• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MADGIRL!




Sebenarnya kami (terutama Ibing) bukan jenis orang yang gampang mengidolakan orang. Kalau sampai mengidolakan, itu artinya si idola ini pasti sesuatu banget. Punya karakter, unik, berdiri sendiri, dan yang paling utama, original.
Aku pertama kali tahu sama Die Antwoord dari film Chapie. Aku udah pernah nulis tentang Chapie di FB notes. Nanti mungkin akan kutulis lagi di blog karena film ini juga one of my favorite. Di Chapie, duo personil Die Antwoord Ninja sama Yo Landi berperan sebagai gangster yang jadi mami papinya Chapie. Pertama kali lihat mereka aku bahkan nggak tau kalau mereka ini musisi. Mereka kan musiknya hip hop sedangkan aku nggak terlalu into hip hop. Tapi, begitu pertama kali muncul aku langsung suka sama mereka. Habisnya penampilannya lucu. Rambutnya Yo Landi lucu banget, bajunya juga warna warni lucu, trus senjata yang mereka pakai juga lucu banget warnanya kuning sama pink. Markas persembunyian mereka juga penuh dengan doodle warna warni lucu gitu deh. Pokoknya aku suka banget. Apalagi di film peran mereka juga lucu.
Tadinya tak kirain nama Ninja sama Yo Landi itu nama di film aja. Pas filmnya selesai di credit ternyata namanya emang asli Ninja sama Yo Landi. Saking sukanya, aku langsung menggoogle mereka dan ketemulah sama Die Antwoord.
Jadi Die Antwoord (baca: di entvuerd) adalah grup musik toh ternyata. Dan musik di film Chapie yang lucu-lucu itu ternyata lagunya mereka. O em geeee. Sampai sini aku udah makin ngefans. Padahal nantinya masih banyak hal yang bikin aku ngefans sama mereka.

Nama, Musik, dan Aksen

Pertama, nama Die Antwoord itu tadinya tak kirain bahasa Inggris jadi aku bacanya kaya die yang artinya mati itu. Ternyata itu bahasa Afrika yang artinya The Answer. Terus, nama mereka berdua juga lucu banget. Aslinya namanya bukan itu ya, itu sih nama tenar aja. Nama aslinya siapalah gitu dalam bahasa Afrika. Mereka berdua ini pernah pacaran. Nggak nikah, tapi punya satu anak cewek yang juga lucu banget. Kalian tahu nggak nama anaknya siapa? Sixteen. Iya, sixteen, ditulisnya 16 gitu. Lengkapnya Sixteen Jones sih. Sekarang Ninja sama Yo Landi are no longer couple. Ninja malah udah nikah. Tapi mereka tetep kerja bareng biasa. Makanya nggak banyak orang yang tahu. Orang-orang tahunya ya mereka ini masih pasangan. Selain Sixteen, Yo Landi juga punya satu anak lagi, Tokkie, yang dia adopsi pas umur sembilan tahun. Tokkie ini tadinya kasihan, diselametin sama Yo Landi dari jalanan dan dia berasal dari keluarga yang benar-benar miskin. 
 
Ninja, Yo Landi, sama Sixteen cover Rolling Stone.

Ini dia Tokkie.

Kedua, musiknya bagus. Aku udah bilang kan, kalau aku nggak terlalu into hip hop, jadi aku juga nggak terlalu ngerti soal lagu hip hop yang bagus sama enggak gimana. Tapi lagunya mereka ini emang lucu bangeeeet. Dari film Chapie aja aku udah suka. Perpaduan anatara rap sama cute voicenya Yo Landi itu lucu banget dyeh pokoknya. Soal cute voice ini banyak yang nggak suka karena katanya annoying. Trus emang mereka banyak hatersnya sih terutama karena cara ngomong dan aksen mereka yang ‘aneh’. Mereka emang kan aksen Afselnya kental banget jadi kaya aneh gitu. Kalau aku sih nggak masalah sama aksen manapun wong aku sendiri ngomong bahasa apapun (bahkan bahasa Perancispun) medhok Kendal banget kok. Misalnya nyanyi lagunya Rihanna yang Diamond itu, maka aku nyanyinya akan gini “Syain bhrait lek a dhyamen.” Gitu. Jadinya yaa gimana aku mau menghakimi aksen orang lain kan? Hahaha.

Karakter dan Originalitas Gaya

Selain musiknya emang bagus, mereka ini gayanya khaaas banget. Aneh, lucu, dan yang maha penting buatku adalah, mereka ini nggak ikut-ikutan siapa-siapa. Misalnya Yo Landi itu potongan rambutnya khas banget. Udah kaya semacam signature dia lah potongan rambut kaya gitu.
Gaya rambut kaya gitu tu nggak tiba-tiba. Awalnya pas mereka ngobrol-ngobrol mau bikin grup musik, mereka mikirin juga sampai ke ‘look’nya yang khas. Akhirnya muncul ide potongan rambut kaya gitu. Yo Landi sendiri bilang kalau potongan rambut baru itu berpengaruh banget ke keseluruhan musik, sampai caranya bertindak dan merasa gaes. Kaya terlahir kembali gitu. Katanya, itu bukan sekedar gaya rambut atau "a cry for attention", tapi bener-bener semacam deklarasi. Waaww. Yang motong rambutnya ini Ninja. Sampai sekarang juga masih Ninja terus yang motong. “No one else is allowed to touch it,” gitu katanya.
Gaya rambut ini pernah ‘ditiru’ sama Lady Gaga yang bikin ‘pertengkaaran’ mereka tambah gawat. Iya, jadi mereka ini kaya bersitegang gitu. Gara-garanya, Lady Gaga pas mau konser di Afsel minta Die Antwoord buat jadi band pembuka konsernya. Lha si Die Antwoord nggak mau. Ketegangan itu berlanjut dengan saling sindir di media sosial. Lha habis itu ndelalahnya kok Lady Gaga ini potongan rambutnya mirip kaya Yo Landi. Nggak tau sih. Bisa aja itu emang idenya Gaga soalnya kan penampilan dia juga aneh-aneh gitu kan? Tapi kok ndelalahnya ya mirip banget gitu? 
Lady Gaga (kiri) dan Yo Landi (kanan). Emang mirip kaaan rambutnya?

Selain itu, Yo Landi juga sering pakai aksesoris lucu-lucu misalnya gelang warna warni sama pakai jam tangan buanyaaak banget. Tiga di tangan kanan, tiga di tangan kiri. Kalau aku yang pakai juga pasti bakalan kaya orang gila. Tapi pas Yo Landi yang pakai jadinya malah lucu.
Selain itu yang paling khas dari mereka ya baju doodle itu. Jadi kaya mereka beli baju polosan trus digambar-gambari sendiri. Selain itu kalau soal kostum mereka juga kayaknya lebih sering bikin sendiri. 

Ibing sendiri ngefans banget sama Ninja soalnya menurutnya Ninja itu keren. Ninja itu kayaknya udah tua. Keliatan dari foto-fotonya udah keliatan kerut-kerut, tapi tetep aja keren. Trus hubungan mereka juga yang santai aja gitu. Nggak perlu nikah, partner aja tapi saling support.
Yang bikin kami mengidolakan mereka juga, mereka ini bisa bikin hal-hal biasa jadi keren. Misalnya kostum yang dibikin sendiri, dan lain sebagainya. Kami kan gitu banget anaknya. Sukanya bikin apa-apa sendiri.


Tadinya tak kirain gaya mereka ini cuma gaya-gayaan aja. Ternyata di setiap pilihan gaya, kostum dalam setiap performance mereka baik live maupun di video, punya makna di baliknya. Sampai sini aku makin merasa aku mah apa atuh kak, dangkal banget mikirnya cuma sebatas lucu-lucuan.
Lihat aja nih, cover album terbarunya mereka. Ini mereka foto di tumpukan sampah lho. Bisa jadi keren gitu kan? Kostum Ninja di situ menggambarkan kehidupan di Afsel. Baik putih maupun berwarna hidup side by side. Gituh. 

Zef Movement

Dalam segala sesuatunya, mereka ini selalu bawa-bawa Zef. Kaos tulisannya Zef, di lirik lagu ada kata zef, dan bahkan label record mereka namanya Zef recordz. Tadinya tak kirain Zef itu semacam salah satu aliran gitu di hip hop scene. Aku google google tentang aliran zef ya nggak ketemu lah. Ternyata Zef itu semacam counter culture yang mereka usung gitu.
Zef itu bahasa slank di Afrika yang kalau diterjemahin ke Bahasa Inggris itu artinya kira-kira sama dengan common (biasa-biasa aja) atau siff (nggak keren). Di Afsel, Zef ini mengacu ke kelas pekerja kulit putih. Jadi jaman apartheid dulu di Afsel kan penduduk dikelompokkan menjadi empat golongan kan? Kulit putih, kulit hitam, kulit berwarna (campuran), dan Asia. Nha, Zef ini mengacu ke orang kulit putih tapi yang bukan kalangan elit. Kelas pekerja yang nggak kaya. Menengah rendah gitu lah.
Sejarah katanya, dulu di tahun 50-70 an ada merek mobil Ford Zephyr yang di Afsel sering dipakai oleh working class. Nha, orang-orang yang mengendarai Zephyr ini kemudian dijuluki zef. Gituuu.
Frikkie Lombard, editor Woordeboek van die Afrikaanse Taal (WAT) atau Dictionary of the Afrikaans Language mengartikan zef sebagai “something which is usually considered to be common, but nowdays has credibility.”
Yo Landi mengatakan “Zef is you’re poor but you’re fancy. You’re poor but you’re sexy. You’ve got style.”
Ninja mengatakan “Zef means you literally don’t care what anyone else thinks of you; like, you represent yourself in your music, in how you dress, in how you think, how you speak.”
Yah, kalian simpulkan sendiri deh, Zef itu gimana. Intinya sih, pantesan aku bisa ngefans sama orang-orang ini. Pemikiran kami sama ternyata. *eyaaak yang nyama-nyamain
Tapi pada tahun 2013 ada blog satir bernama Zef Kinners yang bilang kalau Die Antwoord itu nggak Zef. “That’s the safe version of zef. Zef has a dirty face,” gitu katanya. Nha, ‘dirty face’ di sini yang aku belum mudeng gimana maksudnya.
Sementara itu, penulis Russ Truscoff dan Maria Brock bilang kalau kultur Zef itu adalah ekspresi self parody orang-orang Afrika yang tumbuh dari melankolia post apartheid. Jadi mungkin maksudnya zef itu sebagai cara orang Afrika menertawakan diri sendiri setelah bebas dari apartheid gitu kali ya?
Apapun itu aku pokoknya suka sama zef movement ini. Sama kaya counter culture lain, zef menolak untuk menjadi sama, melawan arus mainstream, muak pada budaya dominan. Menolak kalau menjadi bergaya keren itu harus buang duit buat ngikutin tren, menolak stigma cewek cantik yang umum, dan penolakan-penolakan lain lah pokoknya.

Riwayat

Yo Landi sama Ninja ketemu pada tahun 2003. Waktu itu Ninja udah jadi rapper sedangkan Yo Landi belum tahu apa-apa tentang musik rap. Tapi Ninja janji bakal ngajarin. Cieeeh, so sweet ya. Habis itu Yo Landi diminta buat ngisi vokal di beberapa lagunya Ninja. Dan pada saat itulah, pas denger suaranya Yo Landi, mereka berdua kaya yang terikat gitu gaes.
Tahun 2007 Yo Landi usul buat bikin grup musik. Mereka mulai work on projects gitu. Trus tahun 2009 lahirlah debut album $0$. Tadinya masih belum ada yang kenal sama mereka. Sampai video Enter da Ninja dibuat. Itu yang lagunya lucu banget juga muncul di film Chapie. Gara-gara lagu ini mereka jadi terkenal.
Februari 2010 mereka ada show di Johannesburg dan malam itu hujan. Udah pesimis aja gitu palingan nggak ada yang datang soalnya hujan. Eh lhaaa ternyata penontonnya sampai antre-antre dan teriakin nama mereka. Terus pas nyanyinya, semua orang apal liriknya. Sesuatuh kan?
Dua hari kemudian mereka ditelpon sama Interscope dan tahun itu juga mereka dikontrak sama Interscope Records yang katanya melabeli rapper-rapper femes yah? Tapi kemudian tahun 2011 Die Antwoord keluar dari Interscope dan memutuskan untuk bikin label sendiri soalnya mereka males disetir-setir sama label. Mereka ngirim contoh rekaman dan dikoreksi terus kurang gini kurang gitu, harus lebih gini lebih gitu.
Yo Landi bilang “Interscope kept pushing us to be more generic in order to make more money,” dan mereka nggak bisa digituin (((digituin))). Malahan Insterscope nyuruh mereka berkolaborasi sama penyanyi lain dulu yang udah femes dan Die Antwoord nggak merasa harus nebeng ketenaran orang dulu gitu.
Di tahun 2010 juga Yo Landi ditawari main jadi pemeran utama di film Girl with the Dragon Tattoo tapi dia tolak. Iya gaes. Yo Landi menolak peran itu dengan alasan “For me with music there is no half-stepping.” Dia nggak mau kehilangan fokus di Die Antwoord karena main film.
Di waktu yang sama, Ninja ditawari buat main di film Elysium. Sebenernya kalau Ninja orangnya lebih ambisius dan “Let’s do everything,” tapi Yo Landi bilang kalau waktu itu belum tepat. Kalau nekat ambil kerjaan lain mereka bakal nggak fokus dan kacau, dan Yo Landi bilang “Let’s wait!” Akhirnya peran itu jatuh ke tangan Matt Damon. Hehehe. Mereka akhirnya baru main film di Chapie.
Tahun 2012 mereka merilis album Ten$ion dengan label mereka sendiri Zef Recordz. Mereka bekerja sama dengan beberapa DJ seperti DJ Hi-Tek dan DJ Muggs. 2014 mereka mengeluarkan album Donker Mag dan 2016 ini album Mount Ninji and da Nice Time Kid. What a journey, right?
Terakhir, tulisan ini aku tutup dengan satu quote keren dari Die Antwoord:
“If you try to make songs that other people like, your band will always be shit. You always gotta do what you like. If it connects, it’s a miracle, but it happened with Die Antwoord.”
Amaziiiiiiiing!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


               Sebagai bakul on line, perusahaan ekspedisi bagaikan BFF bagiku. Aku nggak bisa banget gitu menjalani hari tanpa kehadirannya. Wkwkwk.
               Selama ini aku pakai jasa ekspedisi cuma dua: kalau nggak JNE, Kantor Pos. Meskipun paling sering pakai JNE. Pakai Kantor Pos jarang-jarang. Cuma kalau ada customer yang minta atau kalau ongkir JNEnya kemahalan. Tapi sekarang tarif Pos Kilat Khusus udah naik juga sih, jadi sama aja mahalnya. Haha.
               Sekalipun banyak perusahaan ekspedisi lain bermunculan, aku nggak pernah tergoda buat mencoba. Bukannya sombong nggak mau nyobain yang kurang femes, tapi emang nggak tergoda aja. Lagian pernah kejadian sih, sekali. Waktu itu posisiku bukan pengirim melainkan penerima. Waktu itu order baju buanyaaak buat dijual lagi dan suplier ngotot pakai Wahana biar murah. Yaudah, oke. Kalian tahu apa yang terjadi? Barangnya lama banget nyampenya. Sepuluh hari? Lebih pemirsa, lebih! Hampir dua minggu. Dan setelah komplen ke sana ke mari, dari satu kantor Wahana ke kantor yang lain, trus nelpon berkali-kali, akhirnya pihak Wahananya bilang apa kalian tahu? “Besok kami kirim LEWAT JNE SAJA!”
               Sori, aku nggak lagi mau ngejelek-jelekin Wahana di sini, tapi itu kejadian nyata. Waktu itu rasanya aku pengen nangis, ketawa keliling alun-alun, makan sol sepatu, sama pingsan sekaligus. Konyol banget kan? Kalian itu perusahaan ekspedisi. Ngapain terus pakai jasa ekspedisi lain, ya Tuhaaaaan? Tapi pas itu emang lagi promo murah banget Wahananya. Kalau nggak salah itu lima kilo pertama cuma tujuh ribuan, trus selanjutnya cuma kena Rp. 1.500/ kg. Jadi apa kesimpulannya? Yang murah belum tentu yang terbaik ya. Lagian ngapain juga murah ujung-ujungnya aku rugi waktu banyak. Yang harusnya udah habis kejual malah belum nyampe.
               Sedangkan sama JNE dan Pos selalu aman, lancar, terkendali nggak ada masalah. Pernah ding, dua kali dan cuma dua kali itu tok. Yang pertama barangnya udah nyampe kantor kota tujuan tapi somehow nggak kunjung dikirim ke rumah penerima, dan yang kedua barangnya ketuker. Jadi sesama customerku, tapi bisa ketuker. Yang pesen satu dapet dua kaos, yang pesen dua dapet satu. Padahal aku ngebungkusnya bener. Nggak tahu gimana ceritanya bisa begitu. Tapi untungnya customer yang nerima dua ini jujur. Dan akhirnya sama mamas-mamas JNEnya diambil dan ditukerin ke penerima yang benernya. Nggak tau kok bisa kaya gitu, aku juga heran. Mungkin salah pas naruh resi pengirimannya kali ya? Itu lohh, resi copy yang buat ditempelin di barang. Tapi cuma kejadian dua kali itu tok. Yang lain nggak pernah ada masalah sama sekali.

Terus sekarang bagaimana dengan J&T?

               Aku nyobain J&T ini gara-garanya pas awal bulan November mau ngirim ke JNE, kata mamasnya koneksinya lagi off. “Udah dari sore tadi nggak bisa mbak.” Dan akhirnya aku memutuskan untuk nyobain J&T. Soal J&T ini aku punya dua kesan: baik dan emm, kurang baik. Aku akan bahas dua-duanya secara seimbang dan nggak pilih kasih biar nggak dikira hate comment yaa.

NAMA DAN LOGO



               Soal nama, J&T ini membingungkan. Pertama, nama J&T sendiri tadinya tak kirain adalah typo dari JNE karena ada yang nulisnya itu JNT. Pas diucapin juga berisiko salah. Selain itu, yang bikin bingung lagi tuh karena namanya J&T tapi websitenya itu jet.co.id. Dan ada yang bilang juga Jet Express. Jadi sebenernya namanya J&T apa Jet sih? mbok pakai salah satu aja. Lagian nama J&T itu kalau buatku sih masih aja meninggalkan kesan ikut-ikutan. Sori lho yaaa.
Tapi plusnya di sini, aku suka sama logonya dan desainnya secara keseluruhan. Tulisan J&T warna putih dengan background merah atau sebaliknya itu simple banget dan eye cathing. Bagus, sederhana. Aku juga suka Dedi Corbuzier sebagai brand ambassador di sini.

WEBSITE

               Web jet.co.id gampang banget diaksesnya. Enteng, no lemot. Bandingkan dengan web JNE yang suka bikin nangis. Tapi tentu saja dong, secara Jet ini kan baru, jadi barangnya belum banyak, trafficnya juga nggak sepadat JNE pastinya. Jadi di sini nggak bisa dibandingkan sekarang. Kita bandingkan nanti kalau J&T udah rame dan udah banyak yang akses. Mudah-mudahan sih ntar kalau udah rame juga tetep enteng dan gampang yaa.
               Desain webnya juga simple dan gampaaaang banget deh pokoknya. Nggak membingungkan dan nggak susah nyari-nyari. Pertama buka itu langsung ketemu kolom itung tarif dan di bawahnya ada kolom tracking. Nggak ada kebanyakan info-info nggak penting. Lagian yang dicari orang kalau akses web ekpedisi kan emang itu kan? Jadi di sini plus banget. I like it.

GRATIS JEMPUT PAKET

               Ini yang keren banget dan belum dimiliki perusahaan ekspedisi lain. J&T memberikan layanan gratis jemput paket di tempat, tanpa minimal order. Jadi satu paketpun tetep bakalan dijemput. JNE dan Pos juga ada layanan ini sih. Aku pernah ditawarin. Cuma sayangnya ada minimal order. Minimal sepuluh paket per hari. Lha namanya orang jualan kan enggak pasti. Kadang sehari ada sepuluh orang beli masing-masing satu kaos, kadang ada satu orang beli sepuluh kaos sekaligus (yang berarti jadi satu paket kan?). Tapi sebenernya jemput atau antar sendiri ini nggak masalah-masalah banget buatku soalnya biasanya aku kalau ngirim paket itu sekalian keluar ngapaiin gitu. Cuma plusnya ya nggak perlu ngantre dooong. Kalau paketan banyak, kerjaan lain banyak, dan waktunya mepet-mepet, jemput gratis ini solusi bangeeeet.

SMS NOTIFIKASI

               Banyak yang mengalami dapet SMS notifikasi dari J&T, baik pengirim maupun penerima mengenai status paketnya. Ini memudahkan banget weh. Nggak usah susah-susah tracking kan jadinya? Cuma, kok aku nggak dapet yah? Hahaha. Ah, J&T, kamu gitu dyeh. Yang lain diSMSin, aku enggaaaaak.

TARIF

               Sama aja kaya JNE reguler. Aku nggak bisa ngomong banyak kalau soal ini. Lagian aku nggak pernah sukses ngapalin tarif, jadi suka nggak terlalu peduli. Cuma berharap aja sih, tarifnya jangan naik-naik terus. Kasian pelanggan. Iya, aku itu sayang tauk aslinya sama kalian. *sun jauh

PENGIRIMAN

               Sejauh ini lancar jaya hariwijaya. Aku ngirim pas tanggal 3 November malem, yang berarti ikut pengiriman besoknya. Mamas-mamasnya udah bilang gitu dan aku juga udah tahu karena biasanya di JNE juga gitu. Kalau paket dianterin malem after pick hour pasti ikut pengiriman besoknya, dan nggak masalah. Jadi paket dikirim tanggal 4, dan tanggal 6 aku cek status udah delivered semua. Yang satu terkirin jam satu, yang satu jam dua, dan yang satu jam empat. Dua hari ajah. Cepet banget. Dan iyeeees, tanggal 6 itu hari Minggu. Iyes, J&T hari Minggu itu nggak libur. Kantornya tetep buka, kurirnya tetep nganterin. Jadi nggak kepotong libur. Kalau JNE misal barang harusnya nyampe Minggu kan pasti baru nyampe Seninnya. Kalau J&T tetep nyampe pas hari Minggu itu juga. Ini nilai plus lagi.

KANTOR DAN AGEN

               Di Magelang aku baru lihat satu sih. Sama di Muntilan ada satu agen kayaknya soalnya kecil. Tapi di kota lain katanya ada banyak agen? Nggak tahu deh. Tapi yang jelas di semua kota ada soalnya gebrakan J&T ini langsung buka cabang di semua kota gitu.
Kondisi kantornya di sini kecil dan berantakan banget. Kotor dan berantakan banget sampai aku yang aslinya pemalas dan jorok aja rasanya pengen ngebersihin dan ngerapiin.
               Jadi area buat customer itu dipakai juga buat naruh barang. Dan anehnya, itu barang-barang ditaruh di lantai begitu saja tanpa ada keterangan mana barang yang baru sampai, mana yang baru dianter, mana yang mau dikirim, dan seterusnya. Aku nggak ngerti itu siapa yang ngajarin, tapi aku bisa bayangin kalau karyawannya pasti pusing sendiri. Lha itu gimana sih? barang diambruk-ambruk di lantai loh. Kalau ada yang ilang gimana coba? Dan iya, kalau misalnya aku iseng ngumpetin satu gitu, mereka pasti nggak ada yang nyadar soalnya ruwet banget kondisi kantornya. Untung aku nggak setega itu.
               Cuma ada kursi tunggu dari besi dan itu udah mleyot sehingga siapapun yang duduk di situ pasti nggak nyaman dan takut kejengkang. Nggak ada kursi di depan customer servicenya. Terus, si anak-anak yang lain yang tugas packing, kurir yang mau anter barang, orang-orang yang nyortir, yang menscan barcode, dan lain sebagainya semuanya kerja di situ. Di ruangan kecil yang lebih kecil dari pada kamar kosku itu. Itu bangunan dua lantai yaallaaaah, kenapa kalian nggak kerja di lantai atas aja sih? Ruang situ harusnya khusus buat nerima customer dan nerima barang aja.
               Dan oya, pas aku masuk situ itu kantor bau ikan. Nggak tau, mungkin ada orang yang maketin ikan asin. Mudah-mudahan aja nggak bareng sama paketanku deh. Kasian ntar bantalnya jadi bau ikan.

PELAYANAN

               Ini yang aku rada gemes. Kondisi kantornya udah aku jelasin di atas ya? Parah. Parah banget. secara desain, banner, dan ada posternya Dedi Corbuzier sih udah keren. Cuma kantornya berantakan ampun. Sekarang gimana pelayanannya?
               Pas pertama kali ke situ pas tanggal 3 itu, malem-malem karyawannya lagi pada briefing semua. Dan di mana briefingnya? Yak, tentu saja di ruangan kecil yang sudah aku jelasin di atas. Semuanya berdesak-desakan bin uyel-uyelan di situ. Pas kami datang, ada mamas-mamas yang keluar buat ngambil barangnya dan dia bilang “Di dalam sedang briefing. Bentar ya, saya tulisin resinya,” trus dia masuk. Bagaimana dengan kami? Customer yang imut-imut ini? Kami nunggu di teras kaya anak ilang. Itu kondisi ujan, dan kami menunggu di teras. Yes, persis seperti anak terlantar. Kenapa briefingnya kok nggak di lantai atas saja? Enggak tahu. Mungkin lantai atas itu kuil suci dan hanya jenderal jin saja yang boleh masuk.
Oke, itu kali pertama. Aku masih maklum. Hari Minggu berikutnya kami ke J&T lagi karena kalau Minggu JNE itu tutup. Dan selain disambut dengan bau ikan, kami disambut dengan embak-embak yang sibuk dengerin musik lewat ear phone, dan nggak ada ramah-ramahnya blas. Mending kalau dia udah sibuk sendiri gitu tapi pelayanannya oke dan cak cek. Lha ini lama banget kok. Kamu nggak tau apa mbak, bau ikan keburu merasuk ke sekujur rambut indahku? Aku tu suka heran sama model karyawan kaya gini. Kalau mau berbuat sesuka udelnya sendiri mbok nggak usah jadi karyawan. Kamu itu front liner mbaaaaak. Kamu adalah wajah pertama yang dilihat orang mewakili perusahaan.
Selain itu ada mamas-mamas yang sok banget bin ngeselin. Di JNE itu biasanya mamas-mamasnya juga ngajak ngobrol, tapi asik, akrab. Nggak ngeselin. Lha ini tuh masnya ngeselin banget. Kalian tau istilah kemaki nggak? Apa ya? Kira-kira emm ‘aslinya bego tapi sok pinter’ gitu lah. Susah ngejelasinnya. Nha masnya tu gitu banget. Kemaki banget. Ngeselin pokoknya. Teruuuus, oh ya, mereka ribut sendiri di depan kami. Jadi karena mas-masnya ini kemaki, meskipun jabatan dia itu kurir, dia merasa berhak untuk mensupervisi kerjaan embaknya dan mereka ribut sendiri enggak jelas. Dan nggak penting sama sekali karena itu malah buang waktu. Waktu kami juga.
Aku tahu, soal pelayanan ini sih soal SDM dan masing-masing kantor pastinya beda. Tinggal kualitas SDMnya gimana. Aku baca review-review dan banyak juga yang cerita kalau kantor J&T di di kotanya pelayanannya ramah.
Tapi menurutku ini fatal banget. Kami ke J&T itu nyoba, karena kebetulan JNEnya pertama pas lagi off line jadi nggak bisa dan kedua, pas Minggu libur. Kalau saja pelayanannya oke, kami bakal balik ke J&T lagi dan lagi karena sebagai perusahaan baru dia punya banyak kelebihan. Tapi gara-gara pelayanannya kaya gitu kami jadi ilfil berat. Pertamanya tak kirain aku aja yang sensi karena emang lagi mens. Tapi ternyata Ibing pas pulangnya juga ngomel-ngomel karena masnya itu annoying banget. Dan kami sepakat nggak bakalan pakai J&T lagi unless kepepet. Sayang banget kan?
Ini bukan hate comment ya. Aku nggak dibayar sama perusahaan pesaing. Ini masukan aja buat manajemen J&T. Tolong kantornya itu dikondisikan yang bersih dan rapi sehingga customer itu merasa nyaman. Apalagi kalau harus nunggu lama. Kedua, tolong pastikan karyawannya ditraining dengan bagus jadi mereka semua ramah dan cekatan. Nggak buang waktu orang.
Sama aku yang aneh itu apa di J&T itu ada sitem reward buat sprinter/kurir yang paling banyak ngambil/ngirim paket ya? Kok kesannya ada kaya rebutan customer? Kami dua kali ke situ, ketemu sama dua kurir yang berbeda dan semuanya maksa promosi “Nanti biar saya aja yang ambil,” sambil nyodorin nomer hp pribadi. Padahal hot linenya juga udah ada. Itu annoying banget, plis stop!
Udah ah, itu aja. Sebenernya semuanya baguuus banget dan banyak nilai plusnya dibanding sama jasa ekspedisi yang udah ada. Cuma sayang di pelayanannya. Padahal menurutku sih, pelayanan itu yang paling penting nomer satu.
               Kalau kalian ada yang udah pernah pakai J&T juga? Di kota kalian bagus enggak pelayanannya? Cerita yahh, di komen.
               Makasih banyak yaa udah baca. I love you!

Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
5 komentar



“Kamu sibuk ngapain emang? Kok tiap diajak ngumpul nggak bisa terus?”
Pertanyaan itu seriiing banget ditanyain ke aku. Emang yah, kebanyakan pencitraan jadi banyak yang mengira kalau aku pengangguran. Wkwkwk. Yang melegakan, ternyata bukan cuma aku saja yang mengalami. Temen-temenku sesama tukang pencitraan juga mengalami hal yang sama. Kebanyakan haha-hihi jadi dikira nggak punya kerjaan. Makanya to gaes, kalau pencitraan itu mbok yang baik-baik aja. Yang keren-keren. Pencitraan kok sebagai pengangguran pemalas yang kerjaannya ngumpulin upil.
Emang sih, aku sukanya bilang lagi males-malesan aja. Kenyataannya, aku benci buang waktu buat hal-hal yang nggak berguna. Bahkan kalau lagi nggaya aku akan bilang “Work is the only thing that keep me sane.” Haalaaah!
Eh, btw, sebelum cerita sekarang aku sibuk ngerjain apa, aku mau ajak kalian jalan-jalan dulu ke masa yang telah lalu yaa.

Pernah kerja apa aja?

Pengalamanku sama yang namanya pekerjaan dimulai sejak kuliah semester satu (tahun 2008). Ada mbak-mbak yang nawarin buat ngegantiin dia ngelesi, karena dianya udah lulus. Gajinya berapa kalian tahu? Empat puluh ribu. Per jam? Enggaaaak! Per bulan sodara-sodara. Padahal jadwal lesnya seminggu tiga kali. Hahaha.
Iya, aku juga heran kok aku mau-maunya sih dulu? Tapi waktu itu aku terlalu exited karena baru pertama kalinya ngerasain kerja dan dapetin duit sendiri. Jadi aku terima aja dengan senang hati. Tapi nggak lama. Cuma sebulan apa dua bulan. Karena gajinya kecil? Enggak, karena aku seneng-seneng aja nyari pengalaman. Tapi aku berhenti karena muridnya bah, mesum gaes.
Dia itu anak kelas lima SD, tapi udah tiga kali nggak naik kelas, jadi harusnya udah kelas dua SMP. Udah gede, emang. Dan hal apa yang dia lakukan sehingga aku memutuskan berhenti? Dia grepe-grepe paha di bawah meja. Sungguh terlalu bukan?
Pengalaman kerja kedua apa jal? Jangan diketawain yaa. Waktu itu aku join MLM. Gara-garanya sahabat sendiri yang nawarin. Udah aku tolak berkali-kali dianya ngejer terus. Sampai aku pura-pura sibuk ibadahpun ditungguin. Akhirnya ya udah, join. Dapet duit lumayan dari jualan produknya. Pernah seminggu dapet duit enam ratus ribu dari jualan produk. Cuma nggak tak lanjutin soalnya ini MLMnya rada gaje. Tapii, perlu aku tulis di sini karena apa? Karena aku nggak dapet duit aja, tapi justru hal-hal selain duit yang lebih banyak.
Pertama, aku dapet ilmu. Banyak ilmu termasuk tentang pemasaran yang masih tak pakai sampai sekarang. Kedua, aku dapet temen yang sampai kaya sodara banget meskipun kami udah sama-sama nggak ngerjain MLM itu lagi. Dulu sempat bisnis bareng juga selain MLM.
Terus, kerjaan ketiga itu jadi waitress di warung makan sambel-sambelan. Berhenti karena warung makannya tutup, nggak laku. Wkwkwk.
Habis itu jadi kasir di minimarket. Yang punya minimarket temenku pas dulu MLMan itu. Lama di sini soalnya cocok plus lokasi minimarketnya pas banget depan kosan.
Bersamaaan dengan itu, aku juga ngelesi dan kadang jaga warnet. Iya, jadi waktu itu aku jalani tiga pekerjaan sekaligus. Kasir, guru les, dan jaga warnet. Ngasiri dulu, sore sampai malem ngelesi, trus jaga warnet sampai pagi. Kok bisa? Kan sambil kuliah? Bisa dooong. Kuliahnya yang bolos. Hahaha.
Pas udah nggak jadi kasir dan udah nggak jaga warnet tetep ngelesi, ngelesi, ngelesi terus. Aku suka jadi guru les. Muridnya gonta-ganti banyak karena kadang ada yang udah naik kelas trus nggak les lagi, atau udah lulus dan nggak les lagi. Ada juga yang les cuma pas mau kenaikan kelas atau ujian. Jadi bukan mantan kekasih aja yang banyak. Mantan murid juga banyak. Beberapa ada yang masih akrab banget sama aku sampai sekarang jadi temen.
Teruus, aku pernah kerja di toko pakaian juga. Cuma sebulan trus akunya dipecat karena toko sepi. Aku dipecat sebagai SPG tapi trus dihire buat ngelesi anaknya. Tetep menang. :p
Habis itu aku KKN, yang berarti nggak kerja dooong. Habis KKN ini rada kacau balau soalnya aahh, ceritanya panjang. Intinya aku nggak punya motor dan jadinya nggak bisa ngelesi. Akhirnya aku join MLM lagi. Oriflame. Dan masih Oriflame-an sampai hari ini karena saya suka saya suka. Cuma kalau sekarang nggak aktif banget kaya dulu. Cuma suka-sukaan aja. Aslinya dulu sempet berhenti tapiii, damn! Oriflame itu ngangenin. Hehehe.
Tahun 2012 sempet jadi agen asuransi di Prudential. Aslinya ini kerjaan juga seru dan saya suka saya suka. Tapi berhenti karena alasan yang sungguh sangat absurd sekali sejagat-jagat: leadernya naksir sama aku. Masalahnya, aku nggak naksir balik. Udah aku tolak berkali-kali, lahh dia maju terus pantang mundur. Sampai bohong-bohong segala. Ngajakin aku ke luar kota dengan alasan ada kaya semacam seminar gitu buat para agent tapi ternyata itu adalah acara keluarga. Jadi liburan gitu gaes, sama papa-mama-kakak-ponakan dan sampai tujuanpun ternyata kumpulan keluarga besar dan aku dikenal-kenalin. Kan aku jadi nggak nyaman.
Tahun 2013 pindah ke Magelang. Kerja jadi sales regulator (itu loh, yang di kompor gas) tapi cuma bentar soalnya aku nggak suka. Trus jadi sales finance. Habis itu kerja serabutan sama Ibing. Mulai dari lukis dinding, lukis karikatur, lukis helm, dan sebagainya.
Btw, pengalaman di atas itu semua adalah masa-masa suram bin kasihan. Sibuk tapi kere. Semua berubah sejak tahun 2014 kerja di bank. Ini sempat bikin banyak orang ternganga karena kayaknya profesi pegawai bank itu nggak cocok banget buat aku. Dan aku juga ngerasain itu. I hate myself doing it. Akhirnya nggak perpanjang kontrak, dan mulailah aku jualan online.
Dulu pertamanya jadi reseller segala macam produk. Dari mulai baju, kosmetik, pemutih, sampai obat herbal. Hahaha. Nggak fokus, I know. Tapi aku belajar banyak.
Habis itu aku sama Ibing mulai cloth line baru namanya Leopard. Leopard ini khusus jualan bus merchandise dan ternyata lariiiiiiiiis banget. Aku sama Ibing sampai heran. Jualan kaos Madsick bertahun-tahun, udah nyeponsorin band sana sini, nyeponsorin acara musik sana-sini, nggak laku-laku. Giliran bikin bus merch langsung laris bangeet. Ahahaha.
Saking larisnya, kami sampai punya slogan pantang pulang sebelum jam satu malam. Kok bisa? Iya, ritme kerjanya gini: Ibing pulang kerja langsung nyablon (aku sampai detik ini belum diijinkan nyablon kecuali buat dipakai sendiri soalnya takut mencang-mencong, lol), aku ngeringin sablonannya. Habis itu ngasih label, packing segala macem. Cepet-cepet sampai tangan kaya ruwet dan biasanya jam 10 malam baru selesai. Kadang jam 11. Cus ke JNE. Biasanya selesai jam setengah 12 atau jam 12 kurang sampai masnya udah siap-siap pulang pakai jaket segala. Hahaha. Habis itu baru deh, makan malam, nongkrong-nongkrong ngopi sampai jam 1 baru pulang. Tidur. Siangnya Ibing kerja. Aku ngapain? Kadang belanja supplies, kadang ngirim yang semalem ketinggalan atau susulan. We are so happy and feel so much alive.
Terus, 2015 temen aku ngajakin bisnis hijab. Aslinya temennya yang punya butik dan aku disuruh kerja aja gitu jadi SPG. Tapi berhubung aku anaknya cerdas dan oportunis, aku nggak mau lah kerja kerja aja. Aku bikin kaos hijaber buat dititip di butiknya juga. Dulu nama kaosnya Aurora. And you know what? Laris banget sampai produksinya keteteran. Ha gimana enggak. Wong kaos yang produksinya memakan waktu seminggu- dua minggu, ludes dalam hitungan jam. Aku jadi punya ide brilian buat bikin butik hijab sendiri. Kebetulan aku sama Ibing punya tabungan dari Leopard, dari kaos hijaber, dan dari gaji kami berdua masing-masing. Udah rencana banget, kerja beberapa bulan lagi, uangnya ngumpul sekian sekian dan bisa buka butik sendiri.
Tapi kalian semua tahu apa yang terjadi. Akhir tahun 2015 aku disuruh pulang dan tahu-tahu dinikahin sama orang nggak kenal. Aku nggak mau bahas itu sekarang, tapi intinya semuanya jadi kacau. Aku melarikan diri. Nggak bisa ngelanjutin kerjaan di butik karena lokasinya sangat mudah ditemukan sehingga aku bakal ketahuan. Leopard juga sempet mandeg karena pas tak tinggal Ibing langsung jadi nggak fungsi. Wkwkwk.
Enggak apa-apa. Mulai lagi dari awal. Aku jualan hijab online. Karena nama Aurora Hijab ternyata udah banyak banget yang make, akhirnya namanya tak ganti jadi Calypso. Sementara itu, aku masih punya sisa tabungan buat hidup, makan, dan bayar kos. Tapi bisnis hijab online tuh nggak sesweet kalau off line, tak kasih tahu. Berat banget. Untungnya mepet-mepet, saingannya banyak. Berbulan-bulan aku jualannya gitu-gitu aja. Nggak ada progress yang signifikan. Laku sih. Cuma ya gitu. Nggak worth the time I invested in. Kaya yang sering aku bilang. Kalau cuma buat hidup sama jalan-jalan doang sih bisa. Tapi buat bikin sekolah gratis, bangun hotel, dan beli helikopter? Jelas nggak cukup.
Aku puter otak, belajar sana-sini. Makanya kalau aku bilang lagi belajar tuh ya belajar ini gaes. Dan aku belajarnya serius. Katanya para master kan kalau kita belum bisa investasi uang, investasi waktu dulu buat belajar. Jadi aku sibuk banget pas kemaren-kemaren itu ya sibuk belajar. Makanya pas ada orang yang ngatain aku nggak mau sukses dan kebanyakan alasan hanya gara-gara aku nggak mau dia ajakin ‘belajar’, aku tersenyum kecut. Emang lo kira tiap hari gue ngapain, nyet?
Setelah hasil belajar dan praktik selama berbulan-bulan dan diskusi dengan master-master internet marketing, aku menemukan satu kesimpulan: bukan caraku jualan yang salah, tapi apa yang aku jual. Mungkin bisnis hijab memang kuat kalau lewat pameran, tapi kalau on line? Punya web bagus bangetpun udah dioptimasi SEO kaya gimanapun tetep berat, soalnya saingannya banyak. Semuanya banting-bantingan harga. Dan yang namanya perempuan tuh teliti banget kalau soal harga. Mereka rela ngebrowsing bukain web dan akun instagram satu-satu buat cek mana yang paling murah.
Misalnya aku kulakan blus harganya 50ribu, trus aku jual 55ribu (udah mepet banget kan?) eeeh, di instagram ada yang jual ecer 50ribu. Belum mikirin ongkir. Ongkir dari kota kecil tuh lebih mahal dibanding dari kota besar. Makanya kebanyakan customer akan milih yang pengirimannya dari Jakarta/ Bandung.
Akhirnya aku puter otak lagi, semedi, jedug-jedugin kepala ke paku, dan aha! Another brilliant idea: jualan bantal! Kok tiba-tiba bantal? Nggak tau, tiba-tiba aja kepikiran pengen jualan bantal. Mungkin ini yang namanya ilham. Hihihihi.
Dan kalian tahu apa yang terjadi setelah aku memutuskan untuk jualan bantal? Minggu pertama nggak ada yang order, minggu kedua nggak ada yang order, minggu ketiga ada yang order dari temen, dan itupun salah sampai harus ngulang. Minggu keempat ada yang order tiga, dua hari kemudian ada yang order tujuh, belum sampai selesai dikerjain ada yang order sembilan, ada susulan tiga, trus masuk lagi dua puluh satu, dan seterusnya. Alhamdulillah yah, ngerjainnya sampai kaya mau pingsan. :v
Jadi ini dia mainan baruku sekarang. In case ada dari kalian yang pengen order, namanya Bantal Emesh by Calypso.
Jadi ini postingan jualan terselubung? Yaiiyalah. Emang dikira postingan pembelaan?

Derajat profesi

Sekarang kita ke main course (astagaaa, dari tadi panjang banget itu baru pembukaan?). :D
Dari sekian banyak profesi yang pernah aku jalani itu, apakah semuanya mendapatkan tanggapan positif? Oh, tentu tidak, Maria Mercedez! Banyak yang dijudge dan dikatain. Terutama pas aku MLM. Hahaha. Tapi aku malu? Enggak, karena selain dapetin uang buat hidup mandiri, aku juga dapat banyak ilmu dan pengalaman. Lagian selama MLMnya sehat sih enggak masalah jek! Yang masalah itu kalau money game, trus investasi bodong, dan semacamnya. Itu sih dihina-hina aja nggak apa-apa. Bukan menghina ding, tapi edukasi biar jangan ada yang ketipu lagi, gitu. Ngerti kan bedanya?
Aku sama Ibing pernah juga dihina pas kerjaannya nerima orderan mural alias lukis dinding. Dikatain “Ngapain kamu kerja jadi tukang cat?” dan itu siapa yang ngatain? Ibuku sendiri. Saking kuatnya kebencian ibuku terhadap Ibing, aku sampai nggak sempet ngejelasin lagi kalau tukang cat yang satu ini bayarannya dua hari bisa enam juta weh.
Kemarin ada temenku yang update status soal itu. Kenapa sih, banyak banget orang yang menghina profesi orang lain? Yang kerja kantoran bergaji gedek, menghina yang MLM. Yang MLM menghina yang kerja kantoran. Yang wirausaha, menghina dua-duanya karena merasa “Ini lohh gue keren jadi bos,” dan seterusnya. Dan ini terjadi nggak hanya di scene MLM-pegawai-wirausaha aja. Sehari-hari kita juga ngejudge pekerjaan ini itu kan?
Aku kok jadi penasaran, aslinya siapa sih yang pertama kali merangking profesi? Indikator apa yang menyebabkan misalnya, profesi PNS lebih mulia dari buruh pabrik? Atau mengapa jualan steak dianggap lebih keren dibanding jualan mi ayam? Mengapa ada profesi-profesi yang dianggap lebih rendah derajatnya dibanding profesi lain? Apa dasarnya? Dilihat secara kasat mata aja kan? Padahal udah banyak bukti kalau penilaian kita nggak selalu benar. Menurutku ya, kalau profesimu memang baik dan keren, kamu nggak perlu merendahkan profesi orang lain.
Lagian, kamu nggak pernah tahu lhooo. Orang yang kamu hina itu bisa aja penghasilannya jauh lebih gede daripada kamu, cuma dianya diem karena humble. Temen pernah cerita kalau dia habis mengalami momen malu sendiri gara-gara dia selama ini menghina profesi sodaranya yang ‘hanya’ jadi tukang dawet. Nggak taunya si tukang dawet ini tabungannya udah ratusan juta sementara dia yang merasa keren karena kerja kantoran nggak pernah bisa nabung.  
Kerja itu nggak harus di kantor, berangkat pagi pulang malem. Nggak harus pakai baju office look yang keren dan sepatu yang kalau dipakai jalan bunyinya cetak-cetuk. Kerja itu yang penting nggak ngerugiin orang lain dan syukur-syukur bisa memberi manfaat. Kalau buat aku pribadi, yang penting aku seneng, nyaman ngerjainnya, dan nggak bikin aku merasa jijik sama diriku sendiri. Pas kerja di bank dulu kalau dari penampilan keren sih keren. Ke mana-mana juga dianter driver kan? Tapi aku nggak bahagia, malah menderita dan stress berat karena aku nggak suka.
Kerjaan aku sekarang juga nggak lepas dari penilaian merendahkan. Ada yang bilang “Kerjanya ngejahit kaya mbah-mbah.” Tapi aku cuek aja, karena aku suka.

Hobi yang Dibayar

Aku beruntung karena pekerjaanku sekarang adalah sebenar-benar hobi yang dibayar. Aku memang hobi ngecraft dan bikin barang-barang sendiri. Dan sekarang aku dibayar untuk itu. Contoh hobi yang dibayar lainnya adalah pas nerima job mural. Kerjaannya nggambar-nggambar dan mewarnai, dan dibayar. Aslinya aku sama Ibing sangat menyukai pekerjaan itu. Sekarangpun kadang ada yang nawarin, tapi karena sekarang Ibing kerjanya Senin-Sabtu dan ordernya kebanyakan dari luar kota, jadi nggak bisa deh.
Ke depannya aku juga masih pengen buka butik karena itupun hobi yang dibayar. Desain baju, bikin baju sendiri, trus dulu aku sering kedatangan customer mulai dari anak sekolah yang mau pensi, suami yang mau ngasih surprise buat istri, ibu-ibu mau kondangan, dan lain-lain yang minta fashion advice. Itu fun banget. Feel a bit like a fashion sylist. *benerin scraft
Masih banyak lah ya kalau contoh hobi yang dibayar apa. Misalnya banyak blogger yang dapetin duit dari ngeblog kan? Ada juga musisi, penulis, fotografer, dan aku malah punya temen yang dapet duit dari hobinya bikin kue.
Jadi postingan yang panjang banget ini intinya adalah semua pekerjaan asal nggak merugikan orang lain adalah baik. Jadi nggak perlu ngerasa paling keren karena profesi yang KELIHATANNYA lebih keren dari orang lain. Belum tentu, kak. Derajat profesi itu hanya ada di mata kita yang menderajat-derajatkan (apa jal istilahnya?). Kenyataannya, belum tentu bener, oke?
Tapi aku setuju dengan kutipan “Pekerjaan paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar.” Kenapa? Karena dengan demikian kita pasti menjalaninya dengan suka cita dan penuh cinta. Nggak ada beban. Capekpun nggak terasa. Dan karena yang kita jalani itu adalah sesuatu yang kita cintai, praktis kita nggak perlu menggadaikan hati nurani. *cieilaaah
Akhir kata, do what you love but remember this: strong people don’t put others down. They lift them up!

Love,
Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit conseat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amei.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Juni 2019 (2)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (15)
  • Februari 2018 (1)
  • Januari 2018 (1)
  • Oktober 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (2)
  • Juni 2017 (3)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (2)
  • Maret 2017 (8)
  • Februari 2017 (10)
  • Januari 2017 (3)
  • Desember 2016 (6)
  • Oktober 2016 (4)
  • September 2016 (6)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (3)
  • Juni 2016 (8)
  • April 2016 (1)
  • Maret 2016 (6)
  • Oktober 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • Kesumat Sang Raja Jerawat
  • Ngeblog seaktif Facebook-an. Gimana sih caranya?
  • Mengukur Kualitas Diri Tidak dengan Membandingkan
  • PESAN MORAL LOMBA-LOMBA AGUSTUSAN
  • PENTINGNYA MEMPERHATIKAN LINGKUNGAN PERGAULAN ANAK

Yang Nulis

Isthar Pelle
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates