• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MADGIRL!



Image source: Rebel's Diary
Akhirnyaa, aku punya kesempatan untuk sok sharing tentang pengalaman aku melawan jerawat. Kenapa baru bisa sekarang? Karena yahh, baru kali ini jerawatku mendingan. Iya, setelah jerawat-jerawat tidak berbudi itu menodai wajahku yang manis ini selama bertahun-tahun.
Bayangin aja! Kalian kalau muncul jerawat satu dua di muka aja besoknya ke mana-mana udah harus nyamar dulu jadi Ksatria Baja Hitam karena nggak pede, bayangkan diriku yang mukanya dihinggapi tidak cuma satu atau dua tapi puluhan (bahkan ratusan kayaknya) jerawat di muka.
Untungnya sih aku anaknya emang dasarnya kepedean gitu. Jadi belaga cuek meskipun di waktu-waktu tertentu, di kala tak ada seorangpun yang melihat, aku diem-diem nangis di pojokan kamar mandi sambil gigitin keset. Aku ternoda mama, aku ternodaaaaa.
Umumnya, jerawat akan menyerang seseorang di masa pubertas. Hampir semua temenku mengalami pada waktu di bangku SMP atau SMA. Tapi aku enggak. Dulu, ketika temen-temenku curhat bareng-bareng menangisi kondisi kulit mukanya, aku yang berperan sok prihatin dengan keadaan mereka. Mungkin karena waktu itu aku pubernya telat kali ya? Aku dapet menstruasi pertama itu pas kelas dua SMA. Dan kulitku, meskipun item ampun-ampunan karena keseringan main layangan (meskipun naikin layangannya nggak pernah bisa jadi cuma sibuk lari-lari di lapangan), nggak pernah jerawatan setitikpun.
Problem kulitku waktu itu paling ya cuma item, dekil, kering, dan kusam (dan aku bilang cuma?) tapi aku cuek-cuek saja. Pakai skin care? Hah, apa itu skin care? Cuci muka? Kalau inget. Pokoknya dulu aku buta masalah begitu-begitu.
Meskipun temenku banyak yang sudah pakai produk-produk kecantikan, aku nggak mau tau dan nggak kepengen tau (saat itu naluri keperempananku memang masih diragukan).
Nah jerawat itu munculnya kapan? Muncul pertama kali pada tahun 2009 yang bersejarah. Waktu itu aku kuliah semester tiga (ya udaaaah, ga usah pakai nanyain aku sekarang kuliah semester berapa!). Tepatnya saat menjadi panitia makrab jurusan. Yang nggak tau makrab itu apa, makrab itu kepanjangan dari malam keakraban. Yahh, semacam ospek-ospekan gitu buat mahasiswa dulu (iya, dulu aku termasuk di dalam barisan kakak-kakak senior yang belagu itu, iya). Makrab jurusanku tahun itu diadakan di Boyolali selama tiga hari dua malam. Oya, aku kuliahnya di Semarang.
Singkat cerita, acara makrab berakhir dengan damai dan kami semua kembali ke Semarang.
Keesokan harinya, mukaku jadi aneh. Muncul bintik-bintik kecil banyak banget. Dan ternyata bukan cuma aku saja. Beberapa teman panitia mengalami hal serupa. Kami menarik kesimpulan secara sembarangan bahwa itu terjadi karena perbedaan cuaca yang ekstrim. Boyolali dingin kaya di kutub, Semarang panasnya kaya berada tepat di antara bumi dan matahari. Jadi wajar kalau berefek ke kulit.
Pas temen-temenku ngobrolin itu aku manggut-manggut aja. Nha, karena temen-temenku punya cukup akal sehat, mereka pergi ke doktter kulit. Aku? Enggak. Aku tenang-tenang aja dan berpikir bahwa setelah kulitku mampu menerima cuaca Semarang lagi dengan segala kondisinya, dia akan balik normal lagi. Nah, ketika kulit temen-temenku udah sembuh dan mulus kaya baby lagi itulah, di mukaku justru muncul jerawat. O EM GE! *jeng jeng jeng jeng
Image source: Pinterest
Trus aku panik nggak? Ya enggak lah. Aku masih tenang-tenang aja. Malah kalau aku nggak salah inget, perasaanku saat itu justru exited. “Ih, aku jerawatan. Hihihi,” gitu. Secara itu pertama kalinya aku kena yang namanya jerawat. Jerawatnya nggak banyak cuma tiga atau empat gitu.
Bintik-bintik kecil oleh-oleh dari Boyolali juga ada. Tapi rupanya ketenanganku hanya berlaku sementara. Lama-lama aku risih juga. Untuk itu, aku mencari produk pencuci muka (sebelum itu cuci muka nggak pernah sabunan kayaknya).
Entah dengan pertimbangan dan alasan apa aku kok milih Biore Brightening Face Scrub (nggak bisa munculin gambarnya soalnya sekarang pasti udah ganti kemasan dan aku bahkan udah nggak inget-inget banget kemasannya seperti apa). Kayaknya sih namanya bener itu. Bentuknya tube warna putih combine abu-abu. Setelah dewasa, pengeeeen rasanya aku kembali ke masa itu dan teriakin diriku sendiri “Tolol!”
Secara problem mukaku jerawatan. Nha, aku malah pakai produk brightening, mengandung scrub pula. Scrubnya gede-gede dan itu aku pakai tiap hari. Iya, di kulit yang jerawatan itu. Jelas aja jerawatnya ngamuk-ngamuk, meradang, menerjang. Jerawatku yang tadinya cuma tiga atau empat itu, membelah diri jadi banyak banget. Aku nggak tahu berapa karena nggak ngitung. Katanya kalau jerawatan nggak boleh diitungin biar nggak nambah banyak. Aku nggak ngitung tapi jerawatnya tetep nambah banyak aja. Akhirnya, dengan dendam berkecamuk di dada, itu facial scrub aku buang. Padahal dianya sih nggak salah kan ya?
Habis itu aku nyobain nyembuhin jerawatku pakai ilmu yang kudapatkan dari semedi. Aku templok-templokin bawang putih. Jadinya ya kamarku bukannya bau wangi, tapi malah bau masakan gitu. Sebenernya, bawang putih memang bisa buat ngeringin jerawat. Kalau saja aku tahu aturan pakainya Cuma sekitar 10-15 menit. Nha ini aku bawa tidur. Keesokan harinya, jerawat-jerawatku berubah wujud jadi tompel, sodara-sodara. Gosong-gosong.
Jerawatnya beneran kering? Enggak! Dia Cuma kaya mateng enggan pecahpun tak mau. Jadi item-item. Belum lagi di sebelah-sebelahnya muncul jerawat baru. Aku langsung nangis di depan cermin sambil jambakin rambut.
Setelah itu, aku pakai produk-produk herbal. Konon kabarnya, pasta gigi herbal bisa bantu menyembuhkan jerawat karena itu pasta gigi mengandung tea tree. Aku coba beberapa lama, nggak ngaruh. Akhirnya aku kembalikan pasta gigi itu ke kodrat aslinya yaitu buat sikat gigi.
Aku coba masker spirulina yang sekarang juga masih banyak digembar-gemborkan beberapa ol shop herbal, nggak ngaruh juga.
Aku coba pakai minyak zaitun, sukses! Tompel-tompel di mukaku ilang. Tapi jerawatnya tetep, beranak pinak dengan suburnya.
Tahun berganti, akupun naik tingkat dan pindah kos lagi. Kebetulan memang air di kos aku yang kemarin itu kotor banget. Di baknya sampai membekas kuning-kuning gitu sampai kami, anak-anak kos yang imut ini harus menguras bak mandi setiap hari. Tahu kan sekarang kenapa kami layak dijadikan calon istri? Kami rajin dan strong.
Nha, di kosku yang baru, airnya lebih bersih. Saking bersihnya sampai nguras bak mandi tu setahun paling-paling dua kali gitu. Waktu inilah aku pakai Clean n clear facial wash yang warna coklat bening itu. Kadang selang seling sama Pigeon Facial Wash. Aku suka keduanya. Mereka punya tekstur yang ringan, enak di kulit, dan aromanya lembut.

Clean n Clear nggak bikin kulitku jadi gimana-gimana. Masih tetep aja gitu jerawatan, tapi aku pakai face wash ini paling lama. Sampai tahun depannya dan aku pindah kos lagi. Jerawat pergi pulang tapi seenggaknya mukaku udah nggak tompelan. Selain itu, aku juga masih memendam harapan kalau jerawat akan pergi pada waktunya.
Pas udah pindah kos lagi itu kira-kira satu semester, aku inget sahabatku sendiri jaman remajanya pernah jerawatan tapi sekranag udah mulus. Pas main ke kosnya, di sela-sela camilan punya orang dan belajar padahal ngegosip inilah aku mulai tanya-tanya dia bisa bebas dari jerawat gitu pakai apaan. Dia nunjukin face washnya. Acnes creamy facial wash sama dia cerita kalau dulu pakai Veryl acne gel.


Di kosnya dia itu, aku nyobain si Acnes. Eh, enak banget di muka. Hemm, pulangnya aku langsung beli. Selama beberapa hari kemudian aku secara gegabah rutin cuci muka pakai si Acnes dan percaya banget kali ini bakal sukses. Tapi ternyata, apa kalian tahu? Ah, kalian tidak akan menduga ini sama sekali. di hari keempat atau kelima, jerawatku gosong-gosong semua. Iya gaes, aku tompelan lagi. Dan ini ngeri banget karena pas itu jerawatku lagi buanyaaaaaaaak banget dan semuanya gosong! Padahal keesokan harinya aku berangkat KKN. Bagaimana aku menjelaskan ke orang-orang desa nanti, ya Allah??? Akhirnya si Acnes yang masih banyak banget itu, aku campakkan ke tempat sampah.
Selama KKN, aku nggak pakai apa-apa. Cuma cuci muka pakai sabun bayi. Biarlah orang desa mau berkata apa. Seiring berlalunya masa KKN, tompel-tompel di wajahkupun memudar. Jerawatnya? Kalian tahu sendiri lah. Mereka bagaikan pacar nggak tau diri yang udah diputusin masih nggak mau pergi.
Balik dari KKN aku coba bakai sabun serai. Karena berdasarkan gossip yang beredar, sabun serai kan bisa mengatasi berbagai masalah kulit termasuk jerawat. Setelah memakai beberapa kali, kulitku kering parah dan panas banget. Pecah-pecah gitu. Akhirnya itu sabun sere aku pakai buat sabunan badan. Enak lohh, anget-anget.
Setelah itu, aku ketemu sama Oriflame. Yeah, Oriflame. Waktu itu aku join Oriflame pas lagi ada diskon. Jadi Cuma 10 ribu gitu daftarnya. Pertama join ya niatnya emang fokus mau bisnisnya aja. Secara waktu itu aku lagi nggak punya kerjaan blas. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, aku pakai juga produknya. Produk Oriflame yang pertama kali aku pakai tu rangkaian Pure Skin.

Ini rangkaian anti jerawat buat remaja dari Oriflame. Aku pakai komplit. Face wash, toner, sama acne gelnya. Pernah pakai face creamnya juga. Tapi Cuma sekali karena face creamnya nggak selalu ada. Aku pakai rangkaian Pure Skin kurang lebih selama enam bulan. Hasilnya so so aja sih. Enak di muka, nggak nyebabin efek negatif, tapi nggak efektif juga ngebasmi jerawat. Karena emang buat remaja, si Pure Skin ini ringan, kaya Clean n Clear kalau menurutku.
Setelah habis semua, aku ganti pakai rangkaian Pure Nature yang Tea Tree.

Aku pakai face wash (yang batangan maupun yang gel udah pernah semua), tea tree oil, sama blemish carenya. Face creamnya malah belum nyoba karena waktu itu aku malah pakai face cream yang essentials. Ini juga so so. Oilnya bisa banget buat ngeringin jerawat. Jadi diaplikasikan ke jerawat, besoknya langsung kering. Cuma masalahnya ya itu, muncul jerawat baru lagi di sebelahnya. Gitu-gitu terus sampai produknya habis.
Oya, satu produk favorit aku dari rangkaian tea tree ini tu corrective sticknya. The true life saver. Oke banget dipakai sebelum make up. Bisa keliatan kaya nggak jerawatan blas gitu. Udah gitu sembari nutup, dia juga menyembuhkan. Sip banget deh pokoknya.
Habis itu masih dari Oriflame, aku pakai rangkaian essentials.

Nggak lengkap. Face washnya aku tetep pakai tea tree. Aku pakai milk cleanser sama face cream. Bagus buat melembabkan kulitku yang kering tapi nggak ada pengaruh-pengaruhnya ke jerawat.

O ya, aku juga pakai scrub dan masker dari Swedish Spa buat perawatan mingguan.

Ini face scrub sama masker terenak yang pernah aku pakai. Tiap habis maskeran, kulit langsung berasa bersiih banget. Tapi juga nggak ada ngaruh-ngaruhnya ke jerawat.
Akhirnya setelah kurang lebih dua tahun berjuang bersama Oriflame dan nggak ada hasil yang signifikan, aku memutuskan kembali ke clean n clear.

Kali itu aku pakai clean n clear face wash yang acne marks cleanser soalnya berkat jerawat yang easy come easy go, aku jadi punya bekas jerawat banyaaaak banget. Trus pakai face lotionnya apa ya namanya lupa. Enak sih, tapi sama aja, nggak ada ngaruh-ngaruhnya. Di titik ini aku udah hampir putus asa.
Tahun berikutnya (antara 2014-2015) aku sempet gonta ganti skin care. Pernah pakai Garnier. Oke, bikin kulit nggak mengkilap, tapi sama aja, ke jerawat nggak ngaruh. Trus pakai Fair n Lovely, malah kulitku jadi jerawatan parah (lagi) setelah tadinya mendingan. Trus aku juga sempet pakai Bio Spray karena temen ada yang jualan. Menurutku nggak ada pengaruh apa-apanya. Cuma kaya air biasa aja. Di kulit juga nggak ngaruh blas.
Aku juga sempet pakai sabun Dove Beauty white bar buat cuci muka karena waktu itu mukaku kering banget.

Ini sabun, asli bagus banget. Enaaak banget di kulit. Nanti aku bakal bikin postingan review produk ini sendiri. Tapi aku nggak lanjutin karena sabun Dove nggak bisa ngilangin jerawat.
Bentar, jadi ini postingan nggak bakal ada akhirnya gitu, karena dari tadi kok kayaknya nggak ada yag sukses satupun? Hahah
Tenaaang, kita sudah sampai di penghujung cerita sodara-sodara!
Jadi ceritanya waktu itu aku kena alergi. Jadi seluruh badan gatel-gatel gitu. Niatnya mau beli sabun asepso. Tapi nggak ada malah nemu sabun hijau Holly.
Image source: Pictagram

Nah, aku pakai aja dah tuh. Lha kok, baru dua hari gatel-gatelku kering, sembuh semua. Padahal tadinya udah korengan kaya gitu. Udah pakai Caladin sama salep gatel-gatel termasuk Fungiderm udah nggak mempan. Akhirnya aku penasaran sama itu sabun holly. Google deh. Eeh, ketemu banyak reviewan beauty blogger kalau sabun itu tuh bisa ngilangin jerawat. OMG! Kenapa nggak aku pakai di muka? Malah sabunnya udah abis karena aku pakai di badan. Sabun holly tu sifatnya lembek banget dan mudah larut dalam air. Jadi cepet banget habisnya.
Akhirnya aku beli lagi sabun holly buat cuci muka. Kali ini aku pakai strategi colek colek biar nggak cepet habis. Jadi sabunnya aku taruh di wadah bekas face scrub, trus kalau mau pakai aku cukup nyolek seujung kuku aja. Busanya udah banyak banget. Pertama kali pakai tuh kulit mukaku muka jadi keset. Sama kaya pas di pakai di badan. Tapi beberapa hari pakai kulit mukaku jadi super duper kering. Kabar gembiranya, jerawat ikutan kering. Kabar buruknya, kulit mukaku kering banget sampai ngelupas-ngelupas. Aku semprot-semprotin pakai air super O2 kalau udah mulai kering dan panas. Sekarang kulitku udah terbiasa sama sabun holly. Nggak lebay kekeringan lagi.
Selain sabun holly, aku juga beli obat di apotek. Namanya Medi Klin.

Aku bakal posting tersendiri tentang si Medi Klin ini. Ini obat beneran manjur. Ditotol ke jerawat besoknya langsung kering dan mengelupas seisi-isinya. Cuma sayang di mukaku, jerawat yang ngelupas dengan sendirinya itu ningalin ice pick. Bekas jerawat kecil-kecil gitu.
Kalau dulu pakai produk macem-macem sukses ilangin jerawat tapi pasti tumbuh jerawat baru si sebelahnya, sekarang aku udah enggak. Jerawat munculnya kalau pas lagi mendekati mau menstruasi aja. Mungkin karena aku masih pakai sabun holly kali ya. Soalnya si Medi Klin juga udah nggak pernah aku pakai sekarang. Secara jerawatnya udah nggak ada.
Nah, sekarang PR terbesarku ngilangin si bekas jerawat ini. Sabun muka aku masih pakai sabun Holly. Untuk pelembab, siang aku pakai krim home snow yang bakal aku review sendiri. Malam aku pakaiin melanox di bekas-bekas jerawatnya. So far so good sih, bekas jerawatnya keliatan memudar. Selain itu aku sering pakai masker bedak dingin juga. Terutama kalau habis panas-panasan.
Demikianlah, perjuangan berat melawan jerawat yang membutuhkan waktu kurang lebih enam tahun! Iyes, kalian nggak salah baca. Enam tahun! Ya kali kalau anak masuk SD tuuh sekarang udah lulus trus mulai jadi ABG alay.
Mudah-mudahan dengan diterbitkannya postingan ini, siapapun orangnya yang bermasalah sama jerawat juga bisa segera menemukan pencerahan, jalan yang benar untuk membasmi jerawatnya. Jangan sampai deh, segitunya enam tahun kaya aku dan menyadari bahwa perang melawan jerawat itu yahh, meskipun berat dan menguras pikiran, tenaga, uang juga kehormatan, seenggaknya nggak segawat perang melawan penjajah lah ya.
Catetan: ini aku cuma share pengalaman loh ya, bukan tutorial! Produk yang cocok di aku belum tentu cocok di kalian dan siapa tahu produk yang di kulitku ngajak musuhan ternyata malah berjodoh sama kalian.
Akhir kata, selamat berjuang!
Share
Tweet
Pin
Share
6 komentar
Aduuh! Tertampar, tertohok, tercabik-cabik!
Tuhan, aku berdosaaaa! *nangis meraung-raung di bawah shower
Postingan ini aku tulis karena tiba-tiba aja aku untuk pertama kalinya, benar-benar tersadar dari pikiran gelap. Entah karena selama ini aku terlalu polos, bloon, atau memang  tidak belajar sungguh-sungguh. Yang pasti aku menyesal sejadi-jadinya.
Kemarin pas browsing dan baca-baca ketemu postingan tentang krim berbahaya. Itu loh, krim siang-malam yang bermerkuri. Aku sih sudah tahu ini dari lama. Cuma dulu aku nggak menganggap serius. Kemudian sambil berselancar, lama-lama aku nyampe di posting-postingan lainnya tentang produk kosmetik KW yang biasa dijual di olshop. Banyak ternyata produk KW yang dijual mahal. Yang parahnya ngaku-ngaku kalau produk jualannya itu ori. Nggak semua ol shop gitu sih. Masih banyak juga yang terus terang kalau produk yang dijual itu KW, tapi banyak bangeeet yang ngakunya itu produk ori. Aku pernah heran aja dulu ada yang nawarin mascara maybelinne yang kalau di counter resminya 80an ribu, eh itu Cuma 35 ribu. Trus banyak lagi deh yang lain.
Yang paling gawat tentu saja aneka macam krim-kriman nggak jelas gitu. Somehow, oknum-oknum tukang tipu ini kreatif banget bikin-bikin kemasan baru, merek baru, dan juga harga baru yang fantastis. Untuk krim yang kulakannya nggak nyampe 10rb per kilo, setelah dikemass dengan imut dan dikasih merek yang menjanjikan, krim ini dijual dengan harga ratusan ribu per paket, bahkan ada yang sampai jutaan. Jujur, aku sempat tergiur abis baca-baca testimoninya. Belum lagi yang jualan juga mukanya kinclong bener. Aku sih nggak pengen putih ya, Cuma pengen jerawat yang udah tahunan nangkring di muka ini buru-buru minggat. Dan katanya krim itu bisa atasi masalah jerawat sampai pori-pori besar dan masih banyak lagi. Sempeeet banget tergoda mau beli, tapi untungnya nggak pernah sempet. Hahaha
Meskipun nggak sempet mencicipi krim ‘mulus beneran dalam tujuh hari’ itu, aku sempet bener-bener tergoda untuk nyobain produk lainnya. Ya ampun, yang jualan banyak banget sehingga kesannya aman, padahal itu produk nggak jelas ingredients, bahan-bahan, sampai nggak ada nomer pomnya. Umumnya mereka nggak dikenal secara umum. Cuma dikenal secara online saja. Tapi mungkin Tuhan memang menyayangiku. Entah gimana ceritanya, pasti nggak jadi terus kalau mau order apapun yang jenis-jenisnya kaya gitu.
Nggak jadi order apa lantas membuatku mundur? No! temenku ada yang jualan kosmetik KW kaya gitu selama bertahun-tahun. One day, kami bbman dan sharing-sharing bisnis. Akhirnya sampai di obrolan kalau jualan kosmetik kaya gitu tu gampang bangeeet dan untungnya juga banyak. Initinya, cewek-cewek tu emang paling gampang diiiming-iming yang kaya gitu. Waktu itu nggak pake mikir apakah itu produknya aman apa enggak. Pikiranku Cuma sampe ke bener juga yah, bisa dapet duit banyak nih. Apalagi temenku itu bilang “Kalau jadi resellerku kamu dapet harga jauh lebih murah dari pada olshop lain, soalnya aku supplier besar. Bisa kaya raya kamu beb,” gitu. Emang iya sih. Aku udah cek harga di dia sama di supplier lain tu jauuuh banget. Di dia murah banget. Aku masih bisa jual dengan harga di bawah olshop lain, tapi masih dapet untung tinggi. Rencana disusun, akun facebook baru dibikin, pin bbm dan no hp khusus disiapkan, dan mulailah aku berjualan.
Tapi emang sekali lagi, Tuhan itu sayaaang banget sama aku. Daganganku nggak laku sama sekali! banyak sih yang nanya-nanya, tapi nggak pernah ada yang deal. Aku sampai stress. Apa gerangan yang salah dengan cara jualanku? Kaykanya sama aja. Sebelum itu (dan sampai sekarang juga) kan aku juga jualan kaos secara online. Kalau jualan kaos, bisa laris banget, kok jualan kosmetik malah nggak laku? Padahal murah lohh. Dan olshop lain yang jual produk yang sama juga laku-laku aja. akhirnya, aku menyeraah. Segala macam akun jualan aku tutup dan focus ke jualan kaos lagi.
Setelah itu, aku juga sempet ikut-ikutan MLM yang hebohnya minta ampun. Oke lah, aku emang tergiur sama bonusnya yang gede meskipun aku tau itu MLM nggak sehat. Karena apa? Aku udah beberapa kali ikut MLM dan aku bisa tahu lah MLM yang murni sama yang berskema ponzy. Nah, yang ini nih MLM agak aneh. Barang dagangannya mahal banget. Jadi jelas aja lah kalau membernya dapet bonus gede. Aku tergiurnya karena yang nawarin temen aku yang paling baik hatinya. Selama aku kenal dia dia nggak pernah punya sifat jelek sama sekali. Nggak pernah jahat, apa lagi bohong. Dan juga, dia kirim testimony penggunaan produk dari orang yang adalah temenku juga. Aku tahu banget dia itu jerawatan menahun kaya aku dan katanya setelah pakai produk itu jerawatnya sembuh gitu. Ah masa? Aku langsung percaya dong, secara itu kan temen aku. Aku kenal banget. Sedangkan testimoni lainnya tuh biasanya hasil googling ajah. Jadinya jangan heran kalau ada satu muka orang yang sama dipakai buat testimony banyak produk. Mereka semua asal ambil gambar.
Pas join dan mulai promoin ini MLM aku juga melakukan hal yang sama. Sumpah ya, aku tu bukan orang paling baik di dunia. Aku malah cenderung kejam dan nggak bertanggungjawab anaknya. Tapi sumpaah, apapun yang kulakukan, aku kepengennya jadi orang yang jujur, yang nggak mengakali siapa-siapa. Akhirnya, setelah mempelajari sistem bisnis dan produk secara seksama, aku mundur. Nggak sreg banget di ati. Banyak bohongnya.
Produk yang dijual juga aslinya produk biasa aja. Cuma dimark-up habis-habisan dan dibranding seolah-olah itu produk memang wow! Aku nggak mau sebut merek ya, tapi kalian pasti bisa mengira-ira ini produk apa. Hihihi
Dulu aku dijelasin kalau produk ini mengandung Glutathione, yaitu antioksidan jenis terbaru. Oke, waktu itu karena masih oon dan terbutakan oleh bonus berjuta-juta, aku iyain aja. padahal, whaaaat? Antioksidan jenis terbaru apanya? Secara alami tubuh manusia sejak jamannya nabi Adam juga udah memproduksi glutathione kali.
Trus nomer POM. Produk ini yang digadang-gadang sebagai suplemen unggulan dan memiliki manfaat seabrek untuk kecantikan dan kesehatan, terdaftar hanya sebagai minuman serbuk rasa strawberry. Yes, itu! setara dengan marimas dan jasjus. Yakali marimas aku beli harganya cuma seribu. Lah ini, sejuta duaratus bo!
Terus, aku cobain soalnya kata uplineku aku disuruh coba pakai buat masker. Aku pakai dah tuh, dan hasilnya? Emm, nggak ada sih selain rasa lengket. Malah masih putihan kalau pakai masker susu biasa. Aku suka maskeran pakai susu kental manis campur kopi. Itu juga sebelum aku tahu fakta bahwa kulit acne prone sebaiknya menghindari segala jenis konsumsi dan perawaatan yang mengandung produk-produk susu dan olahannya termasuk yoghurt dan keju. Dan yes, produk ini kan susu ya kan? How on earth dia bilang bisa sembuhin jerawat?
Yang membuat aku merasa paling bersalah, aku udah sempet jual produk ini. After sell udah jelas dong kepengen dapet testimoni yang bagus-bagus biar daganganny makin laris. Aku tanya deh tuh setelah beberapa hari “Gimana sis, hasilnya?” eh, semua pembeliku, inget nih, SEMUANYA bilang “Kok nggak ada pengaruh apa-apanya ya sis?” *tweeeeeeng!!!!
Dari beberapa kali laku terjual itu ya iya sih aku emang dapet duit. Tapi aku nggak mau ah kalau dapet duit sambil terus-terusan dihantui bayangan rasa bersalah. Aku akhirnya ngerti kenapa nggak ada satupun di dunia ini yang bener-bener jadi kaya dan berpengaruh dari bisnis MLM. Kecuali bagi member-membernya sendiri sih. Aku memantapkan hati, untuk fokus dan konsisten ngembangin label punya sendiri aja. Bisa aku kontrol sendiri, bisa aku pastikan sendiri kalau produknya nggak bermasalah dan aku bisa pastikan penghasilan yang kudapatkan bukan dari hasil tipu-tipu. Pokoknya nggak lagi-lagi.
Dari ulasanku di atas, jangan lantas disimpulkan kalau semua olshoper dan MLMer itu penipu lho ya. Balik lagi ke bagaimana orang itu menjalankan bisnisnya. Olshop kalau jujur dan promosiin barang sesuai kondisi barang ya bagus. MLM kalau jujur, produk tidak bermasalah dan tidak berskema ponzy juga bagus. Kalau mau bisnis olshop aku sarankan bikin produk sendiri aja. Jadi kamu tahu kualitas produk dan nanti kalau gede kamu jadi keren juga kan? Kaya Dea Valencia dengan Batik Kulturnya. Dia olshoper yang patut dijadikan teladan. Yang lain juga masih banyak lagi. Kita hanya perlu belajar yang baik-baik dari mereka dan menemukan karakter kita sendiri.
Maaf sekali lagi, dan semangat kak!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Top secret
Jadi ini adalah review film yang habis kutonton. Film ini buagus buanget dan aku sangat merekomendasikannya pada kalian untuk nonton juga. Ini cerita tentang seseorang yang kepengen banget jadi pengusaha muda. Isi film ini udah bisa ditebak lah, apa lagi sih yang dialami orang hebat kalau bukan kendala? Ya, jadi Ittipat, tokoh utama dalam film ini benci sama yang namanya kuliah (sama kaya aku) dan kepengen banget jadi pengusaha (sama juga seperti aku). Selama perjalanannya mewujudkan impian itu, banyak sekali halangan seperti kurangnya modal (sama seperti aku lagi) dan ditentang banyak orang terutama orang tua (agi-lagi persis sama seperti aku).
Ceritanya berawal ketika TOP (nama panggilan Ittipat) masih SMA. Waktu itu pelajaran komputer. Bukannya serius merhatiin pelajaran dan mengikuti instruksi guru, Top malah sibuk main game online(ini juga kebiasaanku dulu). Bedanya dengan aku, Top jago dan menang terus sampai punya stok senjata banyak, sedangkan aku, udah bisa ditebak lah, kalau main game on line pasti kalah terus, hehehe.
Nah, ceritanya ada tuh orang yang lagi mau ngalahin musuhnya tapi kehabisan senjata. Trus dia beli senjatanya Top yang di game itu pakai nick name Herculiz. Belinya pakai duit beneran, bukan duit virtual kaya kalau aku biasa main belanja-belanjaan. Duitnya ditransfer ke rekening paman Top (soalnya Top nggak punya akun bank sendiri). Pas ngambil ternyata beneran, ditransfer banyak banget (lupa jumlahnya berapa). Sejak saat itu Top menjalani bisnis perdaganagn senjata melalui game on line sampai akhirnya bisa beli mobil sendiri. Pas itu dia nanya berapa harganya (sama marketing mobilnya). Si marketing bilang boleh DP dulu aja, tapi sama Top dibayar lunas (keren kan?). Padahal waktu itu dia belinya masih pakai seragam SMA. Trus ke sekolah naik mobil baru (jelas dong datangnya telat karena sebelum ke sekolah sempet-sempetnya beli mobil dulu, hihi). Trus nggak diijinin masuk tuh sama si satpam. Trus Top ngasih satpamnya duit dan akhirnya boleh masuk (yang ini jangan ditiru). Udah gitu, dia dengan kurang ajarnya parkir di tempat parkir khusus kepala sekolah (yang ini aku pengen banget niru dengan markir mobilku di tempat parkir khusus rektor sana). Top dimarahi kepala sekolah gara-gara kekurangajaran itu, tapi dia cuek aja dan nggak mindahin mobilnya. Pulangnya malah dia ngajak cewek yang ditaksirnya pulang bareng dan jajan dulu. Baru deh pulang ke rumah. Sampai rumah, dimarahin sama bapaknya. “Kerjanya kok menghambur2kan uang,” gitu katanya. Padahal uang siapa coba?
Sampailah Top pada masa ketika dia lulus SMA dan harus masuk perguruan tinggi. Orang tuanya maksa Top masuk perguruan negeri negeri, tapi Top nggak diterima (iya lah, kerjaannya ngegame mulu, nggak pernah belajar). Top bilang mau masuk Universitas swasta aja, ngambil jurusan bisnis (itu sama persis seperti yang kubilang pada Ibuku dulu). Ibuku bilang, oke, kalau kamu nggak keterima di Unnes boleh. Sayangnya waktu itu aku keterima di Unnes. Sedangkan Top kan nggak keterima tuh, di universitas negeri, jadi dia dimarahin bapaknya. “Papa Cuma mau kamu kuliah di Universitas negeri. Nggak punya duit buat bayar universitas swasta,” katanya. “Aku nggak butuh duit Papa, aku bisa biayain kuliah sendiri,” kata Top. (Sayang dulu aku belum bisa ngomong gitu. Hiks)
Trus dia langsung buka akun game onlinenya, siap-siap cari duit. Tapi eh, di layar muncul tulisan gede-gede AKUN ANDA TELAH DIHAPUS KARENA ANDA MENGGUNAKANNYA UNTUK KEPENTINGAN KOMERSIAL. Wadaaaw, pusing deh dia. Posisi udah nggak punya duit sama sekali. duit terakhir udah buat beli Play Station sama DVD player. Padahal kan dia harus bayar uang kuliah. Terpaksa, dia menggadaikan jimat. Di Thailand sana, jimat harganya mahal banget sampai juta-jutaan. Tapi dia gadaikan 100.000 baht (nggak tahu kalau dirupiahkan jadi berapa).
Sementara kuliah, Top masih butuh uang untuk biaya sehari-hari dan selain itu harus nebus jimatnya lagi. jadi dia bolos terus (karena menurutnya di bangku kuliah Cuma dikasih teori dan omong kosong, padahal kita perlu ilmu praktis, yang bisa langsung diterapkan di kehidupan nyata (ini sama juga dengan pendapatku). Hal pertama yang dia lakukan adalah kulakan DVD player seperti yang habis dibelinya dengan harga murah. Mau buka toko DVD katanya. Jadi deh dia borong buanyaaak banget. Tapi eh, ternyata itu DVD player palsu (dengan bahasa gampangnya Top ketipu nih). Pas minta ganti rugi, malah dia mau dihajar sama penjualnya. Parah! Pulanglah Top dengan hati gundah gulana. Tapi itu nggak lama. Kayaknya dia galau Cuma sehari. Besoknya, dia main ke acara semacam Food Festival gitu buat nyoba-nyobain makanan gratis (gara-garanya kelaperan tapi nggak punya uang buat makan). Nah, di situ ada yang jualan alat menggoreng kacang otomatis. Dasar Top emang pinter lihat peluang, dia langsung mau beli mesin itu. Tapi ternyata mahal, trus dia nyewa tu mesin. Habis itu dia langsung latihan goreng kacang sendiri. Nggak cukup gitu, dia beli-beli kacang di tempat lain untuk mengetahui rahasia kelezatan kacang mereka dan cara mengolah yang benar. Dia bolos kuliah terus untuk nyobain kacang di seluruh kota. Akhirnya dia berhasil bikin kacang yang enak banget dan dapet tempat di mall buat jualan. Sehari, dua hari, sepi berat. Paling dapet duitnya Cuma receh-receh. Top mikir, dia harus dapet tempat yang lebih strategis. Jadi dia nyewa tempat di pintu masuk mall persis (yang harga sewanya lebih mahal). Dan ternyata sukses berat. Laris gila, sampai kehabisan stok kacang. Top mikir, baru satu cabang aja udah luar biasa banget untungnya. Gimana kalau buka lebih banyak? Trus dia langsung buka 10 cabang dengan mempekerjakan banyak karyawan. Dan tahu nggak pemirsa, pas lagi semangat-semangatnya, pas modal udah hampir balik, eh, Top harus nutup semua cabang kacang gorengnya di mall karena pengelola mall merasa mesin goreng kacang itu mengotori atap. Dan uang sewa yang baru kepakai beberapa hari nggak dibalikin.
Top kepusingan juga nih, trus dia tetep nggak pernah masuk kuliah untuk mikirin usaha lain. Nah, pas suatu hari dia ngajak ceweknya jalan-jalan dan di mobil ceweknya cerita kalau dia habis main ke luar kota dan bawa oleh-oleh yaitu rumput laut goreng. Ting! Langsung deh otaknya nyaut. Di kota itu kan belum ada yang jualan rumput laut. Top langsung beli bnayak rumput laut untuk digoreng sendiri. Banyaaak, banget sampai berkardus-kardus. Tapi pas dicoba digoreng, hasilnya pahiiit terus. Nggak enak banget pokoknya. Berkardus-kardus rumput laut, terbuang sia-sia. Posisi udah nggak punya duit sama sekali ni, dia jual semua komputernya (yang ada 5 lebih kayaknya) buat beli rumput laut lagi. dan bisa ditebak kan, jadinya nggak enak lagi. selama percobaan itu Top didampingi pamannya (entah paman beneran atau sebenernya pembantu, soalnya kerjaannya bantu-bantu terus sih). Suatu hari Top pulang bawa rumput laut buat percobaan lagi. Eh, dia menemukan pamannya pingsan berdarah-darah di dapur. Selama pamannya dirawat di rumah sakit, Top percobaan sendiri. Hasilnya sama, masih tetep nggak enak. Trus dia nggak sengaja nemu rumput laut yang belum digoreng dan udah kehujanan. Dia coba goreng, eh, ternyata enak. Akhirnya dia tahu rahasianya.
Masalah belum berhenti sampai di situ. Rumput lautnya ternyata nggak bisa tahan lama alias cepet basi. Dia pusing nih, tapi trus dia nekat mendatangi dekan fakultas ilmu gizi apa apaaa gitu. Pokoknya ngerti banget soal makanan. Padahal mahasiswanya juga bukan. Tapi trus Top tahu rahasianya biar produk makanan awet, yaitu oksigen harus dikeluarkan dari kemasan sehingga kemasan bebas bakteri. Top beli deh tuh alatnya. Besoknya dia mulai jualan di mall lagi dan laris berat. Tapi bisnis nggak maju-maju kalau kaya gini aja, pikirnya. Di a mulai ndengerin kaset rekaman kuliah. (jadi sementara dia bolos, dia minta temennya ngrekam omongan dosen di kelas buat didengerin lagi kapan2). Dan di situ dia nemuin adanya teori hutan rimba. Yaitu, kalu mau produk kita laris, kita harus berada sedekat mungkin dengan masyarakat (dalam artian bisa ditemui di mana saja, kapan saja). Pas dia jajan di 7Eleven (tau kan, kaya Kcircle gitu?), dia baru kepikiran. Kalau produknya bisa dipasarin di 7Eleven yang udah ada di mana-mana, pasti dong, sangat dekat dengan masyarakat. Dia langsung telpon 7Eleven, nanyain cara biar produknya bisa dipajang di situ.
Keesokan harinya dia berhasil ketemu pimpinannya atau sales managernya 7Eleven. Tapi sayang katanya Produk Top belum bisa dipasarkan di 7Eleven karena bungkusnya nggak menarik (Cuma dibungkus plastik bening) dan ukurannya kegedean. Top bilang akan segera memperbaiki itu. Bener aja, di langsung nyari tukang bikin kemasan snack dan minta dibikinin desain yang bagus dan keren (ini aku pengen tau banget kalau di Semarang di mana ya? Soalnya aku pernah diajak bisnis snack sama temenku tapi kepusingan nyari tukang bikin kemasan). Singkat cerita, snack rumput laut itu udah punya kemasan yang keren dan cocok buat dipajang di minimarket. Pas Top ke kantor 7Eleven lagi, pimpinannya udah males namuin dia dengan alasan males ngurusin anak kecil (dulu aku juga sering banget digituin) dan Top nunggu luamaaa banget sampai ketiduran segala. Akhirnya karena capek nunggu dan merasa nggak dihargai, Top pulang. Snacknya dia tinggal di lift kantor itu saking jengkelnya. Trus dia nelpon bapak sama ibunya yang di China(oya, aku belum cerita. Bapak sama Ibunya ke China karena punya banyak utang samapai 40 juta. Katanya sih setara dengan 12 milyar rupiah. Waktu itu Top dipaksa ikut, tapi dia ngotot nggak mau ikut dan tetep pengen jadi pengusaha).
Waktu itu di telpon Top bilang “Apa hidup memang sesulit ini?” bapaknya bilang “Top, realita itu tidak semudah Game Online.” Sementara diskusi anak-orang tua itu terjadi, snack yang ditinggal di lift itu dimakan-makan sama pegawai kantor 7Eleven. Dan jadi terkenal gitu aja di lingkungan karyawan. Besoknya, Top dipanggil manajemen 7Eleven buat tanda tangan kontrak. Wuaaahhh!
Dalam perjanjian itu, Top harus menyuplai puluhan ribu bungkus untuk dikirim ke seluruh cabang 7Eleven dan tim 7Eleven bersama tim GMP (Good Manufacturing Practice)  akan menginspeksi pabriknya, apakah layak atau tidak. What?? Puluhan ribu bungkus, duit dari mana? Trus pabrik apaan sih? Orang tu rumput laut Cuma digoreng sendiri di dapur rumah.
Top mengajukan pinjaman ke bank, buat buka pabrik dan modal produksi. Nah, di bank dia cerita sama pegawai banknya,panjang lebar tentang semuanya seperti yang udah aku ceritain tadi. Pegawai banknya sih minat banegt, secara anak semuda itu udah mikir bisnis. Tapi nggak bisa ngasih pinjaman karena umur Top saat itu baru 19 tahun (persis! Aku juga pernah mengalami hal ini).
Akhirnya Top jual mobilnya dan makai gudang yang dulunya milik ayahnya tapi sekarang udah disegel karena disita bank. Dia bikin pabrik mini, seadanya. Pas tim dari 7Eleven dan GMP datang, mereka bilang pabrik Top belum memenuhi standar. Trus Top berjanji untuk memperbaikinya. Tim 7Eleven bilang akan mengabari beberapa minggu lagi lewat faks. Selama nunggu itu Top kerja keras memperbaiki pabrik mininya yang Cuma seukuran kamar kos dan memproduksi sebanyak-banyaknya biar target dari 7Eleven bisa terpenuhi.
Pas lagi galau-galaunya gitu, pacarnya marah-marah karena Top nggak pernah ada waktu dan nyusul ke rumahnya. Pas lihat di rumah Top ada tanda disegel bank, pacarnya sedih banget. Trus dia ngomong “Kalau masalah uang, aku bisa minta ortu buat bantu.” Beuuuh, cowok sekaliber Top dikasihani gitu jelas ngamuk dong. Merasa terhina dia. Trus mereka putus. Nggak lama kemudian si cewek udah punya pacar baru lagi aja.
Akhirnya faks dari 7Eleven datang juga. Dasar sial, lagi ada faks penting gitu, sempet-sempetnya tuh mesin kehabisan tinta. Jadi tulisannya burem-burem gitu nggak kebaca. Sama Paman, Top suruh nerawang di bawah sinar matahari biar jelas. Dan ternyata tulisannya DISETUJUI. Seneng?? Pasti lah.
Di hari yang telah ditentukan, berangkatlah Top dengan truk membawa produknya ke gudang 7Eleven. Tapi yahh, namanya juga orang hebat. Produknya ditolak kepala gudang gara-gara datangnya telat sejam. Top mohon-mohon, karena dia nggak tahu dan ini baru pertama kalinya. Akhirnya kepala gudang memperbolehkan. Top legaaa banget. Tapi trus dia mimisan (saking kecapeannya). Tapi dia tetep senyum bangga banget trus nelpon Bapaknya yang masih di Cina itu. “Papa sama Mama udah bisa pulang,” katanya. “Kita bisa hidup sama-sama lagi.” dan Papanya di seberang sana nangis hebat.
2 tahun setelah bekerja sama dengan 7Eleven, Top berhasil melunasi hutang Bapaknya dan mengembangkan pabriknya jadi pabrik betulan. Waktu film itu selesai dibuat, umur Top baru 26 tahun dan kerjaannya masih main game terus. Dan oh ya, waktu itu dia di DO dari universitas dan dia tetep nggak suka kuliah. :D
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts

About me

About Me

Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit conseat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amei.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Juni 2019 (2)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (15)
  • Februari 2018 (1)
  • Januari 2018 (1)
  • Oktober 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (2)
  • Juni 2017 (3)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (2)
  • Maret 2017 (8)
  • Februari 2017 (10)
  • Januari 2017 (3)
  • Desember 2016 (6)
  • Oktober 2016 (4)
  • September 2016 (6)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (3)
  • Juni 2016 (8)
  • April 2016 (1)
  • Maret 2016 (6)
  • Oktober 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • Kesumat Sang Raja Jerawat
  • Ngeblog seaktif Facebook-an. Gimana sih caranya?
  • Mengukur Kualitas Diri Tidak dengan Membandingkan
  • PESAN MORAL LOMBA-LOMBA AGUSTUSAN
  • PENTINGNYA MEMPERHATIKAN LINGKUNGAN PERGAULAN ANAK

Yang Nulis

Isthar Pelle
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates