• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MADGIRL!



Image source: Not your ordinary gift

               Kalau lagi nonton MMA di tivi gitu, aku suka komentar jauuuuh lebih heboh daripada komentatornya. 

               “Harusnya dikunci aja dulu yang kuat, ya Bing.”
               “Yahh, kurang pas tendangannya.”
               “Coba pas kena rahang, pasti langsung pingsan.”
               “Kayaknya bakalan menang yang biru deh. Walau badannya kecil tapi otot semua.”
               “Kayaknya yang merah nggak bakal menang kalau caranya agresif gitu. Yang biru lebih tenang dan terukur.”

               Daaan sebagainya. Enteng aja gitu komentar panjang lebar kaya ahli. Padahal aku ngerti soal MMA? Enggak. Praktik bela diri dalam keseharian? Blas. 

               Komentar sok tahu itu emang gampang kok. Nggak perlu jadi ahli, nggak perlu bekal ilmu pengetahuan. Ngemeng aja sekenanya. Namanya juga sok tahu. Kalau tahu beneran biasanya malah nggak bakal kebanyakan omong, tapi mengamati dulu, karena bener-bener paham. Orang kaya aku cenderung enteng mengomentari segala sesuatu justru karena aku nggak tahu apa-apa. Celakanya, dengan berkomentar sok tahu, aku sudah merasa pintar. 

               Kalau dalam hal ngomentar pertandingan di tipi sih oke-oke aja. Sesekali merasa sok pintar demi menghibur diri sendiri itu boleh. Hahaha. Ya maklum, di realita level kecerdasanku kalah sama lumba-lumba. Toh komentar sok tahuku nggak ada efeknya ke pertandingan. Yang main ya biasa-biasa aja. Fighter yang kukatain nggak bakalan menang ternyata malah bisa menang dengan keagresifannya yang melumpuhkan. Dari situ aku tahu kalau masing-masing fighter memang punya cara sendiri untuk meraih kemenangan. Ada yang agresif, ada yang terukur dan menang dengan sekali tendangan telak, ada yang mengulur waktu untuk membuat lawannya kelelahan, dll. 

               Sejak aku tahu itu, apa coba? Aku nggak berani ngomentar sotoy lagi. Bahkan kalau ditanya Ibing “Menurut Kecil, ini bakal menang yang mana?” aku jawab dengan “Nggak tahu. Lihat aja nanti.” Karena broooo, aku nggak tahu pasti. Yang badannya kelihatan bagus belum tentu staminanya bagus. Yang kelihatannya lemah ternyata malah gesit banget, dll. Itu padahal kalau aku ngomentar sok tahu juga nggak ada pengaruhnya lohh ke fighter-fighternya. Lha gimana dengan dunia nyata? Komentar-komentar sotoy yang mungkin berdampak ke orang yang dikomentari?

Sotoy dan Saran-saran Gratisan


               Dulu, aku juga enteng banget, boy, kalau ngomen sotoy ke orang yang aku kenal. Merasa paling paham masalah kehidupan, aku berani banget sok ngasih saran ini itu. 

               “Halah, aku juga pernah kaya gitu. Gini gini gini, aja.”
               “Temenku pernah ada yang jauh lebih parah dari kamu. Mbok nggak usah lemah!”
               “Kamu tuh nggak cocok jadi penyanyi. Cocoknya jadi upik abu aja,” dll. 

               Banyak banget saran sok tahu yang kulemparkan ke orang. Mungkin iya, aku pernah mengalami masalah serupa. Mungkin iya, banyak orang di luar sana yang pernah mengalami masalah lebih gawat. Tapi waktu itu aku belum paham kalau masing-masing orang itu fight their own fight. 

               Masalah ortu cerai yang kualami nggak mungkin sama dengan yang temenku alami. Masalah ditinggal pacar nikah, juga mungkin menghantam perasaannya beda lagi. Kalau aku dikasih mental kuat untuk menghadapi itu, aku harusnya bersyukur. Bukannya sombong dan trus menganggap temen yang nangis mewek putus asa itu lemah. Yang dirasain orang-orang itu beda-beda, oke? Kita nggak pernah tahu apa yang dia rasakan di dalam hatinya. Makanya aku berusaha keraaas buat nggak sok tahu lagi. 

               Tentu saja hasrat sok tahu itu masih ada. Namanya juga orang nggak pinter. Pasti hawanya pengen kelihatan pinter. Kalau ada temen posting masalah di media sosial, duuuuh, pengen banget ngasih saran rasanya. Kan aku pernah mengalami yang lebih berat dari itu. Pasti saranku brilian luar biasa dan applicable nggak peduli kondisi dia gimana, ya kan ya kan ya kan? Ada pikiran-pikiran semacam itu. Tapi lalu ada Haf yang mengingatkan. 

               “Ingaaat, Pelle. Kamu nggak tahu seujung kuku pun masalah dia, latar belakang, dan kondisi saat ini gimana. Nggak usah sok tahu!” di situ aku mengaktifkan rem darurat. Kalau postingannya sedih dan aku pengen menunjukkan simpati, paling aku kasih reaksi sedih atau paling banter kirim pesen bilang “Sabar yaa,” trus kasih tanda bintang peluk. Udah, gitu aja, nggak akan komen “Kamu harusnya gini, kamu harusnya gitu.” 

               Kalau pun cerita “Dulu aku pernah gini juga,” atau “Temanku dulu pernah mengalami kaya gitu juga,” itu paling cuma buat berbagi cerita aja, biar dia nggak merasa sendirian. Bukan buat menghakimi “Kamu lemah deh, kaya kami doong, kuat.” Bukaaaan.

               Soal rem mengerem ini memang nggak gampang. Wong udah sadar aja masih sering kelepasan. Apalagi kalau nggak sadar blas. Hiks hiks hiks. Aku kadang ngeri kalau ada yang posting masalah trus banyak yang dengan entengnya ngasih saran dan nasihat menurut pandangannya sendiri. Udah gitu bukannya karena simpati, tapi karena pengen menunjukkan kalau diri sendiri lebih baik aja. T__T

               Aku sendiri pernah menerima komentar sok tahu nggak? Ha ya seriiing. Komentar-komentar dan saran-saran yang bikin angkat alis. Gemesnya, saran-saran dan komentar itu bahkan berdatangan sendiri tanpa diminta. Tanpa aku nanya-nanya. 

Jadi aku hidup biasa-biasa aja gitu, tenang dan damai, trus tiba-tiba ada orang yang menilai kehidupanku nggak bahagia trus ngasih saran aku harus begini harus begitu. Kan mumet. Kalau aku nggak lakuin saran-saran gratisan itu karena aku nggak suka dan bahkan nggak sesuai sama apa-apaku, aku dibilang suka cari alasan. 

               “Ya nggak bakalan sukses kalau kamu kaya gitu terus,” katanya. Lhaaa, kamu siapa sih? Bidadari kesleo? Emang kamu tahu cita-citaku apa? Emang kamu tahu standar sukses buatku itu gimana? Emangnya bahkan tahu apa yang aku mau? Yaelaah,  tuh, kangkung di gigi bersihin dulu! *emot nyengir sambil keringet netes di dahi

Gemar Bicara Tak Gemar Mendengarkan

 

               Setelah mengamati perilaku norakku sendiri, aku akhirnya menyimpulkan kalau aku itu orangnya gemar bicara tapi tak gemar mendengarkan. Nyimak enggak, udah nyerocos aja ngasih komentar panjang lebar, saran yang menurutku baik dan benar. #sigh

               Semakin bertambahnya usia, aku paham. Orang yang menceritakan masalahnya itu kadang nggak minta saran kok. Nggak selalu butuh nasihat. Kadang cuma pengen didengarkan aja. Pengen berbagi. Istilah bahasa Jawanya itu ‘sambat’. Karena dengan demikian, beban di hatinya akan berkurang. Sesederhana itu, bosque. 

               Logika aja sih, kalau udah ada orang yang cukup mendengarkan, dia nggak akan posting ke sosmed. Dia sampai posting di sosmed itu ya karena dia butuh lebih banyak ‘telinga’ untuk ‘mendengarkan’. Butuh sambat. Dan plis, itu manusiawi. Jadi jangan dianggap lemah. 

               Well, beklah. Aku juga pernah ngasih saran buat jangan posting massalah di sosmed. Tapi itu sebatas saran, bukan berarti aku benci sama mereka yang curhat di sosmed loh. Aku ngerti banget lah, kebutuhan curhat itu sebesar apa dan kaya gimana rasanya. Kenapa kok aku ngasih saran begitu? Karena yhaa, sosmed isinya kebanyakan orang yang gemar komentar tak gemar menyimak postingan. Wkwkwk. Apalagi curhatnya panjang. Duh, skip, langsung komen ajah biar cepet. Dan akhirnya komentarnya nggak nyambung. Nggak on point. 

               Curhat sekali-sekali buat melegakan perasaan itu silakan. Tapi harus sadar risikonya. Bukannya lega, bisa jadi malah tambah dongkol karena banyak komentar sok tahu yang nggak nyambung sama point yang kamu maksud. Atau tambah sedih karena malah dihakimi. Hahaha. 

               Eh, aku bilang sekali-sekali lho ya. Bukannya curhat setiap saat setiap waktu. Kalau terus-terusan kaya gitu malah melas di kamunya, sis.  Mungkin kamu memang butuh bantuan profesional, dan bukan hanya curhat di medsos.

               Duh, maap, aku malah mbleber ke mana-mana. Intinya, sebagai seorang curhaters, aku berusaha mengurangi kadar curhatku. Kalau bisa sih malah jangan sampai ada orang yang tahu masalahku apa. Soalnya males sih, banyak yang kepo cuma biar bisa ngetawain doang. Kan jahat. 

               Kedua, sebagai nyimakers, aku berusaha untuk mengaktifkan rem darurat di saat-saat memang dibutuhkan. Nggak akan ngasih saran kecuali diminta. Kalau ada yang curhat, kudengerin aja dengan baik tanpa kebanyakan sok tahu. Apalagi kalau curhatnya cuma curhat lewat di timeline tanpa bener-bener bermaksud curhat ke aku. Kalau aku nggak suka dan nggak bisa mengatakan hal yang manis-manis buat menghibur, yaudah skip aja. Nggak harus berkomentar sok tahu soal masalah yang tengah ia hadapi. Kecuali dia memang minta saran secara personal. Itu juga aku hati-hati banget, bosque. Sungguh, ada tanggung jawab yang besar dari keberanian memberi saran. Apalagi kalau dasarnya cuma sok-sokan. *tobat
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

               Jujur aja ya, aku itu sebenarnya anaknya insecure, minderan, dan hobi membanding-bandingkan diri sendiri sama orang lain. Terutama sama mbak-mbak cerdas cemerlang yang pengetahuannya luar biasa dan hidupnya bermanfaat. He’em, aku nggak pernah iri sama cewek cantik atau cewek kaya, aku mindernya sama cewek pinter. T__T

               Nggak sehat banget lah buat jiwaku, aku tahu itu. Soalnya aku jadi merasa makin kecil, makin nggak ada apa-apanya, makin merasa nggak berguna, makin menyadari kalau hanya serpihan kecil remah ceriping singkong, dan seterusnya. 

               Kalau baca status teman yang bermanfaat dan luar biasa menginspirasi, aku langsung minder melihat postinganku sendiri yang isinya cuma guyon-guyon nggak lucu. 

               Baca postingan temen yang isinya syer-syeran tulisan dia di media-media yang disegani, makin minder. Apalagi setelah melihat isi blog pribadinya braaaaad banget. Jangankan blog pribadi. Status fesbuknya aja brad, berisi, berkualitas, cerdas, bernas, dll. Dia cuma mau masukin tulisan berbobot lah pasti kalau buat blog. Nha aku? Udah susah payah mengerahkan konsentrasi seharian aja postingan blognya tetep yha gitu deh. *nangis menjerit

               Sekarang setelah menyadari itu ya aku berusaha memperbaiki diri lah pastinya. Bukan dengan berusaha menjadi seperti mereka, karena itu sama saja aku menolak untuk menerima diri sendiri apa adanya dan malah berusaha menjalani hidup sebagai orang lain. Aku memperbaiki diriku dengan cara nggak membanding-bandingkan diri sendiri sama siapapun lagi. Karena kalau terus dibandingkan nggak ada habisnya, sis. Selalu ada yang jauh lebih baik daripada kita, yang lebih hebat, dst. Kalau dibandingkan terus, kapan bahagianya?

               Kemarin aku ada obrolan menarik sama mbak Agnes Dara. Bahwa tiap orang itu punya perannya masing-masing. Ada yang jadi magnet cinta kaya Mbak Agnes, ada yang (mengutip kata mbak Agnes) aneh bin ajaib kaya aku. 

               Aku trus mikir bener juga sih. Orang yang hebat banget pinter cerdas cemerlang luar biasa juga belum tentu bisa dapetin ide segila aku. Yah, maksudku, kegilaan memang bukan sesuatu yang umumnya dibanggakan sama orang, tapi tetep aja kan? 

               Bangsa sebelah merasa minder sama bangsa kita karena merasa kalah kreatif lohh, tau nggak? Produk-produk kreatif macam lagu dan hiburan lain aja mereka harus impor. Mungkin mereka cerdas, iya. Pintar, iya. Berpendidikan, iya. Tapi kurang kreatif dan itu ternyata menyedihkan. 

               Aku diberkahi alam semesta dengan ide-ide baru setiap hari. Masa aku nggak bersyukur dan malah galau memikirkan hal-hal yang aku nggak miliki? 

               Membaca orang lain untuk menjadi terinspirasi itu bagus, melihat prestasi orang lain untuk memacu semangat sendiri juga bagus. Tapi membandingkan hanya untuk sedih-sedih dan merasa kekurangan, itu salah. Sangat salah.

Menyadari Kekurangan dan Potensi Diri

               Sebelumnya, aku tipe anak yang mudah sekali menemukan berbagai kekuranganku. Aku pemalas, kurang fokus, gampang bosan, pelupa, dll. Banyak banget. kalau disuruh menyebutkan daftar kekurangan dalam semenit, aku mungkin bisa langsung menuliskannya dalam 1000 kata (oke, ini lebay). 

               Kelebihannya? Nggak. Aku nggak bisa menyebutkan kelebihanku. Lebih tepatnya, nggak berani menyebutkan kelebihan yang aku punya. Bahkan kalau ada orang yang memujiku dan menyatakan kelebihanku, reaksi pertamaku adalah menyangkal. Meskipun di luar aku bilang “Terima kasih,” tapi dalam hati aku menyangkal. 

               Tentu saja ini ada sebabnya. Aku lahir dan tumbuh besar di lingkungan yang lebih gampang menjatuhkan daripada mendorong potensi. Aku juga dulunya dikelilingi teman-teman ‘racun’ yang selalu menemukan kejelakanku dan bukannya kelebihanku. Jadi waktu itu, sekalipun aku sadar aku punya kelebihan tertentu, aku nggak berani mengakui. Dan oh, sedihnya, yang seperti itu ternyata tercetak di alam bawah sadar. 

               Sekarang setelah sadar, susah payah aku bangun kembali rasa percaya diriku. Maksudnya, tahu diri itu perlu seperti misalnya aku sadar kalau aku nggak punya bakat menggambar, maka aku nggak akan maksa untuk menjadi tukang gambar. 

               Tapi ada kelebihan-kelebihan yang memang harus diterima, misalnya ide-ide baru yang nggak tiap orang punya. Ide aneh, unik, dan lain daripada yang lain, bakat untuk menemukan kelucuan di manapun dan dalam situasi seperti apapun, dll. Itu harus aku terima, dan bukannya disangkal. Lha kelebihannya ya cuma itu itu kok, masa masih mau disangkal juga?

Tiga Langkah Hidup Bahagia

Menyadari dan Menerima Kekurangan Diri

               Ini penting. Bukan biar kita minder, tapi lebih biar kita tahu diri. Kalau udah tahu diri dan sadar akan kekurangan, kita bisa memperbaikinya. Misalnya, aku sadar banget kalau salah satu kekuranganku itu nggak fokus, gampang banget teralihkan perhatiannya. Aku mengakalinya dengan cara membuat to do list. Goalku apa? Langkah-langkah apa yang harus kulakukan untuk meraihnya? Dan itu dikerjain satu-satu sesuai urutan. Dan itu sukses membantuku fokus.
 
               Kekurangaku yang lain itu pelupa. Maka aku menulis reminder di mana-mana. Di tembok, di atas kasur, di hape, di buku catatan, dll. Dan itu lumayan membantu meskipun kadang aku harus menulis reminder tentang reminderku sendiri. -_-

               See? Dengan menyadari kekurangan kita, kita jadi bisa menemukan solusi untuk memperbaikinya.

Menyadari dan Menerima Kelebihan Diri

               Ini nggak kalah pentingnya. Dan aku yakin, bukan aku saja yang tadinya nggak berani mengakui kelebihan diri sendiri. Aku tahu alasannya klise lah. Takut dibilang sombong, dibilang ngebrag, dll. 

               Hey, maksudnya mengakui di sini itu mengakui ke diri sendiri. Tahu, sadar, oh, aku punya kekebihan ini ini ini. Aku bagus kalau mengerjakan ini, dll. Bukannya diumbar ke orang-orang, eh aku cantik lohh, aku cerdas berwawasan lohh, dan semacamnya. Itu sih namanya songong (meskipun dalam porsi yang pas dalam rangka meningkatkan kepercayaan diri, songong itu boleh. Hahaha). 

               Kalau menyadari kekurangan penting buat memperbaikinya, menyadari kelebihan penting buat meningkatkannya. Orang yang nggak tahu potensinya di mana akan cenderung hilang arah. Nggak tahu hidup harus ngapain. Mencari-cari, meraba-raba, atau lebih parahnya asal nabrak. Ngerjain gitu aja apa yang disodorkan di depan muka tanpa menyadari beneran bisa apa enggak. Memangnya kenapa kok masih banyak orang yang masih stress sama kerjaannnya? Hayooo, think again!

               Aku dulu juga sudah melewati fase nabrak-nabrak itu. Ngerjain apapun itu yang bisa dikerjain. Motivasinya lebih karena butuh uang aja sih buat makan. Hahaha. Makanya nggak heran kalau pas kerja dulu aku stress. Soalnya bukan hanya aku nggak punya potensi di situ, akunya juga nggak suka. That’s not my thing. 

               Mengenali potensi juga bisa jadi tricky buat orang yang tertarik ke banyak hal kaya aku. Jadi memerlukan pemikiran yang lebih dalam lagi. Aku suka nulis? Suka. Bagus nggak? Belum. Solusinya? Latihan terus. 

               Aku suka nyanyi? Suka bangeeet. Bagus nggak? Belum. Solusinya? Latihan terus. 

               Aku suka dagang? Suka. Bisa nggak? Bisa. Bagus nggak kemampuan dagangnya? Bisa dibilang hebat banget selama produknya aku suka. Pengalaman udah dari kecil ikut ibu jualan baju, sering jualan apa saja mulai snack sampai aksesoris sejak SD. 

               Dari ketiga hal yang menarik minatku itu, mana yang harusnya aku fokuskan sebagai pilihan karir? Yes, dagang. Kenapa? Karena di situ aku paling bagus dibanding dua bidang lainnya. Aku mungkin bisa nulis, bisa nyanyi, tapi kalau mau berkarir di situ butuh waktu karena aku nggak sebagus itu. Masih butuh banyak latihan dan kerja keras lagi.

Berhenti Membandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain

               Sampai sini aku udah tahu kekuranganku apa, kelebihanku apa, dan potensiku paling bagus di mana. Jadi, daripada sibuk membandingkan diri sendiri sama orang yang emang udah sukses jadi penulis, misalnya, aku mending fokus mengerjakan ‘my thing’. Nggak usah sibuk mikirin prestasi orang lain “Duh, dia udah sampai sana sana sana, udah nulis di mana-mana, udah diundang ke mana-mana,” dan lain-lain. Toh yang tulisannya bagus belum tentu bisa kalau disuruh jualan. Beneran ini. 

               Aku nggak perlu membandingkan diriku sama orang yang sering menang lomba blog karena jago bikin infografis. Sadar kalau gambar dan desain itu bukan ‘my thing’. Jadi memang tidak untuk diperbandingkan. Ya bagaimana mau dibandingin wong urusannya aja udah beda kok. Itu kan jadi kaya membandingkan kualitas sayur-sayuran sama fitur smartphone. Nggak nyambung. 

               Sadar, menerima diri sendiri, berhenti membandingkan. Nyari inspirasi boleh, membandingkan jangan. Sekarang aku nggak perlu malu lagi mengakui kelebihanku meski kelihatannya nggak se-cool bakat orang-orang. 

               Dulu kalau lagi kehilangan motivasi, aku akan stalking akun orang-orang hebat dan membanding-bandingkan mereka dengan diri sendiri, trus merasa makin terpuruk. Sekarang kalaupun stalking akun mereka, aku serap inspirasinya saja, trus ngaca sambil bilang “Girl, you're rock!”
Share
Tweet
Pin
Share
6 komentar



               Di jaman informasi serba cepat seperti sekarang ini, sering kali aku merasa telah menyia-nyiakan umur cuma gara-gara baca informasi sampah. 

               Makanya kadang kalau lagi fesbukan gitu aku cuma scroll aja, nggak baca postingan yang kalimat awalnya nggak menarik. Kalau ketemu yang menarik nha baru, baca sampai habis. 

               Bayangin aja! Hari ini semua orang sibuk memproduksi informasi. Mulai dari yang berharga sampai yang bener-bener nggak ada faedahnya bagi siapapun, bahkan diri sendiri. 

               Tentu saja aku juga termasuk dalam gerombolan nirfaedah itu. Tiap hari memproduksi sampah visual, sampah verbal, sampah kata-kata. Tiap hari. Yawlooh. Apa hidupku segitu kurangnya kesibukan ya? 

               Makanya sejak menyadari fakta yang menyedihkan ini aku mulai memfiltter diri sendiri. 
Or in this case, doesn't mean I should post it on Facebook.

               Sering kali aku merasakan ‘the urge’ untuk ngepos sesuatu yang sedap banget. Misalnya aja gosip, atau nyindir siapa gitu. Sedaaaaap. Tapi trus aku batalin karena aku akhirnya menyadari kalau itu nggak ada faedahnya sama sekali. Buat diriku sendiri aja enggak, apalagi buat orang lain? 

               Sering juga aku sotoy pengen belaga ngomentarin isyu penting yang melibatkan kepentingan khalayak. Tapi trus nggak jadi karena aku sadar diri aku nggak capable buat komentar tentang topik yang bersangkutan. 

               Kadang juga pengen jelasin tentang kesalahapahaman oknum yang nggak paham guyonanku dan menimbulkan misinterpretasi dalam komen mereka. Tapi well ya, ntar malah dikira aku baper. Jadi ya udah lah. Biarkan yang nggak paham tetap nggak paham. Nggak semua hal harus dijelaskan.

               Dan masih banyak lagi contoh lain. Yang bahkan sampai sekarang juga aku masih suka lupa ngelakuin itu. Huhuhu. Soalnya timeline berjalan begitu cepat. Kepleset jari jadi hal yang tak terelakkan. Godaan untuk serta merta nyamber ngomen hal-hal yang lagi happening itu gedeee baanget. Butuh segenap tekad dan kekuatan penuh untuk menahan diri. 

               Belum lagi pesonanya yang sungguh menyita waktu. Makanya aku rasanya suka pengen berguru ke temen-temen yang ngelola sosmednya dengan bagus, postingannya cantik nggak pernah nyinggung siapa-siapa, kalau nulis panjang dan dibaca sampai habis ada manfaatnya, dan mereka masih sempet kuliah S2, jadi dosen, ngeblog (aktif rajin banget update), nulis buku, dan baca buku filsafat. Aku kok curiga sebenernya mereka itu dewa/dewi yang menyamar jadi netizen.

Mengontrol Emosi

               Yang paling berat dari semuanya tentu saja mengontrol emosi. Seringnya, kasus kepleset jari dan asal samber itu asal mulanya tak lain dan tak bukan adalah akibat kegagalan berumah tangga mengontrol emosi.

               Ada ribut-ribut apa, tak kuasa menahan godaan untuk urun pendapat juga. Ada temen salah komen langsung ngamuk tersinggung. Ada temen posting sesuatu yang nggak berkenan di hati, langsung bikin posting tandingan, dst. Iya, ini aku lagi ngomongin diri sendiri kok. 

               Sekarang ini ibaratnya aku lagi transisi mencoba untuk sedikiiiit saja lebih sabar. Misalnya ada yang komen sotoy padahal baca postingannya aja enggak, daripada baper mending energinya kuarahkan untuk hal lain. Mengalihkan uneg-uneg yang sedianya mau distatusin itu menjadi tulisan yang rada lebih panjang buat isi-isi blog, misalnya. Hahahah.


               Sama aja sih, cuma rada lebih bermanfaat seenggaknya bagi diriku sendiri karena nulis postingan blog itu beda sama nulis status. Perlu mikir. Jadi selama nulis aku juga sekalian kontemplasi. Kalau cuma di status, ha mbok yakin, isinya cuma emosi.

Tipe-tipe Netizen

               Dari pengamatan terhadap netizen yang sering berinteraksi di statusku, aku menemukan setidaknya ada tiga tipe netizen:

1.      Yang mudeng guyonanku dan langsung nyaut guyon juga.

Orang-orang kaya gini biasanya adalah orang asik yang kemungkinan besar level kesablengannya sama kaya aku. Tahu banget caranya bercanda. Hidupnya super bahagia bin lucu. Kalau aku nyarkas, tahu banget kalau itu sarkas, dan komen sarkas juga sampai-sampai kaya serius banget. Padahal nulisnya sambil ngekek-ngekek.

2.      Yang menerima apapun yang kutulis sebagaimana adanya tanpa bisa menangkap guyonan tersirat di dalamnya atau gagal memahami kalau itu sarkasme.

Yang kaya gini tuh orang-orang lugu. Mereka benar-benar menerima segala sesuatau sesuai yang terlihat. Nggak masuk ke kedalaman. Mereka cuma ketawa pada guyonan yang jelas-jelas menyatakan guyon. Guyon tersembunyi atau yang menyamar jadi sarkasme? Mereka nggak paham. Mereka suka kebigungan sendiri karena “Pelle kok aneh, perasaan tadi bilang hobi bikin PR sama les Fisika, tapi di status berikutnya cerita kalau semasa sekolah nakal.” Nha, mereka nggak bisa membedakan mana yang cerita betulan mana yang cuma guyon.
Nggak heran kenapa temenku mam Wesiati kalau nulis status kadang dikasih keterangan “Nggak usah dimasukin hati. Ini guyon.” Soalnya orang nggak mudeng guyon semacam ini memang ada. Hehe.

3.      Yang kelewat serius.

Tipe yang selalu menanggapi apapun secara serius. Bahkan di status paling hilarious-pun mereka masih bisa banget ngasih petuah-petuah bijak yang luar biasa seriusnya. Orang-orang ini selalu mengkhawatirkan orang lain. Takut yang nulis status nggak masuk surga, takut yang nulis status nggak bahagia, dst. Padahal yang nulis status cuma becanda-becanda aja. 

Thank goodness, spesies kaya gini sama langkanya kaya populasi badak bercula satu. Kalau ada banyak, niscaya aku nggak akan sanggup lagi masuk timeline. Nggak tega, bro, kasian sama orang kaya gini.

Tujuan Bersosial Media

               Di media sosial itu ya, orang bebas mau jadi apapun, siapapun, seperti apapun. Mau jadi cantik, berbagai fitur edit-mengedit sudah tersedia. Mau jadi gaol, semua trik pencitraan juga bisa dipakai. Mau jadi playboy? Banyak caranya. Bisa dengan nulis sajak yang merontokkan hati, bisa dengan pamer harta, pamer otot, pamer kecerdasan, dll. Mau jadi terkenal? Bikin aja cerita kontraversi. Makin goblok makin cepet terkenalnya. 

               Bebaaaasss, mau jadi apa juga. Makanya aku heran kalau ada orang yang di internet itu malah memilih menjadi begitu serius. Seolah kehidupan nyata itu belum cukup bikin menderita. 

               Aku? Aku memilih untuk bahagia. Makanya aku kebanyakan becanda. Dan ketahuilah, wahai seriusers, statusku itu 99% becanda. 1% seriusnya belum tentu muncul setahun sekali. Jadi nggak usah dipikirin banget-banget, apalagi percaya. Jangan! Wong akunya aja nulisnya sambil ngakak-ngakak kok. 

               Kembali ke topik awal soal filter, yahh, itu memang berat sih. Berubah itu nggak gampang. Harus fokus dan konsisten. Aku sekarang masih seriiing begitu reaktif ikut nyamber apapun itu topik yang lagi happening. Kadang juga kelepasan nggak kontrol emosi dan jadi reaktif atas tanggapan orang (yang sebenernya nggak perlu diambil pusing). 

               Tapi kalau pas sadar, aku berusaha sebaik-baiknya buat memfilter diri. Posting cuma yang lucu-lucu aja. Jadi yah, sekalipun itu sampah informasi yang nggak ada manfaaatnya, seenggaknyaa bisa bikin orang tertawa. Setidaknya aku sendiri tertawa. Bahagia. 


               Ya lah, bersosial media buat fun-fun. Lha kalau serius sih, mending aku kuliah S3, melanjutkan penelitian-penelitian Tesla, bangun mesin waktu, mencalonkan diri jadi presiden. Karuan!
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Image from: Lost Panda

               Kasus First Travel sedang booming heboh, di mana-mana. Buka browser, beritanya First Travel semua. Buka sosmed, orang-orang pada bahas First Travel juga. Semuanya dikuliti, dipelototi, dibahas rinci. Mulai dari tas-tas bermerek yang sering dipamerkan Anniesa Hasibuan, case hapenya yang harganya sama kaya harga satu paket umroh, sampai wajahnya yang dulu senantiasa putih bersinar dengan makeup sempurnah, yang kini jadi tampak kucel setelah dipenjara. 

               Segala sesuatunya dibahas, terutama soal gaya hidup glamor yang luar biasa lebay. Padahal di mana-mana orang kaya sungguhan itu malah gaya hidupnya santai. Remah-remah sekecil apapun termasuk masa lalunya yang pernah jualan pulsa dan burger sampai perbandingan foto-foto saat sebelum kaya dan sesudah ‘tampak’ kaya. 

               Oke lah. Hosip itu memang sedap. Apalagi kalau orang yang selama ini diam-diam kita iriin ketahuan kalau ternyata jahat. Ya kesempatan dooong. Hujat terus sampai kitanya merasa lebih baik dari mereka. 

               Ya ini aku juga iyaa. Hahaha. Aku semacam gembira banget dan menyatakan pembenaran. “Tuh, kan. Kaya raya kalau maling ya apa artinya? Mending hidup biasa-biasa aja lah, asal ga nilep duit orang.” Padahal bisa jadi itu karena aku iri aja belum pernah jalan-jalan ke luar negeri. *sedyh*

               Saking semangatnya kita menjelek-jelekkan pasangan suami istri yang kompak mampus baik dalam hal percintaan maupun kejahatan ini, kita malah sampai lupa ngebahas yang esensial. Seperti biasa lah. Orang macam aku sih, ikut heboh bahas jelek-jeleknya aja, nggak melihat ke kedalaman. 

               Padahal kalau diamati, kenapa kasus kaya gini bisa terjadi, ada masalah yang jauh lebih mendasar dan jauh lebih berbahaya: tekanan sosial. Masyarakat kita itu jagoo banget menilai orang. Kalau kelihatannya miskin, nggak dihormati. Begitu kelihatan kaya, langsung dipuja-puja. 

               Pas kuliah dulu ada satu temenku yang gaya hidupnya mewah kaya horang kayah. Kos di kosan yang mihil, pakai baju cuma mau yang branded, makan nggak mau yang kelas rendah, dan wah, haibat banget lah. Semua orang kagum padanya. Kemudian kebenaran terungkap. Ternyata dia tidak berasal dari keluarga berada, bahkan cenderung menerbitkan rasa iba. Orang tuanya hidup sangat sederhana sekali demi biar anaknya bisa kuliah. Singkatnya njemplang banget lah, gaya hidup si anak ini dengan kondisi ekonomi keluarganya. Pas ditanya alasannya apa kok dia bergaya semacam itu, jawabnya “Aku pengen punya temen.” *sick* *sedyh*

               Ada temenku satu lagi yang kira-kira hampir mirip seperti itu. Dipuja-puja karena kuliah bawa mobil dan yang paling penting, sering nraktir temen-temennya, bosque. Bajunya bagus-bagus, wajahnya cantik high maintenance nggak pernah telat perawatan kelas premium. Nggak banyak yang tahu kalau di rumah, orang tuanya sampai banyak hutang demi membiayai gaya hidup si anak. 

               Kapan dulu itu pernah ada kasus menghebohkan di twitter. Tagar #BacotSisPay jadi trending. Siapa sis Pay? Dia adalah seorang gadis yang berhutang banyak sekali sampai ratusan juta hanya demi bisa eksis jalan-jalan ke luar negeri, nonton konser Coldplay, dll. Demi biar feeds instagramnya bagus, karena foto berlatarkan pemandangan sawah sambil makan pisang emas itu sungguh kurang instagramable. 

               Orang dekatku sendiri, adik kandungnya Ibing. Berhutang ke banyak sekali orang yang jumlahnya sampai puluhan juta. Sama lah, demi biar bisa belanja baju baru terus yang bagus-bagus, makan di restoran fancy yang kalau difoto trus diupload itu nggak memalukan, trus bisa gonta-ganti hape tiap ada keluaran terbaru. Ibunya sampai shock pas tahu-tahu banyak orang ke rumah nagih hutang dan jumlahnya nggak main-main. *menangys*
Ingat ya, nggak semua yang lau lihat di social media itu benar adanya.
               Ibuku sendiri, jual-jual tanah, menggadaikan rumah, bahkan ‘menjual’ anaknya demi menunjang gaya hidup juga. Biar bisa tetep punya mobil, bisa beli barang-barang bagus, tas yang bergaya, dan seterusnya. *pedyh*

               See? Banyak banget contohnya. First Travel bukan yang pertama. Meskipun contoh yang kukasih di atas itu kecil-kecil banget jumlahnya, tapi itu terjadi. Fakta nyata yang kusaksikan sendiri. di sekitarku, orang yang aku kenal. Kecuali sis Pay sih, aku nggak kenal sama dia. Hahaha. 

               Yang aku nggak tahu di luaran sana? Aku nggak tahu. Coba di sekitar kalian ada nggak yang kaya gitu? 

Tekanan Sosial

               Dari semua kasus yang aku ceritain di atas, penyebabnya kira-kira sama. Orang pengen mendapat penngakuan, ingin diterima, ingin punya banyak teman. Karena yahh, jujur aja lah yuk, orang miskin cenderung diabaikan, orang kaya cenderung dipuja. 

               Kalau nggak percaya coba aja kamu kalau pas lagi butuh uang trus nyari pinjeman. Ada barapa banyak yang benar-benar jadi temanmu? Bandingkan dengan pas kamu nraktir-nraktir. Oh, mendadak semua orang jadi temanmu. 

               Kadang aku lihat fenomena lucu gini. Orang yang tadinya bukan siapa-siapa, tiba-tiba terkenal dan jadi social media darling. Trus mulai deh bermunculan komentar-komentar “Temen SMAku nih,” “Teman SDku nih,” “Aku pernah satu bis bareng nih,” dll. Coba kalau itu orang biasa-biasa aja? Ya orang yang ngaku-ngaku teman ini mana ada? Ingat aja enggak. Ini fakta. *ngakak*

               Sekarang lihat instagram. Yang followersnya banyak pasti yang postingannya fancy. Kecuali mimi peri. Hahaha. Dia anomali. Meskipun apa adanya kadang cuma pakai daun-daunan dan keranjang kurungan ayam aja followersnya bisa banyak. Hihihi. 

               Dari jaman sebelum ada social media dulu, orang udah biasa pamer kok. Pamer pas arisan, pas kumpul keluarga, pas lebaran, pas reuni, dll. Misal, ditanya soal kerjaan dan aktivitas akhir-akhir ini. Pasti beda nada antara yang jawab “Aku sekarang lagi ngerintis butik. Kemarin baru pulang habis fashion show di Milan,” sama yang jawab “Aku kerja di toko baju dalam pasar.” Reaksi yang diterima juga beda. Antara “Wooow!” dan “Oh.” ._.

               Beda juga yang datang cuma naik motor pitung C70 sama yang bermobil mulus, dan semacamnya. Jadi bukan sosmed yang menyebabkan kita jadi tukang pamer. Pada dasarnya manusia memang terlahir pamer. Sekarang cuma pindah tempat aja. 

               Kalau jaman dulu aja pamer-pamer itu sudah menyebabkan minder, sekarang lebih parah. Karena aktivitas pamer sekarang bisa dilakukan real time setiap saat setiap waktu, bahkan disiarkan live. Wow, haibat! Sehari bisa berapa kali pamer, bosque? Pagi sarapan cantik di pool side, siang makan mango sticky rice di restoran yang letaknya ada di puncak tower, lanjut nonton bioskop (tiketnya jangan lupa difoto), habis itu upload lagi tiket pesawat sambil check in di bandara. Jangan lupa caption “Bismillah Ostrali.” Trus poto-poto di atas pesawat dengan awan-awan megah. Malamnya dinner di restoran hotel, dan seterusnya. Besoknya jalan-jalan males-males aja ke mall terdekat. Belanja-belanja jangan lupa foto di fitting room dengan nenteng tas belanjaan yang banyaaak, dan logo hapenya kelihatan. 
Ingaaat, yang diupload yang bagus-bagus ajah.
               Upload foto lagi makan nasi sambel teri di angkringan? Duh, malu sama wifi gratis.

Kebutuhan untuk Pamer

               Nah, berdasarkan kasus di atas, setidaknya ada tiga tipe netizen. Yang pertama, kalem aja, tetap bahagia apa adanya, dan bangga pamer kesederhanaan. Lha emang intinya sama aja kok, pamer. Aku sendiri ngapain coba upload foto dandan alien satu album sampai memenuhi beranda orang-orang dan berbesar hati menerima risiko diunfriend atau diunfollow kalau nggak demi pamer keimutan? *dijitak*

               Kedua, ada yang menerima tekanan sebagai tantangan. Kerja keras ngumpulin uang buat mewujudkan impiannya: memperbaiki feeds.

               Ada juga tipe ketiga, tipe yang seperti sis Pay atau bos First Travel, yang tertekan luar dalam dan memutuskan untuk mengambil langkah apapun untuk menunjukkan “Ni lohh, aku juga bisa.” Hutang sampai nipu juga boleh lah. Yang penting masyarakat mengakui, menerima eksistensi kita, menghormati, mengagumi, dan banyak lagi. 
Bagi sebagian orang memang postingan semacam ini bikin tertekan. Kenapa aku nggak kaya? Why? Whyyyy? T__T
               Pada dasarnya apa? Pamer itu boleh saja karena diakui atau tidak, sesungguhnya pamer adalah salah satu sifat dasar manusia kok. Kalau nggak percaya, cek aja piramida kebutuhannya Abraham Maslow. Menurut Maslow, kebutuhan tertinggi kedua adalah exteem needs. Kebutuhan untuk diakui, dihargai, diterima, dipuji, disanjung, dll. Kalau itu semua sudah terpenuhi, baru puncaknya aktualisasi diri. 

               Kalau karena pengen diakui trus kamu berusaha keras untuk mewujudkannya, itu hebat! Lanjutkan! Semangat! Tapi kalau trus menghalalkan segala cara sampai merugikan orang lain, ya jangan lah. Ingat, ketika kebenarannya terkuak, nanti kamu malah akan merasakan penderitaan yang jauh lebih dalam. Pencitraan yang sudah dibangun susah payah, hancur sudah. 

               Eh, btw, aku nulis panjang lebar kaya gini biar apa? Yang buat pamer lah, kalau ini lho aku lebih baik dari kalian. Duh, Mak, aku kentekan panadol.
Share
Tweet
Pin
Share
8 komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit conseat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amei.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Juni 2019 (2)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (15)
  • Februari 2018 (1)
  • Januari 2018 (1)
  • Oktober 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (2)
  • Juni 2017 (3)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (2)
  • Maret 2017 (8)
  • Februari 2017 (10)
  • Januari 2017 (3)
  • Desember 2016 (6)
  • Oktober 2016 (4)
  • September 2016 (6)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (3)
  • Juni 2016 (8)
  • April 2016 (1)
  • Maret 2016 (6)
  • Oktober 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • Kesumat Sang Raja Jerawat
  • Ngeblog seaktif Facebook-an. Gimana sih caranya?
  • Mengukur Kualitas Diri Tidak dengan Membandingkan
  • PESAN MORAL LOMBA-LOMBA AGUSTUSAN
  • PENTINGNYA MEMPERHATIKAN LINGKUNGAN PERGAULAN ANAK

Yang Nulis

Isthar Pelle
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates