• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MADGIRL!




Aku suka donor darah. Dulu, pas masih kuliah, aku rutin donor darah minimal setahun dua kali. Kebetulan di kampus sering ada acara donor darah, jadi aku nggak usah repot-repot ke PMI untuk donor. Setelah nggak kuliah aku malah jadi jarang donor darah. Sebenernya sih kepengen, cuma beberapa kali ke PMI ditolak terus gara-gara tensinya rendah. Tapi beberapa waktu yang lalu akhirnya aku diterima dan sukses mendonorkan darah. *tabur confetti
Berbeda denganku, Ibing kalau tak ajakin donor darah pasti nggak mau.
“Ngapain donor darah ke PMI. Toh nanti pasien yang butuh darah harus beli. Kecuali pasiennya nggak harus bayar, baru Ibing mau,” katanya.
“Darahnya sih aslinya gratis, Bing. Pasien itu bayar Biaya Penggantian Pengelolaan darah (BPPD) yang mencakup pembuatan kantong darah, pengecekan kesehatan pendonor, pengecekan terhadap penyakit menular, biaya komponen darah, uji silang kesesuaian pendonor dan pasien, dan biaya operasional lain,” aku berusaha menjelaskan.
PMI nggak mungkin kan, sembarangan ngasih darah ke pasien? Jadi darah dari pendonor itu bakal diproses dulu biar pas ditransfusikan memiliki kualitas yang sama dengan saat sedang berada dalam tubuh pendonor.


“Tapi kenapa bayarnya mahal? Sekantong sampai ratusan ribu,” Ibing masih protes.
“Soalnya BPPD emang mahal bing. Ni ya, kantong darah yang dirancang khusus biar darah nggak mudah beku dan rusak, itu masih impor. Dan harganya mahal. Selain itu, nggak semua komponen darah dibutuhkan oleh pasien, jadi harus dipisahkan. Nha, proses pemisahan komponen darah ini memakan waktu yang panjang dan biayanya juga besar. Belum lagi biaya operasional seperti alat penyimpanan, mesin proses, dan tenaga medis. Emang itu semua nggak bayar?”
“Kenapa nggak disubsidi pemerintah biar bisa gratis?” Ibing masih ngeyel.
“Udah. Tapi karena biayanya memang besar, pemerintah nggak bisa membiayai seluruhnya. Apalagi kebutuhan darah itu besar lho Bing,” jawabku.
“Tetep aja. Mending Ibing langsung donor kalau ada teman atau sodara yang membutuhkan,” katanya. Aku menghela nafas sejenak.
“Gini lho, Bing. Faktanya, setiap Negara di dunia ini membutuhkan 5% kantong darah dari total jumlah penduduknya setiap tahun. Kalau Indonesia penduduknya ada 250 juta jiwa, berarti kita butuh 5 juta kantong darah setiap tahun. Satu dari delapan orang Indonesia membutuhkan transfusi darah setiap hari. Sementara itu, cuma satu dari delapan puluh orang di Indonesia yang secara sadar sukarela mendonorkan darahnya. PMI hanya mampu mengumpulkan sekitar 3,5 juta kantong setiap tahun. Kita masih kekurangan 1,5 juta kantong per tahunnya. Makanya kadang keluarga pasien masih kepusingan nyari donor. Kalau stok di bank darah mencukupi, temen-temen atau saudaranya Ibing yang butuh darah nggak harus ketimpringan nyari donor ke sana ke mari,” jelasku.
Ibing nggak jawab lagi. Mungkin butuh waktu untuk merenungi penjelasanku. Entahlah.
“Selain itu, bagi pendonor juga banyak manfaatnya loh buat kesehatan. Tapi kalau aku sih nggak mikirin itu. Niatnya donor buat membantu. Aku nggak bisa ngebayangin aja sih misalnya keluarga kita lagi butuh darah dan stok di bank darah pas habis. Gimana pusingnya coba? Nyari pendonor, iya kalau ada yang mau. Ada yang maupun, iya kalau pas cocok. Nyawa lho ini urusannya,” aku menambahi.

“Yang jelas, setetes darah dari kita bisa membantu mereka yang membutuhkan. Dan kadang, itu berarti menyelamatkan nyawa orang lain. Aku sadar selama hidup ini aku belum bisa ngasih banyak buat kemanusiaan. Makanya seenggaknya aku donor darah. Kita toh nggak rugi,” kataku menutup obrolan.
Sebenarnya bukan cuma Ibing yang berpikiran seperti itu. Masih banyak orang yang ragu untuk mendonorkan darahnya karena kekhawatiran-kekhawatiran seperti PMI memperjual belikan darah, atau yang lainnya. Aku juga nggak akan maksa orang lain buat donor darah, enggak. Cuma gaes, aku sekali lagi mau bilang: setetes keikhlasan kita bisa jadi kesempatan hidup bagi orang lain. Kelihatannya memang sepele, tapi bermakna besar. Yuk, donor!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Oke, sebelum membahas mengapa berinvestasi di usia muda itu penting, kita jawab pertanyaan ini dulu: mengapa berinvestasi itu penting?
Jawabannya bisa banyak. Kalian bisa googling pentingnya investasi dan akan mendapatkan setumpuk alasan di halaman pertama. Tapi menurut aku nih, kita perlu berinvestasi setidaknya karena satu alasan: tua itu pasti, gaes.
Jiwa boleh muda, semangat boleh membara, tapi raga kita ini memang tercipta untuk menua. Dan seiring dengan penuaan itu, tenaga dan kekuatan kita juga berkurang. Jadi bagi kamu-kamu yang rajin bekerja, ingat kalau kita nggak bisa bekerja selamanya. Suka tidak suka, kita memang pada akhirnya akan terpaksa berhenti bekerja. Pensiun. Beruntunglah bagi mereka yang menerima dana pensiun dari kantor terdahulu. Lha yang enggak?
Banyak lho, contohnya. Aku ambil contoh satu aja ya, tetangga kosku deket sini. Namanya Pak Pri. Pak Pri ini udah puluhan tahun kerja di perusahaan karoseri. Perusahaan itu memiliki aturan usia untuk karyawannya. Yang sudah tua nggak boleh kerja lagi. Pada usia 55 tahun Pak Pri diberhentikan dengan diberi pesangon. Pesangon itu hanya cukup untuk bertahan beberapa bulan. Waktu itu anak bungsunya masih SMA jadi uang itu juga dipakai untuk biaya sekolah juga. Uang pesangon habis, tapi hidup harus terus berjalan. Pak Pri menjadi pekerja serabutan. Kadang bantu-bantu di bengkel, kadang bantu-bantu di bangunan, kadang nggak dapat kerjaan sama sekali. Hidupnya bergerak dari tidak pasti ke tidak pasti.
Kebanyakan orang setelah pensiun trus hidupnya gimana sih gaes? Beberapa masih tetap bekerja untuk meyambung hidup seperti Pak Pri. Beberapa mendapatkan dana pensiun yang pas-pasan. Beberapa bergantung pada belas kasihan anak. Beberapa hidup sejahtera.
Kalau aku lihat, yang masa tuanya hidup sejahtera kok nggak banyak ya. Di sekitarku kebanyakan orang setelah tua hidup bergantung pada anak. Beberapa ada sih yang meneriman dana pensiun. Tapi apa dana pensiun yang diterima itu cukup? Kalau untuk hidup sendiri sih mungkin cukup. Masalahnya kan banyak yang harus menghidupi istri dan beberapa malah masih harus membiayai sekolah anak.
Sumber gambar: adityafajar.com

Jadi itulah mengapa kita harus berinvestasi. Biar masa depan kita sejahtera. Jadi kaya? Itu efek samping. Tapi setidaknya, kita bisa memastikan kalau hidup kita di masa tua nanti tidak akan merepotkan orang lain (anak).
Trus, kenapa investasi sekarang? Kita kan masih muda. Well, aku nggak akan ngejelasin pakai istilah ekonomi yang susah-susah karena aku juga nggak mudeng. Sederhananya, kalau kita mulai investasi sejak masih muda, kita punya waktu lebih banyak untuk membiarkan investasi kita tumbuh dan berkembang. Dan itu berarti keuntungan yang lebih banyak. Soal keuntungan yang lebih banyak ini pasti mudah dipahami bukan?
Bai de wei, kamu udah investasi belum Pel? Emm, aku mulai belajar mengelola keuangan itu sejak kerja pas kuliah dulu. Jadi aku kerja sebagai guru les di bimbel gitu. Nha, owner bimbelnya ini ngajariin kalau kita punya penghasilan, maksimal yang dihabiskan untuk konsumsi itu adalah 70%. Sisanya dibagi. 10% untuk tabungan tak terduga, 10% untuk charity, dan 10%nya untuk investasi. Pokoknya berapapun kecilnya penghasilanmu, bagi seperti itu.

Lha trus waktu itu kamu langsung menerapkan ilmu itu nggak? Sayangnya enggak. Waktu itu penghasilnaku terlalu kecil. Meskipun mentorku bilang berapapun kecilnya penghasilan tetep harus dibagi seperti itu, aku nggak bisa. Karena waktu itu buat makan aja kadang masih kurang-kurang. Aku harus bayar kuliah sendiri, bayar kos, tugas dan buku-buku, dan lain sebagainya. Penghasilanku kurang banget waktu itu. Aku bahkan harus bertahan dari utang satu ke utang lainnya.
Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupku agak baikan, aku baru mulai investasi. Aku udah nyoba beberapa jenis tabungan berjangka di bank-bank tapi aku nggak suka dan akhirnya aku stop semua. Akhirnya semua uang tak puterin buat modal terus. Jadi berapapun uang yang aku dapet, aku puterin lagi buat modal. Nyisain dikit cuma buat makan. Itu sudah kumulai sejak 2015 (emang baru tahun kemarin) dan akhirnya uang itu berkembang. Dulu aku jualan kaos cuma modal satu-dua lembar. Kalau ada pesenan harus minta DP dulu buat belanja. Sekarang sudah bisa produksi agak banyak.
Sayangnya, investasi 100% di bisnis berjalan seperti itu nggak stabil. Kalau pas lagi nggak banyak orderan ya uangnya nggak berputar. Padahal kan tetep butuh makan. Belum lagi masih ada resiko lain ke depannya. Kaya yang aku jelasin di awal tadi. Tua itu pasti. Kebayang nggak kalau pas udah tua nanti aku masih harus susah-susah nyablon? Bisa-bisa mencang mencong semua sablonannya gara-gara aku gemeteran.
Makanya aku mulai berpikir untuk mencari instrument investasi lain. Tapi apa ya? Beberapa temanku trading forex. Begitu aku mencoba belajar, aku langsung mundur. Otakku sedih kalau berhadapan dengan angka. Bisnis itu jelas bukan bidangku.
Akhirnya, setelah melalui pertapaan panjang, aku memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana. Danareksa Investment Management memiliki program yang namanya Investasiku Masa Depanku. Program ini bisa digunakan untuk banyak tujuan, nggak cuma pensiuan aja, tapi juga liburan, dan dana pendidikan. *kedipin calon bapaknya anak-anak
Program Investasiku Masa Depanku ini menurutku adalah program investasi terbaik. Kenapa?
1.     Dana diatur oleh manajer investasi
Jadi dana yang kita setorkan ini nantinya diatur oleh manajer investasi. Jadi aku nggak usah pusing-pusing ngikutin perkembangan harga di bursa saham. Pokoknya tahu beres.
2.     Modal minimal
Aku kan duitnya nggak banyak ya. Kalau buat investasi yang banyak-banyak belum bisa. Untunglah program Investasiku Masa Depanku bisa dimulai hanya dengan Rp. 200.000 saja per bulannya.
3.     Praktis
Program reksa dana Investasiku Masa Depanku ini sudah menerapkan autocollection. Jadi akan terdebet secara otomatis dari rekening. Ini sangat memudahkanku dan yang terutama, membantuku yang pelupanya minta ampun ini.
4.     Transparan
Secara rutin, investor akan menerima laporan keuangan mengenai reksa dana. Kita juga bisa tahu dana kita diinvestasikan ke aset apa saja.
5.     Likuiditas
Ketika jangka waktu minimal sudah selesai, maka kita akan diberi pilihan untuk mencairkan dana atau lanjut terus. Jadi kalau misalnya butuh duit ya bisa langsung dicairkan gitu.
Cucok kan? Buat ikutan program Investasiku Masa Depanku ini gampang banget karena sekarang bank-bank nasional sudah banyak yang menjadi agen penjualan reksa dana. Jadi, nggak usah nunggu tua gaes. Yuk mulai berinvestasi!

Artikel ini diikutsertakan dalam kompetisi blog Blogger Writing Competition - Investasi Masa Depanku bersama Reksadana Danareksa. Isi dan tulisan dari artikel blog post ini di luar tanggung jawab Danareksa Investment Management.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar




Dulu, aku bermasalah dengan ketombe dan kulit kepala gatal. Seiring berjalannya waktu, ketombeku sembuh dengan sendirinya. Cuma gatalnya masih sering terasa. Dulu sampai gatal banget dan itu lumayan mengganggu. Garuk-garuk terus. Gatal-gatal di kulit kepalaku tuh disebabkan oleh kaya jerawat kecil-kecil gitu di kulit kepala yang lama kelamaan kering dan lepas jadi kaya ketombe. Iya gaes, separah itu jerawatku sampai ke rambut juga jerawatan. Tapi ketombe yang dihasilkan oleh jerawat ini nggak banyak. Cuma gatalnya itu lho. Akhirnya aku nyoba pakai shampoo anak-anak dan ternyata terbukti efektif buat mengurangi gatal di kulit kepala. I just love them so so much dan pakai shampoo anak-anak terus selama setahun terakhir ini. Gonta-ganti merek dan varian sih, tapi sama aja kok hasilnya. Aku akan cerita-cerita khusus tentang ini kapan-kapan ya.
Sayangnya, shampoo anak-anak nggak memiliki kekuatan super untuk mengatasi masalah rambutku yang lain yaitu rambut rontok. Pada dasarnya rambutku itu kering, rapuh dan mudah patah. Tapi selain itu juga akar rambutnya memang lemah gitu jadi rambut gampang tercerabut. Jangankan sisiran. Aku belai lembut aja pasti ada yang rontok. Kadang malah nggak tak apa-apain juga rontok sendiri. Rambut gentayangan di mana-mana. Di bantal, di saluran air, di cangkir kopi. Dan nggak ada yang bisa kulakukan untuk mengatasinya. Palingan aku jadi semakin jarang sisiran sebagai usaha terakhir untuk mengurangi kerontokan. Setiap kali liat rambut rontok di lantai sampai bergumpal-gumpal, aku tergoda untuk memotong rambut super pendek lagi. Aku pernah melakukannya dua tahun yang lalu dan waktu itu rambutku sukses nggak rontok. Tapi setelah rambut mulai panjang, mulai rontok lagi. Gitu-gitu terus sampai mantan ngajak balikan kiamat. 
Rambut pendek tetep menawan kan?

Aku sih nggak keberatan potong rambut jadi pendek lagi soalnya aku bakalan tetep menawan nggak peduli model rambutnya seperti apa *dilempar gagang cangkul. Tapi aku yang satunya menolak keras. Karena yah, kalau potong rambut pendek, itu artinya aku harus nunggu lama lagi buat manjangin rambut. Dan sebagai catatan, seumur hidup aku belum pernah punya rambut panjang. Pantas saja banyak lelaki yang mencampakkanku. Kemungkinan besar karena rambutku kurang panjang buat dibelai-belai. Setelah ngotot-ngototan, bertengkar hebat, dan saling cekik dengan diri sendiri, akhirnya diriku yang satu menang. Aku nggak akan potong rambut, no matter what. Biarkan rambut ini tumbuh panjang. Ha tapi rontok ini gimanaaa? Tanyaku pada diriku sendiri sambil jeduk-jedukin kepala ke lemari.
Pada saat depresi dan dilema hebat itulah, bersama cahaya dari langit, turun malaikat yang mengabarkan kabar baik. Waktu itu aku lagi bermalas-malasan di kasur sambil facebookan seperti biasa. Tiba-tiba aja nongol di beranda statusnya mbak Umi yang ngobrolin minyak urang-aring jadul yang masih dipercayanya untuk merawat rambut tetap hitam alami. Tapi kan aku nggak pengen rambut hitam. Jadi harusnya postingan itu nggak ada sangkut pautnya dong? Ada. Soalnya habis itu aku nanya “Mbak, itu minyaknya bisa buat mengatasi kerontokan nggak?”
“Nggak bisa, Pelle. Ini untuk menghitamkan saja. Kalau masalah kerontokan aku pakai shampoo ginseng yang murah meriah malah cocok,” jawab mbak Umi.
“Shampoo ginseng kaya apa?” tanyaku penasaran.
Tak lama kemudian mbak Umi menerbitkan postingan baru tentang shampoo ginseng yang konon murah meriah itu.
“Ohalaaah, iya, tahu, shampoo yang biasa dipakai buat nyuci mobil sama bapakku,” kataku ngece terang-terangan. Jadi itu shampoo dengan kemasan botol besaaaar yang ada macem-macem varian itu lho gaes. Yang dulu aku tahu sih adanya urang-aring sama lidah buaya. Nah, yang lidah buaya ini warnanya ijo mirip sunlight gitu dan emang bapakku biasanya kalau nyuci mobil pakai shampoo ini. Tapi aku nggak tahu banget sumpah, kalau ada yang varian ginseng. Dan lagian, aku juga nggak tahu kalau mau beli shampoo ini di mana soalnya menurut mbak Umi adanya cuma di warung-warung kecil gitu. Sialnya warung-warung kecil sekitar sini nggak ada yang jual.
Akhirnya aku nitip sama mbak Umi sekalian beli wader kriuk balado dagangannya mbak Umi yang enak banget dan bikin Ibing lupa diri: ngehabisin satu bungkus tanpa sadar. Wader kriuk ini tersedia dalam berbagai rasa dan highly recommended deh gaes. Kalian harus coba. Mungkin nanti (sekali lagi kapan-kapan) aku bakalan ngepost review jajanan. Tapi sekarang, kita balik ke shampoo dulu.
Kiriman dari Mbak Umi

Penampakannya kaya gini nih gaes.

Simple, jadul, dan besar sekali. Ini ukuran 350ml harganya cuma lima belas ribu saja. Nggak heran kalau sama bapakku dipakai buat nyuci mobil. Aslinya aku agak deg-degan juga. Shampoo merek nggak femes gini ntar jangan-jangan rambutku malah makin rusak lagi. Tapi pas tak teliti dengan seksama, ternyata produsen shampoo ini adalah PT. SEKAWAN. Iya, PT. SEKAWAN yang itu, yang juga memproduksi sabun holly. Since I trust sabun holly for helping me with my acne, I will trust this shampoo too. Sekawan kan emang produsen kosmetik murah meriah. Pengalaman membuktikan sabun holly yang murahnya kebangetan itu jauh lebih ampuh dibanding produk anti jerawat lain yang pernah kucoba. Dan aman. Kami menduga, harga produknya jadi murah karena mereka nggak ngiklan yang mahal-mahal. Cuma distribusi konvensional dari warung ke warung. Pas aku ngecek di websitenya sekawan, ternyata ada macem-macem varian juga. 
Gambar dari www.skw.co.id
Komposisinya kaya gini.

Aku nggak ngerti soal komposisi dan selama ini gagal mempelajarinya karena aku anaknya susah kalau disuruh nginget-inget istilah-istilah kaya gitu. Tapi di sini tertulis jelas kalau shampoo ini mengandung SLS yang sebenarnya nggak bagus bagi diri sendiri maupun lingkungan. Cuma yaa, jarang banget shampoo yang nggak mengandung SLS tuh. Shampoo anak-anak yang setahun kemarin tak pakai aja mengandung SLS semua.
Udah ada nomer POM dan expired date. Selain itu yang cukup membuatku terpesona, ada juga label halal MUI jadi ukhti-ukhti boleh tenang. Shampoo ini nggak mengandung gelatin babi.
Teksturnya lumayan kental dan warnanya bening. Kalau diendus aroma ginsengnya tercium kuat dan hampir kaya jamu gitu. Kalau dipakai keramas rasanya hangat di kulit kepala. Tadinya aku bertanya-tanya apa ini hanya perasaanku saja, tapi ternyata di pemakaian-pemakaian berikutnya juga sama, hangat di kulit kepala. Setelah dibilas tidak meninggalkan kesan licin.
Sayangnya shampoo ini belum mengandung kondisioner. Jadi kalau mau lembut harus pakai kondisioner lagi dan aku benci cara keramas kaya gitu. Ribet. Biasanya shampoo anak-anak yang kupakai udah plus kondisioner. Jadinya praktis. Berhubung aku males menjalani proses shampoan-bilas-pakai kondisioner-tunggu beberapa saat-bilas, aku cuma shampoan biasa, trus udahannya tak kasih minyak zaitun yang biasanya tak pakai buat hair mask. Dikit tapi minyak zaitunnya, dua tetes. Dan cuma tak pakai di batang rambut mulai tengah sampai ke ujung. And it works so well. Kalau nggak pakai minyak zaitun rambutku bakal jadi kering dan kasar.
Yang membuatku terkagum-kagum dari shampoo yang murah byanget ini, dia rupanya memiliki kemampuan untuk memperbaiki sejak pemakaian pertama. Kok bisa? Iya, jadi habis keramas pertama itu aku merasa rambut rontokku berkurang. Tadinya juga aku menganggap itu cuma perasaanku aja tapi perasaan itu menguat karena setelah seminggu memakai shampoo ini, rambut rontokku berkurang drastis. Yang biasanya mencapai seratus lembar per hari, berkurang menjadi sekitar lima lembar saja. Emejing bukan? Aku ngerasaain banget akar rambutku menguat. Terbukti pas aku belai-belai nggak ada yang rontok blas. Aku sisiran juga yang rontok paling cuma dua. Aku jambak-jambak juga aman sodara-sodara. Akupun segera menyalakan soundtrack dan nyanyi “Ini keajaiban alam!”
Sekali lagi rupanya, aku tertohok dan memetik pelajaran untuk not judge a product by its price. Shampoo ini juga nggak bikin kulit kepalaku gatal kok. Jadi untuk sementara ini aku bakal pakai shampoo ini terus. Kesimpulannya, I love this shampoo oh so fucking much. Baru kali ini kenal shampoo yang bisa menguatkan akar rambut sampai dua puluh kali lebih kuat. Dan dia bahkan nggak jual omong kosong lewat iklan. Local brand rocks! Repurchase? Emm, mungkin nanti nyobain varian lain ya. Lagian yang ini juga masih banyak banget. Aku ragu bisa menghabiskannya dalam waktu setengah tahun.
Gitu aja gaes, ceritaku menguatkan akar rambut sampai dua puluh kali lebih kuat dengan shampoo ginseng. Ini cuma cerita pengalaman aja ya. Aku bukan ahli di bidang perrambutan dan produk yang cocok di aku, belum tentu cocok di orang lain dan sebaliknya. Kalau ada yang salah-salah, perlu dikoreksi, atau kalian mau nambahin apaa gitu, please feel free to coment.
Love,
Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Puasa itu rentan dengan bau mulut. Pas masih kecil dulu aku mikirnya, kalau nggak makan harusnya mulut malah terjaga kebersihannya dong ya, jadi harusnya nggak bau. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Nggak makan dan minum dalam waktu lama membuat mulut rawan bau.
Untuk menghindarinya? Banyak tips-tips yang beredar, tapi aku sendiri percaya pada satu ilmu kuno yang terbukti manjur: sikat gigi. Tapi kalau puasa kan nggak boleh sikat gigi? Ah, kata siapa? Yang nggak boleh itu kalau pas sikat gigi odolnya atau sikatnya kamu telen. Kalau aku sih tetep sikat gigi. Terutama misalnya pas mau ketemu orang gitu. Kan kasian kalau selama ngobrol orangnya malah kebauan sama aroma surga mulutku. Aku nggak tegaan kan, anaknya. Eh, bai de wai, temenku pernah bilang “Kalau aroma surga itu beneran kaya bau mulut kamu, aku mendingan nggak masuk surga.” Kan aku jadi ngerasa hina gitu. Makanya aku rajin sakit gigi.
Penyakit rajin sakit gigiku ini sudah berlangsung lama sebenernya. Dari pas aku masih anak-anak. Jadi kan dulu pas masih kecil gigiku rusak berat, coklat-coklat gitu. Nah, pas udah ganti semua giginya, aku bertekad untuk menjaga kesehatan gigiku biar jangan rusak lagi. Masalahnya, aku ini anaknya suka kelewatan kalau ngapa-ngapain. Seorang pertapa sakti dulu pernah nerawang gini “Kamu itu anaknya kalau disuruh ngerjain satu tugas, maunya dua.” Itu bener. Jadi kalau aku dapat tantangan, secara naluriah aku akan menggandakannya. Dan itu kuterapkan juga dalam hal sikat gigi. Aku semacam terobsesi sama gigi sehat bin putih, jadinya aku sikat gigi terus. Bangun tidur sikat gigi, habis sarapan (kalau pas sempet sarapan) sikat gigi, pulang sekolah sikat gigi, habis makan malam sikat gigi, sebelum tidur sikat gigi lagi karena tadi udah ngemil. Pokoknya sikat gigi terus.
Apakah itu merupakan suatu tindakan yang bijak? Ternyata tidak pemirsa. Sikat gigi itu idealnya sehari dua kali. Kalau keseringan dan apa lagi nyikatnya kasar (aku kan bukan jenis yang lemah lembut), yang terjadi malah email gigi jadi rusak. Tadinya aku nggak nyadar. Bangga banget sama kebiasaan sering sikat gigi yang kuanggap sebagai prestasi (saking nggak berprestasinya di bidang lain). Kemudian suatu ketika gigiku mulai menunjukkan tanda-tanda gigi rusak. Pertamanya jadi sensitif. Kalau minum es ngilu, makan panas juga ngilu. Pokoknya ciri gigi sensitif kaya iklan pasta gigi di tivi. Kemudian, secara misterius gigi gerahamku ada lubang kecil. Dan tak lama setelahnya, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku mengalami yang namanya sakit gigi. Pengalaman yang tak sanggup kulupakan karena pas itu aku nggak bisa mikirin hal lain. bahkan gebetan pun enggak. Iya sih, pas itu aku mana udah punya gebetan? Akupun bertanya-tanya pada alam semesta, kok gigiku bisa sakit padahal aku rajin sikat gigi? Jawabannya sederhana: jawabannya ada pada pertanyaanmu! Ternyata ya gara-garanya itu. Aku terlalu sering sikat gigi. Ya ampuun! Baiklah, ternyata rajin nggak bisa diterapkan di segala hal. Dan yang lebih penting lagi, rajin juga nggak boleh kelewatan. Akupun tobat. Sikat gigi sehari dua kali saja. Kadang masih tiga kali sih. Tapi cuma kalau ada seseorang yang sangat penting yang harus kutemui.Uhuk!
Oke, jadi aslinya aku mau ngomongin suatu alat yang biasa kita pakai buat sikat gigi. Kalian tahu nama alatnya apa? Yes, rait! Sikat gigi! Jadi sebenarnya kalian nggak usah baca paragraf  bertele-tele di atas dan bisa langsung skip ke paragraf berikut ini.
Aku tu sering gonta ganti sikat gigi. Ya nggak sering-sering banget sih. Palingan setahun tiga kali. Pokoknya kalau aku sudah mulai merasa familiar sama sikat gigiku, aku akan menggantinya. (Baru merasa familiar setelah empat bulan???)
Aku nggak menuruti nasihat dari dokter gigi atau iklan sikat gigi buat mengganti sikat gigi tiap sekian bulan sekali sih. Pokoknya kalau udah bosen sama warnanya aku ganti (padahal aku kalau beli sikat gigi warnanya pink terus).
Nah, tadi aku mencampakkan sikat gigiku yang warna pink, sama sikat gigiku satu lagi yang biasa tak bawa pergi-pergi (juga berwarna pink) ke tempat sampah. Dan aku udah nggak punya stok sikat gigi lagi (biasanya punya). Jadi setelah nongkrang nongkrong nggak penting di angkringan, pulangnya aku mampir indomaret buat beli sikat gigi sama mi instan buat sahur (hiks). Sampai di indomaret aku langsung menuju bagian sikat gigi. Itu lho, satu deretan yang isisnya sikat gigi semua. Dan aku termenung agak lama di sana. Biasanya aku nggak kebanyakan mikir, langsung pilih yang paling murah. Masalahnya, tadi itu aku nggak lihat sikat gigi murah. Mahal semua. Dan aku jadi agak nyadar kalau akhir-akhir ini semua barang kayaknya memang naik harganya. Akupun jadi mikir, kenapa harga kaos nggak tak naikin juga ya? Sungguh rugi! Oke, lanjut mengamati sikat gigi. Yang paling murah harganya tuju ribu lima ratus. Itupun lantaran diskon. Harga aslinya sembilan ribu berapaaa gitu. Dasar pengusaha dzalim.
Kenapa kok nggak beli yang sepuluh ribu isi tiga aja? Karena kak, yang sepuluh ribu dapet tiga jaman sekarang ini udah nggak ada. Harganya udah naik jadi lima belas ribu. Selain itu nggak ada yang satu set warnanya pink semua. Akhirnya dengan berat hati aku terpaksa ambil yang harganya tuju ribu lima ratus itu. Mumpung diskon.
Sampai rumah aku baru tahu kalau ternyata ini tuh Pepsodent travel yang bisa dilipat. Yah, aku emang ga perhatiin merek atau fiturnya sih tadi. Cuma harga sama warna.
Jadi apa aja yang bikin aku seneng sama sikat baru ini sampai bela-belain bikin blog post segala (yang jelas memboroskan kuota) padahal aku nggak dibayar sama pepsodent?
1.     Warnanya pink kesukaan akuh, dipadu sama bening. Jadi kesannya futuristik. Kan aku ngimpi banget pengen punya hape transparan kaya punya Tony Stark kan? Karena di deket sini nggak ada yang jual, jadi yaudah, sikat gigi dulu aja yang transparan.

2.     Ada ventilasinya. Bukan rumah aja yang harus punya ventilasi. Sikat gigi juga. Apalagi kalau sikat gigi yang bisa dilipat gini. Kalau nggak ada ventilasinya bisa-bisa bakteri malah berkembang biak dan aku gagal mendapatkan gigi menawan.

3.     Bisa dilipat (udah kusebutin ya tadi?). Which means, praktis kalau mau dibawa-bawa. Aku tuh suka bermasalah kalau pas lagi packing alat mandi, pasti sikat giginya nongol kepanjangan. Jadi ini mungkin memang semacam jawaban atas gerutuanku tiap kali packing itu.

4.     Ukuran kepalanya mungil, hampir seukuran sikat gigi anak. Aku emang nggak suka sama sikat gigi yang kepalanya panjaaaaang soalnya rasanya kaku gitu. 

5.     Bulunya lembut bagaikan sentuhan kekasih (abaikan). Ini mungkin fitur yang paling kusuka. Jadi di atas bulu utama ada bulu tambahannya yang kecil-kecil itu lho gaes, ngerti kan? Bulu tambahannya kan lembut banget, jadi menjangkau sampai ke sela-sela terkecil. 
Nah, tadi begitu unboxing (apa lagi ini?) aku langsung nyobain itu sikat soalnya penasaran. Dan secara ajaib, bulu lembut itu mampu menghancurkan karang gigi aku. Oya, aku belum cerita ya? jadi setelah dewasa aku punya banyak kebiasaan buruk yang menyebabkan masalah pada gigi. Salah duanya adalah gigi jadi kuning dan adanya karang gigi di sela-sela yang susah dijangkau. Lazimnya, buat menghilangkan karang gigi ini kita harus mengunjungi dokter gigi dan nanti dibersihin pakai laser (bener apa enggak sih?). Tapi kunjungan ke dokter gigi itu sejauh ini baru sebatas niat. Nah, tadi pas lagi nyobain sikat baru itu, aku merasakan kehalusan bulu-bulunya membuai sela-sela gigi yang berkarang itu. Dan setelah selesai sikat gigi apa yang terjadi? Karang gigiku (secara harfiah) lepas. Cuma sebagian kecil sih. Tapi aku tetep seneng banget lah. Mungkin besok bakal lepas lagi sedikit, besoknya lepas lagi sedikit, dan seterusnya. 
Aslinya nggak segede itu ya kenyataannya. Itu bagian yang item udah bersarang sekian lama di sela-sela gigi. Mungkin udah bertahun-tahun. kebayang kan, giamana bahayanya kalau didiemin? Yes, gigiku bakal item di baagian tengahnya. Beberapa temanku mengalami itu dan mereka stress dibuatnya. Ya kan kita udah nggak bisa berharap giginya tanggal dan ganti sama yang baru kaya pas kecil dulu.

Jadi gitu kak, cerita aku seputar gigi dan alat berjasa besar yang jarang kita bahas ini. Semoga gigiku makin sehat, membuatku menawan, dan selama puasa mulutku jadi nggak bau tentunya.
Bagi yang bertanya-tanya kenapa kok aku jarang nulis di blog? Aslinya aku sering nulis kok. Cuma ngepostnya aja males-malesan karena aku ngirit kuota.
E, tapi kan Pel, nggak ada yang nanya-nanya, dan nggak ada yang peduli juga. Eh gitu ya? Ya udaaaaah, tetep tengkyu buat yang mampir. Selamat menunaikan ibadah puasa ya, kak.

Love,
Madgirl
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit conseat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amei.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Juni 2019 (2)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (15)
  • Februari 2018 (1)
  • Januari 2018 (1)
  • Oktober 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (2)
  • Juni 2017 (3)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (2)
  • Maret 2017 (8)
  • Februari 2017 (10)
  • Januari 2017 (3)
  • Desember 2016 (6)
  • Oktober 2016 (4)
  • September 2016 (6)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (3)
  • Juni 2016 (8)
  • April 2016 (1)
  • Maret 2016 (6)
  • Oktober 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • Kesumat Sang Raja Jerawat
  • Ngeblog seaktif Facebook-an. Gimana sih caranya?
  • Mengukur Kualitas Diri Tidak dengan Membandingkan
  • PESAN MORAL LOMBA-LOMBA AGUSTUSAN
  • PENTINGNYA MEMPERHATIKAN LINGKUNGAN PERGAULAN ANAK

Yang Nulis

Isthar Pelle
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates