• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MADGIRL!



Kiss Illustration from www.lelalondon.com

“Alasan klise. Nggak kamu, nggak temen-temenku, selalu bilang suka tulisanku. Hanya suka. Tak ada spesifikasi suka karena apanya,” kalimat yang sama, kesekian kali aku mendengarnya dari bibirmu.
“Aku suka tulisanmu karena tulisanmu bisa dinikmati.”
“Hyaaa, kamu pikir tulisanku cewek apaan?”
“Nggak semua cewek bisa dinikmati, tahu?” sekalipun bodi cewek itu termasuk golongan yang menggugah selera, belum tentu bodi itu enak digeliati.
“Yaa kalau ceweknya kaya suster ngesot sih, mending aku main sabun sendiri di WC umum.”
“Nhaa, tulisanmu bukan termasuk tipe cewek kaya suster ngesot.”
“Lalu apa? Suster ngentot?”
“Jadi seperti judul film horor Indonesia.”
Proyek antah berantah, katamu. Kamu menelepon hanya untuk membahas itu. Membahas sesuatu yang sebenarnya sudah selesai kita bahas.
“Sudah tidak ada pertanyaan?”
“Tidak. Aku tidak mau bertanya lagi,” jawabku. Daripada aku selalu menanyakan hal-hal yang menurutmu tak perlu dipertanyakan.
“Pertanyaanmu standar. Sama seperti pertanyaan ‘Kenapa suka pecel?’”
“Apa salahnya pertanyaan seperti itu?”
“Terlalu standar. Dan menurutku tidak penting. Kreatiflah sedikit. Tanyakan hal-hal yang lebih akademis.”
“Aku tak suka mendewakan kata-kata.”
“Aku tak mengharuskan pertanyaanmu berbahasa dewa. Hanya... tanyakanlah hanya hal-hal penting, yang memang perlu untuk dipertanyakan.”
“Kalau begitu, aku benar-benar sudah tidak punya pertanyaan lagi.”
Kamu tertawa.
“Soalnya kalau aku bertanya, pertanyaan-pertanyaan standar itu pasti akan muncul juga.”
“Benar, sudah tidak ada yang mau dibahas?”
“Tidak. Maksudku, benar.”
“Ya sudah, aku yang bertanya. Kenapa sampai sekarang kamu belum punya pacar?”
“Jawabannya standar: belum ada yang mau. Aku tidak bisa menjawab lebih akademis lagi.”
“Hahaha, kalau begitu jadi pacarku saja. Mau ya?”
“Untuk pertanyaan standar seperti itu, aku juga tidak bisa menjawab degan terlalu akademis.”
“Tapi aku tahu sebenarnya kamu mau.”
“Kamu tahu?”
“Jadi kamu mau?”
“Mau.”
“Ah, gampang banget. Nggak menantang. Kita putus!”
“Hiks hiks, sedih nih habis diputusin.”
“Jadi sebenarnya kenapa kamu tidak punya pacar? Nggak percaya banget kalau nggak ada yang mau.”
“Mau tahu yang sebenarnya? Aku ini tipe cewek seperti suster ngesot, tahu?”
“Masa sih?”
“Iya. Aku nggak mau diajak berhubungan seks. Jadinya kalau pacaran sama aku tetap aja kamu bakal sibuk sendiri di WC umum. Hahaha.”
“Wahh, boros juga kalau gitu.”
“Ha?”
“Ya lah, bikin sabun cepet habis aja.”
“Kok jadi bahas sabun?”
“Dari pada bahas ‘kenapa aku suka pecel?’”
“Memangnya sisi akademis dari sabun apa?”
“Ya kalau aku pacaran sama kamu dan tetep rela ngeborosin duit buat beli sabun, itu artinya aku bener-bener jatuh cinta.”
“Ah, nggak masuk akal. Kalau kamu pacaran sama aku dan rela menjawab pertanyaan ‘kenapa kamu suka pecel?’ itu baru jatuh cinta.”
“Ya sudah, aku suka pecel karena pecel enak. Bisa dinikmati.”
“Ah, emangnya pecel cewek apaan?”
“Yang jelas kalau makan pecel nggak bisa pakai sabun.”
“Yang jelas kamu sinting. Kita berdua sinting.”
“Lebih jelasnya lagi, aku jatuh cinta padamu. Plis, mau ya jadi pacarku.”
“Nggak ah, aku ingat satu petuah bijak: sesama sinting dilarang pacaran.”
“Hiks, sedih nih habis ditolak.”
“Tenang. Masih ada sabun.”
“Tapi aku nggak suka sabun disiram bumbu pecel.”
“Ya main sabun dulu, makan pecelnya nanti-nanti lagi.”
“Sama kamu tapi.”
“Main sabun kok minta ditemani.”
“Makan pecelnya, hihh!”
“Kan kamu yang suka pecel.”
“Nggak, aku sukanya kamu.”
“Aku mau disiram bumbu pecel?”
“Disiram sabun. Trus aku mainin.”
“Ini obrolan udah tiga halaman. Kapan berakhirnya ini?”
“Kalau kamu udah mau jadi pacar aku.”
“Diajakin makan pecel pakai sabun nggak?”
“Nggak lah. Biar aku saja yang sinting.”
“Baiklah. Mumpung cuma kamu yang sinting.”
Kemudian kau menciumku, dengan mulut berbusa dan beraroma sabun. Sedang aku membalas ciummu, dengan lidah asin dan gurih kacang tanah. Mungkin sebenarnya kita berdua tidak sinting. Hanya jatuh cinta.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Kalau ada satu hal yang aku tidak suka dari Indonesia, itu adalah budaya nongkrong-nongkrong nggak jelas. Jangan salah sangka. Aku juga suka nongkrong lah pastinya. Ngumpul sama temen ngopi bareng, ngemil gorengan, dan bicara omong kosong itu menyenangkan kok. 

Yang aku maksud itu adalah sekumpulan pria dewasa usia produktif yang nongkrong and doing absolutely nothing di hari dan jam kerja. Aku nggak mau nuduh mereka pengangguran. Bisa jadi aja mereka itu pengusaha kaya raya yang duitnya udah banyak banget dan nggak perlu kerja lagi sampai tujuh turunan. Tapi tetep aja, mereka nongkrong, and doing absolutely nothing.

Tongkrongan jenis ini ada di mana-mana. Di pos ronda, di pangkalan ojek, di perempatan, di tikungan, dan yang terbaru ada di bengkel dan toko pakan burung depan kosan. 

Sebenarnya terserah aja sih mau nongkrong juga itu hak mereka kok. Tapi setiap kali aku ngelewatin tongkrongan kaya gitu tuh aku selalu merasa nggak nyaman. Karena mereka semua akan memandangiku seolah aku makhluk aneh dengan kuping lancip dan tanduk di kepala. Ngeliatin aja gitu. Ngeliatin teruuus dari sejak pertama aku muncul sampai aku nggak kelihatan lagi. Kalau disapa paling cuma nyengir. Bukan hanya ngeliatin, mereka juga kepo aku mau ngapain. Misalnya aku jalan ke warung mereka akan cari tahu aku masuk ke warung mana, beli apa, ngapain beli itu, dan seterusnya. Serius itu. tongkrongers di daerahku sini sampai segitunya. 

Btw, aku tadi bilang kalau itu tongkrongers pria dewasa ya. Bagaimana dengan ibu-ibu? Sama saja. Lebih parah bahkan karena kalau sekumpulan ibu-ibu nggak punya kesibukan nongkrong bareng itu aktivitasnya tak lain dan tak bukan adalah gosip. Aku bahkan sampai malas turun dari kamar kalau ibu-ibu lagi pada ngumpul dan ngegosip karena nantinya aku akan dihadapkan pada satu pilihan: diajakin ngumpul dan ikut bergosip. Kalau aku nggak mau … yupp, akulah yang akan digosipin.

Keramahan yang Tidak Pada Tempatnya

Orang sini itu ramah. Itu benar, dan aku suka itu. Tapi kadang ada keramahan-keramahan yang nggak pada tempatnya, kurasa. Aku sebenarnya termasuk anak yang lebih suka sendirian menghabiskan waku untuk hal yang rada bermanfaat ketimbang ngumpul nggak jelas, tapi demi menjaga hubungan baik kadang aku menyapa dan beramah tamah juga lah sama misalnya, penghuni kos lain dan penduduk sekitar. 

Yang aku nggak suka dari aktivitas ramah tamah ini adalah, they will start to ask me personal shit. Mbaknya yang kerja di kamar atas itu ya? Kerja apa? Kok nggak pernah keluar? Itu yang sering datang pacarnya? Kalau makan masak sendiri apa beli mbak? Kalau beli, beli di mana? Kenapa nggak masak sendiri aja mbak? Dan seterusnya yang sering kali membuatku pura-pura angkat telpon meski nggak ada satu orangpun yang tahu nomer hapeku. 

Nggak cukup nanya-nanya aja. Kalau udah kehabisan pertanyaan selanjutnya mereka akan ngasih nasihat panjang lebar. Mending masak sendiri aja mbak, lebih hemat lho. Nanti belanjanya di pasar situ mbak, deket kok. Mbok sering ngumpul gitu lho mbak, sosialisasi. Jangan di kamar sendirian aja. Rambutnya mbok dicreambath mbak. Di salon sana itu bagus lho. Makan yang banyak mbak, biar gendut. Dan seterusnya yang sering kali membuatku pura-pura harus secepatnya nyelesaiin jahitan bantal meski seharian belum ada yang order. Hiks.

Yang bener aja deh. Apa cuma aku yang nggak nyaman digituin? Apa semua orang lain baik-baik saja dikepoin kaya gitu? Apa aku aja yang aneh, iya? Kenapa sih orang seneng banget ngasih saran ke orang-orang yang mereka tahu hidupnya aja enggak? Tentu saja saran-sarannya jadi sering kali nggak nyambung sama kebutuhan si yang dikasih saran lah. Kaya misalnya aku sering banget dikasih saran ini itu, pakai produk nganu-nganu biar kulitnya putih. Padahal akunya aja sengaja panas-panasan minimal 20 menit tiap hari untuk mempertahankan warna kulit kaya gini.

Terus terang aja aku sendiri nggak bisa kaya gitu. Mungkin karena aku masih harus bekerja keras untuk sekedar hidup nyaman sekarang ini. Aku belum jadi orang kaya raya tajir melintir yang nggak perlu kerja lagi sampai tujuh turunan. Aku nggak punya waktu sebanyak itu untuk ngurusin hidup orang. 

Aku masih bisa senyum hangat, menyapa ceria, dan basa basi seadanya, tapi aku memang nggak bisa mendadak akrab dan ngobrol banyak ngasih nasihat ini itu ke orang lain yang baru kukenal namanya. Mungkin gara-gara itu aku dicap nggak ramah. Tapi kalau definisi ramah adalah terlalu ngurusi hidup orang sampai orang itu nggak nyaman dan sibuk ngasih ceramah sedangkan yang diceramahi sendiri belum tentu butuh, well, aku memutuskan kalau menjadi nggak ramah itu nggak apa-apa. 

Kecuali orangnya memang curhat, aku baru siap menjadi pendengar yang baik. Dan hanya itu. 

Btw, ini tulisan nggak nyambung yang aslinya kutulis karena gundah aja sik, gara-gara akhir-akhir ini itu aku kalau mau keluar-keluar males gitu dilihatin dan ditanya-tanya. Keluar ditanya-tanya, nggak keluar-keluar makin dipertanyakan.

Oh, jubah tak kasat mata.  
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Image source: Weheartit


Kamar ini penjara. Monster tua mengurungku dalam kegelapan yang membosankan, membuat sakit kepala. Aku berdiam menghabiskan rokok sebatang demi sebatang. Yang pada lidahku, kini terasa seperti neraka. Panas yang asik. Keasikan yang tak lagi asik. Kau tahu? Penjara ini neraka, sayang. Aku bangun setiap siang. Linglung seperti pertapa sakti yang kehilangan kekuatan. Apa yang harus kulakukan? Bertapa lagi sampai seratus tahun ke depan? Ada mimpi tentang teman-teman yang baik. Mungkin aku terlampau merindukan mereka. Ada lagi mimpi tentang laki-laki tak baik. Mungkin aku terlalu membencinya. 

Aku belajar menulis. Tapi ruangan ini terlalu gelap. Tak ada bedanya dengan buta. Di sudut almari tersimpan gitar tua. Senarnya masih utuh tapi tak bisa bersuara. Seperti mata. Mereka menangis tanpa setetespun air mengalir. Di atas lemari, jarum-jarum berkarat karena air yang terus menetes dari langit-langit. Padahal tidak hujan. Di sini aku tak pernah melihat hujan. Jendela sudah tertutup koran lama dan sebagian yang tak tertutup sudah kusam oleh debu. Aku tak mampu melihat apa-apa. Bahkan matahari. Aku tak yakin kapan siang dan kapan malam. Aku hanya mengandalkan jam yang berdetik tanpa suara. Tapi jam juga bisa dimanipulasi. Kau tahu, untuk mengacaukan pikiranku. Untuk mengacaukan segalanya. Satu-satunya cahaya yang kudapat adalah ketika aku menyalakan senter. Senter yang cahayanya selalu berubah. Kadang terang, kadang pilu.

Kamar ini adalah karantina. Aku dipaksa melupakan satu-satunya kenangan yang kupunya. Kenangan tentangmu. Bagaimana bisa? Kamu satu-satunya kenangan itu dan di kamar ini aku tak pernah mendapatkan kenangan baru. Sudah satu tahun utuh. Ingatan tentangmu masih sangat mengganggu. Sepertinya, terapi air menetes dan jarum berkarat itu sama sekali tak ada pengaruhnya. 

Kamar ini adalah ruang kerja, seharusnya. Aku memiliki komputer yang sayangnya tak bisa menyala. Ada buku yang setiap lembarnya sudah habis kutulisi sekaligus habis kubaca. Ada benang dan gunting. Aku membuat seprei, alas tidur. Tapi telah robek dan aku harus menambalnya di mana-mana. Ada lukisan. Wajah orang yang tak kukenal tapi seperti ingin mengatakan sesuatu. Kalau aku cukup gila, aku pasti bisa mendengarnya bercerita. Tapi lukisan itu diam saja. Berarti sepertinya aku tidak gila.

Ada telpon. Banyak sekali telpon. Yang setiap kali aku mengangkatnya aku bisa mendengar orang bicara. Pernah suatu kali aku terkejut karena mendengar suaramu.

“Apa kabar?”
“Aku waras-waras saja.”
“Kerja di mana sekarang?”
“Tidak bekerja.”
“Masih tinggal di kota yang sama?”
“Ya!” 

Sekarang aku tak mau lagi mengangkat telpon. Sekalipun benda itu berdering menyakitkan. Karena sejak saat terakhir itu, suara yang kudengar tak pernah milikmu. Padahal aku butuh suaramu. Aku butuh percakapan kita. Dan seperti setiap kali aku butuh, kau menghilang. Mungkin kau akan datang nanti ketika aku tak membutuhkanmu lagi, tapi, kau juga tahu, itu tak mungkin terjadi.

Aku punya banyak sepatu tapi aku tak pernah memakainya. Padahal aku suka sepatuku. Tapi ruangan ini terlalu sempit untuk berjalan-jalan. Jadi sepatu-sepatu itu kini berdebu dan laba-laba telah menjadikan mereka sarang. Dan aku ingat mendengar lagu-lagu. Nyanyian yang seperti doa. Dalam bahasa yang tak kumengerti.

“Suatu hari aku ingin belajar bahasa korea,” aku pernah bilang padamu. Dulu, sebelum aku dipenjara.
“Kamu mau pergi ke korea?”
“Tidak juga. Aku hanya ingin belajar banyak bahasa.”

Kemudian kau bicara. Lagi-lagi dalam bahasa diam yang tak kumengerti. Tapi aku tahu kau sedang mengatakan sesuatu. Aku bisa melihatnya dari matamu yang terpejam lalu terbuka.

Di kamar ini aku belajar menggambar. Menggambar senyummu yang semenakjubkan bintang jatuh. Aku sering membuat harapan-harapan kecil ketika melihatnya. Sekali dulu, aku pernah pergi ke pegunungan malam-malam. Hanya untuk melihat bintang-bintang. Melihat mereka jatuh menyinari langit. Sekejap. Memabukkan. Dengan cara itulah aku mengingat senyummu yang selalu berupa lengkungan bibir sederhana. Dengan cara itu aku menyiksa diri dengan merindukanmu dan sadar berkali-kali kau tak pernah lagi bersamaku. Dengan cara itu aku berusaha mati bahagia.

Tapi aku di kamar ini sekarang. Dikarantina, dan dilarang membunuh diri sendiri. Kamar ini terkunci. Dari dalam dan dari luar. Aku tak bisa pergi, dan tak ada satu orangpun bisa membawaku pergi. Jelas, ini jebakan maut yang membunuh perlahan-lahan.Tapi aku tak lagi ingin mati. Karena kalau aku mati di sini, aku akan mati dalam sengsara, dalam kegelapan, dan aku benci gelap. Dan di saat-saat genting, biasanya menuju tengah malam versi jam berdetik tanpa suara itu, aku akan merindukan senja. Merindukan matahari tenggelam kita yang baiklah, sekarang biar jadi milikmu saja. Kamar ini tak memiliki matahari, ingat? Aku tak akan pernah melihatnya tenggelam lagi untuk waktu yang lama.

Dalam tidur, aku bermimpi ada yang menggedor-gedor pintu. Tapi pintu itu dikunci dari luar dan dari dalam. Jadi aku melanjutkan tidurku. Lama-lama suaranya menjadi sangat berisik. Aku terbangun karena merasa terganggu. Dia mendobraknya. Merusak dan menghancurkannya dengan mengayunkan bola besi raksasa. Cahaya berebut masuk dengan seketika. Aku semakin buta. Mataku sakit sampai aku harus menutup seluruh tubuhku dengan seprei yang telah tertambal di mana-mana. Tapi dia melepas paksa dan membakarnya di depanku. Kamar ini ikut terbakar dan ia memaksaku pergi. Padahal aku ingin tinggal saja. Aku suka api. Dia tak peduli. Aku diikat dan diseret meski aku menangis. Air menetes deras kali ini. Aku mencintai api itu sama besar seperti aku mencintaimu.

Senja ini adalah kesunyian. Aku benci kesunyian sama seperti aku membenci kegelapan. Tapi dia memenjarakanku lagi sekarang. Dalam kesunyian yang gawat, yang jauh lebih menyiksa dibanding terbakar rindu. Sore ini, dia memaksaku memandang matahari tenggelam. Dia telah memindahkan penjaraku ke dalam senja selamanya. Seingatku senja itu indah. Tapi kali ini entah. Aku dipaksa memandang matahari tenggelam, senja itu. Tanpa boleh mengingatmu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Image source: artmirrorsart
Menulis cerita tidak pernah mudah. Terutama katika kau sedang tidak begitu jatuh cinta atau patah hati. But I have to write this down. Cause he said so. Jadi aku memastikan kopiku enak, memutar lagu Justin Timberlake, dan mulai mengetik.

Aku baru saja keluar dari pekerjaanku. Karena yahh, aku sudah tak sanggup lagi mengatasi mual pagi hari setiap kali mencoba menebak apa yang akan dikatakan bos pagi ini, atau pandangan iri (yang biasanya disertai bisik-bisik) senior-senior perempuan ketika melihatku berjalan dengan senyum ceriaku yang biasa. Atau bahkan mata cowok-cowok yang ketika berbicara denganku, tak pernah menatap mataku. You know lah mereka menatap apa. Lebih dari itu semua, aku mau aktif menulis lagi. Juga aktif di kegiatan mengembangkan my so called label and company. That makes me feel way way happier than ever.

“Kemarin pas ngantor di tempat orang aku pasti kesel kalau diomelin soal administrasi yang harus rapi. Sekarang pas ngurus usaha sendiri, baru tahu kalau urusan administrasi berantakan, kacaulah segala-galanya,” aku update status di BBM pagi itu.

“Kamu buka kantor apa? Aku ikuut!” Suneo, cowok ganteng yang ternyata adalah adik kelasku di SMA (aku baru tahu setelah dia cerita melalui chat room facebook) merespon melalui Blackberry messanger.
“Itu, Glambition Id kan cloth line debutanku. Ya ayo kalau mau ikut,” balasku.
“Di mana? Trus gimana? Aku ikut jualin apa gimana?” Err, slow down, tiger! Akhirnya aku menjelaskan bagaimana tepatnya dia bisa bekerjasama dalam hal ini. Perusahaan ini baru mulai dan aku benar-benar belum punya cukup uang untuk menggaji karyawan. Jadi aku tawarkan dia untuk menjadi semacam reseller. 

“Aku lihat dulu ya,” katanya. Well, sampai sini aku bingung. Apanya yang mau dilihat? Aku mengerjakan produk berdasarkan pesanan. Dan aku tidak punya kantor. Ruang produksi, administrasi, gudang jadi satu di kamar kos dua kali tiga meter. Kujelaskan itu padanya.
“Kalau mau lebih jelas, aku saja yang ke situ,” kataku. Setahuku dia kuliah di Jogja dan aku sudah lama tidak mengunjungi kota itu. Pasca heart quake yang waktu itu, aku belum pernah ke sana lagi. Dan harusnya ini bisa jadi alasan bagus.
“Aku di rumah sekarang,” katanya. Itu berarti dia tidak di  Jogja. Di rumah. Kampung halaman. Sementara aku tidak suka pulang. 

Akhirnya, setelah diskusi panjang (aku lupa bagaimana tepatnya obrolan kami), kami memutuskan untuk bertemu di Jogja.
“Tapi aku cuma mau main ke sana. Bukannya jalan-jalan,” dia bilang.
“Bukan masalah. Nanti kita bisa ngobrol lalu aku cari teman buat menemani jalan,” jawabku. Dia membalas dengan emot sedih. Dan membayangkan wajahnya yang ganteng dengan ekspresi seperti itu, cewek normal mana sih yang tega? Tapi aku cuma tertawa.
“Pacarmu anak mana?” tanyaku (err, aku lupa, mungkin berhari-hari setelahnya).
“Aku nggak punya,” jawabnya. Hah? Cowok ganteng dan nggak punya pacar? Baiklah, dia pasti playboy.
“Cowok ganteng sepertimu nggak punya pacar?” tanyaku.
“Aku cuma nggak percaya. Komitmen, cinta, apa sih? Paling juga ujung-ujungnya putus.  Sama aja,” balasnya. Well, good point.
“Iya bener,” balasku.
“Aku lebih suka bebas. Kalau suka ya ayo have fun, kalau nggak ya udah. Punya pacar malah repot, kebanyakan ngatur,” dia bilang lagi.
“Setuju! Toss, salaman!” balasku.
“Udah toss, salaman, ciuman iya nggak?” tanyanya.
“Wah, jangan! Dicium cowok ganteng kaya kamu, ntar aku deg-degan,” kataku. But, seriously, baru membayangkan saja jantungku sudah berubah ritmenya. Lebih cepat tentu saja.
“Ya udah kalau nggak mau. Beneran lho ya,” katanya lagi.
“Hahaha. Siapa coba yang bakal nolak cowok ganteng kaya kamu?” maksudku, bayangkan saja. berdua dengan laki-laki setampan dia, dia minta ciuman, dan kau menolak? Kemungkinannya cuma ada dua: kalau nggak idiot, itu cewek pasti frigid.

Setelah beberapa hari berikutnya, obrolan kami semakin kinky saja. Bukan hanya aku yang kegenitan dengan kirim-kirim foto topless padanya, tapi rencana yang dulu-dulunya sebatas ‘buat ngomongin kerja sama bisnis’ beneran udah berubah menjadi kencan. Untuk bercinta. 

Week-end yang dijadwalkan. Aku jarang mandi dan dandan kecuali well, pas kerja kantoran beberapa waktu lalu. Tapi minggu ini agaknya aku cukup serius mempersiapkan diri. Kalau tidak cantik di matanya, setidaknya aku keren menurut diriku sendiri. Karena apa? Sudah lamaaaa sejak aku tak berpetualang dengan pria baru dan aku suka itu. Lebih dari itu, aku benar-benar naksir padanya. Tanda-tandanya sudah jelas. Kekaguman yang tak terkontrol, ada. Kekhawatiran yang tak beralasan ketika dia lama tak membalas pesan, ada. Penghuni sepenuh waktu di negeri fantasi, iya.

Dia menjemputku seperti yang dijanjikan.
Aku ingat dia adik kelasku. Harusnya aku pernah juga berpapasan dengannya sekali atau dua kali, tapi entah bagaimana butanya aku sehingga tidak benar-benar sadar kala ada cowok ganteng di sekelilingku. Atau mungkin waktu itu aku memang masih begitu tololnya sehingga belum bisa membedakan cowok ganteng dan tidak. Tapi dia sudah di hadapanku sekarang. Menatapku sepertii … aku tak tahu. Yang jelas aku merasa terintimidasi sekaligus minder pada satu waktu. And for the love oh Gods, aku tak tahu harus mengatakan apa. Ke mana perginya aku yang selalu bisa mencairkan suasana? Jatuh cinta memang selalu membuatmu tolol kan? Tapi aku bahkan tak yakin ini adalah cinta.

Dia tersenyum. Dan rasanya aku ingin membekukan momen itu. Momen ketika dia menatap mataku dengan senyumnya. Aku ingin mengawetkan dan menyimpannya setidaknya sampai seratus tahun yang akan datang. 

“Kamu capek?” dia bertanya. Aku menggeleng. “Kamu yang capek,” kataku sok care. Jelas-jelas terdengar tolol. Aku baru akan membuka laman berita online melalui handphone (siapa tahu ada berita bagus yang bisa dijadikan bahan obrolan) ketika dia memelukku. Iya, memelukku begitu saja. Aku diam seperti patung (or even worse). Baunya harum. Aku tak tahu parfum apa yang dia pakai. Harum yang seksi khas lelaki.

Tangannya bergerak membelai rambutku dan menciumnya. Untunglah aku sudah keramas. Sedetik kemudian dia mencium pipiku dan wajahku pasti semerah tomat saat itu. Aku berusaha berpikir jernih dan mengingat apa kiranya yang biasa kulakukan ketika ada seorang pria memperlakukankku seperti itu. Tapi aku justru semakin tak bisa berpikir ketika ciumannya berpindah ke leherku. Membuat sekujur tubuhku berdesir dan kakiku lemas seperti jeli. But it feels so damn good. Dia menciumi pipiku lagi. Bagaimana bisa pelukan dan ciumannya bisa membuatku senyaman ini?

Dia mengarahkan wajahku padanya, dan jangan tanya! Aku jelas-jelas tak berani menatap matanya. Jadi aku menutup mata dan dia mencium bibirku. Rasanya begitu indah melebihi ciuman pertama (oke, ciuman pertamaku sama sekali tidak ada indah-indahnya). Detik-detik pertama aku hanya pasrah menerima perlakuannya, tapi ketika dia mulai menggerayangi payudaraku, aku tak memikirkan apapun lagi. Aku melingkarkan lenganku di lehernya, membalas ciumannya. Tangannya berpindah ke pinggang dan dia mengelus-elus bagian kulitku yang terbuka. Aku melenguh sedikit. Dia merebahkankku di ranjang. Nafas kami sudah tak lagi normal. Atau aku saja? Ahh, tangannnya menelusup ke balik kaos yang kupakai. Merayap ke payudaraku yang masih terbungkus BH. Membuatku terengah-engah.

Tanganku pun menelusup ke balik baju yang dia kenakan, mengelus punggungnya, mencoba melepaskannya. Dia melakukan hal yang sama. Tubuh bagian atas kami sudah tak tertutup apa-apa. Kontak dengan kulitnya membuat darahku berdesir hebat. Dia mulai mencium payudaraku. Tangannya merayap ke punggung, mencoba melepaskan pengaitnya. Aku membantunya dengan menaikkan tubuhku ke atas. Dan nah, payudaraku bebas sekarang. Dia memandanginya beberapa detik. Aku merasa malu dia begitu jadi kutarik wajahnya dan aku menciumnya lagi. Sedang tangannya menjelajah seluruh tubuhku. Aku merasa geli dan terengah ketika dia menelusur pinggangku dan terus ke bawah. Mencoba membuka celana jins yang masih kupakai.

Tanganku turun membuka pengait celananya dan memasukkan tanganku ke sana. Meraih miliknya. Tanganku yang satunya membuka celanaku sendiri karena dia kesulitan dengan itu. Dia menjatuhkan badannya ke ranjang, menarikku ke atasnya. Kami masih berciuman dan aku benar-benar ingin menjerit ketika dia menciumi leherku lagi. Kami melanjutkkan aksi striptease dengan membuka celana masing-masing tanpa menyisakan apapun. Aku terperangah. Dia ini dewa yunani atau apa? Tubuhnya begitu bagus. Aku meraba perut hingga dadanya sementara dia memainkan bukit kembar di dadakku dengan kedua tangannya. Ini benar-benar membuatku gila. Aku mendesah.

Tangannya bergerak meraba bokongku dan tak ada yang bisa kulakukan selain bergoyang mengikuti gerakannya. Milikku sudah sangat basah. Dia pasti tahu itu ketika tangannya bergerak meraihnya. Dan aku seperti kehilangan nafas dalam sedetik.

Dia terus memperlakukanku seolah sengaja ingin membuatku kehilangan pikiran yang satu-satunnya. Dia membalik tubuhku lagi. Sekarang dia di atasku. Dan dia membelai seluruh permukaan kulitku secara konstan, menciumi payudaraku, leherku sampai aku tak berpikir lagi untuk mengerang sekeras-kerasnya. Dia mencium bibirku lagi dan menatap mataku selama beberapa lama, meminta persetujuan untuk memasukkan miliknya padaku. 

Aku sudah mengatakan padanya untuk tidak melakukan itu. Tapi peduli apa? Semua ini terasa begitu nikmat dan aku ingin lebih. Akhirnya, ketika dia memasuki tubuhku, aku menjerit. Untuk rasa perih juga nikmat. Aku menggigit bibir bawahku dan memeluknya terlalu erat.

Saat dia melakukan itu padaku, dengan gerakan teratur dan berulang-ulang, aku seolah melihat bintang-bintang gemerlapan di kelopak mataku sendiri. Aku mencakar punggungnya, meremas sprei, menggapai apa saja. 

Kami berakhir dengan tubuhnya lemas di atasku. Kepalanya disandarkan pada payudaraku, dan aku membelai rambutnya dan menciuminya.
“Tadi itu fantastis,” kataku.

Dia tidak menjawab. Dia menggeser tubuhnya dan langsung tertidur di sampingku. Aku memandang wajahnya. Dia tidur seperti malaikat. Aku memeluknya dan tertidur juga.

Ketika bangun, dia sudah berpakaian dan mengajakku pulang. Dia mengantarku dan ketika dia berpamitan, aku ingin menciumnya sekali lagi. Atau mungkin selamanya. Tapi dia berlalu begitu saja. Aku tak begitu ingat apa yang terjadi, but he just so sweet.

Malamnya, aku tak bisa tidur. Aku mencoba mengirim pesan padanya.
“Sudah sampai?”
Tidak ada jawaban. Sampai besok dan besoknya lagi. Dia tak pernah menjawab pesan apapun lagi dariku.

Aku mengerti beberapa orang hanya mencari seks, dan ketika itu terpenuhi, tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kadang-kadang aku juga begitu. Tapi kali ini, aku merasakan sedih yang aneh. Mungkin aku tak benar-benar jatuh cinta padanya. Hanya terkesan atau apa. Dan ketika dia berhasil membawaku ke tempat tidur, itu sama sekali bukan salahnya. Tapi di atas segalanya, aku hanya wanita.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit conseat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amei.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Juni 2019 (2)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (15)
  • Februari 2018 (1)
  • Januari 2018 (1)
  • Oktober 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (2)
  • Juni 2017 (3)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (2)
  • Maret 2017 (8)
  • Februari 2017 (10)
  • Januari 2017 (3)
  • Desember 2016 (6)
  • Oktober 2016 (4)
  • September 2016 (6)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (3)
  • Juni 2016 (8)
  • April 2016 (1)
  • Maret 2016 (6)
  • Oktober 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • PESAN MORAL LOMBA-LOMBA AGUSTUSAN
  • Tekanan Sosial dan Kebutuhan Pamer
  • Kesumat Sang Raja Jerawat
  • SENI MENERTAWAKAN DIRI SENDIRI
  • [PEOPLE] NGOMONGIN AWKARIN DAN YOUNG LEX

Yang Nulis

Isthar Pelle
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates