Sebenernya aku males ikut nyinyirin pernikahan
remaja 17 tahun yang ituh. Kenapa? Karena plis, itu urusan dia. Mau nanti rumah
tangganya morat-marit karena nggak siap juga itu urusan dia. Tapi yang kemudian
jadi masalah dan membuat banyak orang ikut mengomentari adalah, ketika
pernikahan si remaja itu (yang notabene adalah anak orang terkenal) kemudian
seperti dikampanyekan.
Banyak banget temen-temen yang udah nulis juga
tentang ini dan rata-rata berpendapat bahwa nikah muda itu nggak salah sih,
cuma nggak untuk semua orang. Contohnya saja, nikah muda nggak akan cocok
untukku. Ini beberapa alasannya:
1. Aku labil dan kekanak-kanakan
Pernikahan itu penyatuan dua orang yang
memiliki pikiran sendiri-sendiri jadi satu. Itulah kenapa diperlukan
kedewasaan. Aku anaknya labil banget, dan kekanak-kanakan. Aku egois dan maunya
menang sendiri. Bahkan sampai sekarang aku masih kaya gitu meskipun berusaha
sebaik-baiknya untuk mengurangi. Sekarang sih mending, aku pacaran sama Ibing
yang orangnya dewasa banget dan ngalahan banget. Coba bayangkan aku pas umur 17
tahun dulu itu (yang jelas-jelas level kelabilannya teramat sangat parah dan
masih bego banget), nikah sama cowok yang usianya baru 17 tahun juga, yang
sama-sama masih labil, egois, dan belum jelas hidup mau ngapain. Bisa-bisa
cakar-cakaran terus tiap hari dan 336 jam kemudian cerai.
2. Aku bosenan
Aku anaknya bosenan akut. Kecuali si cowok
memang high quality, lucuk, dan nggak songong, udah jaminan, paling lama
pacaran tiga bulan.
Bulan 1: Kamu asik banget sih sayang. Nanti
kita nikah trus punya anak tiga ya.
Bulan 2: Iya, aku kalau laper pasti bakal makan
sendiri kok. Nggak usah diingetin terus kenapa sih?
Bulan 3: Aku nggak cinta kamu lagi. Kita putus.
Lha, untungnya itu baru pacaran. Gimana kalau
udah nikah coba? Udah kawin-cerai berapa kali aja di usia sekarang?
3. Aku bukan tipe yang setia
Yup! Ini aslinya yang paling gawat sih. Karena
bosenan itu tadi, aku jadi gampang flirting ke sana ke mari. Eh, ada cowok
lucu. Tapi aku kan udah punya pacar? Gpp deh, kenalan doang masa ga boleh?
Kalau pacar marah berarti dia overprotectif. Putusin aja.
Coba kalau kata pacar di situ aku ganti dengan
suami, trus kata putus diganti dengan cerai? Mengerikan bukan?
4. Aku masih bego banget dan nggak punya skill
It’s okay kalau kamu mau nikah sama-sama muda
tapi kamu udah punya bekal yang bisa diandalkan untuk hidup. Seenggaknya bisa
dulu buat memenuhi basic needs. Jangan minta-minta orang tua. Karena kalau kamu
udah berani nikah tapi mau beli beras masih minta orang tua, maka sebaiknya
kamu lari ke hutan belok ke jurang aja. Nggak berguna. Atau boleh lah kalau
orang tuamu kaya raya dan kamu dikasih warisan untuk modal usaha.
Kalau dalam kasusku, orang tuaku jelas bukan
orang kaya. Kami hidup susah. Trus aku sendiri bahkan waktu galau dulu mau
kuliah apa kerja, aku nggak ngerti sama sekali mau kerja apa dan di mana, dan
bahkan cara untuk ngedapetin kerjaan gimana. Aku sama sekali nggak ngerti hidup
itu harus gimana. Kalau waktu itu aku nikah sama anak remaja yang masih sama
bingungnya sama aku? Yang akan terjadi adalah kami akan jadi beban orang tua.
Mungkin kami seneng-seneng di awal-awal pernikahan. Kemudian hamil dan punya
anak. Mungkin akunya sih nggak pusing karena saking bego dan nggak mudengnya.
Tapi orang tua? Pasti. Mereka pasti pusing banget.
5. Nggak ada yang ngajakin nikah
Oke, abaikan saja poin ini.
Intinya adalah, aku nggak nikah muda karena
tahu aku belum siap. Aslinya mau nikah muda, mau nikah tua, mau nikah pas-pasan
(nggak muda nggak tua), itu terserah asal udah siap. Tahu konsekuensinya kalau
nikah itu gimana sih? Nanti punya anak anaknya bakal butuh apa aja sih?
Mengelola rumah tangga itu gimana sih? Dan banyak lainnya. Jadi nggak asal
karena sorry to say, nafsu aja.
Malesnya kalau gara-gara kampanye nikah muda
itu trus jadi banyak remaja yang kemudian minta dinikahin. Baru lulus SMA, trus
langsung minta nikah karena merasa udah cinta mati sama pacarnya. Karena
panggilannya udah papah-mamah dan udah merencanakan hari tua nanti mau diisi
dengan ngapain aja. Masih mending kalau ceweknya 17 tahun, tapi cowoknya udah
dewasa. Udah lulus kuliah, dan punya kerjaan tetap. Lha, kalau sama-sama 17
tahunnya? Sama-sama masih labil dan nggak tau sama sekali hidup itu mesti
gimana? Masa iya, udah nikah masih mau tergantung terus sama orang tua?
Jadi, kalau ada di antara kalian yang baca
postingan ini adalah remaja yang jadi kebelet nikah gara-gara terinspirasi sama
yang itu, pikir lagi seribu kali. Kalau masalahnya adalah libido dan nikah demi
menghindari zina, masih banyak cara lain kok buat membakar energi dan
mengalihkan perhatian selain nikah secara gegabah. Kamu bisa traveling dulu
keliling dunia, bisa membantu memberi pendidikan untuk anak-anak di pedalaman,
bisa kerja sosial, bisa melakukan penelitian, menciptakan karya seni, meraih
penghargaan, menjadi astronot, dan banyak lagi deh.
Kenapa? Susah ya? Nikah emang kelihatannya
lebih gampang sih. Awalnya tapi. Ingat, di belakangnya ada tanggung jawab yang
harus dipenuhi. Kalau kamu santai-santai saja dan nggak kepikiran tanggung
jawab udahannya dan cuma mikirin senengnya, berarti kamu belum cukup
bertanggung jawab. Dan itu juga berarti kalau kamu belum siap menikah.
Udah, gitu aja sik.
Thank you so much for reading.
Isthar Pelle

