• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MADGIRL!



Image source: artmirrorsart
Menulis cerita tidak pernah mudah. Terutama katika kau sedang tidak begitu jatuh cinta atau patah hati. But I have to write this down. Cause he said so. Jadi aku memastikan kopiku enak, memutar lagu Justin Timberlake, dan mulai mengetik.

Aku baru saja keluar dari pekerjaanku. Karena yahh, aku sudah tak sanggup lagi mengatasi mual pagi hari setiap kali mencoba menebak apa yang akan dikatakan bos pagi ini, atau pandangan iri (yang biasanya disertai bisik-bisik) senior-senior perempuan ketika melihatku berjalan dengan senyum ceriaku yang biasa. Atau bahkan mata cowok-cowok yang ketika berbicara denganku, tak pernah menatap mataku. You know lah mereka menatap apa. Lebih dari itu semua, aku mau aktif menulis lagi. Juga aktif di kegiatan mengembangkan my so called label and company. That makes me feel way way happier than ever.

“Kemarin pas ngantor di tempat orang aku pasti kesel kalau diomelin soal administrasi yang harus rapi. Sekarang pas ngurus usaha sendiri, baru tahu kalau urusan administrasi berantakan, kacaulah segala-galanya,” aku update status di BBM pagi itu.

“Kamu buka kantor apa? Aku ikuut!” Suneo, cowok ganteng yang ternyata adalah adik kelasku di SMA (aku baru tahu setelah dia cerita melalui chat room facebook) merespon melalui Blackberry messanger.
“Itu, Glambition Id kan cloth line debutanku. Ya ayo kalau mau ikut,” balasku.
“Di mana? Trus gimana? Aku ikut jualin apa gimana?” Err, slow down, tiger! Akhirnya aku menjelaskan bagaimana tepatnya dia bisa bekerjasama dalam hal ini. Perusahaan ini baru mulai dan aku benar-benar belum punya cukup uang untuk menggaji karyawan. Jadi aku tawarkan dia untuk menjadi semacam reseller. 

“Aku lihat dulu ya,” katanya. Well, sampai sini aku bingung. Apanya yang mau dilihat? Aku mengerjakan produk berdasarkan pesanan. Dan aku tidak punya kantor. Ruang produksi, administrasi, gudang jadi satu di kamar kos dua kali tiga meter. Kujelaskan itu padanya.
“Kalau mau lebih jelas, aku saja yang ke situ,” kataku. Setahuku dia kuliah di Jogja dan aku sudah lama tidak mengunjungi kota itu. Pasca heart quake yang waktu itu, aku belum pernah ke sana lagi. Dan harusnya ini bisa jadi alasan bagus.
“Aku di rumah sekarang,” katanya. Itu berarti dia tidak di  Jogja. Di rumah. Kampung halaman. Sementara aku tidak suka pulang. 

Akhirnya, setelah diskusi panjang (aku lupa bagaimana tepatnya obrolan kami), kami memutuskan untuk bertemu di Jogja.
“Tapi aku cuma mau main ke sana. Bukannya jalan-jalan,” dia bilang.
“Bukan masalah. Nanti kita bisa ngobrol lalu aku cari teman buat menemani jalan,” jawabku. Dia membalas dengan emot sedih. Dan membayangkan wajahnya yang ganteng dengan ekspresi seperti itu, cewek normal mana sih yang tega? Tapi aku cuma tertawa.
“Pacarmu anak mana?” tanyaku (err, aku lupa, mungkin berhari-hari setelahnya).
“Aku nggak punya,” jawabnya. Hah? Cowok ganteng dan nggak punya pacar? Baiklah, dia pasti playboy.
“Cowok ganteng sepertimu nggak punya pacar?” tanyaku.
“Aku cuma nggak percaya. Komitmen, cinta, apa sih? Paling juga ujung-ujungnya putus.  Sama aja,” balasnya. Well, good point.
“Iya bener,” balasku.
“Aku lebih suka bebas. Kalau suka ya ayo have fun, kalau nggak ya udah. Punya pacar malah repot, kebanyakan ngatur,” dia bilang lagi.
“Setuju! Toss, salaman!” balasku.
“Udah toss, salaman, ciuman iya nggak?” tanyanya.
“Wah, jangan! Dicium cowok ganteng kaya kamu, ntar aku deg-degan,” kataku. But, seriously, baru membayangkan saja jantungku sudah berubah ritmenya. Lebih cepat tentu saja.
“Ya udah kalau nggak mau. Beneran lho ya,” katanya lagi.
“Hahaha. Siapa coba yang bakal nolak cowok ganteng kaya kamu?” maksudku, bayangkan saja. berdua dengan laki-laki setampan dia, dia minta ciuman, dan kau menolak? Kemungkinannya cuma ada dua: kalau nggak idiot, itu cewek pasti frigid.

Setelah beberapa hari berikutnya, obrolan kami semakin kinky saja. Bukan hanya aku yang kegenitan dengan kirim-kirim foto topless padanya, tapi rencana yang dulu-dulunya sebatas ‘buat ngomongin kerja sama bisnis’ beneran udah berubah menjadi kencan. Untuk bercinta. 

Week-end yang dijadwalkan. Aku jarang mandi dan dandan kecuali well, pas kerja kantoran beberapa waktu lalu. Tapi minggu ini agaknya aku cukup serius mempersiapkan diri. Kalau tidak cantik di matanya, setidaknya aku keren menurut diriku sendiri. Karena apa? Sudah lamaaaa sejak aku tak berpetualang dengan pria baru dan aku suka itu. Lebih dari itu, aku benar-benar naksir padanya. Tanda-tandanya sudah jelas. Kekaguman yang tak terkontrol, ada. Kekhawatiran yang tak beralasan ketika dia lama tak membalas pesan, ada. Penghuni sepenuh waktu di negeri fantasi, iya.

Dia menjemputku seperti yang dijanjikan.
Aku ingat dia adik kelasku. Harusnya aku pernah juga berpapasan dengannya sekali atau dua kali, tapi entah bagaimana butanya aku sehingga tidak benar-benar sadar kala ada cowok ganteng di sekelilingku. Atau mungkin waktu itu aku memang masih begitu tololnya sehingga belum bisa membedakan cowok ganteng dan tidak. Tapi dia sudah di hadapanku sekarang. Menatapku sepertii … aku tak tahu. Yang jelas aku merasa terintimidasi sekaligus minder pada satu waktu. And for the love oh Gods, aku tak tahu harus mengatakan apa. Ke mana perginya aku yang selalu bisa mencairkan suasana? Jatuh cinta memang selalu membuatmu tolol kan? Tapi aku bahkan tak yakin ini adalah cinta.

Dia tersenyum. Dan rasanya aku ingin membekukan momen itu. Momen ketika dia menatap mataku dengan senyumnya. Aku ingin mengawetkan dan menyimpannya setidaknya sampai seratus tahun yang akan datang. 

“Kamu capek?” dia bertanya. Aku menggeleng. “Kamu yang capek,” kataku sok care. Jelas-jelas terdengar tolol. Aku baru akan membuka laman berita online melalui handphone (siapa tahu ada berita bagus yang bisa dijadikan bahan obrolan) ketika dia memelukku. Iya, memelukku begitu saja. Aku diam seperti patung (or even worse). Baunya harum. Aku tak tahu parfum apa yang dia pakai. Harum yang seksi khas lelaki.

Tangannya bergerak membelai rambutku dan menciumnya. Untunglah aku sudah keramas. Sedetik kemudian dia mencium pipiku dan wajahku pasti semerah tomat saat itu. Aku berusaha berpikir jernih dan mengingat apa kiranya yang biasa kulakukan ketika ada seorang pria memperlakukankku seperti itu. Tapi aku justru semakin tak bisa berpikir ketika ciumannya berpindah ke leherku. Membuat sekujur tubuhku berdesir dan kakiku lemas seperti jeli. But it feels so damn good. Dia menciumi pipiku lagi. Bagaimana bisa pelukan dan ciumannya bisa membuatku senyaman ini?

Dia mengarahkan wajahku padanya, dan jangan tanya! Aku jelas-jelas tak berani menatap matanya. Jadi aku menutup mata dan dia mencium bibirku. Rasanya begitu indah melebihi ciuman pertama (oke, ciuman pertamaku sama sekali tidak ada indah-indahnya). Detik-detik pertama aku hanya pasrah menerima perlakuannya, tapi ketika dia mulai menggerayangi payudaraku, aku tak memikirkan apapun lagi. Aku melingkarkan lenganku di lehernya, membalas ciumannya. Tangannya berpindah ke pinggang dan dia mengelus-elus bagian kulitku yang terbuka. Aku melenguh sedikit. Dia merebahkankku di ranjang. Nafas kami sudah tak lagi normal. Atau aku saja? Ahh, tangannnya menelusup ke balik kaos yang kupakai. Merayap ke payudaraku yang masih terbungkus BH. Membuatku terengah-engah.

Tanganku pun menelusup ke balik baju yang dia kenakan, mengelus punggungnya, mencoba melepaskannya. Dia melakukan hal yang sama. Tubuh bagian atas kami sudah tak tertutup apa-apa. Kontak dengan kulitnya membuat darahku berdesir hebat. Dia mulai mencium payudaraku. Tangannya merayap ke punggung, mencoba melepaskan pengaitnya. Aku membantunya dengan menaikkan tubuhku ke atas. Dan nah, payudaraku bebas sekarang. Dia memandanginya beberapa detik. Aku merasa malu dia begitu jadi kutarik wajahnya dan aku menciumnya lagi. Sedang tangannya menjelajah seluruh tubuhku. Aku merasa geli dan terengah ketika dia menelusur pinggangku dan terus ke bawah. Mencoba membuka celana jins yang masih kupakai.

Tanganku turun membuka pengait celananya dan memasukkan tanganku ke sana. Meraih miliknya. Tanganku yang satunya membuka celanaku sendiri karena dia kesulitan dengan itu. Dia menjatuhkan badannya ke ranjang, menarikku ke atasnya. Kami masih berciuman dan aku benar-benar ingin menjerit ketika dia menciumi leherku lagi. Kami melanjutkkan aksi striptease dengan membuka celana masing-masing tanpa menyisakan apapun. Aku terperangah. Dia ini dewa yunani atau apa? Tubuhnya begitu bagus. Aku meraba perut hingga dadanya sementara dia memainkan bukit kembar di dadakku dengan kedua tangannya. Ini benar-benar membuatku gila. Aku mendesah.

Tangannya bergerak meraba bokongku dan tak ada yang bisa kulakukan selain bergoyang mengikuti gerakannya. Milikku sudah sangat basah. Dia pasti tahu itu ketika tangannya bergerak meraihnya. Dan aku seperti kehilangan nafas dalam sedetik.

Dia terus memperlakukanku seolah sengaja ingin membuatku kehilangan pikiran yang satu-satunnya. Dia membalik tubuhku lagi. Sekarang dia di atasku. Dan dia membelai seluruh permukaan kulitku secara konstan, menciumi payudaraku, leherku sampai aku tak berpikir lagi untuk mengerang sekeras-kerasnya. Dia mencium bibirku lagi dan menatap mataku selama beberapa lama, meminta persetujuan untuk memasukkan miliknya padaku. 

Aku sudah mengatakan padanya untuk tidak melakukan itu. Tapi peduli apa? Semua ini terasa begitu nikmat dan aku ingin lebih. Akhirnya, ketika dia memasuki tubuhku, aku menjerit. Untuk rasa perih juga nikmat. Aku menggigit bibir bawahku dan memeluknya terlalu erat.

Saat dia melakukan itu padaku, dengan gerakan teratur dan berulang-ulang, aku seolah melihat bintang-bintang gemerlapan di kelopak mataku sendiri. Aku mencakar punggungnya, meremas sprei, menggapai apa saja. 

Kami berakhir dengan tubuhnya lemas di atasku. Kepalanya disandarkan pada payudaraku, dan aku membelai rambutnya dan menciuminya.
“Tadi itu fantastis,” kataku.

Dia tidak menjawab. Dia menggeser tubuhnya dan langsung tertidur di sampingku. Aku memandang wajahnya. Dia tidur seperti malaikat. Aku memeluknya dan tertidur juga.

Ketika bangun, dia sudah berpakaian dan mengajakku pulang. Dia mengantarku dan ketika dia berpamitan, aku ingin menciumnya sekali lagi. Atau mungkin selamanya. Tapi dia berlalu begitu saja. Aku tak begitu ingat apa yang terjadi, but he just so sweet.

Malamnya, aku tak bisa tidur. Aku mencoba mengirim pesan padanya.
“Sudah sampai?”
Tidak ada jawaban. Sampai besok dan besoknya lagi. Dia tak pernah menjawab pesan apapun lagi dariku.

Aku mengerti beberapa orang hanya mencari seks, dan ketika itu terpenuhi, tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kadang-kadang aku juga begitu. Tapi kali ini, aku merasakan sedih yang aneh. Mungkin aku tak benar-benar jatuh cinta padanya. Hanya terkesan atau apa. Dan ketika dia berhasil membawaku ke tempat tidur, itu sama sekali bukan salahnya. Tapi di atas segalanya, aku hanya wanita.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar

Image source: Pinterest

Di tiap sekolah di manapun, jenjang apapun, selalu ada bullying. Selalu. Seenggaknya itu yang kulihat sejak SD dan bahkan sampai kuliah. Masih adaaa aja anak yang merasa jagoan hanya karena bisa ‘ngece’ anak lain yang dia anggap lebih ‘kecil’. Bullying biasanya dilakukan secara berkelompok dan beramai-ramai dan dengan demikian yang berada di kelompok yang membully itu jadi merasa somehow, ‘besar’. 

Aku juga dulu gitu sih, makanya aku tau. Iyaa, dulu aku suka ikut kelompok pembully itu. Ngece-ngece anak lain yang menurut kami nggak banget, entah karena kekurangan fisik, atau sikapnya yang aneh. Dulu (namanya aja masih ingusan dan belum bijak yak) aku menganggap bullying itu sah karena tak pikir itu salah si anak sendiri. Salah sendiri jadi anak kok bully able. Kenapa aku bisa punya sikap kaya gini, itu juga ada ceritanya sendiri. 

Jadi dulu pas pertama kali masuk SMP, aku juga pernah berada di posisi terendah rantai makanan di sekolahan. Aku anak yang datang dari kampung yang ndesa bin norak gitu lah pokoknya. Tanpa teman sebutirppun. Sedangkan anak-anak lain umumnya udah banyak temennya dari SD yang sama. 

Udah aku anaknya item dekil, jahit seragamnya kegedean biar bisa dipakai selama tiga tahun, sepatunya juga kegedean biar nggak buru-buru beli lagi, dan sementara anak-anak lain tasnya bagus dan mahal-mahal, aku tasnya jelek banget beli di pasar, itu aja yang paling murah. Pokoknya kasian lah. Semua bahan untuk dijadikan bullian, aku punya semua. 

Dan emang iya, pas awal-awal kelas 1 SMP itu banyak yang ngece-ngece gitu deh. Aku dipanggil laler karena aku kecil, item, dekil. Tak kasih tau aja ya, yang namanya baru jadi anak SMP tu rasanya kaya sungguh keren kalau bisa ngelabrak anak lain. Dan aku pernah dilabrak dong, hanya gara-gara aku tugas piket dan waktu itu kelas belum disapu. Bukan berarti aku nggak menjalankan tugas. Tapi emang belum aja wong akunya juga baru datang. Trus ada dua cewek yang sok keren dan sok galak gitu ngebentak “Heh, koe ki piket!” 

Aku takut? Enggak. Dudulnya, aku malah ngebentak balik “Lha iki opo jenenge nek ra piket?” gitu sambil ambil sapu sama serokan sampah. Hahaha. Si dua anak sok keren jelas tercabik-cabik harga dirinya digituin sama si laler ini. 

Pas istirahat, mereka ngumpulin cewek-cewek segeng dan ngelabrak aku beramai-ramai. Aku nggak inget mereka ngomong apa aja. Yang jelas aku nggak ngerasa takut, apalagi bersalah, dan malah menghela nafas bosan sambil bilang “Kamu kan, yang mulai duluan.” Kalau aku yang gede sekarang ini bisa lihat kejadian itu sekarang, aku pasti tertawa terpingkal-pingkal. Aku tu kok ya nggak peka banget gitu lho jadi anak. 

Mereka bermaksud melanjutkan bullian, ngajakin anak sekelas buat mematenkan panggilan laler buatku, selalu ngetawain aku dalam situasi apapun, dan semacamnya. Tapi apa yang terjadi? Aku cuek aja. Cueeeeeek banget. Nggak sadar blas kalau lagi dibully dan apa lagi ngerasa terganggu. Aku super bahagia dengan dunia di dalam kepalaku. Dengan rasa ingin tahu yang tinggi khas anak-anak. Dengan tiap hari mengembara ke tempat-tempat yang jauh meskipun badannya ada di kelas. Dan aku punya ilmu sederhana. Kalau anak-anak sok keren itu nggak mau berteman sama aku, ya udaaaaaaaaah, aku berteman aja sama yang mau. Sederhana. 

Lama-kelamaan, si tukang bully itu jadi ikutan lupa kalau aku adalah objek bullian. Malah ngajak main ke rumahnya, ngajak main bareng, dan bahkan ngegeng bareng. Hahaha. Mereka bilang “Kok kamu ternyata asik ya, anaknya.” Eike bilang juga apa cyiiiin. 

Sayangnya, perubahan baik ini bikin aku jadi takabur. Setelah nggak berada di posisi terendah rantai makanan lagi, aku ikut-ikutan ngebully yang masih ada di posisi rendah. Ada anak aneh banget trus sekelas ngetawain, aku ikut ketawa, bukannya ngebelain, dan semacamnya. Andai saja waktu itu aku tahu kalau yang kulakukan itu salah. 

Untuk menebus rasa bersalah itu, ini ada sedikit petuah sederhana buat kalian yang baca ini yang mungkin masih mengalami pahitnya dibully, nggak pernah diajakin ngumpul, jauh dari pergaulan anak keren, sering diketawain, digangguin, dan semacamnya.

Sombong Aja Dulu

Petuah yang pertama ini sederhana. Alih-alih minder, kamu sombong aja dulu. Sikap sombong tentu saja nggak bagus, tapi nanti lama kelamaan kamu akan tahu gimana cara menguranginya. Kenapa harus sombong? Soalnya dengan menjadi sombong kamu nggak akan nyadar kalau lagi dibully, kaya kasusku pas pertama kali masuk SMP. Sombong di sini bukan berarti kamu pamer harta, kecantikan, sok kaya, sok gaya dan lain sebagainya ya. Tapi yakin aja kalau kamu itu keren dan sama sekali nggak bully able.

Keras Kepala Ternyata Ada Gunanya

Yang kedua adalah keras kepala. Ini juga sama. Keras kepala itu bukan sikap yang baik, tapi nanti lama kelamaan kamu akan tahu cara menguranginya. Kenapa perlu menjadi keras kepala? Karena dengan demikian kamu selalu yakin yang kamu lakukan itu benar. Apa adanya dirimu itu benar. Jadi kalau ada yang ngatain penampilan kamu jelek norak, kamu nggak akan merasa tersinggung karena kamu udah tahu kalau kamu keren apa adanya. Mudeng kan? Mendengarkan saran positif tentu saja perlu. Tapi mendengarkan ejekan, cemoohan, yang semuanya negatif dan memang bermaksud merendahkan? Naaay!

Nyaman dengan Dirimu Sendiri

Ini sebenernya inti dari segala-galanya. Jangan karena dibully, jangan karena dikatain kuper, trus kamu jadi pengen berubah seketika itu juga. Jangan karena orang mengejek kacamatamu yang tebal trus kamu maksa untuk nggak pakai kaca mata padahal kamu butuh. Hanya karena orang bilang kamu gini kamu gitu, bukan berarti kamu harus berubah menjadi tidak begini dan tidak begitu. Tetep jadi dirimu sendiri. Nggak usah maksa berubah kecuali memang perubahan itu positif dan perlu.

Jadi Ramah Tanpa Menjadi Sok Asik

Blend in, gaes. Blend in. Kamu harus pinter bergaul. Bergaul di sekolah itu sesederhana nanyain kabar dengan senyum ceria, nanya udah ngerjain tugas apa belum, dan yang paling penting, tebar senyum ke mana-mana. Itu psikologis. Ketika kamu ramah dan murah senyum, orang nggak akan tega berbuat jahat sama kamu. Yah, kecuali orangnya emang jahat banget dan jiwanya sudah termakan kegelapan sampai level yang nggak bisa diselamatkan sih.

Ketika kamu terlihat murung, pembully-pembully ini jadi semangat buat bikin kamu semakin murung. Ketika kamu terlihat bahagia dan baik-baik saja dengan apa adanya dirimu, si pembully-pembully ini nggak akan nemu apanya yang harus dibully dari kamu.

Dan juga jangan sok asik ya. Kaya misalnya pas geng anak gaul lagi ngegosipin gebetan yang kakak kelas, nggak perlu lah kamu nyerobot obrolan mereka dan bilang “Kemaren dia senyumin aku lohh.”

Jadilah Ceria dan Sibuklah Berprestasi

Ini sama kaya yang di atas. Semakin seorang anak terlihat murung, nggak pede, dan nggak nyaman, semakin para pembully pengen ngebully. Tapi semakin seorang anak terlihat ceria dan menikmati hidupnya, pembully-pembully ini tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jadilah anak yang happy dan kalau perlu tebarkan keceriaan. Terus, sibuklah berprestasi. Daripada sedih-sedih mikirin bullyan dan galau pengen beli sepatu baru hanya karena sepatumu yang sekarang diejek dibilang ketinggalan jaman, mending sibukkan diri. Ikut ekskul. Selain pengalaman, di sini kamu bisa dapat banyak teman baru juga. Ikut kompetisi. Nggak menang nggak apa-apa. Coba lagi di lain kesempatan. Kesibukan ini juga membantumu meningkatkan kepercayaan diri dan kualitas diri.

Jangan Jadi Ngeselin

Kadang ada anak yang dibully itu karena dianya emang ngeselin. Ibaratnya mukanya itu emang muka minta dibully gitu. Misalnya sombong yang kelewatan, suka dikit-dikit lapor ke guru, cari muka ke guru, nggak mau berteman sama semua orang, suka menyendiri dengan alasan eksklusif, sok sibuk, dan lain sebagainya. Banyak lah kriteria nyebelin sampai aku bingung nyebutinnya. Tapi yang dulu aku lihat dari anak-anak yang dibully sih itu tadi. 

Jangan Ikut-ikutan Jadi Pembully

Kalau kamu udah nggak berada di posisi terendah rantai makanan lagi, jangan trus balas dendam dengan membully anak lain. Apa yang aku lakukan itu salah dan sebaiknya jangan ditiru. Membully itu nggak keren sama sekali. Daripada ikut membully, mending anak yang dibully ini kamu ajak berteman. Kamu encourage biar dia jadi anak yang lebih pede dan berprestasi juga. 

Udah aja sih dari aku. Kalau kamu sekarang ini masih dibully dan saran-saran dari aku kaya nggak ada gunanya, kamu bisa curhat deh di kolom komentar atau via email juga boleh, masalahnya apa dan sisi mana yang gagal aku lihat. Siapa tahu bisa membantu. Soalnya keadaannya nggak selalu sama dan nggak semua hal bisa ditangani dengan cara yang sama. 

Engg, paragraf di atas hanya becanda gaes. Jangan curhat sama aku lah, gila. Nanti kesedihanmu malah makin berlarut-larut tak berkesudahan lho. Mending cerita sama orang tua atau orang terdekat lah ya pokoknya. Yang penting jangan dipendam sendirian. Okai okai okai?

Makasih banyak ya, udah baca. Share kalau menurutmu ini bermanfaat. Sampai jumpa!

Love,
Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Image from Pinterest


Malam ini kita menyamar menjadi sepasang kekasih. Aku berbaring dalam pelukanmu sambil berceloteh tak putus-putus tentang Night Fury yang terbang menuju matahari tenggelam. 

“Dia tak pernah sampai. Karena dia cepat dan bumi bulat. Matahari tak pernah jadi tenggelam.”

“Senja terus di sana?”

“Tidak. Sudah malam di sana. Tapi Night Fury sudah tidak di sana lagi. Dia kan terbang mengejar matahari. Kau tahu kan, matahari hanya bisa tenggelam kalau kita duduk diam.”

Lalu kau ganti bercerita tentang perjalanan menapaki cahaya untuk menemukan tulang ikan. 

“Cerita macam apa itu?” aku tertawa serak. Lalu kau menciumku gemas.

“Aku mulai kesetanan. Sejak sore tadi aku membaca mantra pemanggil setanku dan sekarang aku kesurupan kamu.”

“Hah?”

“Kamu keberatan?”

“Apa?”

“Kalau aku memujamu?”

“Tentu saja tidak. Itu kan kegilaanmu sendiri. Terserah saja. Kita tidak bisa meminta seseorang untuk mencintai kita. Kita juga tidak bisa meminta seseorang untuk berhenti memuja kita,” kataku. Masih memikirkan apa yang dilakukan tulang ikan di tumpukan cahaya. 

“Aku mencintaimu meski kau tidak,” katamu. 

“Jangan ngomong cinta, ah. Aku trauma.”

“Terserah lah. Aku bisa ngomong gini juga gara-gara kamu.”

Aku hanya menggerakkan bahu. Berharap kau bicara tentang tulang ikan lagi saja. Sudah sampai mana tadi? Ah iya, menapaki cahaya yang semakin tinggi semakin ciut kan?

“Aku senang kau pulang,” katamu lagi. Aku menarik nafas sebentar lalu menghembuskannya agak lama.

“Kau pernah bilang padaku kalau sejak sembilan tahun lalu kau mulai menulis dan rasanya seperti bicara dengan diri sindiri sampai kau bertemu denganku. Aku juga merasa begitu. Bagiku, menulis memang aktivitas berbicara dengan diri sendiri. Aku pernah punya banyak teman tapi aku selalu kesepian. Tak ada seorangpun yang memahamiku. Aku beruntung punya kau sekarang yang bersedia memahami kekacauan isi kepalaku. Itulah alasan kenapa aku memutuskan untuk kembali,” aku mengaku.

“Jangan pergi lagi,” katamu.

“Aku nggak janji.”

Kemudian sambil membelai rambutku kau bilang, “Waktu kamu pergi aku nggak bisa apa-apa. Bahkan pengen ketabrak pun nggak bisa meski aku berjalan ngawur. Kamu tahu rasanya? Kadang jengkel, kadang kangen, kadang berharap. Tapi kamu masih saja belum bisa membuatku marah.”

“Kadang ingin mati lalu hidup lagi, begitu terus berulang-ulang sampai sejuta kali lalu reinkarnasi jadi kanguru supaya hidup jauh di Australia dan siapa tahu bisa jatuh cinta dengan Tazmania dan melupakan ini semua? Kalau seperti itu aku tahu rasanya,” kataku ngawur. Merasa sedikit pahit karena terlambat menyadari kebenaran di balik kengawuran omonganku sendiri.

“Kira-kira mantra apa yang bisa membuatku reinkarnasi hari ini juga?”

Giliran kau yang tertawa serak. Tapi aku tidak menciummu. Meski gemas.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar




Oh, usang. Lagi-lagi angin mengabarkan kerinduan. Membosankan.
Tapi kau tahu, seperti angin juga tahu, aku tak mempercayai siapapun, atau apapun. Ingin berubah jadi angin, katamu? Padahal di antara semua hal yang tak bisa dipercaya, angin berada di urutan pertama. Selalu berubah arah, angin itu. Bergantung pada suhu dan kerapatan udara. Kendali atas diri sendiripun tak punya.
Tapi kalau rindu itu adalah api, angin bukan memadamkannya. Justru rindu itu ia kobarkan. Tak peduli kobarannya mencapai langit. Tak peduli dalam perjalanannya menghancurkan apa-apa. Tapi itu toh bukan salah angin. Bukan juga salah api. Sejak semula, kitalah yang bersalah karena menyalakan pemantik, bukan? Iya, aku egois telah menyalakannya.
Tapi aku rindu kau. Dan rupanya, kepergianku hanyalah omong kosong untuk membohongi diri sendiri. Api sudah terlanjur menyala. Kalau saja aku berani terjun ke bak mandi untuk memadamkannya.
“Aku pun rindu kau,” katamu.
“Sekalipun kau tak ingin?”
“Aku ingin.”
“Kau tidak tahu. Aku sudah bilang angin tak punya kendali atas dirinya sendiri.”
“Aku tahu aku ingin.”
“Bagaimana kalau aku tak ingin?”
“Aku tahu kau ingin. Buktinya, kau menyalakan api.”
“Itu kesalahan. Aku ingin memadamkannya. Aku ingin berhenti merindukanmu.”
“Jangan berhenti!”
“Aku tak bisa terus-terusan merindukan angin. Angin datang lalu pergi. Selalu seperti itu.”
“Aku tidak. Aku akan menjadi angin, mendatangimu dengan badai, lalu mengembun di dekatmu. Nanti kita bisa menguap bersama.”
“Embun memadamkan api, sayang,” kataku. Tersenyum jenuh.
Kita berdua memang harus berhenti menyalakan omong kosong, mengobarkannya, dan menganggapnya nyata. Tidak ada yang benar-benar nyata. Kita berdua terbakar tapi tak hangus. Kita berdua berkobar tapi kedinginan. Kita mengembun, menguap, terpecah menjadi partikel-partikel kecil, tapi tak pernah bersama. Aku tidak tahu lagi harus menangis atau tertawa.
“Aku tak akan membiarkan kau terluka,” kau pernah bilang.
“Bagaimana mungkin? Menyalakan api adalah kesalahanku yang pertama. Jatuh cinta pada angin adalah kesalahanku yang kedua. Terbakar maupun terjatuh, aku tetap terluka.”
Kabar baiknya, tak ada satu halpun yang benar-benar nyata. Jadi mudah-mudahan luka itupun tak nyata. Walaupun kau harus menguap dan tak ada lagi. Sekalipun aku padam menjadi asap dan tak ada lagi.
Lagi pula, kita ini hanya sekumpulan angka nol dan satu. Berjalan-jalan mengendarai mesin waktu. Kita bisa menyamar menjadi api, angin, bahkan phoenix sekalipun yang abadi sekalipun terbakar berkali-kali. Kita bisa terus bicara mimpi. Dan tertawa pura-pura bahagia. Tapi sementara kau berlarian ke sana ke mari, aku akan diam menyala di sini. Sendirian dan baik-baik saja. Sampai tiba saatnya kau berubah menjadi embun dan memadamkanku.
“Aku tak akan membiarkan kau terluka.”
“Pilihan apa yang aku punya?”
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit conseat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amei.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Juni 2019 (2)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (15)
  • Februari 2018 (1)
  • Januari 2018 (1)
  • Oktober 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (2)
  • Juni 2017 (3)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (2)
  • Maret 2017 (8)
  • Februari 2017 (10)
  • Januari 2017 (3)
  • Desember 2016 (6)
  • Oktober 2016 (4)
  • September 2016 (6)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (3)
  • Juni 2016 (8)
  • April 2016 (1)
  • Maret 2016 (6)
  • Oktober 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • Kesumat Sang Raja Jerawat
  • Ngeblog seaktif Facebook-an. Gimana sih caranya?
  • Mengukur Kualitas Diri Tidak dengan Membandingkan
  • PESAN MORAL LOMBA-LOMBA AGUSTUSAN
  • PENTINGNYA MEMPERHATIKAN LINGKUNGAN PERGAULAN ANAK

Yang Nulis

Isthar Pelle
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates