

Fuck all that! Aku nggak dengerin musik ini itu atau suka film ini itu cuma biar dikatain keren. Bwahahaha. 

Kalau aku beda, ya karena kebetulan emang aku beda aja. Kayak misalnya aku suka Billie karena liriknya bagus. Dan dia masih kuciiiiil. Aku tuh kagum banget sama dia yang nulis lagu Bellyache itu pas masih umur berapa coba? 13! Umur segitu aku masih dlongap-dlongop doang elapin umbel. 

Selain musiknya juga aku suka sama banyak hal lain dari dia. Kayak pemikirannya yang bilang nggak mau jadi cuma satu atau melakukan cuma satu hal saja. Aku juga kayak gitu. Menurutku melakukan satu hal aja cuma biar diidentifikasikan sebagai satu hal itu kerugian yang nyata. Sementara kita bisa nyobain banyaaaak hal yang nggak terbatas. Yang mungkin kita suka. Yang mungkin kita bagus di situ. 

Trus soal dia yang oke sama cover music. Beberapa musisi mungkin baper kalau lagunya dicover tanpa izin. Tapi Billie cool aja. Dia malah bilang kalau kamu denger satu lagu dan kamu merasa itu lagu kamu, ya itu lagu kamu. Meski aku yang nulis, aku yang pertama nyanyiin, bukan berarti itu cuma laguku. Dan macem-macem. 

Ada banyak alasan kenapa aku suka seorang Billie. Alasannya nggak sesederhana “Wah, dia kalau bikin video klip creepy. Aku sukain ah, biar aku keren.” Itu sih alasan yang konyol banget. 

Atau siapa lagi? Musisi Indonesia misalnya ya. Aku suka Stars and Rabbit. Trus dikomen “Yahh tipikal anak sok indie pasti suka Stars and Rabbit.” Like what the actual fuckkkk! Aku suka Stars and Rabbit itu murni karena aku suka banget sama suara Mbak Elda. Aku suka dia dari dulu zaman dia di Reinkarnasi, di Evo. Suaranya emang bagus. Trus aku suka. Bukan biar indie-indiean. Hadeeeh. 

Tapi kan kamu anaknya beda, Pelle. Kamu nggak suka yang mainstream. 

Ya kalau aku emang nggak suka gimana dong? Apa aku harus bohong pura-pura suka biar nggak dibilang sok? Aku anaknya kalau suka bilang suka, kalau enggak ya nggak akan bohong bilang suka. Sederhana. 

Lagian siapa yang bilang aku nggak suka musik mainstream? Musik mainstream top 40 yang aku suka juga banyaaak. Misalnya Ed Sheeran, trus Taylor Swift, trus Sia, Rihanna, Dua Lipa, Imagine Dragons, dll. Banyaaak. 
 Bukan masalah besar lah kayak gini. 

Mungkin dulu pas aku masih kecil SMP-SMA gitu emang iya sih, aku merasa keren karena aku cuma mau dengerin musik tertentu. Tapi makin aku gede yang kayak gitu nggak penting lagi. Bahkan selera musikku geser jauuuuh banget. SMP aku suka punk, SMA-kuliah suka metal. Habis kuliah aku suka … gatau apa alirannya yang kayak Dillon gitu. Dan anehnya aku suka Peaches juga. Hahaha. Aku bahkan suka Die Antwoord meski aku sebenernya nggak terlalu ‘into hip hop’. 

Intinya buatku sekarang alirannya apa itu udah nggak penting lagi. Dia major apa indie nggak penting sama sekali. Kalau aku suka ya suka. Gitu aja. Nggak ada sangkut pautnya biar dibilang beda, dibilang indie, dibilang artsy, antimaintream dan omong kosong lainnya. Gitu. 

Ngerti?
Nggak ya? Gpp. Nggak ada yang baca blog ini juga kok. Lol. 

Trus satu lagi nih. Aneh aja kalau karena orang seleranya beda trus dikatain sok. Padahal bisa jadi itu nggak diniatin kayak jatuh cinta. Otomatis aja gitu. Tiba-tiba jatuh cinta sama yang begini, nggak terlalu cinta sama yang begitu. Trus dibilang sok, masa? 

Dan ini nggak sebatas di musik aja sih. Sampai cara berpakaian dan bergaya juga. “Kamu sengaja warnain rambut, sengaja gundul, biar dibilang beda dan keren ya? Biar stand out ya? Biar nggak blend in ya? Biar antimainstream ya?” dst. Heuuuft. Plis deh. 

Biasa aja, nying! Nggak urusan biar apa biar apa. Ya aku sukanya kayak gini gimana dong. Masa cuma biar bisa blend in biar nggak dikatain sok, trus aku harus pura-pura nyamar jadi basic bitch pakai baju stylish yang lagi ngetren tahun itu, dengan potongan rambut medium, diwarnain medium brown, poni setengah, belah tengah, trus pakai wedges dan posting foto makanan mahal? 

Ya enggak lah. Kenapa? Karena aku nggak punya duit buat itu semua lah, bego! 

Bwahahaha. Gausah serius-serius bacanya!

Bye! :p
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Tahun 2019 ini aku asli nggak bikin resolusi apa-apa. Sungguhan ini. Nggak becanda. 

Tahun 2017 aku bikin resolusi udah terlaksana. Tahun kemarin bikin resolusi juga banyak yang terlaksana kecuali yang emang susah-susah (hahaha. Yaiyalah)

Tapi tahun ini aku nggak bikin resolusi apa-apa. Kenapa? Karena resolusi menuntun pada harapan, dan harapan menuntun pada kekecewaan. Eyaaa. Jadi aku mending ya langsung kerja aja gitu gausah resolusi-resolusian. 

Btw, kalau menurut kalian aku blogger yang payah banget karena ngepost cuma setahun sekali, iya, emang. Hahaha. Aku aja pengen noyor kepala sendiri kok. Ini beneran 2018 aku nggak posting apa-apa selama setahun di blog ini. Satu-satunya postingan cuma tentang resolusi 2018 trus baru ngepost lagi pas tahun baru 2019. Yasalaaaam. Aku bilang juga apa kan. Resolusi itu nggak ada gunanya kalau nggak dikerjain. 

Anyway, review tahun 2018 gimana?

Boring, gaes! Hahaha. Aku tuh rasanya pengen cepet-cepet 2019 aja. Biar bisa nonton ending Avengers End Game lah udah keburu penasaran banget ini. Huhu. 

Nggak ding. 2018 itu aku keren bangeeeet. Awalnya. Haha. Jadi aku inget banget ya, awal 2018 tuh aku banyak orderan, bikin Incul, dll. Pokoknya banyak duit. Sampai tengah tahun masih lanjut asik kayak gitu. Apalagi aku malah tambah kerjaan nulis-nulis, nulis di Plukme juga. Banyak duit seru lah. 

Mulai nggak asiknya tuh sejak Oktober kayaknya. Oktober akhir sih. Pokoknya dua bulan terakhir itu lah.  Soalnya orderan dikit, Plukme tewas, aku nggak nulis lagi, nggak punya duit, trus aku kalau nggak punya duit kan rasanya sedih gitu. Jadi aku merasa hidupku nggak berguna. 

Padahal aslinya keren. Hampir semua resolusi yang aku buat tahun itu aku jalanin semua.
Aku nulis di blog (blog Belbie, bukan blog ini) lebih sering, aku baca lebih banyak buku, aku upload banyak video di youtube, aku posting instagram bisa konsisten, aku bikin baju sendiri, aku nulis fiksi lagi, dan aku nulis buku. Serius pakai outline dan segala macem meski belum selesai. Dan menurutku bagus. Dan hampir sepanjang tahun aku merasa keren. Dan aku merasa sungguh ngefans pada diriku sendiri. Aku tahu banget kalau pas udah tua nanti aku inget tahun 2018, aku akan bilang “Girl, you’re rock! I’m so proud of you!”

Oyaaa, aku juga punya reslolusi pengen ganti gaya dan emang iya sih. Kayak akhirnya aku sempet punya rambut warna pink, trus aku akhirnya gundul. Heuheu. Aku asli bahagia banget. Keputusan buat gundulin rambut mungkin adalah kado termanis yang bisa aku kasih buat diriku sendiri (sebenernya karena aku belum bisa beli rumah aja. Kalau bisa ya tetep manisan rumah lah. Ngahaha). 

Intinya, meski di akhir tahun aku merasa shitty dan sedih, tapi total setahun itu kereeeen! Trus ya aku sekarang semangat-semangat aja buat lanjutin 2019. 

Tahun ini aku nggak bikin resolusi, tapi bikin to do list (ini sebenernya sama aja nggak sih? lol). Dan aku nggak terlalu peduli apa yang akan datang atau apa yang akan terjadi. Urusanku cuma ngerjain hal-hal yang bikin aku bahagia. 

Dan oya, aku kayaknya jadi bakal rajin posting di blog ini lagi karena Plukme udah nggak ada kan. Tadinya kan aku gapernah nulis di blog karena nulis di Plukme. Dan di sana herannya aku bisa semangat banget sih, bisa nulis sampai 200 artikel hanya dalam waktu beberapa bulan (lebih banyak daripada yang udah aku tulis di sini selama bertahun-tahun, yawlooh). Dan yahh.... 

I hope you guys have a very very happy new year! Do whatever you wanna do cause life is short, and remember: the crazier, the better!

Until next time, kids! Mwachh!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Hi, guys!
Happy New Year, if that’s important to you?
 
For me? Well, not really. New Year is just another new day and I’m done with new year new me bullshit. Now I’m into new day, new me. Or new day, the same old me, or whatever. The point is … none of that bullshit matters. What really matter is how I behave, what I do, how I handle myself and turn all of that bullshit into real action.

2018 been pretty good to me. I do a lot of things I always wanna do for the longest time, my mental health been pretty good, my financial situation been good, I was able to help people, and of course, help myself. I was sooooo happy.

Until the last quarter of the year when I feel the downfall. I still do lots of stuff but sometimes, they’re just won’t work. I don’t get as much money as I started the year. I don’t really see results at everything that I do and that makes me feel so damn tired, and stressed, and frustrated. I feel unmotivated and lost. I don’t trust myself again. I feel worthless and I don’t understand why I have to continue this journey.
I feel weak, and I hate being weak.

What make me sad is, I actually do so damn good but then I fail and that failure is the only thing I saw. I don’t appreciate my effort, my hard work. I don’t see my achievement. I only see myself being pathetic and hopeless. I turned into that fragile bitch who need saving.

I still feel this feeling yesterday because the last couple months I don’t talk about it to anybody. When I finally open up, through instagram caption and a chit chat session with a friend, those weights leave my shoulder. I feel okay.

Turns out, talk is the only thing I need. Eventho that one person say that what I do is simply a cry for attention. I get mad at first when he said that but when I thought about that, it’s actually true. I was crying for attention. And that was not a bad thing. I need that attention, tbh.

I used to have one person who usually is the first person I go to when I need a grip but then he stopped listening. He refused to listen to me. He got tired of me being such a baby. That is how I start to breakdown. Because I think, I have no one else.

I started to question myself over and over. “Am I not worth it? Am I that bad? Why everybody hate me? Why all of my friends leave me? I deserve this. I did bad things in the past, this is my punishment. I deserve this. I can’t be with anybody. I’m just too hard to be with. I am that toxic in every relationship. I understand why people hate me because I hate me too,” etc.

I punish myself, I discourage myself, I hurt my own feeling. I don’t trust my own ability. I feel dead on the inside and what I do is just breathing, not really knowing why.
That was suck!

And then the new year is finally about to come. Am I feel blessed and feel better when knowing the year is finally ended? No. I still feel the same. I still feel so sad I literally cry for days. I started to blame everything, everyone, and myself. I hate life, and I hate the whole world.

I still do in the new year eve. Nothing helps me feel better.

Until I decided to just live. What can be so wrong. What the biggest risk if I do whatever I wanna do? Rejected? Hated? Leaved alone? Not a big deal cause I already in there. I have nothing to lose. So I decided to say whatever I want to say and express my feelings. I talk to people I’ve been avoided for a while. I try to figure things out, what the actual problem is? And actually, nothing is wrong. It was just my brain telling me that I was awful.

Problems figured themselves. It’s over. Now I have nothing left to worry.

I don’t worry to fall in love once again, because what the worst possibility from that? Heartbreak? Then I know not to love too deep and expect too much.

I don’t worry to start something new because what’s the worst case from that? Fail? Then I better know how to get up.

I don’t worry to leave people who hurt me because what can happen? I have nobody left? I already live alone the whole time.

I don’t worry to accept the fact that I’m not okay, that I can be broken, that I can be left alone, that I can fail, and all other bad stuff because you know what? That’s how life’s going. Life throws shits at us, life fucks us all. It’s just how it works. I’m totally fine with that. I’m okay with everything.

What is the worst case, if I may ask once again? Die? I’m okay to be dead. I don’t like life too much anyway.

I know I’m being stupid when I expect too much, believe in people too much, and not having the will to move on while I can. I also hate the fact that I kinda have a ‘post power syndrome’ and that’s holding me back so I was having hard time to move forward.

Why I have to say “Ooo, I was so cool,” too much when I can be cool now? I can even be so much cooler now. I met a lot of people who inspire me in 2018. Not physically meet, but you know, inspiring people on the internet. I learn a lot. I changed a lot. I grew. I’m a better person if I can say. I do more stuff in 2018 and I should appreciate myself for that because that was so fucking dope!

I started 2019 with less expectation, less heart, and no fear.



In the end, I know that life might fuck me all over again, but I’m ready. It feels good, tho. *grin*
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit conseat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amei.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Juni 2019 (2)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (15)
  • Februari 2018 (1)
  • Januari 2018 (1)
  • Oktober 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (2)
  • Juni 2017 (3)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (2)
  • Maret 2017 (8)
  • Februari 2017 (10)
  • Januari 2017 (3)
  • Desember 2016 (6)
  • Oktober 2016 (4)
  • September 2016 (6)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (3)
  • Juni 2016 (8)
  • April 2016 (1)
  • Maret 2016 (6)
  • Oktober 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • Kesumat Sang Raja Jerawat
  • Ngeblog seaktif Facebook-an. Gimana sih caranya?
  • Mengukur Kualitas Diri Tidak dengan Membandingkan
  • PESAN MORAL LOMBA-LOMBA AGUSTUSAN
  • PENTINGNYA MEMPERHATIKAN LINGKUNGAN PERGAULAN ANAK

Yang Nulis

Isthar Pelle
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates