• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MADGIRL!


               Jujur aja ya, aku itu sebenarnya anaknya insecure, minderan, dan hobi membanding-bandingkan diri sendiri sama orang lain. Terutama sama mbak-mbak cerdas cemerlang yang pengetahuannya luar biasa dan hidupnya bermanfaat. He’em, aku nggak pernah iri sama cewek cantik atau cewek kaya, aku mindernya sama cewek pinter. T__T

               Nggak sehat banget lah buat jiwaku, aku tahu itu. Soalnya aku jadi merasa makin kecil, makin nggak ada apa-apanya, makin merasa nggak berguna, makin menyadari kalau hanya serpihan kecil remah ceriping singkong, dan seterusnya. 

               Kalau baca status teman yang bermanfaat dan luar biasa menginspirasi, aku langsung minder melihat postinganku sendiri yang isinya cuma guyon-guyon nggak lucu. 

               Baca postingan temen yang isinya syer-syeran tulisan dia di media-media yang disegani, makin minder. Apalagi setelah melihat isi blog pribadinya braaaaad banget. Jangankan blog pribadi. Status fesbuknya aja brad, berisi, berkualitas, cerdas, bernas, dll. Dia cuma mau masukin tulisan berbobot lah pasti kalau buat blog. Nha aku? Udah susah payah mengerahkan konsentrasi seharian aja postingan blognya tetep yha gitu deh. *nangis menjerit

               Sekarang setelah menyadari itu ya aku berusaha memperbaiki diri lah pastinya. Bukan dengan berusaha menjadi seperti mereka, karena itu sama saja aku menolak untuk menerima diri sendiri apa adanya dan malah berusaha menjalani hidup sebagai orang lain. Aku memperbaiki diriku dengan cara nggak membanding-bandingkan diri sendiri sama siapapun lagi. Karena kalau terus dibandingkan nggak ada habisnya, sis. Selalu ada yang jauh lebih baik daripada kita, yang lebih hebat, dst. Kalau dibandingkan terus, kapan bahagianya?

               Kemarin aku ada obrolan menarik sama mbak Agnes Dara. Bahwa tiap orang itu punya perannya masing-masing. Ada yang jadi magnet cinta kaya Mbak Agnes, ada yang (mengutip kata mbak Agnes) aneh bin ajaib kaya aku. 

               Aku trus mikir bener juga sih. Orang yang hebat banget pinter cerdas cemerlang luar biasa juga belum tentu bisa dapetin ide segila aku. Yah, maksudku, kegilaan memang bukan sesuatu yang umumnya dibanggakan sama orang, tapi tetep aja kan? 

               Bangsa sebelah merasa minder sama bangsa kita karena merasa kalah kreatif lohh, tau nggak? Produk-produk kreatif macam lagu dan hiburan lain aja mereka harus impor. Mungkin mereka cerdas, iya. Pintar, iya. Berpendidikan, iya. Tapi kurang kreatif dan itu ternyata menyedihkan. 

               Aku diberkahi alam semesta dengan ide-ide baru setiap hari. Masa aku nggak bersyukur dan malah galau memikirkan hal-hal yang aku nggak miliki? 

               Membaca orang lain untuk menjadi terinspirasi itu bagus, melihat prestasi orang lain untuk memacu semangat sendiri juga bagus. Tapi membandingkan hanya untuk sedih-sedih dan merasa kekurangan, itu salah. Sangat salah.

Menyadari Kekurangan dan Potensi Diri

               Sebelumnya, aku tipe anak yang mudah sekali menemukan berbagai kekuranganku. Aku pemalas, kurang fokus, gampang bosan, pelupa, dll. Banyak banget. kalau disuruh menyebutkan daftar kekurangan dalam semenit, aku mungkin bisa langsung menuliskannya dalam 1000 kata (oke, ini lebay). 

               Kelebihannya? Nggak. Aku nggak bisa menyebutkan kelebihanku. Lebih tepatnya, nggak berani menyebutkan kelebihan yang aku punya. Bahkan kalau ada orang yang memujiku dan menyatakan kelebihanku, reaksi pertamaku adalah menyangkal. Meskipun di luar aku bilang “Terima kasih,” tapi dalam hati aku menyangkal. 

               Tentu saja ini ada sebabnya. Aku lahir dan tumbuh besar di lingkungan yang lebih gampang menjatuhkan daripada mendorong potensi. Aku juga dulunya dikelilingi teman-teman ‘racun’ yang selalu menemukan kejelakanku dan bukannya kelebihanku. Jadi waktu itu, sekalipun aku sadar aku punya kelebihan tertentu, aku nggak berani mengakui. Dan oh, sedihnya, yang seperti itu ternyata tercetak di alam bawah sadar. 

               Sekarang setelah sadar, susah payah aku bangun kembali rasa percaya diriku. Maksudnya, tahu diri itu perlu seperti misalnya aku sadar kalau aku nggak punya bakat menggambar, maka aku nggak akan maksa untuk menjadi tukang gambar. 

               Tapi ada kelebihan-kelebihan yang memang harus diterima, misalnya ide-ide baru yang nggak tiap orang punya. Ide aneh, unik, dan lain daripada yang lain, bakat untuk menemukan kelucuan di manapun dan dalam situasi seperti apapun, dll. Itu harus aku terima, dan bukannya disangkal. Lha kelebihannya ya cuma itu itu kok, masa masih mau disangkal juga?

Tiga Langkah Hidup Bahagia

Menyadari dan Menerima Kekurangan Diri

               Ini penting. Bukan biar kita minder, tapi lebih biar kita tahu diri. Kalau udah tahu diri dan sadar akan kekurangan, kita bisa memperbaikinya. Misalnya, aku sadar banget kalau salah satu kekuranganku itu nggak fokus, gampang banget teralihkan perhatiannya. Aku mengakalinya dengan cara membuat to do list. Goalku apa? Langkah-langkah apa yang harus kulakukan untuk meraihnya? Dan itu dikerjain satu-satu sesuai urutan. Dan itu sukses membantuku fokus.
 
               Kekurangaku yang lain itu pelupa. Maka aku menulis reminder di mana-mana. Di tembok, di atas kasur, di hape, di buku catatan, dll. Dan itu lumayan membantu meskipun kadang aku harus menulis reminder tentang reminderku sendiri. -_-

               See? Dengan menyadari kekurangan kita, kita jadi bisa menemukan solusi untuk memperbaikinya.

Menyadari dan Menerima Kelebihan Diri

               Ini nggak kalah pentingnya. Dan aku yakin, bukan aku saja yang tadinya nggak berani mengakui kelebihan diri sendiri. Aku tahu alasannya klise lah. Takut dibilang sombong, dibilang ngebrag, dll. 

               Hey, maksudnya mengakui di sini itu mengakui ke diri sendiri. Tahu, sadar, oh, aku punya kekebihan ini ini ini. Aku bagus kalau mengerjakan ini, dll. Bukannya diumbar ke orang-orang, eh aku cantik lohh, aku cerdas berwawasan lohh, dan semacamnya. Itu sih namanya songong (meskipun dalam porsi yang pas dalam rangka meningkatkan kepercayaan diri, songong itu boleh. Hahaha). 

               Kalau menyadari kekurangan penting buat memperbaikinya, menyadari kelebihan penting buat meningkatkannya. Orang yang nggak tahu potensinya di mana akan cenderung hilang arah. Nggak tahu hidup harus ngapain. Mencari-cari, meraba-raba, atau lebih parahnya asal nabrak. Ngerjain gitu aja apa yang disodorkan di depan muka tanpa menyadari beneran bisa apa enggak. Memangnya kenapa kok masih banyak orang yang masih stress sama kerjaannnya? Hayooo, think again!

               Aku dulu juga sudah melewati fase nabrak-nabrak itu. Ngerjain apapun itu yang bisa dikerjain. Motivasinya lebih karena butuh uang aja sih buat makan. Hahaha. Makanya nggak heran kalau pas kerja dulu aku stress. Soalnya bukan hanya aku nggak punya potensi di situ, akunya juga nggak suka. That’s not my thing. 

               Mengenali potensi juga bisa jadi tricky buat orang yang tertarik ke banyak hal kaya aku. Jadi memerlukan pemikiran yang lebih dalam lagi. Aku suka nulis? Suka. Bagus nggak? Belum. Solusinya? Latihan terus. 

               Aku suka nyanyi? Suka bangeeet. Bagus nggak? Belum. Solusinya? Latihan terus. 

               Aku suka dagang? Suka. Bisa nggak? Bisa. Bagus nggak kemampuan dagangnya? Bisa dibilang hebat banget selama produknya aku suka. Pengalaman udah dari kecil ikut ibu jualan baju, sering jualan apa saja mulai snack sampai aksesoris sejak SD. 

               Dari ketiga hal yang menarik minatku itu, mana yang harusnya aku fokuskan sebagai pilihan karir? Yes, dagang. Kenapa? Karena di situ aku paling bagus dibanding dua bidang lainnya. Aku mungkin bisa nulis, bisa nyanyi, tapi kalau mau berkarir di situ butuh waktu karena aku nggak sebagus itu. Masih butuh banyak latihan dan kerja keras lagi.

Berhenti Membandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain

               Sampai sini aku udah tahu kekuranganku apa, kelebihanku apa, dan potensiku paling bagus di mana. Jadi, daripada sibuk membandingkan diri sendiri sama orang yang emang udah sukses jadi penulis, misalnya, aku mending fokus mengerjakan ‘my thing’. Nggak usah sibuk mikirin prestasi orang lain “Duh, dia udah sampai sana sana sana, udah nulis di mana-mana, udah diundang ke mana-mana,” dan lain-lain. Toh yang tulisannya bagus belum tentu bisa kalau disuruh jualan. Beneran ini. 

               Aku nggak perlu membandingkan diriku sama orang yang sering menang lomba blog karena jago bikin infografis. Sadar kalau gambar dan desain itu bukan ‘my thing’. Jadi memang tidak untuk diperbandingkan. Ya bagaimana mau dibandingin wong urusannya aja udah beda kok. Itu kan jadi kaya membandingkan kualitas sayur-sayuran sama fitur smartphone. Nggak nyambung. 

               Sadar, menerima diri sendiri, berhenti membandingkan. Nyari inspirasi boleh, membandingkan jangan. Sekarang aku nggak perlu malu lagi mengakui kelebihanku meski kelihatannya nggak se-cool bakat orang-orang. 

               Dulu kalau lagi kehilangan motivasi, aku akan stalking akun orang-orang hebat dan membanding-bandingkan mereka dengan diri sendiri, trus merasa makin terpuruk. Sekarang kalaupun stalking akun mereka, aku serap inspirasinya saja, trus ngaca sambil bilang “Girl, you're rock!”
Share
Tweet
Pin
Share
6 komentar

The Savior. :v


               Senin, 3 Juli 2017, Bank Republik Indonesia mengalami masalah lagi (konon) di server induknya sehingga menyebabkan sitem off line. Aku baru tahu sore-sore pas keluar mau makan dan ternyata nggak bisa pakai ATM. Setelah ke beberapa ATM nggak bisa semua, kami memutuskan ke kantor BRI terdekat dan dijawab Pak Satpam dengan “Off line dari jam setengah 10 pagi. Se-Indonesia.” *senyum sabar

               Plis deh, BRI itu bank besar. Nasabahnya bwanyaaaak. Tentu saja yang stress gara-gara nggak bisa ambil uang bukan hanya kami saja. Kami menemui banyak manusia-manusia bernasip sama yang mengerutkan kening pertanda sedih. Ha mbok yakin, orang-orang itu ke ATM juga karena kehabisan cash. Kalau nggak ya butuh apa gitu, misal transfer atau bayar tagihan, dan itu harus diselesaikan segera. Jadi menurutku, apa yang dilakukan BRI itu jahat!

               Off line se-Indonesia lohh. Seharian. Untuk ukuran bank BUMN yang udah punya satelit sendiri harusnya hal semacam ini nggak sampai terjadi. Kalaupun terjadi, harusnya jangan lama-lama. Setengah jam maksimal. Lha masa seharian cobak? Itu sih ngerjain namanya. 

               Hal ini sudah pernah kejadian beberapa bulan yang lalu. Pas itu malam-malam juga nggak bisa tarik tunai di ATM manapun termasuk ATM bersama. Sementara, aku sama Ibing punya kebiasaan nggak pernah pegang uang cash banyak. Jadi kebiasaan kalau butuh baru ambil. Pas itu bener-bener udah nggak punya duit sama sekali bahkan buat bensin aja udah nggak ada. Hahaha.

               Kejadian kemarin masih mendingan, soalnya aku masih ada uang beberapa ribu buat bensin. Yang jadi masalah itu karena kami keluar maksud hati pengen makan karena kelaparan belum makan dari pagi. Lha, malah nggak bisa ambil duit. Yawlooo, udah lemes banget kelaparan (beneran ini, nggak lebay). Akhirnya setelah isi bensin pakai tetes uang penghabisan (ya daripada duitnya buat makan tapi pulang jalan kaki), kami memutuskan pulang sambil berdoa mudah-mudahan masalah si BRI cepet teratasi. 

               Pas oteweh pulang, aku puter otak gimana caranya biar bisa makan. Duh, masa pinjem duitnya pak satpam dulu ya? Kayaknya kok nggak mungkin dikasih. Hahahah. Baru setelah mikir beberapa saat (yes, hunger makes me think, lol) aku teringat pada satu benda yang teramat sangat menggembirakan.

               “Bing, balik ke kosku dulu aja. Di dompet kecil aku masih ada duit.”

               Jadi dompet kecil itu dompet souvenir kondangan yang biasa aku pakai buat naruh recehan. Dompet kecil ini nggak pernah aku bawa-bawa soalnya isinya emang cuma recehan sih. Karena rajin ngumpulin receh, seingetku saldo di dompet kecil ini lumayan. Bisa lah kalau buat makan berdua daripada pingsan. Wkwkwk. 

               Begitu sampai kos, aku langsung cek saldo di dompet kecil dan ternyata isinya ada 22 ribu yang terdiri dari pecahan lima ribuan, dua ribuan, seribuan, dan recehan. Di dompet besar juga masih ada uang 10 ribu. Jadi deh kami makan. Hahaha. 

               “Ini judulnya dompet penyelamat, ndut. Sana ditulis!” komentar Ibing.
               “Apa-apa kok dijadiin judul,” jawabku.
               “Iya lah. Orang jaket bapak-bapak aja ditulis. Ini senengnya nulis cuma kalau yang ngece-ngece kok,” katanya lagi. 

               Yaudah deh, akhirnya aku nulis ini. Nggak penting kan? Nggak apa-apa lah buat isi-isi. Daripada cuma ditulis di facebook dan blog sepi. Uhuk!

Menabung Pangkal Selamat

               Dari kejadian ini, aku jadi merasa bersyukur aku anaknya rajin nabung (baca: ngumpulin recehan). Kamu nggak akan tahu seberapa besar arti recehan sampai kamu mengalami hal semacam ini. Ternyata recehan bisa menyelamatkan nyawa. Oke deh, kalau itu terlalu lebay, maka recehan bisa menyelamatkanmu dari derita kelaparan. 

               Nggak cuma sekali ini recehan menyelamatkan kami. Dari dulu-dulu udah sering banget. Kalau dulu bukan karena bermasalah sama ATM, melainkan memang kere nggak punya duit. Hahaha. Bisa bertahan hidup dari recehan lohh. Soalnya saking rajinnya ngumpulin recehan sampai recehanku itu banyak, kadang sampai puluhan ribu. Biasanya nggak ngeh jumlahnya udah berapa. Terabaikan begitu saja sampai ketemu kejadian kaya gini. 

               Makanya aku sangat merekomendasikan menabung sebagai aktivitas harianmu. Meskipun nggak bisa bikin kaya (ya kalau yang ditabung cuma recehan, kapan bisa beli helikopternya? Zzzz), tapi seenggaknya bisa dipakai pada saat darurat. 

               I knoooow, harusnya kami mengubah kebiasaan buruk kami. Harusnya selalu sedia uang cash sebelum kehabisan. Pas kejadian yang dulu itu aku bahkan sudah pernah berjanji pada diri sendiri untuk selalu sedia cadangan cash. Tapi dasar dudul pelupa, janji tinggallah janji. Kami melakukan kesalahan yang persis sama. 

               Dan berhubung sifat pelupaku (atau pemalas) ini agaknya susah disembuhkan, aku memikirkan solusi lain yang agak lebih bijak: pindah bank. Wkwkwk. Atau seenggaknya punya cadangan saldo di rekening bank lain gituh, nggak cuma mengandalkan satu bank. Jadi kalau tiba-tiba ada kejadian kaya gini kan masih bisa pakai ATM satunya. Dan mohon diingat, kejadian semacam ini bisa menimpa bank apa saja, bukan hanya BRI.

               Btw, malamnya, kami (meskipun pasrah-pasrah saja dan nggak terlalu berharap), ke ATM lagi. ATM pertama nggak bisa, ada keterangan di layarnya kalau ATM masih nggak bisa digunakan. Di ATM kedua nggak ada keterangan di layar, jadi dicoba, dan … transaksi gagal. 

               Tapi bukan Ibing namanya kalau menyerah begitu saja. Dicoba lagi, dicoba lagi. Di percobaan ke empat akhirnya berhasil. Horeee. Jadi makan malam banyak kami. Sekenyang-kenyangnya, soalnya siang tadi cuma makan seadanya. Hahaha.

Pesan Moral dari Kejadian Ini:

1.      Rajin-rajinlah menabung.
2.      Sedia uang cash cadangan.
3.      Usahakan punya rekening bank lain. Saldonya diisi lah pastinya. Lha punya rekening cadangan tapi nggak ada isinya trus apa gunanya?
4.      Sabar dan pantang menyerah. Aku mendapatkan pelajaran berharga ini dari Ibing. Kalau aku yang kebagian tugas narik tunai, pasti aku udah langsung menyerah begitu percobaan pertama nggak berhasil. *grin Dengan nggak menyerah begitu saja, terbukti Ibing akhirnya berhasil. :v
5.      Kalau sudah bisa tarik tunai dan bisa makan, usahakan tetep kalem dan nggak kalap. Nanti malah kekenyangan kaya aku sekarang ini. Sia-sia sudah diet selama tujuh hari terakhir. - -“
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sing wes, yo wes, Pel!


               Ini judul panjang banget deh. Jadi ini aku niru kalau dalam bahasa Inggris itu ‘Do’s and Don’ts’, giliran diterjemahin kok jadi panjang begini yak? Terjemahannya yang lebih efisien gimana sih?

               Oke lah, gampang itu dipikirin nanti-nanti aja. Jadi gini, di jam-jam bedebah (biasanya mulai dini hari sampai sepertiga malam terakhir gitu), kalau nggak bisa tidur dan nggak ada seekor nyamuk pun yang menemani, aku bakal mendadak melo. Ini aku aja apa kalian juga merasakan hal yang sama?

               Pokoknya perasaan mendadak jadi jauh lebih sensitif dan ‘dalam’. Kenangan-kenangan lama ter-autoreply, merasa sendirian, sedih, dan seterusnya. Bahkan scrolling timeline facebook pun tetep merasa sepi (yaiyalah, orang lain pada tidur semua). 

               Itulah sodara-sodara, yang biasa nak muda sebut dengan galau. 

               Nha, untuk kasus galau sendiri ini ada ‘next’nya. Jadi tergantung pilihan apa yang aku ambil saat itu. Kalau aku memutuskan untuk tenggelam dalam lautan luka dalam kegalauan itu, bisa-bisa jadi stress dan kumat depresi, nggak semangat hidup, dan seterusnya. Kalau aku memutuskan untuk cari hiburan, maka aku akan kembali ceria. Aku sudah sering mengalami keduanya. Yaa, kadang-kadang belum sempat memilih untuk cari hiburan, tau-tau udah tenggelam aja sih. Hahaha. 

Hal yang Sebaiknya Dilakukan (Hal yang kulakukan untuk menyingkirkan kegalauan dan mengubahnya menjadi keceriaan)

               Masyaawoh, makin ngaco aja nih bikin judulnya. 

Kepoin akun instagram fashion blogger

               It always works, like really fast. I loooove fashion. Kalian nggak tau ya? Iya, soalnya aku nggak pernah dandan modis sih. Gapunya duit buat belanja baju. Wkwkwk. 

               Kalau aku melakukan cara yang satu ini, nggak butuh waktu lama juga kegalauan menyingkir sendiri. Enyah dari pikiranku. Langsung bahagia aja gitu. Padahal cuma liat-liat. Hahahaha. 

               Kadang aku baca fashion blog juga (blog bule). Kalau blogger Indonesia aku lebih milih ngepoin akun instaagramnya. Soalnya toh biasanya yang mereka post di blog mereka post juga di instagram. Hahaha. 

               Sebenernya nggak harus fashion blogger sih. Aku suka kepoin akun artis juga, atau akun model, dan yahh pokoknya yang bajunya bagus-bagus deh. 

               Jadi kalian bisa coba juga tuh, sukanya apa, kepo-kepoin deh yang kalian suka. 

Kepoin aku twitter lucu

               Aku jarang twitteran. Paling kalau lagi galau gini aja buat nyari hiburan. Soalnya kalau di facebook itu terlalu random sih. Yang suka ngelucu juga kadang lawakannya berat. Padahal di kondisi kaya gini aku butuhnya yang ringan-ringan aja.

               Akun twitter favoritku sejauh ini @XplodingUnicorn (kalau nggak salah eja). Yang punya James Breakwell, Bapak empat anak yang ngetwit soal aktivitas sehari-hari anaknya yang locoooo banget. Kalau baca postingan-postingannya, rasanya dunia lebih dari sekedar baik-baik saja. 

Nulis

               Udah, nulis apa aja buat diri sendiri. Aku sudah mempraktikkan kebiasaan ini selama bertahun-tahun, sejak keciiil banget. Sejak bisa nulis kalik. Makanya meskipun udah era sosmed dan ada blog, aku masih selalu punya yang namanya buku diary. Kenapa? Karena ada hal-hal yang mau aku tulis cuma buat diri sendiri. Hal-hal yang pengen aku muntahkan tanpa perlu dibaca orang lain.

               Menulis itu melegakan. 

Nonton YouTube

               Kalau lagi banyak kuota, aku akan nonton youtube. Biasanya kalau nggak vlog-vlog lucu ya video musik yang banyak mamas-mamas cakepnya. Oooh, handsome faces everywhere. Kalau masih sempet-sempetnya galau sih keterlaluan. 

Hal-hal yang Sebaiknya Tidak Dilakukan Saat Galau

Dengerin Lagu Sedih

               Udah, ini udah jelas banget kenapa kalian sebaiknya jangan melakukan ini. Lagu sedih itu bisa meningkatkan level kegalauan yang tadinya di level satu setengah, jadi sembilan seperempat. Udah, jangaaaan, pokoknya jangan. 

               Nggak cuma lagu sedih aja sih. Lagu bahagia pun kalau memiliki terlalu banyak kenangan bersama seseorang yang seharusnya sudah kalian lupakan, sebaiknya jangan. Bakal nyesek banget dan menyebabkan malam itu jadi berurai air mata. 

Nonton Film

               Dulu aku kalau lagi galau dan merasa sepi gitu suka nonton film. Sengaja film animasi atau drama yang lucu gitu biar terhibur. Tapi kalian tau apa yang terjadi? Setelah filmnya habis aku malah merasa semakin ‘suwung’, semakin sepi, semakin sendiri. makanya aku memutuskan berhenti melakukan yang satu ini.

Ngepoin akun orang yang bakal bikin baper

               Bisa siapa aja. Mantan, temannya mantan, pacar barunya mantan, atau siapa saja yang ngeselin walau nggak ada urusannya sama status permantanan. Misalnya aja akun yang hobi banget nyindir-nyindir kamu padahal kamunya kenal aja enggak. Emangnya ada yang kaya gitu? Ada. :v

Update Status

               Ini juga kesalahan yang lazim kulakukan waktu aku masih lebih muda dulu. Uhuk uhuk! Kalau lagi galau gitu nekat update status, maka sudah dijamin statusnya bakal penuh kegalauan menye-menye yang bisa menyebabkan kamu kehilangan banyak teman. Ini serius! Aku sudah mengalaminya. Yaah, kecuali kamu bisa kontrol dan nulis status yang lucu-lucu sih silakan saja. 


Nenggak Baygon

               Udah jelas kan? Nggak usah dijelasin yaa. Jangan!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Image source: Pinterest

Di tiap sekolah di manapun, jenjang apapun, selalu ada bullying. Selalu. Seenggaknya itu yang kulihat sejak SD dan bahkan sampai kuliah. Masih adaaa aja anak yang merasa jagoan hanya karena bisa ‘ngece’ anak lain yang dia anggap lebih ‘kecil’. Bullying biasanya dilakukan secara berkelompok dan beramai-ramai dan dengan demikian yang berada di kelompok yang membully itu jadi merasa somehow, ‘besar’. 

Aku juga dulu gitu sih, makanya aku tau. Iyaa, dulu aku suka ikut kelompok pembully itu. Ngece-ngece anak lain yang menurut kami nggak banget, entah karena kekurangan fisik, atau sikapnya yang aneh. Dulu (namanya aja masih ingusan dan belum bijak yak) aku menganggap bullying itu sah karena tak pikir itu salah si anak sendiri. Salah sendiri jadi anak kok bully able. Kenapa aku bisa punya sikap kaya gini, itu juga ada ceritanya sendiri. 

Jadi dulu pas pertama kali masuk SMP, aku juga pernah berada di posisi terendah rantai makanan di sekolahan. Aku anak yang datang dari kampung yang ndesa bin norak gitu lah pokoknya. Tanpa teman sebutirppun. Sedangkan anak-anak lain umumnya udah banyak temennya dari SD yang sama. 

Udah aku anaknya item dekil, jahit seragamnya kegedean biar bisa dipakai selama tiga tahun, sepatunya juga kegedean biar nggak buru-buru beli lagi, dan sementara anak-anak lain tasnya bagus dan mahal-mahal, aku tasnya jelek banget beli di pasar, itu aja yang paling murah. Pokoknya kasian lah. Semua bahan untuk dijadikan bullian, aku punya semua. 

Dan emang iya, pas awal-awal kelas 1 SMP itu banyak yang ngece-ngece gitu deh. Aku dipanggil laler karena aku kecil, item, dekil. Tak kasih tau aja ya, yang namanya baru jadi anak SMP tu rasanya kaya sungguh keren kalau bisa ngelabrak anak lain. Dan aku pernah dilabrak dong, hanya gara-gara aku tugas piket dan waktu itu kelas belum disapu. Bukan berarti aku nggak menjalankan tugas. Tapi emang belum aja wong akunya juga baru datang. Trus ada dua cewek yang sok keren dan sok galak gitu ngebentak “Heh, koe ki piket!” 

Aku takut? Enggak. Dudulnya, aku malah ngebentak balik “Lha iki opo jenenge nek ra piket?” gitu sambil ambil sapu sama serokan sampah. Hahaha. Si dua anak sok keren jelas tercabik-cabik harga dirinya digituin sama si laler ini. 

Pas istirahat, mereka ngumpulin cewek-cewek segeng dan ngelabrak aku beramai-ramai. Aku nggak inget mereka ngomong apa aja. Yang jelas aku nggak ngerasa takut, apalagi bersalah, dan malah menghela nafas bosan sambil bilang “Kamu kan, yang mulai duluan.” Kalau aku yang gede sekarang ini bisa lihat kejadian itu sekarang, aku pasti tertawa terpingkal-pingkal. Aku tu kok ya nggak peka banget gitu lho jadi anak. 

Mereka bermaksud melanjutkan bullian, ngajakin anak sekelas buat mematenkan panggilan laler buatku, selalu ngetawain aku dalam situasi apapun, dan semacamnya. Tapi apa yang terjadi? Aku cuek aja. Cueeeeeek banget. Nggak sadar blas kalau lagi dibully dan apa lagi ngerasa terganggu. Aku super bahagia dengan dunia di dalam kepalaku. Dengan rasa ingin tahu yang tinggi khas anak-anak. Dengan tiap hari mengembara ke tempat-tempat yang jauh meskipun badannya ada di kelas. Dan aku punya ilmu sederhana. Kalau anak-anak sok keren itu nggak mau berteman sama aku, ya udaaaaaaaaah, aku berteman aja sama yang mau. Sederhana. 

Lama-kelamaan, si tukang bully itu jadi ikutan lupa kalau aku adalah objek bullian. Malah ngajak main ke rumahnya, ngajak main bareng, dan bahkan ngegeng bareng. Hahaha. Mereka bilang “Kok kamu ternyata asik ya, anaknya.” Eike bilang juga apa cyiiiin. 

Sayangnya, perubahan baik ini bikin aku jadi takabur. Setelah nggak berada di posisi terendah rantai makanan lagi, aku ikut-ikutan ngebully yang masih ada di posisi rendah. Ada anak aneh banget trus sekelas ngetawain, aku ikut ketawa, bukannya ngebelain, dan semacamnya. Andai saja waktu itu aku tahu kalau yang kulakukan itu salah. 

Untuk menebus rasa bersalah itu, ini ada sedikit petuah sederhana buat kalian yang baca ini yang mungkin masih mengalami pahitnya dibully, nggak pernah diajakin ngumpul, jauh dari pergaulan anak keren, sering diketawain, digangguin, dan semacamnya.

Sombong Aja Dulu

Petuah yang pertama ini sederhana. Alih-alih minder, kamu sombong aja dulu. Sikap sombong tentu saja nggak bagus, tapi nanti lama kelamaan kamu akan tahu gimana cara menguranginya. Kenapa harus sombong? Soalnya dengan menjadi sombong kamu nggak akan nyadar kalau lagi dibully, kaya kasusku pas pertama kali masuk SMP. Sombong di sini bukan berarti kamu pamer harta, kecantikan, sok kaya, sok gaya dan lain sebagainya ya. Tapi yakin aja kalau kamu itu keren dan sama sekali nggak bully able.

Keras Kepala Ternyata Ada Gunanya

Yang kedua adalah keras kepala. Ini juga sama. Keras kepala itu bukan sikap yang baik, tapi nanti lama kelamaan kamu akan tahu cara menguranginya. Kenapa perlu menjadi keras kepala? Karena dengan demikian kamu selalu yakin yang kamu lakukan itu benar. Apa adanya dirimu itu benar. Jadi kalau ada yang ngatain penampilan kamu jelek norak, kamu nggak akan merasa tersinggung karena kamu udah tahu kalau kamu keren apa adanya. Mudeng kan? Mendengarkan saran positif tentu saja perlu. Tapi mendengarkan ejekan, cemoohan, yang semuanya negatif dan memang bermaksud merendahkan? Naaay!

Nyaman dengan Dirimu Sendiri

Ini sebenernya inti dari segala-galanya. Jangan karena dibully, jangan karena dikatain kuper, trus kamu jadi pengen berubah seketika itu juga. Jangan karena orang mengejek kacamatamu yang tebal trus kamu maksa untuk nggak pakai kaca mata padahal kamu butuh. Hanya karena orang bilang kamu gini kamu gitu, bukan berarti kamu harus berubah menjadi tidak begini dan tidak begitu. Tetep jadi dirimu sendiri. Nggak usah maksa berubah kecuali memang perubahan itu positif dan perlu.

Jadi Ramah Tanpa Menjadi Sok Asik

Blend in, gaes. Blend in. Kamu harus pinter bergaul. Bergaul di sekolah itu sesederhana nanyain kabar dengan senyum ceria, nanya udah ngerjain tugas apa belum, dan yang paling penting, tebar senyum ke mana-mana. Itu psikologis. Ketika kamu ramah dan murah senyum, orang nggak akan tega berbuat jahat sama kamu. Yah, kecuali orangnya emang jahat banget dan jiwanya sudah termakan kegelapan sampai level yang nggak bisa diselamatkan sih.

Ketika kamu terlihat murung, pembully-pembully ini jadi semangat buat bikin kamu semakin murung. Ketika kamu terlihat bahagia dan baik-baik saja dengan apa adanya dirimu, si pembully-pembully ini nggak akan nemu apanya yang harus dibully dari kamu.

Dan juga jangan sok asik ya. Kaya misalnya pas geng anak gaul lagi ngegosipin gebetan yang kakak kelas, nggak perlu lah kamu nyerobot obrolan mereka dan bilang “Kemaren dia senyumin aku lohh.”

Jadilah Ceria dan Sibuklah Berprestasi

Ini sama kaya yang di atas. Semakin seorang anak terlihat murung, nggak pede, dan nggak nyaman, semakin para pembully pengen ngebully. Tapi semakin seorang anak terlihat ceria dan menikmati hidupnya, pembully-pembully ini tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jadilah anak yang happy dan kalau perlu tebarkan keceriaan. Terus, sibuklah berprestasi. Daripada sedih-sedih mikirin bullyan dan galau pengen beli sepatu baru hanya karena sepatumu yang sekarang diejek dibilang ketinggalan jaman, mending sibukkan diri. Ikut ekskul. Selain pengalaman, di sini kamu bisa dapat banyak teman baru juga. Ikut kompetisi. Nggak menang nggak apa-apa. Coba lagi di lain kesempatan. Kesibukan ini juga membantumu meningkatkan kepercayaan diri dan kualitas diri.

Jangan Jadi Ngeselin

Kadang ada anak yang dibully itu karena dianya emang ngeselin. Ibaratnya mukanya itu emang muka minta dibully gitu. Misalnya sombong yang kelewatan, suka dikit-dikit lapor ke guru, cari muka ke guru, nggak mau berteman sama semua orang, suka menyendiri dengan alasan eksklusif, sok sibuk, dan lain sebagainya. Banyak lah kriteria nyebelin sampai aku bingung nyebutinnya. Tapi yang dulu aku lihat dari anak-anak yang dibully sih itu tadi. 

Jangan Ikut-ikutan Jadi Pembully

Kalau kamu udah nggak berada di posisi terendah rantai makanan lagi, jangan trus balas dendam dengan membully anak lain. Apa yang aku lakukan itu salah dan sebaiknya jangan ditiru. Membully itu nggak keren sama sekali. Daripada ikut membully, mending anak yang dibully ini kamu ajak berteman. Kamu encourage biar dia jadi anak yang lebih pede dan berprestasi juga. 

Udah aja sih dari aku. Kalau kamu sekarang ini masih dibully dan saran-saran dari aku kaya nggak ada gunanya, kamu bisa curhat deh di kolom komentar atau via email juga boleh, masalahnya apa dan sisi mana yang gagal aku lihat. Siapa tahu bisa membantu. Soalnya keadaannya nggak selalu sama dan nggak semua hal bisa ditangani dengan cara yang sama. 

Engg, paragraf di atas hanya becanda gaes. Jangan curhat sama aku lah, gila. Nanti kesedihanmu malah makin berlarut-larut tak berkesudahan lho. Mending cerita sama orang tua atau orang terdekat lah ya pokoknya. Yang penting jangan dipendam sendirian. Okai okai okai?

Makasih banyak ya, udah baca. Share kalau menurutmu ini bermanfaat. Sampai jumpa!

Love,
Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

About Me

Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit conseat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amei.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Juni 2019 (2)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (15)
  • Februari 2018 (1)
  • Januari 2018 (1)
  • Oktober 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (2)
  • Juni 2017 (3)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (2)
  • Maret 2017 (8)
  • Februari 2017 (10)
  • Januari 2017 (3)
  • Desember 2016 (6)
  • Oktober 2016 (4)
  • September 2016 (6)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (3)
  • Juni 2016 (8)
  • April 2016 (1)
  • Maret 2016 (6)
  • Oktober 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • Kesumat Sang Raja Jerawat
  • Ngeblog seaktif Facebook-an. Gimana sih caranya?
  • Mengukur Kualitas Diri Tidak dengan Membandingkan
  • PESAN MORAL LOMBA-LOMBA AGUSTUSAN
  • PENTINGNYA MEMPERHATIKAN LINGKUNGAN PERGAULAN ANAK

Yang Nulis

Isthar Pelle
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates