• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MADGIRL!




Orang-orang pada nulis cerita hijrah, aku juga mau aaaah. Tapi hijrahnya kali ini bukan dari celana gemes menuju hijab syar’i  ya, tapi dari jaman alayah menuju kedewasaan. Ciee, dewasa cieee. 

Oke, pertama-tama, ijinkan aku mengaku bahwa, aku pernah alay. Yup! Bahkan lama banget alay. Bertahun-tahun. Sekarangpun masih. Cuma sebisa mungkin kukurangi kadarnya. Setiap kali alaynya kumat, aku akan mengingatkan diri sendiri “Ingat, Pel. Hijraaaah. Ingat hijraaaah,” sambil bernafas secara teratur. And it helps a lot. 

Sebenernya, kalau bisa sih aku pengen kaya Peterpan yang nggak dewasa-dewasa, tinggal di Neverland tempat mimpi nggak ada habisnya. Tapi aku sadar kalau aku hidup di realita, dan bentar lagi aku akan ulang tahun ke 26. Dan aku inget, jaman masih unyu dulu, aku kalau liat cewek usia 26 tuh udah yang kaya mbak-mbak banget. Dewasaaa banget. 

Jadi aku pengen hijrah karena itu? Ya nggak juga. Tapi lebih karena proses. Fase alay is supposed to be over. Dan mungkin ini titiknya. Demi itu semua, aku mencanangkan program operasi demi meningkatkan kualitas diri yang lebih baik. Act like a grown up, think like a grown up, talk like a grown up, dan lain-lainnya like a grown up. 

Apa saja yang kulakukan?

1.      Lebih rapi dan disiplin.

Ini ngaruh banget ternyata. Jaman dulu, bangun tidur nggak lipet selimut sampai ntar melem tidur lagi tu aku biasa. Nggak ngerasa ada yang salah sama sekali. Tapi itu ternyata ngaruh ke kinerjaku seharian. Kalau bangunnya aja udah males, seharian bawaannya maleeees terus. Makanya aku sekarang berusaha keras jadi lebih rapi. Bangun tidur, selimut dilipet rapi, sprei dibenerin sampai rapi, trus seluruh kamar dibersihin dan dirapi-rapiin. Dan ternyata itu ngaruh. Berfungsi seperti pemanasan. Aku jadi semangat.
Yang kedua adalah disiplin. Dulu aku menganggap discipline is boring. Tapi ternyata enggak. Discipline can be fun, tergantung gimana kitanya. Aku sadar passionku banyak. Dan aku nggak bisa kalau disuruh memilih salah satu atau salah dua aja. Nggak bisa. Bertahun-tahun sudah aku coba.
Jadi ya semuanya emang harus dapet jatah. Kalau nggak disiplin, yang terjadi adalah malah nggak karuan semua. Makanya aku harus pinter-pinter mem-break down waktu seharian biar dapet semuanya. Dan yang terjadi malah aku jadi nggak gampang bosen soalnya seharian kegiatannya bervariasi.
Meskipun nggak saklek, urut-urutannya, tapi aku punya to do list yang harus diselesaikan tiap harinya. Harus. Nggak peduli gimana urutannya. Setelah terbiasa toh ternyata jadi terinstall di alam bawah sadar dan berjalan otomatis.
Misalnya tiap hari aku mewajibkan diriku sendiri untuk olahraga minimal 30 menit sama latihan nyanyi minimal sepuluh lagu. Aku akan memenuhinya meskipun waktunya nggak mesti. Soalnya kerjaan juga nggak pasti kadang bisa disambi, kadang nggak terlalu bisa disambi. Jadi kondisional aja. Tapi tetep harus ditunaikan.
Jualanpun ada to do listnya tersendiri. Upload desain baru, nulis status story telling berapa kali, share ke grup, jam berapa belanja supplies, jam berapa harus udah selesai packing, jam berapa kirim barang, dan sebagainya.
Dengan melakukan cara itu, semuanya dapet jatah dan tetep nggak bosen karena kegiatannya macem-macem.
Kalau to do list hariannya udah tercoret semuaaa, baru aku bisa santai-santai kaya misalnya nonton film, main instagram, atau baca bacaan ringan.

2.      Talk less do more.

Talk di sini nggak berarti mentah ngomong pakai mulut, tapi termasuk update status. Dulu aku seriiing banget update status. Sehari bisa sampai sejuta kali kayaknya. Soalnya dulu aku belum punya jadwal harian yang harus dipenuhi, jadi waktunya kaya selo banyak gitu dan aku suka mikir-mikir “Ngapain yaa, ngapain yaa,” trus akhirnya fesbukan deh. Padahal kerjaan aslinya banyak, cuma dodolnya, nggak kepikir. Ntar pas sadar, baru panik. Dan tentu saja nggak lupa update status dulu lagi: “Aduuh, baru sadar kalau ternyata banyak kerjaan.” *sigh
Gara-gara itu, 24 jamku jadi sama sekali nggak produktif. Aku kebanyakan ngomong, kerjanya nggak ada.
Kalau sekarang tak balik. Kerjain dulu semuanya, kalau ada waktu selo baru update status, gitu.
Namanya juga proses kak, belum bisa kalau mendadak jadi nggak update status sama sekali. Hihi.

3.      Read more.

Masa-masa alay itu, salah satunya ditandai dengan kurang ilmu kurang pengalaman, tapi sok merasa yang paling pintar. Serius deh, kalau aku nemu mesin waktu, aku akan balik ke masa lalu dan menyuruh diriku sendiri baca lebih banyak lagi. Dari dulu aku emang suka baca sih. Tapi masih kuraaaang. Kurang banget, kurang banyaaaak. Dan itupun udah bikin aku belagu. Ngerasa paling pinter sejagad.
Makin ke sini, makin banyak yang dipelajari, makin sadarlah aku betapa kesongongan masa lalu itu memalukan. Ooh ternyata gini ya? Ohh ternyata yang bener gitu? Kok dulu aku taunya gini sih? Duhh, salah dong. Heuheuheu. Dan seterusnya. Trus diriku terbelah jadi dua. Yang satu bisa terbang dan ngomong dengan bijak, “Makanya Pel, nggak usah songong. Baca lagi yang banyak!” Yang satu cuma bisa menundukkan kepala dengan muka merah. Malu sejadi-jadinya.
“I, i… iya.”

4.      Listen more.

Aku tu keras kepalanya nggak ketulungan. Sekarang juga masih sih. Mungkin emang sifat bawaan apa gimana ya? Cuma bedanya kalau sekarang ya aku akan berusaha bangeeeet untuk lebih mendengarkan orang lain. Kalau dulu, nggak peduli pendapatku bener atau salah, aku nggak mau dengerin orang. Yang penting ngeyel aja dulu. Makanya sering kejadian udahannya aku ‘kisinan’ kalau ternyata salah. Kisinan itu apa ya, aku nggak nemu istilah yang tepat dalam bahasa Indonesianya. Emm, mungkin malu sendiri gitu lah kira-kira.
Kalau sekarang, aku memaksa diriku sendiri untuk mendengarkan. Mendengarkan serius sekalipun aku nggak yakin yang orang omongin bener. Setelah itu, cari referensi lain, nyari pendapat ketiga, keempat, dan seterusnya, yang selanjutnya kuolah, kupikir lagi berkali-kali dan baru menghasilkan kesimpulan. Jadi bukan sebaliknya, ngeyel dulu, salah, kisinan, baru mikir. Hahahaha.
Dan sekarang kalau seandainya aku udah dengerin, cari-cari referensi ke sana ke mari, dan yakin kalau berada di posisi yang benar juga aku nggak akan ngeyel atau bersorak penuh kemenangan. Cukup tau aja. Ini perubahan besaaaaaar buatku. Lumayan bikin aku bangga pada diri sendiri. *menyibakkan alis

5.      Think deeper.

Jaman alay tuh pikiranku dangkal banget. Dan kedangkalan berpikir ini menyebabkanku jadi gampang ngejudje orang. Gampang banget, tanpa mempertimbangkan kemungkinan lain, tanpa melihat gambaran yang lebih besar, dan sering kali judgement ini berdasarkan kecenderungan kebencian atau iri hati saja. Makanya suka nggak nyambung dan maksa. Premisnya apa, kesimpulannya apa. 

Contoh:
Premis 1               : Temenku kayaknya nggak punya kerjaan karena hidupnya keliatannya santai banget. 
Premis 2               : Dia menolak pas tak ajakin seminar bisnis yang bermanfaat tanpa alasan yang jelas.
Kesimpulanku      : Dia anak pemalas kebanyakan alasan yang nggak mau sukses.
Padahal kenyataannya bisa aja dia udah punya bisnis mapan, dan waktu itu dia nggak bisa ikut karena ada jadwal kegiatan sosial berbagi sebagian dari penghasilannya. Cuma dia nggak mau bilang karena dia anaknya humble bangeeeet. Nggak kaya aku, yang dikit-dikit pamer. Siapa yang tahu kan?

Contoh 2:
Premis 1               : Ketemu cowok ganteng, cakep, penampilan rapi, pakai barang-barang branded,     nongkrongnya di tempat mahal-mahal.
Premis 2               : Pacarnya kebetulan juga cantik, keren, elegan, dan keliatan ‘mahal’.
Kesimpulanku     : Ni cowok pasti manja, kaya-raya karena warisan, bego, nggak pernah baca buku, plus nilai cewek dari luarnya aja nih. Pasti!
Pas ngobrol e la dalaaaah, pinter banget sampe bikin aku ngowoh-ngowoh. Pas baca tulisan-tulisannya apalagi. Dan ceweknya ternyata nggak cuma cantik di luar aja, tapi otaknya juga bikin minder lah pokoknya. Udah gitu mandiri lagi. Penampilan gaya abis gitu nggak mintain duit cowok atau ortunya. Jadi ‘kisinan’ lagi deh akunya.

Jadi gitu. Setelah gede ini aku baru sadar kalau orang itu multidimensional. Orang itu kaya bawang. Punya lapisan-lapisan yang buanyaaak yang kita belum tau. Yang kita lihat itu mungkin hanya kulit paling luarnya aja. Itupun tipiiiis banget. 

Ngejudge semena-mena tanpa tahu latar belakangnya, tanpa repot-repot nyari tau lebih banyak, atau bahkan tanpa sempet mempertimbangkan kemungkinan lain adalah sangat-sangat dangkal dan nggak dewasa. 

Dulu aku sering kaya gitu. Parahnya, seringnya judgement itu karena aku iri aja. Dia kok hidupnya bisa enak banget kaya gitu sih? Ini pasangan kok keren banget sih? Dan banyak lagi.
Dan seolah ngejudge tanpa dasar aja belum cukup, aku akan menghakimi mereka dengan standarku sendiri. “Kalau aku jadi kamu, aku bakal gini, gini, gini,” atau “Kalau aku jadi dia, aku nggak bakalan gitu,” atau “Halah, kalau dibayarin juga aku bisa jadi secantik dia.”

Padahal aku nggak tau lho, apa aja yang sudah mereka alami, latar belakangnya gimana, pertimbangan-pertimbangan apa yang mereka ambil, dan lain sebagainya. Ibaratnya aku maksa orang untuk pakai sepatuku dan aku bahkan nggak tau ukuran sepatunya apa. Apalagi selera sepatunya gimana. Ini sangat-sangat egois dan nggak adil. 

Betapa banyaknya orang yang udah kujudge secara nggak adil kaya gitu. Aku merasa berdosa dan kotooor, kakak. Aku kotooooooor. *kemudian mandi besar

6.      Sabaaaaaaaaaar.

Nama Pelle itu, kalau disandingin sama kata sabar sama sekali nggak matching. Pelle itu sama sekali nggak sabaran anaknya. Temperamen nggak jelas dan hobi banget marah.
Saking parahnya, dulu pas pertama-tama jualan online, karena belum terbiasa ya, kalau ada orang yang ngeselin pasti tak marahin. Misalnya orangnya mbuleeet gitu. Udah didesainin, masih minta revisi mulu sampai sebelas kali, habis itu ujung-ujungnya milih desain yang pertama, dan yang paling ngeselin lagi, abis itu bilang “Nanti ya sis, aku kabari lagi jadi apa enggaknya.” Habis itu berlalu nggak ada kabar. Hanya remah-remah chat yag tersisa.

Duluuuuu, dulu ni ya, pas masih alay, aku akan ngamuk sejadi-jadinya. Ngamuk langsung ke orangnya, sama ngamuk di status sampai puluhan lembaaaar.
Nggak penting banget pokoknya. Ada dua kerugian yang aku alami di sini. Pertama, waktuku jadi habis buat ngamuk yang nggak ada gunanya, kedua, calon pembeli lain malah jadi takut dan males buat deket-deket. “Yang jualnya nggak ramah.” Sungguh rugi bukan?

Kalau sekarang ada kejadian kaya gitu, yaa tetep kesel sih. Dan itu normal. Penjual On Line mana juga yang nggak kesel berhadapan sama orang kaya gitu? Hahaha.
Tapi sikapnya aja sekarang yang udah beda. Kalau sekarang, ada kejadian kaya gitu, aku akan narik nafas, trus ngebales “Oke sis,” terus ngasih emot peluk meski diem-diem sambil makan tang sih tetep.
Waktu yang harusnya terbuang percuma buat ngamuk, bisa tak pakai secara produktif untuk banyakin promo dan ngurusin customer lain. Akhirnya tetep ngomset. Tetep untung. *ngitung duit

7.      Self control. Lebih stabil.

Aku anaknya moody, dan itu parah banget. Ekstrim gitu lah. Semenit bahagia, menit berikutnya pengen bunuh diri. Semenit merasa bersyukur dan betapa hidup ini sangat berharga, menit berikutnya membenci seluruh dunia.
Kaya gituuuu terus sampai akunya capek sendiri.
Sekarang udah enggak untungnya. Mungkin karena udah capek itu tadi. Palingan kalau kumat cuma pas PMS aja, sehari tau-tau murung, tapi habis itu udah, normal lagi. 

Hal ini juga berpengaruh ke sikapku dalam menangani kritik, gosip, kesalahpahaman, cara diskusi, dan lain sebagainya. Lebih stabil, otomatis jadi nggak terlalu gampang tersulut emosinya.
Kalau dulu yang penting ngegaaaas aja. Sekalipun salah, yang penting marah-marah dulu. Tapi habis itu nggak berani diskusi sehat dan malah minggat ke akun sendiri, update status baru yang intinya menggalang dukungan sebanyak-banyaknya, plus nyindir-nyindir yang beda pendapatnya. Masih pakai acara bisik-bisik di grup pula. “Iiiih, si ini ternyata gini ya. Masa pendapatnya gini gitu.” Jijik banget ya, aku dulu? Hahaha.

Dulu nggak bisa menerima perbedaan pendapat. Yang pokoknya kalau orang lain nggak sependapat sama aku berarti dia salah, udah nggak usah jadi temennya lagi. Temen itu harus senantiasa sependapat, setuju sama pendapatku, karena aku yang paling bener. Titik.

Kalau sekarang kontrol lah ya. Kalau ada perbedaan pendapat, aku menerima dengan suka cita. Mikir juga, jangan-jangan pendapat dia yang bener.
Bahkan ada orang yang bilang bumi itu datar aja aku nggak langsung marah-marah, tapi mikir lagi. Jangan-jangan bener wong aku belum pernah liat bumi langsung dari luar angkasa kok. Main paling jauh juga baru ke Pacitan, belum ngerasain perbedaan waktu. Tapi ya nggak trus menelan mentah juga. Nyari referensi lagi, mempertimbangkan fakta-fakta, baru menarik kesimpulan mana yang lebih masuk akal. 

Emosi yang stabil ini berguna terutama untuk diriku sendiri. Dengan self control yang lebih baik, nggak gampang meledak atau mooodswing, jadinya makin bahagia. Jiwanya juga nggak terlalu lelah jadinya kak. Lelah jiwa itu nggak baik untuk kesehatan kan?

8.      Bisa menentukan prioritas.

Kalau dulu, mentang-mentang passionnya banyak, aku pengen semuanya. Nggak bisa menentukan prioritas sama sekali. Ini gawat, karena bukannya dapet semua, tapi jadinya malah berantakan semua. Aku harus atur prioritas. Mana yang harus dapet porsi pikiran paling banyak, mana yang nggak terlalu.
Mana yang penting banget, penting aja, nggak terlalu penting, sampai nggak penting sama sekali. 

Ibu-ibu salon depan pernah ngatain aku nggak bisa sosialisasi karena aku emang nggak pernah ngumpul. Paling nyapa-nyapa aja kalau lewat atau ketemu. Bukan karena aku sombong atau apa, tapi kalau ngumpul tuh kegiatannya tak lain dan tak bukan adalah ngegosip.
“Eh, Mbaknya yang kamar nomer ini kemarin datang sama pacarnya ya?”
“Bukan, itu suaminya.”
“Suami piye, wong belum nikah kok. Dia kan statusnya belum cerai dari suaminya yang dulu. Kadang orangnya juga ke sini,” dan bla bla bla deh. Itu petikan gosip yang aku denger secara nggak sengaja. Lha kalau aku ikut ngumpul? Bisa dibayangin gimana kotornya telinga ini? 

Dalam daftar skala prioritasku, acara ngegosip itu masuk ke kategori nggak penting sama sekali.
Soal sosialisasi, yang penting aku tetep ramah, selalu menyapa dengan ceria, dan kalau mereka butuh pertolongan, akunya ada. Ngapain juga tiap ngegosip rajin ngumpul tapi giliran temen ada masalah nggak ngebantuin, dan yup, malah sibuk ngegosipin?

Aku juga nggak akan bela-belain main ke luar kota sekalipun alasannya buat networking kalau kenyataannya di rumah aja banyak orderan belum dikerjain. Mungkin networkingnya emang dapet sama beberapa orang baru. Tapi belasan customer jadi protes gara-gara kerjaaannya molor? Ya mikir lagi lah. Dalam hal ini, networking dengan orang baru emang penting, tapi ketepatan waktu dan kepuasan customer masuk kategori penting banget. Jadi kalian juga pasti udah tau kan, mana yang kudahulukan? Yah, namanya juga usaha masih kecil, apa-apa masih dikerjain sendiri. Kecuali aku emang lagi selo banget, nggak ada kegiatan penting lain. Tentu aku akan pergi dengan senang hati. 

Itu dia beberapa hal yang kulakukan dalam rangka hijrah menuju kedewasaan.
Tentu saja aku masih jauh, jauuuuuuuuh dari jadi orang dewasa yang baik. Kadang juga masih suka lupa dan kumat alaynya. Namanya aja proses kan?

Oya, dengan mengatakan berusaha jadi dewasa di sini, bukan berarti aku akan meninggalkan sisi kanak-kanak yang berpikir tanpa kotak. Aku masih suka main ke rumah Piqui di atas awan dan berteman dengan hewan peliharaannya, si kura-kura terbang kok. Perubahan lebih ke sikap aja kali ya. Kalian ngerti lah, maksudku gimana.

Btw, kalau kalian punya saran apalagi yang bisa kulakukan untuk meningkatkan kualitas diri biar jadi lebih dewasa dan nggak kolokan, please feel free to comment yahh. Kutunggu lohh.
Makasih banyak sekali lagi, udah baca. 

Sampai jumpa di postingan berikutnya.
Bye!

Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar



Hai, pembaca!
Oke, I know, Inside Out itu film lama. Tapi aku memang nggak pernah bermaksud nulis hal-hal yang baru-baru dan lagi ngetren aja kan? Seperti kata orang bijak di suatu majalah remaja yang pernah tak baca jaman dahulu kala, ngikutin tren itu sangat-sangat bikin kita jadi nggak keren. So yeahh, mari jadi kuno! Yaaaaaay!
Pokoknya, aku suka, suka, sukaaaaaaaaa banget sama film satu ini. Sampai rasanya terngiang-ngiang terus gitu di kepala kalau nggak tak tulis. Kalian pasti udah tau kan ya, ceritanya gimana. Dan karena ini film lama, tak pikir nggak dosa-dosa amat kalau ada spoiler ya kaaan?
Pertamanya tau film ini, aku nggak kepikiran sama sekali lohh kalau film ini tuh ceritanya tentang otak. Iya, otak manusia. Dari judulnya, tak pikir ini tu film tentang baju yang kebalik. Yah, hehehe.  
Pas kemunculannya juga aku nggak langsung nonton. Lamaaaa berselang di saat orang-orang udah nggak ada yang ngomongin lagi, aku baru nonton. Dan selama selang yang lama itu, aku juga masih salah paham terus, mengira ini film tentang baju kebalik. Makanya begitu nonton dan ceritanya sama sekali lain dari yang kubayangkan, tercenganglah aku. *zoom in ke muka tercengang
Jadi, film ini menceritakan tentang otak manusia, cara kerjanya, dan akibatnya pada si manusia. Tentu saja karena ini film, ceritanya dibikin sedemikian rupa dan emm, kartun (apasi istilahnya?). Tapi gara-gara nonton film ini, aku jadi sedikit banyak mudeng cara kerja otak tau nggak sih? Aku jadi ngebayangin aja gitu, gimana kalau tiap materi pelajaran tu dibikin film animasi kaya gini. Pasti cepet mudeng, nggak bosen, dan menyenangkan deh pokoknya. Mahasiswa semester akhir bisa coba nih, ajuin sebagai judul skripsi. Judulnya Meningkatkan Pemahaman Siswa dengan Film Animasi Sebagai Metode Pembelajaran atau gimanalah yang lebih catchy. Jadi pelajaran di sekolah nanti tiap bab dibikin filmnya. Hihihi. Seru ya. Nanti sekolahan itu bentuknya kaya bioskop. Kelas-kelasnya jadi studio. Tugasnya nulis review, dan ujiannya jawab soal-soal sesuai film yang ditonton. Yeaaa, sekolah bisa jadi begitu menyenangkan bukan?
Oke, stop mengkhayalnya! Sekarang balik ke Inside Out!
Inside Out ini menceritakan aktivitas yang terjadi di otak seorang anak cewek bernama Riley. Tadinya semua hal berlangsung wajar-wajar saja, sampai keluarga Riley memutuskan pindah rumah dari Minnesota ke San Fransisco. Nah, pas proses pindahan ini terjadi ‘kekacauan’ di dalam otak yang menyebabkan emosi Riley jadi nggak stabil. Jadi pemarah, pemurung, sedih, galau, sampai akhirnya feel numb alias nggak ngerasain apa-apa. Kalian pasti pernah juga kan mengalami kaya gitu? Ada masalah, trus pusing banget, galau, sampai akhirnya nggak sanggup ngerasain apa-apa lagi. Nggak tau mau gimana lagi. Pernah kan? Trus akhirnya kalian ‘meledak’, nangis tersedu-sedu, trus reda deh.
Nah, ternyata hal-hal aneh yang sering nggak kita pahami itu, yang rasanya nggak bisa kita kontrol, itu semua terjadi gara-gara orang-orang kecil di dalam kepala kita gaes. Jadi kalau di Inside Out, otak itu dibagi menjadi beberapa bagian. Pusatnya, Headquarter, dihuni oleh lima emosi dasar manusia. Joy (riang), Sadness (kesedihan), Fear (ketakutan), Disgust (jijik), dan Anger (amarah). Nah, lima orang ini yang mengendalikan semua aktivitas di dalam otak yang berakibat pada tindakan kita.
Emosi yang mendominasi di masing-masing orang berbeda. Contohnya pada otak Riley yang mendominasi adalah Joy sehingga di kehidupan nyata dia adalah anak yang periang. Jadi misalnya kamu orangnya melankolis, mungkin yang mendominasi headquarter otakmu adalah Sadness, kalau kamu pemarah, yang mendominasi adalah Anger, dan kalau kamu penakut, yang mendominasi adalah Fear. Tapi manapun yang mendominasi, masing-masing emosi tetap memiliki peran. Dan seiring tumbuhnya kita menjadi dewasa juga emosi ini nantinya lebih bisa bekerja sama. Makanya orang kalau semakin dewasa emosinya lebih stabil kan?
Emosi-emosi ini mengendalikan semacam alat pengendali gitu, dan masing-masing tindakan, keputusan, yang mereka lakukan akan menghasilkan kenangan/ingatan. Ingatan-ingatan dalam waktu sehari terkumpul di rak-rak di headquarter disebut ingatan jangka pendek, dan ketika kita tidur, ingatan ini dikirim ke rak yang jauh, menjadi ingatan jangka panjang yang bisa dipanggil lagi kapan-kapan. Beberapa ingatan yang nggak pernah diingat-ingat lagi akan memudar dan dibuang oleh petugas kebersihan dan itu artinya dilupakan. Dari sekian banyak ingatan itu, ada beberapa yang menjadi ingatan inti (core memory) dan inilah yang membentuk kepribadian seseorang. Core memory biasanya adalah sesuatu yang membekas dan terasa penting dalam hidup.
Di Inside Out, ceritanya gara-gara acara pindahan itu, ada core memory baru. Selama ini core memory Riley warnanya kuning yang artinya riang. Tapi kali ini core memory yang muncul warna biru yang artinya sedih. Joy nggak rela core memory sedih ini menjadi bagian dari kepribadian Riley yang periang. Dia mencegahnya masuk ke err, semacam rak khusus core memory gitu, berusaha membuangnya ke memory jangka panjang yang justru mengakibatkan dia dan Sadness ikut tersedot juga ke memori jangka panjang yang berupa labirin-labirin tak terbatas yang super memusingkan dan pokoknya kalau aku jalan-jalan ke sana sendirian pasti bakalan tersesat dan nggak pernah bisa pulang. (Pantes aku sering tersesat di pikiranku sendiri. *sigh)
Mereka berpetualang nyari jalan pulang sampai mereka ketemu dengan Bing Bong. Bing Bong itu imaginary friendnya Riley pas masih kecil. Tapi sekarang Riley udah nggak pernah main sama imaginary friend lagi jadi basicly Bing Bong ini sekarang nganggur dan kerjaannya cuma keliling-keliling aja gitu ngumpulin barang-barang. Akhirnya mereka berpetualang bertiga deh.
Di jalan menuju headquarter, mereka lewat beberapa bagian dari otak. Ada bagian pemikian abstrak, imaginary land, bahkan mereka mampir ke studio production tempat syuting mimpi. Hehehe. Oya, di otak itu ada kereta pikiran. Kereta pikiran ini bekeja selama kita terjaga dan berhenti kalau kita tidur. Makanya kalau kelamaan begadang, pasti rasanya capek dan pusing kan? Itu karena keretanya muter-muter terus tanpa istirahat.
Pelajaran penting lain yang kudapat dari soal emosi ini adalah, kita nggak seharusnya melawan emosi. Kenapa? Karena emosi nggak bisa dihentikan. Mau nggak mau, kita pasti selalu merasakan sesuatu kan? Yah, kecuali kalau pas mati rasa dan itu pastinya jarang-jarang banget terjadi. Tiap manusia lahir dengan segala macam emosi itu. Jadi di dunia ini nggak ada orang yang nggak punya rasa takut sama sekali misalnya. Atau sebaik apapun seseorang, pasti punya amarah dalam dirinya. Yang membedakan adalah sebaik apa kita bisa mengendalikannya. Di Inside Out memang, emosi-emosi itu yang menentukan semua tindakan kita, tapi di kehidupan nyata, kita bisa mengendalikan mereka.
Kadang kita merasa bersalah kalau habis marah-marah, atau menyalahkan diri sendiri karena takut pada sesuatu, atau sebel karena sedih. Kita pengennya seneng-seneng aja. Masalahnya, sebagai orang sehat normal, semua emosi kita juga berfungsi normal. It’s okay to be sad, to be angry, to fear on something, to be disgusted, karena itu normal. Kalau enggak berfungsi normal, maka mungkin itulah yang terjadi pada orang gila. Yang penting ya itu tadi, kita jangan sampai diperbudak oleh mereka. Tahu kapan membiarkan emosi mengalir, tahu kapan mengambil kontrol. Eyaaaa. *benerin kaca mata
Lebih detailnya, kalian bisa nonton sendiri sih. Aku sendiri mungkin masih akan nonton berkali-kali lagi soalnya aku emang suka banget sama film ini.
Oke gaes, kalian kalau punya pendapat tentang film ini, atau punya rekomendasi film bagus, tak tunggu banget lohh komentarnya. 

Anyway, makasih banyak udah baca, sampai ketemu di postinganku tentang film lagi nanti yaa! 


Love,
Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar



Hai gaes! Rubrik apa lagi ini, People?
Well, kalian masih inget kan, dulu aku pernah meluncurkan rubrik (plis deh, rubrik)  Kenalan yang tujuan dibuatnya adalah untuk ngomongin orang terkenal maupun apa enggak? Kalau lupa, kalian masih bisa baca lagi di sini. Setelah tak pikir-pikir lagi, kalau namanya kenalan kok kayaknya nggak cocok kalau buat ngomongin orang yang udah terkenal yah? Akhirnya aku mikir-mikir, dan ketemulah People. Kenapa People? Soalnya kalau tak tulis “Orang-orang” gitu kepanjangan. Dan yah, isinya emang ngomongin orang. Tadinya mau tak tulis Profil, tapi aku belum tentu ngebahas profilnya juga. Jadi ya udah lah ya, People aja? Sepakat kan? Udah, sepakat aja, daripada nggak mulai-mulai.
Jadii, ada apa ini dengan Awkarin dan Young Lex?
Nggak ada sih, cuma mau numpang tenar aja. *plak! Nggak perlu kan ya, aku basa-basi ceritain siapa mereka segala. Aku yakin kalian semua udah tau. Dan kenapa yang diomongin Karin sama Young Lex? Bukan selebgram atau Youtuber lain? Nggak ada alasan khusus. Pengen aja. Selebgram sama Youtuber lain mungkin akan dapet kesempatan buat dibahas juga di blog ini nanti, kalau mereka beruntung. *plak plak!
Pertama, aku mau bilang, kalau aku suka sama mereka. Sincerely. Menurutku mereka keren loh. Bisa berkarya, jadi kaya raya, dan masih tetep jadi diri sendiri. Jarang tauu, yang bisa kaya gitu. Kalau mau jadi artis jalur konvensional tuh banyak banget yang harus dikorbanin, salah satunya idealisme. Nurut kata yang punya modal, nurut selera pasar, dan seterusnya dan seterusnya.
Tapi ini mereka mandiri. Aku emang suka sama segalanya yang indie-indie kan pada dasarnya. Berkarya di jalur indie juga nggak gampang. Jauh lebih banyak tantangannya, terutama masalah udah kerja keras sungguh-sungguh, masih harus khawatir ada yang dengerin/nonton/ bahkan suka apa enggak dan seterusnya. Tapi social media is the real game changer emang sih. Seenggaknya musisi indie jaman sekarang lebih gampang buat promosi atau bahkan jualan lagu. Kalau musisi indie jaman dulu kan harus jualan CD, masuk ke radio-radio, bayar iuran biar bisa ikut manggung di event temen, dan lain sebagainya kan? Trus apa lagi ya, menurutku yang mereka lakuin nggak ada yang salah aja.
Of course, banyak juga yang nggak suka. Tapi kalian yang nggak suka inih, kenapa si gaes? Alasannya apa kok nggak suka? Ngasih contoh buruk ke followers? Omongannya kasar? Pakaiannya seksi? Tapi beneran itu alasannya apa kalian iri aja aslinya?

To be honest, pas pertama kali tau Awkarin aku juga sempet-sempetnya menghabiskan beberapa menit yang berharga hanya untuk bertanya-tanya. Kok bisa banyak banget sih followersnya? What’s on Karin that I don’t have? (Segalanya kali Pel, segalanyaaa). Tapi cuma beberapa menit sih, untungnya. Habis itu aku nyadar kalau sendirinya punya tugas, kerjaan, dan proyek yang harus dikerjakan. Dan udah gitu aja. Hidupku berjalan normal seperti biasanya. Bahagia dan nggak merasa terganggu.
Aku bukannya mau ngebelain mereka ya. Elah, aku ada di dunia ini aja juga mereka nggak tau. Tapi mumpung lagi iseng ngomongin mereka, aku mau coba ngebahas beberapa alasan orang-orang nggak suka sama mereka.

Omongan Kasar

Di video-videonya, Young Lex banyak disebut-disebut banyak ngomong kasar. Aku nggak tau banget soalnya aku belum liat semua videonya. Tapiii, kalau dipikir-pikir, dari jaman dulu sebelum Young Lex akhil baliq (gimana si nulisnya?) juga udah banyak rapper yang omongannya kasar. Jangankan anjing, liriknya bahkan ada yang secara eksplisit nyebut ‘ngentot’ dan ‘kontol’ (sorry lho ini, cuma ngasih contoh). Selain rapper juga banyaaak musisi yang liriknya mengandung kata-kata kasar. Kaya band indie temenku sendiri bahkan punya satu lagu yang isinya cuma maki-maki. Mengandung kata ‘asu’, ‘nggosu’, ‘tak idoni matamu’, dan lain sebagainya yang itu kasar banget. Sorry lagi ini, cuma ngasih contoh lho ya.
Aku dulu pas masih seusia Karin (buseeet, sekarang udah tua) juga suka banget ngomong kasar. Bahkan dulu ngobrol sama pacarpun kasar banget omongannya.
Tapi seiring dengan berjalannya waktu, aku sembuh sendiri. Sekarang aku udah nggak banyak ngomong kasar. Kalaupun maki-maki kadang-kadang aja kalau pas lagi jengkel banget. Jadi menurutku, omongan kasar ini fase aja kok aslinya. Ntar semua anak bakalan mudeng sendiri untuk nggak ngomong kasar kecuali emang perlu. #eh
Lagian ngapain sih, kok seolah-olah yang omongannya alus udah pasti lebih suci? Aku dulu punya loh temen yang omongannya alus banget, sopan santun, lemah lembut dan berbudi pekerti luhur. Tapi kerjaannya ngomongin sahabatnya sendiri kalau pas orangnya nggak ada. Sedangkan aku, kalau aku ada ngerasa nggak suka sama kelakuan dia, aku akan bilang langsung sama orangnya. Kasar emang. Tapi jujur. Tapi kaya gitu masing-masing orang emang beda sih. Ada juga yang alus dan emang beneran alus. Nggak pasti sih. Tapi berlaku juga sebaliknya. Yang kasar belum tentu rusak juga.

Pergaulan Bebas

Awkarin sering dugem, mabuk, trus dia ngerokok juga, dan lain sebagainya. Tapi halaaaah, orang yang bukan selebgram juga banyak yang kaya gitu. Temen-temen kuliahku dulu meskipun orang tuanya taunya anak mereka baik-baik aja dan belajar sungguh-sungguh, dapet transferan sangu ya pergi dugem juga. Mabuk sampai pingsan sampai harus digotong supir taksi juga. One night stand sama cowok yang baru kenal juga. Sama lah aslinya. Cuma temen-temenku nggak yang terkenal banget kaya Karin, makanya nggak banyak yang ngegosipin.

Pakai Baju Seksi

Menurutku sih pakaian Karin masih wajar-wajar aja kok. Banyak style blogger yang sering pakai baju terbuka juga. Yang pamerin punggung mulus, rok super pendek, dress dengan belahan dada sampai perut dan nggak pakai BH, dan banyak lagi lah. Banyak banget. Followersnya ya biasa-biasa aja. ngomen in English kalau nggak bilang ‘Kawaii”. Apa mungkin karena followersnya belum nyampe hampir sejuta juga? (Apa sekarang udah sejuta malah?) Entahlah.

Ngasih Contoh Buruk ke Followers?

Kalau ini balik lagi tergantung gimana followersnya bisa nyaring apa enggak. Mereka punya jati diri apa benar-benar followers yang ngikut idolanya ke mana-mana? Kalaupun iya, wajarlah kukira masa-masa remaja masih kaya gitu. Itu salah satu fase dari alayhood yang dialami semua orang. Aku jaman remaja dulu juga pengen banget jadi kaya Avril Lavigne. Pakai tank top sama dasi, pakai kaos kaki belang-belang, pasang banyak pin di strap tas, bahkan ngecat rambut pirang dengan highlight ijo dan pink (plis deeeeh). Untung nggak ada fotonya. Benar-benar aib yang memalukan.
Yang emang jadi masalah itu kalau sampai banyak yang maksa pengen jadi kaya Awkarin sampai-sampai jual diri padahal masih pada kecil, misalnya. Kenapa gitu nggak niru positifnya juga dari Karin?
Awkarin itu masih 18 tahun lohh. Tapi dia udah bisa mandiri. Berpenghasilan, dan berkarya. Aku dulu usia segitu bisa apa? Nakalnya sama, tapi nggak menghasilkan apa-apa. Rugi kaan? Atau seperti Young Lex. Passionnya di musik, dia produktif banget bikin musik. Itu juga bisa ditiru. Tinggal passion kalian masing-masing apa.
Intinya sih ya, kita nggak bisa sama sekali ngejudge orang dengan apa adanya. Di balik orang-orang yang keliatannya kasar, ada kebaikan, dan sebaliknya.
Buat yang bukan penggemar, harusnya lebih bijak lagi ngeliatnya. Buat penggemar, juga harus pinter-pinter nyaring. Jangan cuma ikut gayanya aja, tapi giliran yang bagus-bagus nggak ditiru. Jangan telan mentah-mentah juga kaya misalnya kalian suka sama lagu Cewek Kerdus, bukan berarti semua cewek yang nolak kalian itu bawahnya lebar, otaknya sempit. Bisa aja dia malah masih perawan, dan emang lebih suka pacaran sama cowok yang bisa diajak diskusi tentang neo-koneksionis, misalnya. Bukan berarti aku ngerti juga sih, neo-koneksionis itu apaan. :p
Teruuus, kalau kalian emang segitu nggak sukanya, yaudaaah, nggak usah follow, nggak usah nonton videonya. Aku aja yang suka nggak follow mereka kok. Dan nggak nonton semua videonya. Kaya misalnya video yang Karin curhat abis putus itu, aku udah tau dari baca-baca kalau itu video isinya anak curhat sambil nangis-nangis selama hampir setengah jam (atau lebih?). Yaudahlah, nggak tak tonton. Ngapain? Kalian yang ngakunya nggak suka malah kalau ada video baru pasti jadi yang pertama tau. -_- Cuma biar bisa puas ngeritik duluan. Demi apa? Mereka nggak bakal berhenti cuma karena kalian kritik lhoo. Justru dengan kalian omongin gitu, makin terkenal merekanya. Ingat kata Mario Teguh gaes, “Sesungguhnya lawan dari cinta itu bukan benci, tapi pengabaian.” << Ini serius MT yang ngomong. Yahh, kayak aku nggak suka sama acara TV, maka aku berhenti nonton TV kecuali kalau ada Via Vallen. Sederhana.
Just my two cents ya gaes. Aku nggak bilang mana yang benar mana yang salah. Who on earth am I to say what’s right and what’s not kan? Kalian mungkin ada yang setuju sama aku, ada yang enggak. Please feel free to share your thoughts. Beda pendapat sama aku boleh. Yang nggak boleh itu kalau hit n run. Maksudnya, buka diskusi, setelah ditanggapi, eeh pura-pura nggak tau dan malah curhat menggalang dukungan di akun pribadi. Jangan yahh.
Akhir kata, mau mengutip omongannya Karin: Nakal boleh, bego jangan! Hail freedom!
Seperti biasa, terima kasih banyak sudah baca aaaaand see you on the next post!

Full of love,
Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
5 komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit conseat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amei.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Juni 2019 (2)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (15)
  • Februari 2018 (1)
  • Januari 2018 (1)
  • Oktober 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (2)
  • Juni 2017 (3)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (2)
  • Maret 2017 (8)
  • Februari 2017 (10)
  • Januari 2017 (3)
  • Desember 2016 (6)
  • Oktober 2016 (4)
  • September 2016 (6)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (3)
  • Juni 2016 (8)
  • April 2016 (1)
  • Maret 2016 (6)
  • Oktober 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • Kesumat Sang Raja Jerawat
  • Ngeblog seaktif Facebook-an. Gimana sih caranya?
  • Mengukur Kualitas Diri Tidak dengan Membandingkan
  • PESAN MORAL LOMBA-LOMBA AGUSTUSAN
  • PENTINGNYA MEMPERHATIKAN LINGKUNGAN PERGAULAN ANAK

Yang Nulis

Isthar Pelle
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates