• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MADGIRL!




Sebenernya aku males ikut nyinyirin pernikahan remaja 17 tahun yang ituh. Kenapa? Karena plis, itu urusan dia. Mau nanti rumah tangganya morat-marit karena nggak siap juga itu urusan dia. Tapi yang kemudian jadi masalah dan membuat banyak orang ikut mengomentari adalah, ketika pernikahan si remaja itu (yang notabene adalah anak orang terkenal) kemudian seperti dikampanyekan.
Banyak banget temen-temen yang udah nulis juga tentang ini dan rata-rata berpendapat bahwa nikah muda itu nggak salah sih, cuma nggak untuk semua orang. Contohnya saja, nikah muda nggak akan cocok untukku. Ini beberapa alasannya:

1.      Aku labil dan kekanak-kanakan

Pernikahan itu penyatuan dua orang yang memiliki pikiran sendiri-sendiri jadi satu. Itulah kenapa diperlukan kedewasaan. Aku anaknya labil banget, dan kekanak-kanakan. Aku egois dan maunya menang sendiri. Bahkan sampai sekarang aku masih kaya gitu meskipun berusaha sebaik-baiknya untuk mengurangi. Sekarang sih mending, aku pacaran sama Ibing yang orangnya dewasa banget dan ngalahan banget. Coba bayangkan aku pas umur 17 tahun dulu itu (yang jelas-jelas level kelabilannya teramat sangat parah dan masih bego banget), nikah sama cowok yang usianya baru 17 tahun juga, yang sama-sama masih labil, egois, dan belum jelas hidup mau ngapain. Bisa-bisa cakar-cakaran terus tiap hari dan 336 jam kemudian cerai.

2.      Aku bosenan

Aku anaknya bosenan akut. Kecuali si cowok memang high quality, lucuk, dan nggak songong, udah jaminan, paling lama pacaran tiga bulan.
Bulan 1: Kamu asik banget sih sayang. Nanti kita nikah trus punya anak tiga ya.
Bulan 2: Iya, aku kalau laper pasti bakal makan sendiri kok. Nggak usah diingetin terus kenapa sih?
Bulan 3: Aku nggak cinta kamu lagi. Kita putus.
Lha, untungnya itu baru pacaran. Gimana kalau udah nikah coba? Udah kawin-cerai berapa kali aja di usia sekarang?

3.      Aku bukan tipe yang setia

Yup! Ini aslinya yang paling gawat sih. Karena bosenan itu tadi, aku jadi gampang flirting ke sana ke mari. Eh, ada cowok lucu. Tapi aku kan udah punya pacar? Gpp deh, kenalan doang masa ga boleh? Kalau pacar marah berarti dia overprotectif. Putusin aja.
Coba kalau kata pacar di situ aku ganti dengan suami, trus kata putus diganti dengan cerai? Mengerikan bukan?

4.      Aku masih bego banget dan nggak punya skill

It’s okay kalau kamu mau nikah sama-sama muda tapi kamu udah punya bekal yang bisa diandalkan untuk hidup. Seenggaknya bisa dulu buat memenuhi basic needs. Jangan minta-minta orang tua. Karena kalau kamu udah berani nikah tapi mau beli beras masih minta orang tua, maka sebaiknya kamu lari ke hutan belok ke jurang aja. Nggak berguna. Atau boleh lah kalau orang tuamu kaya raya dan kamu dikasih warisan untuk modal usaha.
Kalau dalam kasusku, orang tuaku jelas bukan orang kaya. Kami hidup susah. Trus aku sendiri bahkan waktu galau dulu mau kuliah apa kerja, aku nggak ngerti sama sekali mau kerja apa dan di mana, dan bahkan cara untuk ngedapetin kerjaan gimana. Aku sama sekali nggak ngerti hidup itu harus gimana. Kalau waktu itu aku nikah sama anak remaja yang masih sama bingungnya sama aku? Yang akan terjadi adalah kami akan jadi beban orang tua. Mungkin kami seneng-seneng di awal-awal pernikahan. Kemudian hamil dan punya anak. Mungkin akunya sih nggak pusing karena saking bego dan nggak mudengnya. Tapi orang tua? Pasti. Mereka pasti pusing banget.

5.      Nggak ada yang ngajakin nikah

Oke, abaikan saja poin ini.
Intinya adalah, aku nggak nikah muda karena tahu aku belum siap. Aslinya mau nikah muda, mau nikah tua, mau nikah pas-pasan (nggak muda nggak tua), itu terserah asal udah siap. Tahu konsekuensinya kalau nikah itu gimana sih? Nanti punya anak anaknya bakal butuh apa aja sih? Mengelola rumah tangga itu gimana sih? Dan banyak lainnya. Jadi nggak asal karena sorry to say, nafsu aja.
Malesnya kalau gara-gara kampanye nikah muda itu trus jadi banyak remaja yang kemudian minta dinikahin. Baru lulus SMA, trus langsung minta nikah karena merasa udah cinta mati sama pacarnya. Karena panggilannya udah papah-mamah dan udah merencanakan hari tua nanti mau diisi dengan ngapain aja. Masih mending kalau ceweknya 17 tahun, tapi cowoknya udah dewasa. Udah lulus kuliah, dan punya kerjaan tetap. Lha, kalau sama-sama 17 tahunnya? Sama-sama masih labil dan nggak tau sama sekali hidup itu mesti gimana? Masa iya, udah nikah masih mau tergantung terus sama orang tua?
Jadi, kalau ada di antara kalian yang baca postingan ini adalah remaja yang jadi kebelet nikah gara-gara terinspirasi sama yang itu, pikir lagi seribu kali. Kalau masalahnya adalah libido dan nikah demi menghindari zina, masih banyak cara lain kok buat membakar energi dan mengalihkan perhatian selain nikah secara gegabah. Kamu bisa traveling dulu keliling dunia, bisa membantu memberi pendidikan untuk anak-anak di pedalaman, bisa kerja sosial, bisa melakukan penelitian, menciptakan karya seni, meraih penghargaan, menjadi astronot, dan banyak lagi deh.
Kenapa? Susah ya? Nikah emang kelihatannya lebih gampang sih. Awalnya tapi. Ingat, di belakangnya ada tanggung jawab yang harus dipenuhi. Kalau kamu santai-santai saja dan nggak kepikiran tanggung jawab udahannya dan cuma mikirin senengnya, berarti kamu belum cukup bertanggung jawab. Dan itu juga berarti kalau kamu belum siap menikah.
Udah, gitu aja sik.
Thank you so much for reading.
Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar



Udah setahun ini aku nggak pernah nulis cerita. Yups! A year full. Bagi seseorang yang katanya pengen jadi penulis, tentu saja itu adalah pemborosan waktu yang sangat tidak berguna. Aku juga sadar itu dan merasa cukup aneh karena biasanya, aku akan terus berlatih meskipun cuma nulis pendek-pendek, tapi aku nulis terus. Lha ini setahun penuh tanpa sepotongpun fiksi mini coba kalian bayangkan! Yang biasanya aku nggak pernah lho, sampai begini.
Tadinya tak pikir itu pasti karena setahun ini aku terlalu sibuk jualan sampai nggak mikirin tulisan. Tapi setelah tak pikir-pikir lagi, tahun-tahun sebelumnya malah lebih gawat sibuknya karena masih berjuang. Setahun terakhir ini sih malah santai banget. Buktinya aku bisa jalan-jalan, nonton film, dan baca lebih banyak buku. Trus kenapa coba?
Setelah tak pikirkan dengan seksama, ternyata aku kehilangan sumber inspirasi gaes. Well, sumber inspirasi nggak selalu menjadi tokoh cerita, tapi, you know kan, menginspirasi. Jadi, dulu itu aku punya temen cowok. Bukan pacar, bukan mantan, bukan gebetan. Kami nggak pernah deket yang gimana, tapi diam-diam dia itu selalu jadi sumber inspirasiku. Nggak ada satupun orang yang tahu ini (termasuk yang bersangkutan) dan aku juga nggak akan ngebocorin siapa orangnya sekalipun kalian nyogok aku dengan sekarung gummy bear. :p
Saking menginspirasinya, sampai ibaratnya dia ngomong satu kalimat aja aku udah bisa nulis sepuluh halaman. Dan dulu, kami sering ngobrol, sering diskusi, curhat-curhatan, dan dari situlah semua ide mengalir. Tapi belakangan ini kami nggak pernah berhubungan lagi. Nggak tau ya, mungkin adulthood memisahkan kami. Yang jelas komunikasi terhenti dan kami nggak saling mencari. #eeaaa
Kadang, kalau aku jatuh cinta, orang yang ‘kujatuhcintai’ itu juga bisa jadi sumber inspirasi. Tapi biasanya nggak lama. Sedangkan kakak yang satu itu, yang kita sebut saja sebagai Mistery, dia lama banget bercokol di pikiranku. Padahal aku nggak jatuh cinta sama dia. Heuuuft. Yasudah lah, ngomongin Misterynya. Sepertinya kami nggak akan menjalin komunikasi lagi dan I don’t know, feels comfortable this way.
Akhirnya, semalam, ketika aku secara mengherankan nggak ngantuk dan balik ke vampire mode, aku berpikir keras, gimana caranya biar bisa teraliri ilham seperti dahulu kala. Tentu saja jawabannya gampang: temukan muse! Ha iya, kalau itu perkara gampang. Persoalannya nggak segampang itu je. Siapa yang bisa jadi muse? Atau apa yang bisa jadi muse? Di mana aku bisa menemukannya?
Saking frustrasinya, aku sampai gugling dengan kata kunci “how to find muse?” dan secara ajaib, WikiHow punya jawabannya. WikiHow punya artikel berjudul How to Find Your Muse yang kalau dilihat sebenernya kelihatan simple dan mudah dilakukan, tapi kenyataannya, aku sudah mempraktikan semuanya dan masih nihil.
Kalau ada di antara kalian yang sedang mencari sumber inspirasi juga, ini dia langkah-langkah dari WikiHow.
1.      Listen to music

Cara pertama yang disarankan WikiHow adalah mendengarkan musik. Pada jaman dahulu kala, cara ini juga berhasil dengan sangat efektif padaku, tapi sekarang?
Hemm, percayalah, akhir-akhir ini aku mendengarkan musik lebih sering. Dan aku melakukannya dengan cara yang paling klasik: dengerin radio. Bagi kalian yang mungkin bertanya-tanya apa radio masih eksis? Jelas masih. Dan asik banget ternyata dengerin radio lagi tuh. Harusnya dengan mendengarkan radio gitu, aku bisa dapet jutaan inspirasi dong? Bukan hanya dari lagu-lagu, tapi juga dari pendengar yang kirim salam (yes gaes, masih ada kok yang kirim-kirim salam lewat radio) atau bahkan dari iklan. Ya kan? Tapi enggak. Aku dengerin radio, ikut nyanyi, gugling MV lagu baru kalau penasaran, dan cuma itu. Aku nggak jadi kepengen nulis apaaa gitu. Enggak. So, this step doesn’t work for me.
2.      Explore your world

Apalagi ini. Ini sih kerjaan aku tiap hari ya kan? Jalan-jalan. Dan aku kalau jalan-jalan gitu selalu mengamati sekeliling dengan sebaik-baiknya lho. Aku memperhatikan bagaimana ombak memukul bebatuan, bagaimana burung-burung beterbangan dan lalu hinggap di pulau karang, bagaimana pasir berkilau, bagaimana kepiting bersembunyi di dalam lubang, bagaimana sepasang kekasih saling bergandengan tangan, dan banyak lagi. Kalian mungkin tahu aku banyak upload foto jalan-jalan di instagram, tapi percayalah, sesi foto-foto itu hanya sebagian kuecil dari acara jalan-jalanku. Aku sengaja untuk living in the moment dan mengamati sebanyak-banyaknya. Harusnya aku dapet buanyaaaak banget inspirasi ya kan? Tapi bagaimana mungkin aku masih nggak kepengen nulis sama sekali? Why God? Whyyyy???
3.      Begin writing anyway

Ah, aku juga sudah melakukan ini all the time. Masalahnya, tiap kali berusaha untuk menulis, tulisan itu pasti akan berakhir sebagai… status facebook. *sigh
Aku juga sudah mencoba nulis kaya dongeng gitu dan kamu tau apa yang terjadi? Aku berhasil menulis judul, disusul sebaris kalimat, dilanjutkan dengan tatapan hampa ke layar laptop tanpa tahu harus melanjutkan apa selama setengah jam. Dan akhirnya, aku capek bengong lalu menyerah. *raising a white flag
Langkah selanjutnya yang kulakukan adalah mengecek buku catatan. Kalian tahu kan, kalau aku biasa nyatet hal-hal atau apapun yang berkelebat di kepala di sebuah buku? Aku selalu punya buku seperti ini dari kecil. Kalau kalian nggak tau buku apa, aku kasih tau, namanya adalah buku harian. Dengan semangat aku membolak balik lembar buku catatanku dan betapa terkejutnya aku ketika menemukan catatan-catatanku beberapa bulan terakhir ini isinya adalah pesan bunuh diri semua? Serius.
Jadi bagi kalian yang belum tau, aku mengalami depresi yang lumayan sejak agak lama. Dan kadang-kadang depresi itu muncul ke permukaan. Nggak pernah lama, tapi gawat. Aku suka jedug-jedugin kepala ke tembok kalau lagi kumat. Kadang aku jadi sesak nafas. Kadang menangis meraung-raung kaya orang gila. Terakhir aku malah gigitin pergelangan tangan. Untungnya, aku punya mekanisme untuk menenangkan diri yaitu dengan menulis. Aku nggak pernah ingat apa yang tak tulis karena yang penting nulis dulu biar lega. Udahannya aku akan ketiduran dan pas bangun nggak nengok lagi aku nulis apa. Dan setelah kemarin buku catatan itu tak tengok, isinya catatan putus asa semua. Yang pengen mati lah, yang lelah menghadapi dunia lah, dan banyak banget hal alay lainnya yang membuatku bersyukur aku menulisnya di buku, bukan status. Bisa diblokir berjamaah kalau status isinya kaya gitu semua. Atau at least kaya pas drama nikah-nikahan dulu itu. I can’t help myself but write everything dan begonya aku tulis di status. Akibatnya? Aku kehilangan banyak teman. Most of them are the best one. Dan bukan hanya di dunia maya, mereka juga nggak mau berteman sama aku lagi di dunia nyata. So yeah, ini pelajaran banget buat aku. Kalau lagi stress, jangan pegang hp. Hehe.
So, well, this step is not working too.
4.      Read a lot of different tales

I did. I really did. Dari mulai novelnya Dan Brown, novel vampir, cerita peri, novel Indonesia, sampai cerpen Minggu aku baca. Pada dasarnya aku bukan anak yang hanya membaca genre tertentu. Aku membaca semua genre tulisan selama tulisannya memang bagus dan worth to read. Dan akhir-akhir ini aku malah lebih banyak membaca dari pada jaman dahulu kala. Membaca banyak buku dari penulis berbeda dan genre berbeda harusnya membantuku menemukan ide-ide segar. Itu masih berhasil satu tahun yang lalu pas aku nulis The Orckon Land (yang sampai sekarang belum ada kelanjutannya). Tapi sekarang hampir nggak memantik apa-apa di kepalaku. Aku baca, selesai, puas, dan udah. Aku jadi bertanya-tanya, apa mungkin kaya gini ini ya, rasanya impotensi?
5.      Socialize with people often
Nah, ini. Kalau yang ini kuakui memang berat. Hey, aku bahkan nggak berhasil menemukan foto untuk poin ini. Aku nggak punya foto sama temen, dan akhirnya aku sadar, aku memang nggak punya temen. Hahaha. Sejak drama nikah-nikahan, aku semacam mengundurkan diri dari pergaulan. Aku lebih suka sendiri, dan nggak suka berakrab-akrab ria dengan orang baru. Aku mendadak menganut prinsip, semakin sedikit orang yang tahu siapa sebenarnya aku, semakin aman. Semakin aku nggak punya seseorang yang kucintai, semakin aku nggak bisa disakiti. Suram bukan? Aku tahu ini terdengar menyedihkan dan cengeng, tapi well, to be honest, I can trust no one. Tentu saja bukan karena kalian nggak bisa dipercaya. Tapi karena akunya aja yang paranoid. Heuheu. Tapi kalau ada di antara kalian yang ngajak nongkrong bareng aku nggak bakalan nolak kok. Mungkin udah saatnya aku kembali memiliki kehidupan sosial kan? 
Jadi langkah terakhir nggak bekerja juga? Padahal dari WihiHow udah habis, segitu aja tipsnya. Trus apa ya? aku sempat berpikir apa gara-gara smartphone? Aku keasikan online jadi nggak produktif? Ternyata jawabannya tidak, karena aku memiliki self control yang teramat sangat bagus dalam memakai smartphone. Mekanisme self control itu mengandung dua kalimat ajaib yaitu ‘hemat kuota’. Lagian aku lebih banyak off line misalnya ngerajut sambil dengerin radio. Jadi bukan itu masalahnya.
Kemudian, aku teringat curhatanku sama mbak Icha beberapa hari yang lalu. Mungkin yang kubutuhkan hanyalah jatuh cinta lagi? Ah, terdengar menyenangkan. Jatuh cinta itu asik, seru. Bahkan pas kemudian patah hati, masih saja bisa dinikmati. Tapi err, nggak tau sih. Mungkin yang akan kulakukan saat ini hanyalah enjoy the flow dan pelan-pelan memaksa diri untuk menulis lagi. Karena seorang teman pernah berkata “Kalau kamu biasa berproduksi, alam bawah sadarmu akan menjadi semacam mesin auto produksi,” begitu, dan aku mengamininya.
Kalau menurut kalian gimana? Kalian punya tips-tips jitu menemukan sumber inspirasi nggak? Please dong share ke aku ya, ya!
Full of hope,
Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



DIY tas rajut plastik bekas ini proyek lama sih sebenarnya. Gara-garanya aku hobi ngumpulin kantong plastik. Meskipun aku sudah menerapkan prinsip reduce first alias mengurangi dulu baru reuse, kemudian baru recycle, kantong plastik yang ngumpul tetep aja banyak. Sampai sekardus mie lah kira-kira (hasil pengumpulan bertahun-tahun sih). Padahal itu kondisi tak lipat rapi lohh jadi segitiga kecil-kecil.
Sebagai catatan, yang tak kumpulin cuma plastik bersih aja ya. Kalau yang bau pindang apa yang udah ketumpahan kopi gitu masih tak buang juga. Singkat cerita, aku jadi bertanya-tanya dong, ini plastik mau tak apain ya? Masa tak jual lagi ke warteg? Akhirnya aku browsing-browsing buat nyari ide sehubungan dengan kantong plastik bekas. Dan hatiku tertambat di sebuah blog yang sayang sekali nggak bisa tak cantumin linknya karena aku udah lupa blognya apa (udah setahun lebih boo). Bagi pemilik blog itu kalau nyasar di postingan ini bisa kasi tau aku yaa.
Jadi ceritanya blog itu cerita kalau dia merajut, tapi menggunakan plastik bekas sebagai pengganti benang. Kebetulan aku bisa ngerajut meskipun cuma satu gaya aja (iya, ngerajut itu ada macem-macem gaya kan?). Caranya gampang, bisa menghasilkan barang yang jauh lebih kece dari sekedar tumpukan kantong plastik, masuk akal. Aku langsung praktik detik itu juga.
Caranya begini nih:
Pertama, siapkan alat dan bahan yang terdiri atas gunting buat menggunting, hak pen buat merajut, dan kantong plastik bekas tentu saja. 
Plastik bekas, hak pen, gunting.

Lipat plastik jadi seperti ini.

Potong bagian ujung atas dan bawahnya seperti ini.

Kemudian gunting-gunting seperti ini.

Lebar guntingan kalau aku menyesuaikan bahan plastiknya. Karena beda-beda kan? Ada yang lemes, ada yang kaku. Kalau yang tipis dan lemes aku gunting selebar kira-kira satu cm, kalau yang agak kaku setengah cm. Ini berpengaruh di proses merajutnya nanti. Kalau plastiknya kaku dan masih nekat digunting tebel juga, dijamin jari bakalan sangat pegel dan kapalan seketika. Ini juga tergantung besar hook yang digunakan ya. Aku pakai nomer 3-4.
Oke ya, nanti hasilnya kalau lipatannya dibuka akan jadi bunder-bunder kaya gini.

Nha, bunderan-bunderan ini tinggal disambung-sambung aja. Caranya kaya kalau kita nyambung karet gelang (pernah main karet gelang semua kan?). Salah satu ujungnya dimasukin, trus masukin lagi, tarik. Mudeng kan gaes? :D
Kalau sudah, akan menjadi sambungan plastik yang panjaaaaang yang berfungsi sebagai pengganti benang buat dirajut. Selanjutnya, rajut apa saja dengan gaya yang gimana saja sesuai selera. Aku cuma bisa satu gaya sih. Jadi rajutanku ya gitu-gitu aja. Aku udah usaha sekeras-kerasnya buat belajar gaya merajut yang lain, tapi hasilnya malah pusing sama istilah ch 1, ch 2, dan macem-macem lainnya. Jadi ya, aku berusaha sebaik-baiknya untuk berkreasi dengan skill yang apa adanya itu. Percobaan pertamaku adalah dompet, tapi udah keburu diminta sama adikku sebelum sempet tak foto. Setelah itu aku hanya membuat tas-tas seperti berikut ini.
Sling bag bunder.

Sling bag.

Tote bag.

Backpack.

Untuk merajut satu tas paling butuh waktu sebulan dengan intensitas merajut nggak rajin-rajin amat. Maksudnya, aku paling merajut sehari 2-3 jam, dan itupun nggak tiap hari. Waktunya dibagi buat ngerjain hal lain juga kan? Pokoknya aku merajut kalau lagi ada waktu selo aja sih. Jadi kadang-kadang ada satu tas yang udah mulai tak rajut sejak bulan februari, tapi baru selesai bulan Agustus, karena ngerajutnya dicicil. Hehehe.
Ini hal kecil sih sebenarnya. Tapi aku jadi mikir gini, kalau selama ini aku nggak pernah ngumpulin kantong plastik dan justru membuangnya setiap hari, tentu nggak kerasa sama sekali kalau aku lagi nyumbang sampah yang buanyak ke muka bumi. Dan ternyata, dengan sedikit sentuhan, bisa menghasilkan barang baru yang bisa dipakai lagi.
Kalau ada di antara pembaca sekalian yang bertanya-tanya apakah aku menerima pesanan, jawabannya tentu tidak. Alasan pertamanya, karena skill merajutku yang payah banget sehingga hasil rajutannya mungkin hanya memuaskan bagi diriku sendiri.
Alasan keduanya, karena aku nggak punya kantong plastik lagi. Ini aku bertahun-tahun lho, ngumpulinnya. Sejak aku kuliah. Tanya aja sama temen-temen yang pernah ngekos bareng aku. Aku biasa ngumpulin kantong plastik dan ikut tak bawa setiap kali aku pindah. Itupun aku udah sebisa mungkin mengurangi ‘koleksi’ dengan cara membawa tas sendiri kalau belanja, atau menolak diberi plastik kalau belanjaannya cuma dikit, dan bahkan beli nasi di wartegpun aku dan segenap anak kos lain membawa tas kertas sendiri untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Dan itu sudah kami lakukan sejak jaman dahulu kala sebelum pemerintah menerapkan diet kantong plastik yang berujung pada kantong plastik berbayar itu.
Jadi sekarang aku udah kehabisan plastik. Dan hanya karena aku bisa membuatnya jadi benda baru, bukan berarti aku jadi niat ngumpulin kantong plastik sebanyak-banyaknya dan selalu minta kantong tiap belanja demi mendapatkan bahan rajutan. Aku tetep menerapkan prinsip reduce first.
Tapi be cheerful gaes, kalian kan juga bisa bikin sendiri dengan cara yang udah tak jelasin di atas. Tapi inget ya, reduce first. Gunakan kantong yang memang sudah ada, jangan mengada-adakan, atau bahkan sampai beli plastik baru buat dirajut. Tapi kalau kalian kepengen punya tas rajut kantong plastik bekas kaya punyaku tapi nggak punya bahannya karena selama ini nggak ngumpulin, ya nggak apa-apa. Kalian boleh milih punyaku mana yang kalian suka. ;) Atau boleh juga sih kalian bawain kantong plastik bekas buat tak rajutin.
Akhir kata, semoga bermanfaat dan selamat mencoba! Nanti kalau udah nyoba sendiri, share hasilnya ke aku yaa.
Love,
Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit conseat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amei.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Juni 2019 (2)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (15)
  • Februari 2018 (1)
  • Januari 2018 (1)
  • Oktober 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (2)
  • Juni 2017 (3)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (2)
  • Maret 2017 (8)
  • Februari 2017 (10)
  • Januari 2017 (3)
  • Desember 2016 (6)
  • Oktober 2016 (4)
  • September 2016 (6)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (3)
  • Juni 2016 (8)
  • April 2016 (1)
  • Maret 2016 (6)
  • Oktober 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • Kesumat Sang Raja Jerawat
  • Ngeblog seaktif Facebook-an. Gimana sih caranya?
  • Mengukur Kualitas Diri Tidak dengan Membandingkan
  • PESAN MORAL LOMBA-LOMBA AGUSTUSAN
  • PENTINGNYA MEMPERHATIKAN LINGKUNGAN PERGAULAN ANAK

Yang Nulis

Isthar Pelle
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates