• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MADGIRL!


Aku sering bilang, kalau apa-apa yang kita lihat di social media itu paling baru seperduajuta dari kenyataan yang sesungguhnya. Dan aku malah baru sadar betapa benarnya itu.

Kesadaran ini juga datangnya nggak serta merta, melainkan bertahap. Dan prosesnya sebenarnya sudah lama, terlalu lama bahkan. Cuma akunya aja yang terlalu lemot dan nggak kunjung paham.

Pas kuliah dulu aku punya temen yang kebetulan berprofesi sebagai jurnalis. Hubungan pertemanan kami ndilalahnya juga nggak ada kaitannya sama hal bermanfaat selain cuma sebatas senang-senang saja: mabok bareng dan tidur bareng (beneran tidur doang dalam arti yang sebenarnya karena aku nggak pernah mau ngapa-ngapain sama dia, seringnya malah ngapa-ngapain sama temennya, ngahaha).

Kami cukup akrab. Aku sering nginep di kosnya (biasanya kalau udah terlalu mabuk dan aku males pulang), dan dia juga pernah beberapa kali nginep di kosku (ajaibnya, tetep nggak pernah ngapa-ngapain). Kami nggak pernah memperbincangkan topik yang rada pakai mikir gitu. Ringan-ringan aja kayak misalnya cuaca, ban bocor, atau harga congyang yang makin lama makin naik.

Pas suatu ketika dia akhirnya tahu kalau di kampus aku pernah ikut persma, suka baca, dan kadang nulis, reaksi pertamanya adalah … nggak percaya. Bahkan secara menyakitkan dia bilang “Nggak mungkin ah, cewek kayak kamu.”

He.

Lama berselang, aku nggak pernah mengalami pengalaman sejenis. Sampai akhir-akhir ini. Beberapa bulan yang lalu, aku posting foto buku yang sedang aku baca di story facebook. Hal yang sangat jarang kulakukan. Itu juga tumben-tumbenan karena kebetulan aja bukunya udah ada di wishlist sejak bertahun-tahun lalu dan baru dapet, trus aku gembira, makanya posting.

Trus ada orang katakanlah hobi mikir tapi tidak hobi bekerja gitu yang ngirim pesan dan bilang “Aku nggak nyangka, ternyata kamu baca buku juga?”

Hehe.

Beberapa waktu setelah itu, ada orang yang terheran-heran sama gaya hidupku. Kok kayak selo banget punya seluruh waktu di dunia dan nggak ngapa-ngapain. Trus aku fungsinya di masyarakat itu apa. Kok beneran kayak numpang ngeborosin oksigen doang nggak ada gunanya.

Hehehe.

Trus beberapa waktu yang lalu aku ketemu seseorang. Kopdar lah ceritanya. Trus dia nanya aku tuh kerjaannya apa. Aku bilang “Sekarang sih lagi nulis.” Dan orangnya merasa perlu bertanya untuk meyakinkan kupingnya sendiri “Nulis??”

Seolah-olah itu adalah hal yang sangat aneh buatku. Seolah sangat jauh dari bayangan dia tentang aku.

Hehehehe.

Tentu saja aku nggak menyalahkan mereka. Karena mereka menilai dari apa yang mereka lihat dan apa yang mereka ¬sangka ketahui. Dan mereka menarik kesimpulan-kesimpulan itu dari luar.

Si jurnalis melihatku sebatas sebagai mahasiswi santai gaul ke sana ke mari dan kuat minum kayak ikan. Si teman yang ngomen storyku melihatku sebagai anak facebook penggemar jokes receh. Si teman kencan kopi daratku melihatku sebagai si toket gede yang gemar posting foto telanjang. Dan nggak lebih dari itu. Di mata mereka, aku nggak mungkin punya kualitas lebih dari itu.

Cewek yang doyan minum, bisanya cuma share humor nggak lucu, foto telanjang, dan pinter ngoral, nggak mungkin suka baca buku dan apalagi berprofesi sebagai penulis (yang dianggap harus cerdas dan memiliki kualitas tertentu).

Aku nggak tahu gimana awal mulanya, tapi cewek yang dianggap “nakal” selalu otomatis dianggap goblok. Hampir sama dengan stereotip cewek cantik hobi dandan yang dianggap nggak mungkin bisa baca. Padahal apa hubungannya?

Iya, itu typo, aku males benerin.

Balik lagi ke awal: apa hubungan semua ini dengan social media? 

Mau nggak mau, social media sekarang ya emang dianggap sebagai representasi kepribadian seseorang sih. Semacam etalase lah ya. Makanya banyak orang yang sampai rela berkorban melakukan hal-hal konyol demi pencitraan. Karena faktanya, we do judge a person by their social media.

Tentu saja dalam beberapa hal memang ada benarnya. Aku juga sering gitu. Hahaha. Misal ada cowok deketin, trus aku lihat di wallnya isinya sebaran berita hoax tolol semacam Prof. Tokuda, yha monmaap.

Cuma ya balik lagi, yang kita lihat di wall itu baru lapisan kulit luar banget. Ibarat bawang, ya baru kulit arinya yang biasanya dikupas itu. Kenyataannya, masih ada lapisan demi lapisan yang kita bahkan nggak pernah bayangkan. Misalnya aja yang nyebar hoax Prof. Tokuda bisa jadi ternyata justru penggemar film-filmnya. Cuma sengaja nyebar aja biar ramai. Biar mengaduh sampai gaduh.

Kita kan nggak pernah tahu.

Aku sendiri, apa-apa yang aku sebar di medsos, sebenernya malah lebih banyak yang nggak ada sangkut pautnya sama kehidupan nyata. Cuma ngereceh aja, sama kadang-kadang  jualan.

Aku hampir nggak pernah posting soal buku yang aku baca, karena ya biar apa? Hahaha. Aktivitas membaca buatku ya biasa aja, nggak perlu diumumin. Kecuali ada yang mau aku bahas. Dulu pernah sih beberapa kali aku nulis soal buku di sini. Tadinya mau aku jadiin series, tapi trus nggak lanjut. Nggak tahu ya, mungkin nanti-nanti bakal aku lanjutin lagi. Pernah juga aku sempet agak sering posting foto buku di instagram. Tapi cuma buat isi-isi doang waktu itu ngepasin sama warna tema feeds. -_-

Aku juga nggak pernah posting soal kerjaan. Paling promo-promo jualan. Trus udah. Nggak pernah pengumuman lagi bungkusin paket, atau posting chat mesra sama pembeli. Dahulu kala, zaman pertama-pertama banget ngolshop sih sering. Sampai foto-fotoin resi yang bertumpuk-tumpuk itu. Di akun jualan tapi. Tujuannya buat meningkatkan kepercayaan. Balik-balik ya buat kepentingan promosi.

Di akun pribadi juga pernah beberapa kali. Tapi habis itu seringnya nggak sempet lagi. Atau sebenernya sempet cuma aku males aja.

Dan aku jualan kan nggak cuma di facebook. Di facebook pun ada alter akun khusus jualan dengan market spesifik dan cuma pakai nama jualan. Yang beli, bahkan kalau sebenernya berteman sama akun pribadiku di facebook juga mungkin nggak akan pernah tahu kalau itu aku.

Dan aku nggak pernah cerita soal kerjaanku yang lain. Kadang aku nulis. Sebelum nulis buku cerita anak, aku nulis artikel buat blog dan lain sebagainya. Banyak yang pakai nama palsu karena aku cuma mau uangnya. :D

Dan banyak lagi. Banyak banget sisi kehidupanku yang menurutku nggak perlu aku bahas di medsos. Padahal aku kelihatannya kayak ceriwis ya kan? Rajin posting dan ngomongin diri sendiri ya kan? Tapi itu paling mungkin cuma 0,05%nya aja.

Yang salah menilai tentu banyak banget. Bukan hanya heran karena aku ternyata bisa baca, tapi juga yang mencap aku ini itu yang mendekati kebenaran sedikitpun enggak.

Dan mereka nggak salah. Wajar. Enggak dilarang juga. Aku juga mengerti kalau citra-citra itu yang mereka tangkap karena yang aku tampilkan emang kayak gitu kok.

Meski tadinya aku sempet heran juga sih. “Kok bisa ya fakta sesederhana aku bisa baca ternyata bisa seaneh itu di mata orang?” atau “Kok gitu aja dia heran sih?” karena aku merasa biasa aja dan aslinya emang kayak gini. Lha mereka tahu dari mana coba? Nggak salah lah.

Aku cuma lagi terkagum-kagum aja sama betapa emejingnya cara kita berprasangka dan merasa tahu hanya dari apa yang kita lihat di social media. Social media loh. Tempat orang bisa berpura-pura jadi apa saja. :D
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Dari video klip Die Antwoord - Banana Brain


Judul ini terinspirasi dari Banana Brainnya Die Antwoord tentu saja, yang entah kenapa terngiang-ngiang terus di kepalaku selama empat puluh delapan jam terakhir ini, setidaknya. 

Aku punya pertanyaan: bisakah orang mati karena jatuh cinta atau patah hati? 

Aku tentu saja terlalu malas untuk mencari jawabannya secara serius, jadi aku memilih untuk menanyakannya padamu saja, yang entah karena angin apa tak sengaja membaca ini. Jangankan serius mencari jawaban, sekadar melakukan pencarian sederhana di Google saja aku malas. 

Padahal hal itu yang akhir-akhir ini aku lakukan. Menggogle segala sesuatu, mengklik apapun yang muncul di halaman pertama, dan merasa cerdas setelah membaca beberapa paragraf di Wikipedia. Hahaha. Aku ini ikan, yang bernafas di dalam air dengan bantuan tabung oksigen. 

Begini, sebelum kau memberiku jawaban berdasarkan pemikiran mendalam yang bukan hanya berasal dari hasil pencarian google, aku ingin menjelaskan dulu latar belakang kenapa aku bisa sampai muncul dengan pertanyaan itu. 

Ini pertanyaan lama, sebenarnya. Aku pernah menanyakannya, dan kalau tidak salah aku juga pernah menemukan jawabannya. Hanya saja aku pelupa. Dan aku bersyukur karena aku pelupa. Bayangkan kalau tidak. Aku bisa terus-terusan menangis mengingat semua hal yang tidak ingin aku ingat. 

Katakanlah aku jatuh cinta. Karena perasaan itu, tentu saja wajar kalau kemudian muncul rasa rindu. Bagaimana tidak? Konsekuensi dari jatuh cinta adalah ingin bersama-sama dengan orang yang dicintai kan? Tapi bagaimana kalau dia tidak ada? 

Nah, perasaan rindu ini sebenarnya yang menjengkelkan. Dari dulu kalau rindu aku selalu mengalami gejala-gejala seperti melilit, mulas, merinding, pusing, berkunang-kunang, kurang fokus, jantung terasa bagaikan dipelintir-pelintir. Sangat menyiksa. Dan hal inilah yang membuatku bertanya-tanya. 

Bagaimana kalau gejala-gejala ini betul-betul bikin orang mati? Istilahnya bukan gagal jantung, melainkan gagal hati. 

Pernahkan ada orang yang tadinya sedang menjalani hidupnya dengan normal, mendadak teringat pada satu kenangan teramat menyakitkan dan meninggal? Atau orang lain yang sedang menjalani kehidupannya dengan santai, mendadak melihat nama orang yang pernah disayangi dan mendadak merasa begitu rindunya sampai mati? 

Kita ini tidak tahu apa-apa. Karena yang sudah mati tidak pernah kembali untuk bercerita. 

Aku sering membayangkan kehidupan setelah mati. Kita semua berkumpul di suatu tempat yang biasa-biasa saja, mungkin mirip seperti teras pertokoan. Sambil minum es kelapa dan makan tahu, seseorang berkata “Tahu nggak, dulu aku matinya tuh konyol banget. Masa cuma gara-gara aku inget mantanku kan. Mendadak aku kangeeeen banget sama dia. Beneran sakit banget aku nggak kuat lagi. Pas bangun aku udah di sini. Hahaha. Tolol banget, sumpah. Padahal lho, aku putusnya sama dia juga udah lama.”
Kita tidak tahu. Apa kita harus mati dulu untuk mencari tahu? 

Cinta adalah Distraksi

YoLandi di video klip Banana Brain
Katakanlah aku jatuh cinta. Meski temanku bilang “Itu perasaan sekilas saja kurasa.”

Dia benar. Aku juga tahu. Karena sebenarnya aku tidak pernah benar-benar jatuh cinta. Aku biasanya hanya terlalu menikmati yang tidak seharusnya. Dan aku senang menganggapnya serius meski sebenarnya bukan apa-apa. Aku suka melebih-lebihkan perasaan hanya karena aku tak punya hal lain untuk dipikirkan. 

Tapi aku tetap setuju: jatuh cinta, nyata atau tidak, lama atau hanya sementara, itu membawa kerugian tersendiri. Waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk meresapi kenangan-kenangan yang ternyata tidak memiliki arti sama pentingnya bagi orang yang kita cintai. Perasaan salah tingkah dan kecurigaan-kecurigaan tidak berguna: apa salahku sampai dia tidak memedulikanku sebesar aku memedulikannya? Apa kurangku sehingga dia bahkan tidak sedikitpun repot-repot ingin tahu tentang aku sementara aku pada titik ini, sudah tahu apa yang dilakukannya empat-lima tahun yang lalu? 

Buang-buang waktu adalah kerugian pertama dan paling nyata dari jatuh cinta. Dan ini bahkan belum apa-apa. 

Ada orang yang benar-benar bunuh diri karena urusan cinta-cintaan ini. Ada orang yang sakit jiwa karena alasan yang sama. Sampai sini aku heran kenapa jatuh cinta masih boleh dilakukan dengan bebas. Harusnya, ada semacam pil yang bisa membantu mengontrol seberapa banyak kita jatuh cinta. Jadi semuanya masih terkendali dan kita masih bisa berfungsi dengan normal sebagai bagian dari masyarakat. 

Begitu, mungkin. 

Pada akhirnya aku tidak peduli kalau suatu hari nanti aku akan mati karena apa. Toh semua orang akan mati pada akhirnya. Dan ketika saat itu tiba, aku akan menemuimu di emperan pertokoan. Kita minum es kelapa, tertawa terbahak-bahak mengetahui semua yang terjadi di kehidupan sekarang ini sama sekali tidak nyata. Dan aku akan menyenggol lenganmu sambil bilang “Tahu nggak, dulu aku tuh matinya konyol banget.” 

Pertanyaan tadi, tidak usah dijawab. Aku hanya ingin ada yang membaca ini. Dengan demikian, aku tidak merasa terlalu sendirian lagi. 

“Kamu tidak jatuh cinta, hanya kesepian,” temanku bilang.
Dia benar. Aku juga tahu. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Read: I’m better than all of you, bitches!

Dulu aku kayak gini. Merasa nggak kayak cewek kebanyakan. Tapiii aku membela diri nih ya, hal itu kulakukan sebagai respon atas tuntutan sosial masyarakat umum. Bahwa cewek itu harus begini dan begitu. Aku kesel diatur-atur dan aku nggak mau ikut-ikutan standar.

Tapi sekarang hal ini makin populer. Ngahahaha. Ya bagus sih, buat nggak nurut gitu-gitu aja sama konstruksi sosial masyarakat. Tapi sama halnya dengan pendulum-pendulum lain yang berayun kejauhan, tren inipun lama-lama malah jadi njelehi. Yang bikin aku mikir “Kalau kalian semua -the so called unique bitches- kelakuannya kayak gini, aku mending jadi basic aja.”

Aku dari dulu paling males mengaku sebagai feminis dan kalau ada orang yang ‘menuduh’ aku sebagai feminis, aku pasti buru-buru meralat. “Nggak. Aku biasa aja. Aku masih nggak masalah nonton film tiketnya dibayarin sama cowok dan kadang aku minta dibukain tutup botol akua.”

Kenapa? Karena ada feminis-feminis sok yang bukannya empowering woman, tapi malah kesempatan buat menjatuhkan perempuan lain dengan ngatain mereka goblok, lemah, kurang berpendidikan, dan mau-mau aja dandan demi membahagiakan laki-laki. Bitj, wut?

Kalau ada yang tersinggung baca ini, bagus. Di blog ini aku emang nulis tanpa filter. Blogku, sakmangapku.

Hal yang sama juga terjadi di tren “I’m not like other girls.” Tadinya hal ini fungsinya cuma buat melawan tuntutan sosial, tapi sekarang malah jadi banyak cewek yang menggunakannya sebagai senjata buat menjatuhkan banyak cewek lain hanya biar dirinya sendiri kelihatan lebih baik.

“Kamu kan cantik doang. Aku dong, pinter, lucu, baca buku yang judulnya aja udah bikin mata berkunang-kunang, cuma mau dengerin musik alternatif yang nama bandnya aja kamu belum pernah denger. Aku nggak membosankan, bla bla bla.”

Merasa lebih baik, trus membenci cewek lain. Internal misogini. Emang kalau suka dandan trus otomatis nggak bisa baca? Puh-lease.

Yang kalau dirangkum sih intinya cuma: you’re all basic and I’m better than you.

Yang jadi korban dari tren ini adalah cewek-cewek yang secara umum dilihat sebagai cantik, girly girl, suka dress, makeup, sepatu, dan hal-hal girly lain. Trus secara semena-mena mereka semua dianggap lemah dan nggak berpendidikan hanya karena suka dandan. Bitj, wut? (2)

Aku lupa udah pernah cerita apa belum. Tapi ada satu youtuber yang aku suka dan aku ikuti karena menurutku dia keren. Namanya Sorelle Amore. Konten youtubenya tentang traveling, filmmaking, dan banyak tentang fotografi. Dia terkenal dengan hashtag #AdvancedSelfie yang dia temukan untuk foto-foto yang pada dasarnya adalah selfie tapi dibuat lebih profesional. Bukan cuma selfie biasa muka memenuhi layar gitu.

Aku suka banget sama dia. Sampai sekarang pun masih ngikutin. Cuma, dulu dia pernah bikin film pendek yang bikin blunder. Di filmnya itu dia jelek-jelekin basic girls. Menurut dia, cewek yang suka pink dan glitter itu lemah, nggak menginspirasi, minus prestasi. Lebih parah lagi, dengan pedenya dia merasa sendirian karena dia satu-satunya cewek yang suka traveling, nggak suka makeup, pakai baju itu-itu aja, dan gaul sama cowok-cowok.

Yahh, di film itu banyak orang yang kesel. Karena faktanya, banyaaaaak byanget ‘basic girls’ yang suka fashion, makeup, girly things, dan tetep menginspirasi cool berprestasi. Kedua, aku merasa aneh aja. Sebagai orang yang travelling sebanyak itu, dia masa sih nggak pernah ketemu cewek lain yang kayak dia? Harusnya banyak lah. Jadi kenapa merasa so unique sampai bilang “I feel lonely,” segala? Wkwkwk.

Yahh, tapi setelah banyak komen yang membantah pendapatnya, dia akhirnya mikir dan minta maaf sih. Dan dia mengakui bikin film itu emang kurang dipikir. Dan akhirnya dia mengakui kalau cewek mau suka pakai pink dan glitter juga tetap bisa menginspirasi. Oke.

Tapiiii, ini satu contoh dari banyaaaaak orang lain yang merasa jauh lebih baik daripada cewek lain hanya karena melakukan hal yang berbeda.

“Kalian suka party pakai rok mini dan mabuk-mabukan semaleman? Aku lebih suka di kamar pakai sweatpants baca buku.”
“Justin Bieber who? I only listen to Marilyn Manson. Jiz, I’m so unique.”
“Kalian diet? Aku lebih suka makan pizza sekotak. Plus nasi padang, plus martabak manis, plus gorengan.”
“Kalian suka makeup? Aku mending tidur.”

Dan sebagainya. Banyak banget yang kayak gini yang bikin aku menghembuskan nafas ‘plis deh’.
Masalahnya, orang-orang yang nyebelin kayak gini ini bikin orang yang aslinya biasa aja jadi ikut kena getahnya juga. Misalnya aku yang ujug-ujug disama-samain kayak si ini dan si itu hanya karena mereka dengerin Eyes Set to Kill dan Alesana. Yeah, so yunik. Wkwkwkwk.


Oh, so you like The Avengers? So unique. Meh!

Yang tadinya positif, buat melawan konstruksi masyarakat dan membela diri, malah dipakai buat menjatuhkan orang lain yang nggak salah apa-apa. Kan hihhhh.

Selain Sorelle, youtuber lain yang aku rutin tonton videonya itu Amber Scholl. Dia ini kebalikannya 180 derajat dari Sorelle. Dia suka fashion, suka sepatu, suka glitter, suka berlian, ngefans sama Harry Styles, dan cewek banget gitu lah. Semua hal yang Sorelle benci dari cewek, ada di Amber.

Sebenernya secara style, aku juga nggak mungkin berpenampilan kayak Amber karena dia tuh tipe yang glamor banget gitu loh. So extra. Nggak ke mana-mana aja dia pakai dress, sepatu high heels, dan faux fur. Tapiii aku suka dia untuk banyak hal lain. Kayak dia bisa bikin baju murah kelihatan mahal, bisa nemuin barang-barang bagus tapi murah, bikin-bikin barang sendiri, dll.  Jadi buatku, baik Sorelle maupun Amber sama-sama menginspirasi. Cuma dengan caranya sendiri-sendiri.

Nah ini yang banyak orang lupa. Karena gaulnya cuma di tempurung yang itu-itu aja, jadi nggak tahu kalau dunia di luar yang dia sukai itu ya bagus juga. Trus akhirnya merasa lebih baik deh.

Aku juga paling sebel sama pelabelan dan pengkotak-kotakan. Hanya karena aku suka Sorelle, misalnya, trus aku langsung dilabeli sebagai cewek adventurous, suka sinematografi, lebih peduli pada ‘mainan’ keren kayak drone, camera gear, dll dibanding makeup.

Enggak lah. Buktinya aku suka Amber juga. Selain Amber, aku juga ngikutin banyak style vlogger lain kayak misalnya Shea Whitney, yang gayanya lebih nggak aku banget lagi karena dia itu tipe mamah muda trendy professional gitu. Tapi aku tetep suka dia karena banyak hal.

Meskipun aku sekarang lagi nggak suka pakai makeup (aku udah lama banget kayaknya nggak pakai makeup, kalau keluar juga cuma bedakan pakai bedak bayi sama pakai lipbalm gitu), bukan berarti aku benci cewek bermakeup. Malah aku respect kalau ada cewek cantik yang makeupnya bagus. Dan kalau Jeffree Star ngeluarin koleksi baru, aku masih yang “Gimme all of thooooooose!!”

Hanya karena aku suka gaya ‘alternatif’, bukan berarti aku benci cewek yang ‘basic’. Aku tetep respect sama cewek yang katakanlah pakai skinny jeans, blouse, sama nude heels. Meski basic tapi kelihatan put together. Dan aku menghargai mereka meski secara selera beda gaya dan aku tetep memuji dalam hati. “She knows how to style.”

Pada dasarnya, sama aja kayak semua hal lain di dunia, ini cuma perkara selera. Perkara beda pilihan. Bukan soal yang mana lebih baik dari yang mana.

Trus satu lagi ya, buat klen yang merasa so yunik en different and much cooler: hanya karena kalian suka dengerin music indie folk, nggak membuat kalian seunik itu. Hanya karena kalian suka makan dan nggak suka diet, nggak membuat kalian seberbeda itu. Hanya karena kalian nggak sudi minum kopi saschetan dan cuma mau minum kopi yang awalnya masih berbentuk biji, digrind di depan mata kalian sendiri dan diseduh dengan air yang suhunya terukur untuk mendapatkan tingkat keharuman dan keasaman yang pas oleh seorang barista professional di sebuah warkop edgy, nggak membuat kalian seistimewa itu.
Mengerty?

Ingaaat, semua orang di dunia ini unik. Yang itu berarti pada dasarnya kita semua sama aja. Nggak unik sama sekali. Jadi nggak usah sok. *lap umbel
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

25 February 2019

There’s not much happen to my life today, but I’ll probably never forget this day cause this is the day when I finally take my pants off, putting my glasses on, feeling sexy, and not giving a single fuck!

A big truck of ideas hit my small brain and crushed it into cramps. Leaving me realize how stupid and reckless I’ve been.

Shit happens, and they made me weak. I was distracted too far and I was out of focus. Wasting too many times to cry, to missing and thinking about everyone and even debating about options and possibility: will I finally meet the one?

I think I’m in love when I’m not even drunk. And I let myself believe that I need saving. All I did was trying to jump from a branch into other branches. I ignored the idea of digging the soil and grow myself a big strong tree.

I even questioned myself: is this a mistake? When the answer is clear: FUCK, YES, IT IS!

Why? Cause I forget all of my dreams, goals and plans and hoping that someone will do that for me instead. I was such a weak ass stupid little bitch!

*literally punching myself in the face while writing this*

NOW WHAT?


Now, I take a sit, drinking my coffee, light up a cigarette (damn, it’s good!), playing a non romantic song about pirates, robots, and missing crystal. I feel pretty much myself again. Not fully human. Part of alien, fairy, candy, or even a ketchup bottle who indeed have a heart but not planning to use it too much.

Yeah, it’s fun. Yeah, it’s okay to be bad. Yeah, be the villain cause life is not fair and this is the fucked up world. I should take nothing too seriously. Words, promises, hopes, loves, boys.

Only me can save me. Only me can protect my fragile heart. Only me can make the 6 year old me feel proud. And oh, what was my dream again? Be the star, not the moon that desperate for lights from other sources.

I’m sorry I fucked up. I was stupid, I know. Let’s start over again!

One more thing: never be completely honest. Human can be unbelievably evil.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sike! I don’t even have a plan. Lol

Jadii, Januari kemarin berjalan sangat bagus sebagai pembuka tahun.

Pada awalnya. :v

Memasuki minggu ketiga, karena satu dan lain hal, aku ketrigger dan stress dan depresi, dan menyakiti diri lagi, dan pengen mati. Wkwkwk.

I’m such a weak ass bitch, I know.

Gara-gara itu, tentu saja semuanya jadi kacau balau. Perasaan di awal-awal aku kerja sangat keras dan sangat gembira. Gara-gara masalah sepele, sekadar update blog aja aku nggak mampu. Padahal draft juga udah ada. Tinggal klik posting aja apa susahnya coba?

Sebenernya momen breakdown-nya enggak lama sih. Paling cuma dua hari, kalau nggak tiga. Pemulihannya yang lama.

Makanya aku sebisa mungkin menghindari drama tuh ya kayak gini. Aku kalau udah ketrigger, butuh waktu agak lama buat netralinnya. And I hate it, to be honest. I don’t like to be depressed, to feel low, feel so sad for no reason, and doesn’t have any will to live.

Kurasa nggak ada orang yang suka itu juga sih. Nggak mungkin ada lah, aneh.

Apa ada pelajaran berharga yang bisa kupetik dari kejadian itu? 


Hemm. Nggak tahu ya. Biasanya selalu ada pelajaran berharga yang bisa kupetik dari setiap kejadian. Tapi ini tuh apa ya, semacam nggak penting banget gitu sampai aku nggak ngerti lagi. Wkwkwk.

Kalau ada satu hal yang aku pahami mungkin cuma: aku terlalu menyetresskan hal-hal yang sebenernya biasa aja.

Jadi sebenernya masalahnya tuh nggak masalah banget. Nggak penting banget. Nggak gede banget. Tapi aku mikirinnya seolah itu berhubungan sama kiamat dan keselamatan umat manusia. Wkwkwk. Serius. Aku jadi merasa harus mundur selangkah, narik nafas, dan mikir santai.

Akhirnya aku bisa keluar dari kegilaan sementara itu dengan cara nggak mempedulikan apapun. Wong toh dari awal tahun aku udah bilang kan, nggak mau berharap terlalu banyak sama apapun (termasuk kehidupan sialan) dan bodo amat sih, emang apa ruginya juga? Apa kemungkinan terburuknya coba? Apa? Nggak ada kan? Jadi aku mikir secara berlebihan itu sebenernya konyol sih.

Hal yang Patut Disyukuri

Meski demikian, ada hal yang tetep patut disyukuri di bulan Januari. Salah satunya aku kenal sama banyak orang yang nggak tahu gimana ceritanya curhat sama aku dan ternyata kisah hidup mereka malah jauh lebih apes dari aku. Wkwkwk.



Illustration: pixabay/la_petite_femme

Maaf, aku anaknya kalau dicurhatin emang gitu. Bukannya turut prihatin tapi malah ketawa ngakak dan bersyukur: idih, ternyata yang aku alami belum ada apa-apanya ya. Hahaha.

Biasanya emang selalu kayak gitu sih. Tiap kali aku manja nggak mutu, pasti akan adaaa aja orang datang ngasih pelajaran. “Gausah cengeng lu, bajingan! Gue mengalami tujuh kali lipat dari yang lu alami. Ya sedih lah, pengen mati juga. Tapi jangan lah,” gitu kurang lebihnya. Hahaha. Lumayan, jadi nggak merasa sendirian.

Okee, so, apa aja rencana di bulan Januari yang aku ingkari?


Pertama, bullet journaling mandeg fungsinya di tengah jalan. Padahal di awal-awal udah bangus banget lohh. Tapi namanya juga orang lagi stress dan nggak peduli-peduli amat sama hidup, mana sudi ngelirik bullet journal? Akhirnya dilupain gitu aja di pojokan meja. Heuuuft.

Kedua, ini yang bikin aku sedih. Aku nggak jadi ngelanjutin nulis novel. Gimana sih. Huhu. Habisnya pas minggu-minggu awal itu aku kan sibuk banget. Trus nunda-nunda. Giliran breakdown, aku nggak peduli. Oh God! I’m sorry, me!


Ketiga, aku emang nulis dan posting cukup banyak di blog ini, tapi blog Madbelbie malah nggak aku update sama sekali. Hiks hiks. Padahal draft juga udah banyaaaak.
Mungkin itu tiga hal yang teringkari.

Sisanya, berjalan cukup baik-baik saja meski tertatih-tatih. Posting instagram tetep (sekali narsis selamanya narsis). Tapi ini lebih karena sebelumnya aku udah siapin materi dan tinggal posting-posting aja. Kalau instagram kan gampang tinggal klik klik di hape. Blog rada males karena harus nyalain laptop segala. Wkwk. Alesan aja nih.

Trus youtube tetep bisa posting and I kinda proud karena di saat rasanya kayak mau mati juga tetep bisa bikin video, wagelaseh. Padahal kan butuh effort ya, kayak latihan, rekaman, bikin videonya, ngedit, dll. Kok aku mau? Kok giliran posting blog susah? Heuuuft. Emang kebanyakan alasan aja nih, dasar! -_-

Terus buat bulan Februari gimana dong? 


Akhirnya, dengan ini aku memutuskan buat menjadwalkan semua postingan blog (aku juga udah pernah ngomong gini di postingan yang nggak tahu mana, cuma ngomong doang tibaknya), trus aku mau serius meluangkan waktu buat nulis. Serius ini. Prioritas. Soalnya aku keburu tua. Kapan lagi bisa nerbitin buku.
illustration: pixabay/skeeze

Aku juga mikir pengen ikut lomba sih. Tapi emm, ini kayaknya terlalu muluk. Lihat ntar aku ada waktu apa enggak. #bedebahsongongsoksibuk

Trus mau diy-an lagi. Januari udah mulai sebenernya. Bikin boneka, bikin tas rajut plastik, dll. Kurang banyak aja. Ngahaha.

Trus apa lagi ya? Oya, youtube lanjut, bikin lagu sendiri, sama aku pengen bikin konten lain yang bukan musik, tapi ntar dulu aku nunggu gear rada bagusan. Bukan karena manja sok kebanyakan alesan. Tapi emang butuh. Kalau cover-cover sih gpp. Lagu orang ini. Wkwk. Tapi kalau konten original kan sayang dong. Apalagi kalau produksinya serius. Masa iya mau disia-siakan dengan kualitas video yang menyedihkan.

Trus apa lagi ya? Kerja lebih keras biar bisa nabung. Hahaha. Aku pengen bikin rumah kuciiiil, yawlaaah. Ini impian sederhana banget lho ya. Rumah kucil aja gausah gede-gede.

Oooooh ya, satu lagi. Aku mau mulai declutter dan belajar hidup jadi minimalis. Soalnya aku terawang-terawang, aku bakal banyak pindah-pindah bepergian tahun ini. Karena aku nggak punya home base, barangku yang kebanyakan ini bakal nyusah-nyusahin. Mana di sini nggak ada yang namanya storage unit lagi. Ini bakal jadi tantangan berat buatku karena aku anaknya sentimental kalau sama barang.

Kaos udah bolong-bolong aja aku sayang mau jadiin lap dan masih mikir “Tapi kaaan, kaos ini udah jadi kesayangan aku selama bertahun-tahun.” T__T Plis deh. Tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin buat ‘tega’ ngelepasin barang. Mungkin dengan demikian hidupku juga akan berkurang kerumitannya. Hahaha.

Trus apa lagi ya? Banyak amat nih, sok banget. Satu lagi deh, bikin desain kaos lagi mungkin? Sama aku ada kepikiran mau jual foto dalam bentuk print gitu buat dekorasi. Hahaha. Ada yang mau beli nggak ya? Nggak ada juga nggak masalah sih. Sekali lagi, apa ruginya? Wkwk.

Sama satu lagi deh: mau berusaha lebih niat ngeblog. Kasih gambar ilustrasi yang banyak. Mungkin bikin infografik, wkwk. Kalau sempet ngegambar sendiri. Aku ada impian bikin stiker juga astaga. 
Udah dulu ya, lof! Aku mau jadwalin semua postingan habis ini. Jadi habis ini salam sayangnya otomatis yaa. Nggak semua sih. Aku pasti ntar bakal juga ujug-ujug pengen nulis apa gitu trus posting dadakan. Lagian yang udah kedraft juga cuma beberapa.

Thank you so much for being here. You are awesome! I love y’all. Kisses till next time! Byeee!

Xo,
Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Hubungan di sini maksudnya dalam konteks asmara ya. Pacaran gitu. Hahaha.

Suatu hubungan itu butuh banyak faktor biar bisa berhasil dan kedua belah pihak merasa bahagia. Ini aku nggak lagi ngomongin syarat ya. Yang percaya kalau cinta itu tak bersyarat, silakan. Atau yang mau ngegombal bisa menerima dan mencintaiku apa adanya juga silakan aja. Haha.

Aku pribadi merasa aku saat ini sedang nggak bisa menjalin hubungan (asmara) dengan siapapun karena alasan-alasan berikut ini:

Mentally Unstable


Ini mungkin alasan paling besar dan paling utama yang bikin aku nggak bisa menjalin hubungan. Secara mental, aku belum stabil. Kadang-kadang aku bisa stabil dan berfungsi normal seperti biasa sih, tapi kadang aku kumat lagi. Kalau kumat bisa macem-macem kelakuannya. Tantrum, nangis nggak jelas kayak balita, merengek manja memelas, merasa terzalimi, menyakiti diri sendiri, dsb.

Yhaa, aku juga pengennya stabil terus lah pastinya. Siapa juga yang suka jadi kenthir. Tapi nggak tahu. Kadang aku bisa tenang banget, santai, kuat, dan nggak terpengaruh. Tapi kadang masalah sepele banget aja bisa men-trigger aku dan bikin aku jadi suicidal lagi.

Mungkin kalau ada orang yang beneran mencintaiku tanpa syarat, hal ini nggak akan jadi masalah dan dia akan mengambil risiko itu. Tapi aku sendiri sadar kelakuanku yang kayak gini tuh melelahkan.

Jangankan orang lain, wong aku sendiri juga capek kok ngerasainnya. Makanya kalau aku menjalin hubungan sama orang itu aku malah merasa kasihan. Dia mungkin akan berusaha membahagiakan aku dan nolongin aku biar sembuh. Tapi kemungkinan besarnya, selama proses itu, dia sendiri akan merasa nggak bahagia dan malah ketularan stress juga. Wkwk.

Belum Cukup Mencintai Diri Sendiri


Oke, aku emang narsis dan aku sering mempromosikan self love. Itu memang iya. Dan aku mencintai diriku sendiri kok, kalau lagi normal. Kalau lagi kumat kadang aku benci diri sendiri. Itulah kenapa poin nomor satu itu jadi masalah utama. Hahaha.

Jadi gini, mencintai diri sendiri itu syarat utama sebelum menjalin hubungan dengan siapapun. Kalau kita udah cukup mencintai diri sendiri, kita nggak akan merongrong pasangan, memaksa mereka untuk melimpahi kita dengan kasih sayang biar kita merasa dicintai. Singkatnya, kalau kamu udah cukup mencintai dirimu sendiri, ada dia kamu bahagia, nggak ada dia juga kamu tetep bahagia.

Nah, aku belum bisa kayak gitu. Jujur aja aku merasa kesepian. Dan ini alasan kenapa aku justru nggak mau ada orang yang mengisi kesepian itu. Karena begitu orangnya pergi, aku akan kehilangan pegangan. Aku udah pernah mengalami ini.

Dan rasanya jahat juga sih, mengundang orang datang ke kehidupanku cuma buat mengisi kesepian dan menambal yang kosong. Secara otomatis aku akan menuntut orang itu untuk membahagiakanku. Dan ketika ternyata aku masih nggak bahagia (karena akunya belum cukup mencintai diri sendiri), aku akan menyalahkan orang itu dan menganggap dia nggak mampu membahagiakan aku. Kan jahat banget.

I’m Broke


Emang ya, nggak harus kaya raya dulu kalau cuma mau pacaran. Tapi kondisiku sekarang ini bisa dibilang lagi nggak punya apa-apa. Aku malesnya, kalau aku berhubungan sama orang, aku trus akan minta-minta dari dia. Atau dikasih-kasih.

Oke, aku emang sering becanda soal matre, tapi itu cuma becanda ya, my lof. Banyak aja yang percaya beneran. Haha. Faktanya, aku malah jarang banget minta uang, hadiah, barang, atau apapun ke pasangan. Aku terlalu gengsi untuk itu.

Bahkan makan dibayarin pun, kalau besoknya aku punya uang, aku akan gantian traktir. Kalau bisa yang lebih mahal. Hahaha.

Dan berdasarkan pengalaman sih, selama aku punya uang aku malah maunya yang bayar-bayarin.
Nggak tahu. Aku merasa kayak ada harga diri di situ. Jadi biar pasanganku nggak bisa berbuat semena-mena atau nuntut aku melakukan hal-hal yang aku nggak mau lakukan hanya karena dia yang bayarin makanan. Heuuft.

Dan buatku, mandiri finansial itu penting banget nomor satu. Nggak peduli punya pasangan atau enggak, kalau finansial aman, hati tentram. Itu udah pengetahuan umum lah ya.

Nah, kalau lagi nggak kaya kayak sekarang, menurutku mending sendiri daripada berpasangan dan jadi kayak harus ‘ditolong’ banget gitu.

Ini kalau pacaran serius pakai acara jatuh cinta dan komitmen ya. Kalau cuma kencan asal-asalan sih, beda lagi. Nggak usah terlalu ribet dipikirin juga.

“Tapi kok kamu suka banget becandaan soal matre, Pel?”

Iya, sengaja. Salah satu alasannya buat mengusir cantik cowok-cowok biar nggak pada deketin aku. Hehe. Alasan lainnya, emang ada benarnya. Aku emang suka uang dan hal materialistik lainnya. Cuma maksudnya, aku maunya aku yang punya gitu lho. Aku aja yang kaya. Bukannya trus mau cari pasangan yang udah kaya raya biar aku dimanjain dan aku nggak usah kerja selamanya gitu, bukaaan. Kalau kayak gitu trus letak keseruannya di mana? Ntar aku jadi nggak keren dong.

Tapi kalau misal mau ngebantu buat aku mewujudkan impianku misalnya, ya enggak apa-apa. Ntar kalau uangnya berkembang dan aku jadi kaya raya, aku balikin deh modal awalnya. Kembaliannya ambil sekalian! Wkwkwk.

Kayaknya itu aja sih gaes, alasan utama kenapa sebaiknya aku untuk sementara nggak menjalin hubungan sama siapa-siapa.

Intinya,aku nggak mau malah nyalahin pasanganku karena aku nggak bahagia. Kebahagiaanku bukan hanya tanggungjawab dia. Aku juga nggak mau malah jadi beban yang nyusahin dan ngerepotin. Aku udah pernah mengalami itu, dan aku masih merasa bersalah sampai sekarang.

Tapi aku cukup belajar dari masa lalu. Sekarang, dari pada mengharap disayang orang, aku mending berusaha gimana caranya jadi keren lagi. Mandiri, hebat, pede, semangat, dan lain sebagainya.

Kalau misal nanti aku ketemu orang yang bikin aku jatuh cinta dan kondisi kami siap dalam segalanya, kami sama-sama dewasa (dalam segala hal), dan stabil, baru mungkin aku akan mempertimbangkan kemungkinan menjalin hubungan. Hehehe.

Gitu aja sih. Intinya, buatku relationship itu saling, dan bukannya aku aja yang minta dipenuhi semua kebutuhannya sama orang yang sempurna. Pfffft.

Btw, ini pandangan dan pilihan pribadi ya. Kalau ada di antara pembaca sekalian yang berada dalam situasi yang sama kayak aku tapi memutuskan untuk mencari pasangan, aku nggak melarang.

Thank you so much for reading this nonsense! I’ll see you later, byeee!
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Bukan penampakan. Cuma thumbnail video youtubeku doang. Kok burem? Yha. Cause I'm Madgirl! -,-

Sebenernya ya, aku udah nggak mau ngecover lagunya Billie Eilish lagi. Bukannya apa-apa. I love Billie, dan aku suka hampir semua lagunya. Cuma tadinya udah nggak mau ngecover lagi karena aku kasihan sama Billie. Lagunya bagus-bagus malah aku rusak. T__T

Tapi akhirnya aku ngecover lagu ini juga. Meski lagu ini udah lama keluarnya, tadinya aku nggak mau ngecover. Emang sengaja nggak mau karena menurutku ini lagu susah karena aslinya duet dan yhaa gitu deh. Intinya, tadinya aku nggak mau ngecover lagu ini meski aku suka.

Sampai kemudian, kemarinan ini aku dengerin lagi dan untuk pertama kalinya aku bener-bener mencermati liriknya.

Trus aku yang … “Billie Eilish ini apa kembaranku ya? Kok pikiran kami bisa sama?”
Trus lanjut dengan … “Ini lagu apa emang ditulis buat aku? Kok bisa pas?”
Yang berlanjut lagi dengan … “Ini lagu nyontek dari pikiranku ya?” Hahaha.

Habisnyaaa. -,- Ini ya, liriknya aku mau tulis sekaligus terjemahin ngawur dan komentarin kenapa kok bisa relatable sama keadaanku sekarang.

Lirik Lagu Lovely – Billie Eilish

Thought I found a way, thought I found a way, yeah >> kirain aku udah nemu jalan. Kirain.

But you never go away, so I guess I gotta stay, now >> tapi kamunya nggak pernah pergi, jadi aku juga diem dulu aja sekarang. >> Ini tuh aku merasa kayak keadaanku sama mantanku. Berapa kali aja aku pengen pergi dari dia. Tapi akhirnya aku selalu yang “Kamu udah baik banget nggak pernah ninggalin aku selama ini.” Trus akhirnya nggak jadi . ._.

Oh, I hope someday I’ll make it out of here >> aku hampir setiap saat mikir kayak gini. Suatu hari nanti aku akan keluar. Suatu hari nanti aku akan pindah. Suatu hari nanti aku nggak akan di sini. Suatu hari nanti aku akan memulai kehidupan baru, dst.

Even if it takes all night or a hundred years >> nggak peduli butuh waktu semalam atau seratus tahun. Intinya aku yakin suatu hari itu akan terjadi.

Need a place to hide, but I can’t find one near >> aku tuh pengen pindah. Ke mana aja. Tapi nggak yang nemu-nemu tempat gitu lho. Heuuuft.

Wanna feel alive, outside I can fight my fear >> tepat sekali! Aku selalu merasa sebenernya aku nggak bisa ngapa-ngapain tuh karena aku terjebak aja di sini. Terjebak sama apa coba? Zona aman dan nyaman. Aku mungkin emang merasa aman, tenang, dan relatif bahagia, tapi aku nggak merasa bener-bener hidup. Hidup yang hidup! Sementara aku tahu banget kalau aku keluar di sini, aku akan mampu mengatasi ketakutan-ketakutanku.

Isn’t it lovely, all alone? >> sendirian itu menyenangkan, bukan? Mungkin. Aku nggak keberatan sendirian. Meski ya kadang aku merasa kangen juga ada yang meluk sambil ngajak ngobrol gitu. Haha.

Heart made of glass, my mind of stone >> bagian ini nih yang bikin aku yakin banget kalau lagu ini dicontek dari kepalaku. Karena aku sering banget ngomong kayak gini. Kepalaku terbuat dari batu (atau titanium) tapi hatiku terbuat dari kaca. Sebentar-sebentar pecah.

Tear me to pieces, skin and bone. Hello, welcome home >> robek-robek adek jadi kecil-kecil, Baaang! Sampai kulit dan tulang-tulangnya sekalian >> Jujur aja aku nggak mudeng sama bagian ini dan mungkin satu-satunya bagian yang aku nggak merasa related (karena nggak mudeng itu tadi).

Walking out of town, looking for a better place >> haha. Ini iya banget. Aku mikir-mikir terus mau pindah ke kota mana. Jogja? Solo? Malang? Bandung? Bali?

Something’s on my mind, always in my headspace >> ada yang selalu aku pikirin nih. Pokoknya ada terus di kepalaku. Huhu.

Trus ulang lagi tuh pre chorus sama chorus.

Intinya ya, aku merasa lagu ini sesuai banget sama keadaanku sekarang ini. Aku nggak tahu sih, maksudnya emang beneran kayak yang aku pikirin apa beda lagi. Bisa jadi pas nulis ini yang dimaksud Billie beda sama sekali jauuuuh dari yang aku pikirin. Tapi Billie sendiri bilang “Kalau kamu denger satu lagu dan kamu merasa itu lagumu, ya itu lagumu.”
Jadi ya udah, aku merasa lagu ini laguku.

Kalau kalian mau nonton video covernya di youtube, ini dia.


Aku mohon maaf banget paada segenap fans Billie Eilish karena lagunya aku rusak lagi. Aku juga minta maaf pada seluruh musisi di yang ada di muka bumi kalau aku yang tidak berbakat ini sungguh lancang dan apa yang aku lakukan menjadi semacam penghinaan pada musik itu sendiri. Hahaha. Eh serius, maaf banget.

Kenapa sih videonya kok kayak gitu? Karena seperti kata orang tidak bijak yaitu diriku sendiri, kalau kamu nggak bisa main gitar dan nyanyinya jelek, buatlah video yang jauh lebih jelek lagi. Biar orang-orang kedistrek dan bingung mau ngejek apanya. #tipsbermanfaat

Udah dulu ya. Kalian kalau mau lihat aku ngerusak lagu bagus lainnya, silakan lho, feel free to subscribe to my youtube channel. Satu-satunya youtube channel yang menyambut gembira tukang bully. Sayangnya nggak ada yang mau bully juga. Padahal aku nggak apa-apa. Ternyata orang blas nggak peduli. Damnit! -_-

Udah dulu ya, folks! See you later, byeee!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Makanya kalau berharap itu hati-hati. Hahaha.

Baru juga beberapa waktu yang lain aku berharap “Kalau aja aku nggak punya perasaan. Kalau aja aku nggak bisa ngerasain apa-apa.”

Trus terkabul beneran dong. Dan ternyata rasanya nggak enak.

Nih ya, udah dua hari ini aku mental breakdown. Dan seperti biasa, kalau levelnya agak parah aku akan mengalami naik turun kondisi kayak histeris, melukai diri sendiri, trance, ngelamun, kosong blong, nggak bisa diajak komunikasi, dan menurutku level terparah ketika aku udah nggak ngerasain apa-apa dong.

Sedih, nggak juga. Seneng apa lagi. Marah, nggak ada alasan buat marah. Cuma pusing aja. Kayak pusingnya itu saking padatnya sampai aku nggak bisa ngerasain hal lain gitu lho. Hahaha.
Yang paling menjengkelkan, aku makan apa-apa juga nggak ada rasanya.

Makan kayak asal ngunyah sama nelen gitu nggak kerasa enak. Beli es krim, cuma dingin doang nggak merasa enak. Bahkan yupi sekalipun, my holy grail, yang biasanya selalu sukses menyelamatkan segala perasaan, nggak ada rasanya dong.

Aku tuh jadi yang cuma bengong doang gitu. Melukai diri sendir juga nggak ada rasanya. Latihan gitar sampai jarinya lecet-lecet nggak ada rasanya. Pokoknya aku nggak ngerasain apa-apa. T___T

Trus ya ngelakuin segala hal kayak nggak berarti gitu, orang nggak kerasa apa-apa. Nonton yang lucu-lucu juga nggak ketawa dong. Atau aku ketawa sih, cuma ketawanya itu karena aku tahu itu lucu dan harusnya aku ketawa gitu. Bukan yang asli beneran ketawa alami.

Trus aku sekarang bingung. Kirain nggak bisa ngerasain apa-apa itu enak. Asik kan, nggak perlu sedih, marah, dan emosi lain yang bikin repot. Kalem aja kayak robot. Tapi aku trus merasa aku hidup cuma sekadar fungsi tubuh doang yang masih bekerja. Aku masih nafas, jantungku masih memompa darah, aku masih pipis, dan seterusnya. Tapi di dalam, pada dasarnya aku udah sama aja kayak mati.
Dan kalau udah kayak gini nggak ada yang bisa ‘menyentuh’ku lagi. Aku ngelihat karya seni juga yang lempeng aja gitu. Nggak yang tergelitik gimana.

Apa ini suatu hal yang buruk? Aku nggak tahu. Mungkin baik. Mungkin aku nggak apa-apa mati rasa kayak gini. Toh aku juga pernah berharap dan waktu itu harapanku dengan begini aku bisa kerja keras kayak robot tanpa harus kerepotan ngurusin mood sama emosi.

Tapi ternyata, seiring perasaan yang hilang, motivasi juga ikutan hilang. Kayak aku nggak ngerti apa pentingnya kerja. Buat apa. Toh aku nggak ngerasain apa-apa. Aku ngapain latihan nyanyi, toh aku udah nggak bisa ngerasain bahagia dari situ. Aku ngapain ngegambar, aku nggak punya pesan buat disampaikan. Dan seterusnya.

Ternyata, emosi manusia itu indah ya. Bahagia, sedih, galau, kangen. Itu semua indah. Ternyata mati rasa nggak membantuku menjadi lebih baik atau produktif. Aku cuma jadi gerak-gerak tanpa tahu maksudnya. Kayak zombie. Dan tentu saja hidup jadi nggak penting lagi.

Hal kayak gini nggak baru sekali aku alami. Biasanya kalau mental breakdown, pasti selalu ada fase kayak gini. Kayaknya ini tuh semacam benteng pertahanan terakhir yang otomatis diaktifkan oleh diriku untuk melindungiku dari kegilaan (anggap saja aku sekarang ini belum gila). Sengaja matiin semua rasa karena banyak hal terjadi dalam waktu bersamaan dan itu overwhelming. Aku nggak bisa mengatasinya bareng-bareng.

Sebenernya, masalahku sekarang juga udah teratasi satu per satu. Kurang dikiiit lagi beres semua.
Mungkin aku cuma capek aja. Sekaligus bosen, marah, juga kecewa dan sedih bareng-bareng. Itu semua memang terlalu banyak.

Tapi mudah-mudahan, minggu depan semuanya udah biasa-biasa aja. Aku bisa ketawa lagi biasa dan aku bisa mikir lagi, bikin apa-apa yang membahagiakan lagi. Dan menemukan cara untuk hidup yang lebih baik, bukannya terus-terusan kayak gini.

Mudah-mudahan. Aku toh nggak tahu mana yang lebih baik. Emosi yang menguras energi atau hidup tapi mati?

Yahh, seenggaknya nulis kayak gini sedikit membantu sih. Seenggaknya aku merasa mending gitu bisa menceritakan ini semua, apapun ini namanya. Haha.

Thank you so much for reading my other nonsense.

I’ll see you soon!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Aku itu pelupanya level alien, udah gaes. Bener-bener bisa melupakan suatu hal dalam hitungan detik. Gara-gara ini, dari dulu aku harus wajib selalu punya buku catetan buat orek-orekan dan membawanya kapanpun di mana pun in case aku ada perlu nyatet apa yang penting. Kalau zaman now, kadang aku ketik di hape, atau kalau lagi kesusu, whatsapp story come in handy. Lol

Serius ya. Kalau seandainya kepalaku ini nggak nempel di badan, aku pasti udah lupa naroh sejak lama. Jadi kalau aku ngomong soal harus nulis reminder tentang reminderku sendiri, itu sama sekali bukan becanda. Itu nyata. Aku harus nulis reminder tentang reminder atau to do list yang aku buat biar aku inget buat nengok dan bukannya ngabisin waktu buat browsing nggak jelas.

Nah, sore tadi aku pulang dari main capek banget ceritanya. Trus aku kepikiran pengen nulis tentang sesuatu buat di blog. Tapi aku tuh yang rasanya capek gitu lohh pengen males-malesan dulu. Trus aku bilang “Udah, ntar aja.” Biasanya, kalau kayak gini aku akan catet biar nggak lupa. Tapi tadi enggak karena aku mikir ini ide beda banget sekaligus fresh banget aku pasti akan mengingatnya dengan gampang.

Trus beneran dong, setelah cukup bermalas-malasannya, aku sibuk ngapa-ngapain, dan ya udah, bablas gitu aja, aku nggak inget blas. Sampai barusan aku merasa sakit kepala, bikin kopi, trus sambil mikir kok kayak ada yang aneh ya, aku tadi kayaknya sore-sore mikir tentang apaaa gitu deh.

Aku bahkan inget aku posisinya lagi gimana pas mikirin satu hal ini. Tapi sekeras apapun aku mencoba tetep aja ingatan itu nggak kembali. Trus sekarang aku penasaran sendiri kira-kira apa.

Tapi aku inget beberapa hal, kayak waktu itu aku sambil inget juga lagunya Twenty One Pilots yang Stressed Out. Hubungannya apa? Nggak tahu. Kayaknya nggak ada juga sih. Hahaha. Tapi pokoknya di saat hampir bersamaan aku inget lagu itu.

Iiih, gemeees banget rasanya tau nggak sih?? Aku tahu aku lupa sesuatu,tapi nggak tahu apa. Haha. Ya iya dong, kalau tahu apa sih namanya inget, bukan lupa. -,-

Dan kejadian kayak gini tuh bukan hanya sekali. Seriiiiiiiing banget. Kadang aku belajar dari kesalahan dengan cara langsung catet aja di manapun medianya secepat mungkin. Tapi sering kali aku menggampangkan kayak kasus kali ini. “Ini aneh banget kok, stand out banget, nggak bakal lupa, pasti inget.” Dan ya nggak usah ditebak juga udah ketahuan kan, lupa.

Bai de wai gaes, apaan sih, Januari udah tanggal 16 aja. Cepet banget sih anjaaay. Untung aku sibuk. Jadi aku nggak merasa worthless banget gitu.


Iya, tahu, aku harus lebih banyak menantang diriku sendiri, dan sebenernya udah sih. Cuma gatau kenapa aku sibuk banget rasanya. Plan Januari masih banyak yang belum kekejar. Oh mai gat!

Seperti biasa ya, ini cuma postingan filler nyampah aja. Sekalian percobaan tes ketiga, ini aku ngetik di ms. Word, aku mau copy ke notepad dulu, trus baru ke blog, ntar erornya muncul apa enggak. Kalau cara yang kemarin langsung ngetik di blog sih sukses. Nggak muncul erornya. Tapi aku kalau ngetik langsung di blog itu banyak cemasnya. Kayak nggak ada back up, trus takut kalau di tengah tiba-tiba sinyal ilang. Emang nyimpen otmatis sih, biasanya langsung kedraft gitu, tapi kadang kalau sinyalnya busuk sialan, nggak kesave semua, yang kalimat-kalimat terakhir bisa ngilang gitu aja.

Nggak penting sih sebenernya aku diskusiin ini. Aku beneran berharap bsia nulis yang ada faedahnya gitu, tapi gimana dong. Nulis yang nggak berfaedah aja aku masih bolong-bolong. Dan masih ada blog sebelah juga yang sepanjang dua minggu awal tahun 2019 ini aku baru ngepost sekali?? Idiiih.

Udah dulu ya gaes, aku pengen nonton film kayaknya soalnya pusing. Apa kaitannya coba? Nggak tahu. Tapi aku kalau pusing suka manja, dan berhubung lagi nggak ada yang manjain, jadi aku memutuskan untuk memanjakan diri sendiri dengan nonton film sambil ngemil kukis. Gitu. Hihi.
Maaf udah buang waktu kalian buat baca postingan ini. Sampai jumpa di postingan berikutnya yaa.


Love you!


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit conseat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amei.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Juni 2019 (2)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (15)
  • Februari 2018 (1)
  • Januari 2018 (1)
  • Oktober 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (2)
  • Juni 2017 (3)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (2)
  • Maret 2017 (8)
  • Februari 2017 (10)
  • Januari 2017 (3)
  • Desember 2016 (6)
  • Oktober 2016 (4)
  • September 2016 (6)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (3)
  • Juni 2016 (8)
  • April 2016 (1)
  • Maret 2016 (6)
  • Oktober 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • Kesumat Sang Raja Jerawat
  • Ngeblog seaktif Facebook-an. Gimana sih caranya?
  • Mengukur Kualitas Diri Tidak dengan Membandingkan
  • PESAN MORAL LOMBA-LOMBA AGUSTUSAN
  • PENTINGNYA MEMPERHATIKAN LINGKUNGAN PERGAULAN ANAK

Yang Nulis

Isthar Pelle
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates