• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MADGIRL!




Film Zoom ini bagus banget. Ceritanya tentang dunia paralel. Cerita dalam cerita. Hampir mirip Supernova gitu lah. Kalau di KPBJ kan ada Ruben dan Dimas yang menulis cerita, dan paralel dengan itu di dunia nyata ada orangnya beneran. Gitu kan?
Kalau Zoom ini ceritanya tentang cewek, namanya Emma. Profesinya bikin sex doll gitu. Selain itu, dia punya hobi menggambar komik. Dan dia bikin komik tentang cowok. Cowok ini diceritakan sempurna sesuai impian Emma. Namanya Edward, dia sutradara. Edward memproduksi film tentang cewek namanya Michelle. Michelle ini model tapi punya cita-cita pengen jadi penulis. Jadi dia menulis cerita. Cerita tentang apa? Yup, Emma.
Keputusan-keputusan yang mereka lakukan tanpa sadar mempengaruhi hidup satu sama lain yang artinya mempengaruhi kehidupan mereka sendiri-sendiri.
Jadi ceritanya Emma kurang pede dengan ukuran payudaranya. Akhirnya dia melakukan operasi implant payudara. Tapi ternyata setelah operasi dia merasa payudaranya kegedean dan akhirnya malah nggak nyaman. Gara-gara itu semua dia merasa kesal pada Edward, tokoh dalam komiknya yang terlalu sempurna. Dream boy. Jadi dia mengecilkan ukuran penis Edward sampai ukuran kecil banget. Gara-gara mengecilnya penis ini, Edward jadi galau sendiri. Dia nggak bisa bercinta karena malu dan nggak pede. Hal ini berpengaruh ke filmnya. Yang biasanya dia memproduksi film action penuh adegan tembak-tembakan dan ledakan, dia memproduksi film nyeni tentang lesbian, ya si Michelle itu tadi. Masalahnya, semua tindakan Emma itu ya Michelle juga yang menuliskan. Pusing kan?
Di akhir filmnya juga nggak dijelaskan yang asli kehidupan nyata mana, atau justru si pembuat fim pengen menegaskan kalau mereka bertiga aslinya nggak ada yang beneran eksis. Semua cuma sebatas ide di dalam sebuah film yang kutonton. Yang judulnya Zoom itu. Apapun itu, aku sukaaa banget sama idenya.
Hal ini membuatku berpikir kembali. Berpikir kembali karena aku udah pernah mikirin ini sebelumnya. Oke deh, sering banget mikirin hal ini sebenernya.
Gimana kalau aku ini ternyata cuma tokoh rekaan seseorang? Gimana kalau aku ternyata hanyalah ide di dalam kepala seseorang? Bagaimana kalau aku ternyata hanya bagian dari imajinasi seseorang? Dan semua yang kualami ini nggak nyata. Kalian nggak nyata, aku nggak nyata, kehidupan yang kita jalani hanya cerita dari buanyaaaak cerita lain. Aku bahkan pernah bertanya-tanya, bagaimana kalau bumi dan alam semesta yang kita tahu ini hanya satu buku di antara jutaan buku lain di sebuah perpustakaan raksasa? Jadinya menggelikan bukan kalau kita sampai bertengkar, eyel-eyelan, dan bahkan perang padahal kita nggak beneran ada? Hehehe.
Kaya kalau kita bikin artwork deh, misalnya. Kita melukis tentang seseorang yang menderita. Kita melukiskannya dengan teramat sangat baik. Siapa yang tahu kan, kalau kita telah menciptakan ‘kehidupan seseorang’ yang terjebak dalam penderitaan selama-lamanya? Dia merasa menderita banget, padahal bagi kita, ya dia cuma a piece of artwork.
Di Zoom, masing-masing dari mereka akhirnya menyadari sih kalau mereka itu nggak nyata dan ada yang membuat. Akhirnya Michelle nulis di bukunya WAKE UP! Well, mungkin yang kita alami sekarang ini, termasuk tahun-tahun yang mengerikan penuh kesedihan dan hari-hari penuh kejutan yang membahagiakan juga nggak lebih dari sekedar mimpi. Suatu hari nanti kita akan terbangun dan dengan entengnya melanjutkan kehidupan sebagai apapun itu, untuk kemudian tidur dan mimpi yang lain lagi nanti. Atau malah hanya satu di antara kita yang bangun. Aku hanya peran figuran dari cerita seseorang. Cameo yang numpang lewat. Bahkan seorang cameo paling nggak pentingpun di dalam cerita pasti punya latar belakangnya sendiri kan? Mereka cuma nggak dikasih porsi banyak dalam cerita. Atau yahh, masing-masing dari kita adalah pemeran utama dalam cerita kita sendiri, sekaligus cameo untuk cerita orang lain. Tentu saja semua hal ini terlalu membuatku pusing. Jadi kalau kamu pusing juga mikirin ini, berarti kita sama. *tos
Tapi untungnya sih aku malah jadi lebih tenang. Kalau memang begitu, aku nggak perlu terlalu serius menanggapi semua masalah yang datang ke dalam kehidupanku karena itu cuma bagian dari plot cerita. Kalau ada masalah, aku nggak perlu depresi sampai jedug-jedugin kepala ke tembok lagi karena mungkin itu hanya satu klimaks yang selalu diikuti dengan antiklimaks. Dan aku pernah mengalami percakapan lucu dengan Tuhan begini:
Aku        : Tuhan, kenapa sih, hidupku kok gini banget? Up and downnya ekstrim?
Tuhan    : Ibarat kamu nulis cerita, pembacamu bakal seneng nggak kalau ceritanya lempeng-lempeng aja? Kamu lahir, besar, nikah, punya anak, mati tanpa ada masalah sama sekali? Nggak seru kan?
Aku nurut-nurut aja sih, waktu itu. Tapi kali ini duhai maker, kalau Kau membaca ini. Tentu saja Kau membaca ini, You’re my maker, right? Aku cuma mau bilang, tolong dong, pertimbangkan genre lain. Bukannya aku nggak bersyukur dengan ceritaku sekarang. Tapi bisa kali yah, dikurangi dikit unsur drama ala sinetronnya. You know, I try to play it cool, but, masih aja gitu kadang-kadang kejungkel sendiri tanpa peringatan ke plot twist yang sinetron abis dan sorry to say, penontonnya cuma typical ibu-ibu rumah tangga kurang kesibukan.
Bisa kali di ceritaku ditambahin plot seperti emm, aku nemu mesin waktu, gitu misalnya. Atau aku jalan-jalan di luar angkasa kaya di Star Trek, atau aku jadi Wonder Woman dan menyelamatkan dunia, atau aku jadi super villain yang punya banyak minions. Ah, banyak kalau sekedar ide sih. Dan karena ide ini mungkin datangnya dari Kau yang membuatku juga, jadi please, silakan pilih aja yang mana yang paling seru. Asal jangan jatuh di masalah ortu cerai karena perselingkuhan, ditinggal pacar nikah karena menghamili cewek lain, perjodohan, dan sebangsa-bangsa itu lagi yah, yahh. You know, I’m done with that kind of drama. Lagian kenapa sih aku nggak diceritain bertetangga sama professor aja yang bisa membuat kostum spesial yang bisa mengecilkan badan ke ukuran semut? Kenapaaa?
Tapi sebagai ciptaan yang baik dan nggak mau dianggap nggak tau diri, aku tetep makasih banyak lohh atas semua ini. Hidupku masih jauh lebih mendingan lah daripada banyak makhluk lain yang kurang beruntung di luaran sana. Lalat buah, misalnya.
Buat kalian gaes, para pembaca yang budiman, tulisan ini nggak usah dianggap terlalu serius. Kalian kan tahu aku suka becanda. Dan lagian juga, nggak usah serius-serius amat menghadapi hidup ini. Apalagi sampai ngotot-ngototan adu bener sendiri. Wong siapa tahu lho, siapa tahu, kita ini cuma bagian dari imajinasi seseorang. Hanya cuilan ide. Kita hidup sebagai kita yang sekarang mungkin hanya satu kali. Hiduplah dengan hepi.
Sekian.
Seperti biasa, terima kasih sudah baca, dan serius ditunggu lho, komentarnya (kalau yang ini kalian harus serius gaes). ;)

Penuh cinta,
Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar


Ilustrasi dari Up from The Grave (seri Night Huntress).


Jeanine Frost adalah seorang penulis novel err, aku nggak tau genrenya apa aja, tapi terakhir kali aku ngecek di webnya, bukunya seri-seri vampir semua sih. Aku tadinya nggak kenal blas nama Jeanine Frost. Lha trus aku kenalan dari mana? Dari mbak Umi yang jualan novel murah-murah 18ribuan. Aku nggak mikir itu novel apa tadinya asal beli aja sih mumpung murah. Di back cover ada tulisannya genre paranormal-romance. Kirain bakal mirip-mirip Hex Hall gitu (yang baru kubaca buku pertamanya). Ternyata eh ternyata, ini novel vampir, pemirsa.
Aku sendiri suka cerita vampir. Bahkan kadang-kadang aku mengalami kebingungan serius nggak yakin aku ini vampir apa manusia? Soalnya tanda-tanda kevampiran banyak banget di aku. Misalnya, aku kalau malam begadang dan begitu matahari terbit ngantuk, trus aku juga suka sakaw darah. Hahaha. Oke, itu anemia, dan well, ternyata aku masih belum punya taring yang keren dan kemampuan hipnotis. Jadiii, bukan, aku bukan vampir. Tapi aku suka cerita vampir.
Novel vampir yang pertama kali tak baca tentu saja tak lain dan tak bukan adalah Twilight. Aku baca buku pertamanya aja sih tapi. Soalnya aku nggak terlalu suka dan emm, menurutku banyak hal tentang dunia pervampiran yang nggak kusetujui di Twilight.
Vampire Academy aku baca buku pertama dan kedua dan aku suka. Mungkin karena Vampire Academy rasanya lebih remaja banget dan aku setuju sama konsep donor darah manusia (yang ada juga di dunia vampire Jeanine).
Terus, aku baca novel judulnya Dark Blood, yang itu bagus banget, asik banget, dan nggak tak sangka-sangka ternyata ditulis oleh orang Indonesia (aku lupa namanya, novelnya ada di kosnya Ibing). Kalau di Dark Blood nggak disebut vampir sih, apaa gitu namanya lupa. Tapi sama lah intinya, tentang makhluk penghisap darah.
Terus aku punya The Vampire Chroniclesnya Anne Rice, tapi baru tak baca sampai halaman seratus berapa gitu lah, lupa. Alasannya? Ini buku ketiganya (Queen of The Damned), dan aku belum baca yang pertama (Interview With The Vampire) dan kedua (The Vampire Lestat) sehingga aku banyak yang agak-agak bingung. Oke, itu alasan yang nggak jujur banget. Alasan jujurnya, ini buku versi bahasa Inggris dan karena ini buku lama, aku kok susah ya memahaminya? Beda kaya pas aku baca Divergent atau Hunger Games gitu. Di Vampire Chronicles banyak istilah-istilah yang bikin aku mengkerut dan ngebatin “Apa lagi ini?” “Kalimat ini maksudnya gimana sih?” dan seterusnya. Lagian, setelah tak tabah-tabahin baca halaman per halaman, Queen of The Damned ini membosankan banget. Terlepas dari bahasanya yang emang bikin aku mengkerut, kebanyakan isinya adalah narasi, narasi, dan narasiiiiii. Dialognya cuma dikit, dan ntar aku bikin postingan terpisah aja deh soal ini.
Kemudian aku ketemu sama Jeanine ini. Sejauh ini aku sudah beli empat biji. Twice Tempted, trus Eternal Kiss of Darkness, trus Once Burned, baru First Drop of Crimson. Pertama beli dua, Twice Tempted sama Eternal Kiss of Darkness. Kenapa pilih dua itu? Karena mengikuti stoknya mbak Umi. :D
Pertama baca Twice Tempted, dari blurbnya aja udah ketahuan kalau itu adalah cerita lanjutan. Trus tak tengok-tengok, di cover belakang bagian dalam, itu ada tulisannya keterangan Seri Night Prince: 
1. Once Burned
2. Twice Tempted
Pas baca Eternal Kiss of Darkness juga ada tulisannya Seri Night Huntress World:
1. First Drop of Crimson
2. Eternal Kiss of Darkness
Makanya kemudian aku pesen ke mbak Umi dua buku sebelumnya itu.
Pas baca-baca, aku sadar kalau semua novel Jeanine ini berada di semesta yang sama. Tokoh-tokohnya saling kenal, saling mengisi, dan saling muncul bergantian sebagai tokoh utama. Terus, di salah satu ucapan terima kasih aku baca kalau Cat dan Bones yang muncul di hampir setiap judul ternyata adalah tokoh utama dari seri Jeanine yang pertama, yaitu seri Night Huntres (yang malah belum kubaca satupun) dan bikin aku bertanya-tanya, emang ceritanya Cat sama Bones gimana sih?
Daaaan setelah kuselidiki dengan lebih seksama di webnya Jeanine yaitu www.jeaninefrost.com, aku baru tahu kalau ternyata plot utamanya justru ya ceritanya Cat sama Bones itu. Empat novel yang udah kubeli ternyata novel spin off. Dan semua itu tergabung di Night Huntress Universe yang udah keluar 19 judul (termasuk ebook novella) dan masih akan ada satu judul lagi Oktober 2016 ini. Yah, aku baru punya empat, so, 16 more to go, dan mungkin aku akan mengikuti terus seri ini. Hehe.
Kok tumben Pel? Biasanya juga nggak sampe segitunya.
Soalnyaaaah, aku suka sama dunia vampirnya Jeanine ini. Ini beberapa alasannya:

1.      Ada Vlad.

Vlad yang Dracula itu. Kalau kalian adalah tipe yang percaya kalau pembaca bisa jatuh cinta pada tokoh dalam buku yang dibacanya, maka well, aku berharap bisa pacaran sama Vlad. Vlad itu ada orang benerannya lho. Dan cerita Vlad ini menginspirasi novel Draculanya Bram Stoker itu. Kalau nggak percaya, gugling aja pakai kata kunci Vladislav Basarab Dracul. Eh, btw, aku baru tahu dari Wikipedia kalau dracul itu ternyata artinya naga. Diambil dari kata draco/drago gitu. Tadinya aku nggak mikir sampai sana.

2.      Kehidupan vampir yang masuk akal

Ada donor manusia kaya di Vampire Academy. Ini lebih masuk akal dibanding minum darah hewan demi supaya tidak membunuh manusia. Ya kan porsi makannya vampire itu nggak banyak-banyak banget sampai darah punya satu orang habis ya kan? Kecuali udah lama nggak makan dan haus darah, atau vampir baru yang masih lapar karena mengeluarkan banyak energi untuk menyesuaikan diri. Dan oya, di sini, manusia nggak bisa serta merta berubah jadi vampir cuma karena digigit.

3.      Penokohan yang pas

Ini perlu banget aku pelajari dari Jeanine. Selama ini aku kalau nulis cerita, karakter utamanya hampir pasti mirip-mirip semua. Yup! Mirip aku. Bukan karena narsis, bukan. Tapi karena itu jauh lebih gampang untuk dilakukan. Aku otomatis tahu kalau menghadapi situasi begini maka si tokoh akan bagaimana karena pada dasarnya, aku menceritakan diriku sendiri. Ini nggak akan jadi masalah kalau aku cuma nulis sepotong cerita. Masalahnya adalah ketika nulis banyaaak cerita, dengan macam-macam judul dan bahkan genre yang berbeda, tapi karakter tokoh utamanya sama semua. Pembaca bakalan muntah-muntah dan bosen karena lama-lama mereka apal, ah paling ntar dia begini, ntar paling begitu.
Aku ketemu tiga pasang tokoh utama di seri ini dan gaya dan karakter orangnya beda-beda semua. Leila di Once Burned sama Twice Tempted, anaknya keras kepala, semau sendiri, nggak mau diatur, dan meledak-ledak. Paaaas banget untuk dipasangin sama Vlad yang songong, arogan, kejam, dan juga keras kepala.
Kira di Eternal Kiss of Darkness karakternya dewasa, tenang, kuat, mampu menguasai keadaan. Paaas banget dijodohin sama Mencheres yang ceritanya adalah vampire terkuat di dunia sekaligus bijak banget karena sudah berusia 4000 tahun.
Denise di First Drop of Crimson ceritanya gegabah tapi sayang keluarga. Sebenernya Denise agak nyebelin sih dan aku nggak terlalu suka karena dia itu ceroboh, panikan, dan hampir nggak pernah mikir dulu sebelum memutuskan sesuatu. Yaa mungkin cocok dipasangin sama Spade yang pengertian dan lumayan ngalahan dan pantang menyerah.

4.      Adegan panas

Hahaha. Abaikan saja poin ini. Tapi serius lho, di semua judul, Jeanine pasti menyelipkan beberapa adegan panas yang dituliskan secara teramat sangat jelas. Jadi yeah, ini itu novel dewasa, nggak kaya Vampire Academy yang cocok dikonsumsi remaja. Lagian kalau dilihat dari usia tokoh-tokohnya juga memang dewasa semua sih. 

Itu dia alasannya gaes. Selain itu semua, adegan aksi yang ditampilkan juga bagus, menantang, klimaksnya pas, dan yahh, semuanya pas deh buat aku. 
Sebelum-sebelum ini aku nggak pernah niat sama sekali untuk nulis cerita vampir. Kepikiranpun enggak. Tapi sejak baca novel Jeanine ini aku kok jadi pengen nulis cerita vampirku sendiri ya?
Btw, selesai ngepost ini aku mau langsung pesen ke mbak Umi buat melengkapi koleksi. Kamu mau juga? Hubungi sana, di akun facebook Umi Sumiyarsi. Murah lho, cuma lapan belas ribuan. Kalau nggak suka cerita vampir, don’t be worry. Mbak Umi masih sedia banyak judul lain.
Atau kamu suka vampir juga ternyata? Punya novel vampir recommended? Bagi-bagi infonya dong di kolom komentar.
Akhir kata, thank you so much for reading, and see you in the next post!

Love,
Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Ditakdirkan menjadi cangkir ternyata tidak terlalu menyenangkan. Aku ditakdirkan untuk menampung cerita setiap hari. Cerita-cerita dari orang yang bahagia, cerita-cerita dari orang yang terluka. Kafe Daun tempatku berada tidak terlalu ramai. Tapi tetap saja kental akan cerita. 

Dari sekian banyak cerita yang pernah kutampung, ada satu yang menjadi favoritku. Cerita seorang gadis. Nirmala namanya. Cerita yang satu itu, tidak pernah kutumpahkan. Kukenang selamanya sebagai noda cokelat di dasar tubuhku. Kadang-kadang, Dona, waitress di kafe ini jadi jengkel karena noda membandel yang tak kunjung hilang meski telah berkali-kali digosok dengan busa, dan bahkan baking soda.
Tapi aku sudah memutuskan untuk tidak lupa. Sekalipun itu membuatku tak lagi digunakan. Sekalipun itu membuatku bukan cangkir lagi. 

Gadis pemilik cerita itu datang hampir tiap malam. Kalau beruntung, aku akan menjadi salah satu dari banyak cangkir kopi yang dipesannya. Seperti hari ini. Aku sangat beruntung karena aku menajdi yang pertama. Dan menjadi yang pertama berarti aku memiliki kesempatan untuk mengintip ke dalam buku catatannya. Buku tempat dia menuliskan cerita-cerita.

Cangkir kopi ke delapan ratus tiga puluh satu. Wow! Kuharap manusia tidak mati gara-gara terlalu banyak minum kopi. Dia selalu menuliskan angka baru setiap memesan secangkir kopi. Di bawahnya, dia menuliskan banyak hal. Dari hal-hal yang membuatnya sedih, sampai hal-hal yang dia kagumi. 

Di salah satu catatannya, dia menulis catatan tentang alasannya selalu memilih meja yang sama. Semua meja di Kafe Daun memiliki bentuk dan model yang berbeda. Dan dia selalu memilih yang satu ini. Meja kayu bercat putih, dengan sofa berbantal. Tapi bukan model maupun warna dari meja ini yang membuatnya memilih. Dia menyukainya karena posisinya yang berada di pinggir dekat jendela, tempat dia bisa memandangi trotoar dan pantulan lampu-lampu di kaca. Katanya, lampu-lampu itu jadi terlihat mirip kunang-kunang. Aku mengerti. Tidak mudah menemukan kunang-kunang di sekitar sini. Selain itu, diam-diam dia selalu ingin menjadi kecil dan bercahaya. Kemudian terbang dan hinggap di dahan pohon. Impian yang dia harap bisa terwujud di kehidupan yang berikutnya.

“Reinkarnasi menjadi kunang-kunang? Bwahahahahaha,” laki-laki itu, Raya, tertawa terpingkal-pingkal. Dia bahkan memegangi perutnya dan memukul-mukul meja dan baru berhenti saat Nirmala memelototinya. Kejadian itu sudah lama sekali. Nirmala tidak berusaha mendebat, apalagi menjelaskan Dia juga tidak repot-repot memadamkan impiannya. Dia masih ingin menjadi kunang-kunang. Membantu semut-semut membangun sarang di bawah tanah. Dia pernah membaca dongeng tentang kelompok semut yang bekerja sama dengan kunang-kunang. Dan dia ingin menjadi bagian dari persahabatan itu. 

Satu hal yang mungkin tidak diketahui manusia adalah, mereka meninggalkan jejak esensi pada benda-benda yang disentuhnya. Dan kami, benda-benda ini, memiliki kemampuan untuk merasakan emosi manusia. Masing-masing benda memiliki ketebalan jejak yang berbeda-beda. Benda-benda yang jarang disentuh, seperti langit-langit, memiliki jejak emosi yang samar. Sedangkan benda yang sering disentuh seperti gagang pintu, dan sialnya, cangkir seperti aku, memiliki jejak paling kuat. Itu sebabnya setiap habis menampung cerita, saat Dona mencuciku, aku biasanya selalu memuntahkan emosi-emosi itu. Sekali lagi, kecuali yang satu ini. 

Emosi yang kurasakan setiap kali orang menyentuhku beragam. Marah, sedih, stress, tertekan, bebas, damai, takut, dan banyak lagi. Aku bahkan bisa merasakan ketika orang mati rasa. Bukankah itu tidak masuk akal? Mungkin emosi bisa diibaratkan rasa. Kesedihan yang pahit, kebahagiaan yang manis, mati rasa yang, hemm, hambar. 

Nirmala menyentuhku, pelan-pelan mengangkatku lalu menggenggamku dengan dua tangan. Sementara dia memandang ke luar jendela, aku merasakan emosi yang familiar. Emosi dominan yang dia kirimkan ke sekujur tubuhku tiap kali ia menyentuhku akhir-akhir ini. Kerinduan. Aku tahu siapa yang dia rindukan. Laki-laki yang menertawakan impiannya menjadi kunang-kunang. Dulu, laki-laki itu sering menemaninya minum kopi. 

“Kamu itu belagu banget deh. Mau ngopi aja ke kafe mulu,” ujar Raya suatu kali.
“Bukannya gitu. Aku ini pembuat kopi yang payah, tau!” jawab Nirmala.
“Makanya kalau bikin kopi jangan ditaburi terlalu banyak kenangan,” Raya tersenyum miring. Gadisku berhenti menyesap kopinya, lalu tertawa. Kalau saja kalian tahu seperti apa tawanya. Itu adalah sejenis tawa yang ingin kau botolkan, kau jaga agar jangan sampai pecah, kemudian kau buka tutupnya agar bisa mendengarkannya lagi berkali-kali. 

“Lagi pula, aku suka tempat ini karena tempat ini sepi. Aku suka sepi. Keramaian mencekikku,” katanya sambil membelaiku dengan tangan kanannya.
“Solitude is fine, but you need someone to tell you that solitude is fine,” kata Raya mengutip Honore de Balzac.
“Nggak butuh. Aku sudah tahu kok,” kata Nirmala keras kepala.
“Terserah deh. Ngomong-ngomong, kesukaan pada kesendirian itu menunjukkan tingkat kematangan seseorang. Kesendirian pada usia muda itu menyakitkan, tapi jadi menyenangkan pada usia dewasa,” kali ini Raya mengutip Albert Einstein.
“Mungkin. Mungkin sekarang ini aku sudah melewati masa-masa labil dan menjadi lebih dewasa,” Nirmala menjawab sambil mengangkat bahunya.
“Kamu bener-bener nggak paham maksudku deh,” Raya menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa. Nirmala memandanginya dengan sorot bertanya-tanya.
“Itu artinya…,” Raya sengaja berhenti untuk menghembuskan nafas dan mencondongkan tubuhnya ke depan, “Kamu sudah tua,” lanjutnya sambil mengacak-acak rambut Nirmala.
Nirmala mengerucutkan bibir dan berusaha terlihat secemberut mungkin, tapi dari getaran emosi yang kurasakan, dia bahagia. 

Setelah malam itu, mereka sering bertemu di kafe. Minum bercangkir-cangkir kopi bersama sambil berbagi cerita. Aku tidak selalu di sana jadi aku tidak tahu persis apa saja yang mereka bicarakan. Kadang aku melihat mereka dari meja yang jauh, atau dari rak di konter. Kadang obrolan mereka begitu seriusnya sampai-sampai Nirmala mengerutkan kening sambil memandang menembus jendela kaca, tanda dia sedang berpikir. Kadang mereka tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata. Kalau di dunia cangkir, mereka itu bagaikan cangkir dengan tatakannya. Serasi, pas, saling melengkapi. 

Tapi kemudian, sama mendadaknya seperti hujan yang turun di musim kemarau, laki-laki itu tidak pernah muncul lagi. Sejak saat itulah Nirmala membawa buku catatan. Sejak aku lebih sering merasakan sesuatu yang sedih tentang kesendiriannya. Dulu, dia suka sendiri. Dia suka sepi, tapi dia tidak kesepian. Sekarang, kesendirian malah jauh lebih menyakitkan daripada yang diingatnya semasa remaja. Nirmala sering bertanya-tanya, apakah Albert Einstein salah, atau sebenarnya dia memang sama sekali belum dewasa?
Aku pernah membaca salah satu catatannya di bawah cangkir kopi ke-enam. Di situ dia menulis kalau Raya sudah berhenti minum kopi.

Kopinya mengandung terlalu banyak kenangan. Itu membunuhnya seperti keramaian mencekikku. Begitu tulisnya. Yang membuatku bersedih bukanlah fakta bahwa laki-laki itu berhenti minum kopi, atau bahwa gadisku sekarang sendiri. Tapi kenangan saat aku merasakan emosi mereka berdua.
Mereka saling jatuh cinta. Emosi itu begitu kuat sampai-sampai mereka tidak harus menyentuhku untuk membuatku merasakannya. Jika perasaan bisa diumpamakan angin, maka meja tempatku diletakkan saat itu pasti sedang dilanda puting beliung.  Betapa Raya menyukai ekspresi Nirmala saat dia sedang berpikir. Betapa Nirmala menyukai lelucon yang membuatnya tertawa sampai menangis. Betapa mereka berdua begitu memahami satu sama lain, hingga tak perlu saling menjelaskan. Bukankah itu manis? Seseorang menyukaimu tanpa butuh penjelasan? 

Nirmala tidak pernah mengatakan perasaannya. Pertama, karena dia khawatir akan ditertawakan, dan kedua, untuk pertama kalinya dia tidak yakin bisa membaca pria. Biasanya, dia pembaca pria yang hebat. Dia tahu saat seorang pria menyukainya, atau menginginkan sesuatu darinya, atau bosan dengannya, dan lain sebagainya. Tapi Raya adalah jenis pria yang sulit ditebak. Apakah dia menyukainya? Apa dia begitu hanya karena dia playboy cap duren tiga? Apa dia memang selalu begini menyenangkan? Apa dia selalu seperti ini dengan semua wanita? Apa dia menganggap dirinya istimewa? Apa dia malah hanya menganggapnya adik? Pertanyaan-pertanyaan itu sering berkelebat di sela-sela obrolan panjang mereka, terutama saat Nirmala mengamati laki-laki itu bicara. Dan dia akan segera menepiskannya. Berusaha meyakinkan diri sendiri kalau cinta tidak selalu harus diungkapkan.

Sedangkan laki-laki itu… hemm, memang benar dia playboy dan punya kemampuan istimewa untuk membuat gadis-gadis mengaguminya. Dia cerdas. Cukup cerdas untuk menyadari kalau Nirmala beberapa kali salah tingkah, beberapa kali tersipu-sipu, beberapa kali gagal fokus, dan sering kali mengamatinya begitu dalam. Ekspresi dan bahasa tubuh gadisku terlalu jelas dan dia menyukai semua itu. Dia memang menyukai Nirmala. Tapi entah karena alasan apa, dia juga menolak untuk mengungkapkannya. Dia menolak untuk mengakui perasaan itu. Bahkan pada dirinya sendiri. Cangkir demi cangkir kopi, obrolan demi obrolan, dihabiskannya dalam penyangkalan. 

Cangkir kopi ke delapan ratus delapan puluh enam.
Hari ini aku melihatnya di tempat parkir. Aku ingin memanggilnya. Senang karena bisa bertemu dengannya setelah sekian lama. Sebelum aku sempat melakukannya, seorang gadis cantik menghampirinya dan menggandeng tangannya. Dan dia mengacak rambut gadis itu, persis seperti yang dulu dia lakukan padaku. Dan mereka terlihat begitu bahagia. Mungkin dia memang tidak pernah menyukaiku. Gadis membosankan yang suka menyendiri. Dia pasti lebih menyukai gadis yang seperti itu. Populer dan punya banyak teman. Mungkin sebenarnya dia tidak berhenti minum kopi sama sekali. mungkin itu hanya alasannya untuk tidak menemuiku. Mungkin dia hanya tak ingin bersamaku.

Gadisku menutup buku catatannya kemudian memandang ke luar jendela kaca sambil menggigiti ujung pulpennya. Saat dia menyentuhku, aku bisa merasakan dia memutuskan untuk mengubur perasaan itu selamanya. Dia percaya waktu akan menyembuhkan semua luka. Waktu akan membuatnya lupa.
Cangkir kopi ke sembilan ratus.
Andai saja aku tidak harus menunggu kehidupan selanjutnya untuk menjadi kunang-kunang. Aku berharap bisa berubah sekarang saja. Aku akan terbang ke rumahnya, mengintipnya dari tempat yang aman. Dia sedang apa?

Selesai menuliskan itu, tiba-tiba saja seseorang muncul.
“Aku boleh duduk di sini ya?” tanya seorang gadis cantik berambut pendek. Nirmala terperangah. Dia menggenggamku terlalu kuat. Pikirannya berkelebat. Gadis di tempat parkir itu? Diikuti perasaan jengkel. Bukankah masih banyak meja lain yang masih kosong? Tapi dia tidak bisa menolak. Akan terlihat terlalu kasar. Nirmala hanya mengangguk sambil berusaha tersenyum.

“Iya,” katanya pendek. Dan langsung merasa bodoh. Kenapa dia tidak bisa mengatakan hal lain? Lagi pula apa yang akan dikatakannya? Hai, kamu pacarnya temanku ya? Tidak mungkin kan, dia ngomong begitu? Yang aneh, gadis berambut pendek itu juga terlihat sama tidak nyamannya. Dia sengaja memilih duduk di meja yang sama, tapi kemudian bingung sendiri sampai-sampai dia mengeluarkan buku kuliah dan pura-pura asyik membaca.

Semenit terasa bagaikan berabad-abad yang menyiksa bagi mereka berdua. Makanya ketika Dona datang untuk menanyakan pesanan, aku merasakan kelegaan memenuhi udara.
“Coklat hangat, dengan marshmellow,” kata gadis berambut pendek. Dona menangguk.
“Tambah kopinya mbak Mala?” tanyanya kemudian.
“Ah, enggak,” jawab Nirmala. Padahal ini baru cangkir pertamanya. Dona mengangguk lagi dan berlalu. Segera saja, udara dipenuhi oleh keheningan yang jauh lebih memekakkan. Tidak ada yang bicara. Bahkan menghela nafaspun ditahan-tahan.
Nirmala punya banyak pertanyaan untuk gadis berambut pendek yang menenggelamkan wajahnya sebanyak mungkin ke dalam buku. Tapi tak ada satupun pertanyaan yang keluar. Sebelum dadanya meledak, gadisku memutuskan pulang lebih awal.

Cangkir kesembilan ratus satu.
Apa yang dilakukan gadis itu di sini kemarin? Jelas sekali dia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak berani. Seperti aku berani saja. Tapi tetap saja. dia sengaja duduk di meja ini. Di tempat Raya biasa duduk. Dan berdiam diri seperti itu? Apa dia sengaja mengintimidasi? Apa dia ingin menunjukkan betapa dia lebih segalanya dibanding aku?
“Sepertinya aku jatuh cinta pada meja ini,” kata seseorang. Tentu saja. Gadis itu lagi. Memangnya siapa lagi yang begitu isengnya duduk di tempat yang sudah diduduki orang, sedangkan masih banyak tempat kosong? Lagi-lagi Nirmala terperangah. Dia sama sekali tidak belajar dari hari sebelumnya. Emosi Nirmala memancarakan kejengkelan. Setelah mengambil Raya, sekarang gadis itu ingin mengambil mejanya juga? Nirmala mengemasi buku catatannya dan bersiap pergi.

“Tunggu! Jangan pergi! Maaf kalau aku mengganggu,” kata gadis itu. Nirmala menahan kejengkelannya sambil berusaha mengendalikan nafasnya.
“Maaf, aku tidak bermaksud kurang sopan. Aku hanya ingin ngobrol. Oya, namaku Lily,” katanya sambil mengulurkan tangan.
“Mala. Nirmala,” jawab Nirmala sambil menerima uluran tangannya.
“Maaf sudah mengganggumu dua hari ini,” kata Lily.
“Tidak masalah. Bukan kamu yang salah. Aku yang antisosial. Aku emm, suka sendiri,” kata Mala.
“Emm, oke. Aku juga suka sendiri kadang-kadang. Tapi tidak terlalu sering,” Lily nyengir.
“Jadi, kamu selalu duduk di sini?” tanyanya kemudian. Nirmala mengangguk.
“Aku juga suka. Posisinya pas banget,” katanya lagi. Nirmala tersenyum. Memandang pantulan lampu di jendela kaca.
“Lampu ya?” tanya Lily. “Jadi itu yang kamu suka dari tempat ini?” tanyanya.
“Iya. Cantik kan? Seperti kunang-kunang,” jawab Nirmala.
“Kamu suka kunang-kunang?” tanya Lily lagi. Nirmala mengangguk semangat.
“Jangan diketawain ya… di kehidupan yang kedua nanti, aku kepengen jadi kunang-kunang,” kata Mala.
“Aku juga. Bukan jadi kunang-kunang sih. Aku pengennya jadi semut. Mereka itu menakjubkan tahu nggak?” dan malam itu tak terasa berlalu. Mereka mengobrol riuh tentang kunang-kunang, semut, dongeng, dan banyak hal. Tapi tak sekalipun menyinggung tentang Raya. 

Cangkir kopi kesembilan ratus sembilan puluh sembilan.
Kunang-kunang bersahabat dengan semut. Rasanya sekarang aku tak keberatan lagi kalau ternyata tidak pernah ada kehidupan yang kedua dan tidak ada reinkarnasi. Aku sudah punya sahabat semut. Dan ternyata kami cocok. Aku mengerti kenapa Raya memilih Lily. Dia gadis yang menyenangkan. Sekarang aku tidak kesepian lagi.

Nirmala punya hobi baru sekarang. Dia suka mendekorasi ruangan. Hobi baru itu membuatnya tetap sibuk dan membantu perasaannya menjadi lebih baik. Dia juga mengganti buku catatatannya dengan yang baru. Yah setelah catatan terakhirnya di bawah hitungan keseribu.

Cangkir kopi keseribu.
Aku akan berhenti minum kopi. Raya benar. Kopi mengandung terlalu banyak kenangan, dan meskipun tidak membunuh, tetap saja menyakitkan. Aku tak tahan lagi. Tentu saja hitunganku harus berhenti di sini. Kenangan saja sudah buruk. Untuk apa aku menghitungnya setiap hari?
Setelah itu, selama dua hari, Nirmala tidak muncul. Aku mulai khawatir, tapi kemudian dia datang bersama Lily. Di sore hari, bukan malam seperti biasanya. Dona menghampiri mereka dengan notes di tangan.
“Coklat dan kopi?” tanyanya.
Nirmala menggeleng kemudian tersenyum.

“Es coklat, gelas besar. Aku sudah berhenti minum kopi sekarang,” katanya ceria.
“Wah, kenapa?” tanya Dona, tidak menyembunyikan keheranannya.
“Terlalu banyak kenangan. Ha ha ha,” Nirmala tertawa ringan. Tampak begitu baik-baik saja. Lily dan Dona ikut tertawa.
Dari meja sebelah, aku melihat kehidupan gadis yang begitu normal. Aku tersenyum pahit. Andai saja dia tahu. Bukan kopi yang mengandung banyak kenangan, tapi kami, cangkir-cangkir yang sarat jejak emosi. Kemudian aku merasakan emosi baru, rasa cemburu saat Dona menyentuh dan mengangkatku dari meja.
*****



Blog post ini dibuat dlam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory diselenggarakn oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit conseat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amei.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Juni 2019 (2)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (15)
  • Februari 2018 (1)
  • Januari 2018 (1)
  • Oktober 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (2)
  • Juni 2017 (3)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (2)
  • Maret 2017 (8)
  • Februari 2017 (10)
  • Januari 2017 (3)
  • Desember 2016 (6)
  • Oktober 2016 (4)
  • September 2016 (6)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (3)
  • Juni 2016 (8)
  • April 2016 (1)
  • Maret 2016 (6)
  • Oktober 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • Kesumat Sang Raja Jerawat
  • Ngeblog seaktif Facebook-an. Gimana sih caranya?
  • Mengukur Kualitas Diri Tidak dengan Membandingkan
  • PESAN MORAL LOMBA-LOMBA AGUSTUSAN
  • PENTINGNYA MEMPERHATIKAN LINGKUNGAN PERGAULAN ANAK

Yang Nulis

Isthar Pelle
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates