• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

MADGIRL!




               Okai, jadi ceritanya beberapa waktu yang lalu di postingan jualan aku dapet komen dari Cici Indriani Susanto soal nama Madgirl. “Tulisannya diganti dong, jangan Magdirl. Nice Girl apa Pretty Girl gitu. Nama itu doa lohh,” kurang lebih kaya gitu. Aku lupa persisnya gimana. Wkwkwk. It’s a good comment, tho. Soalnya mungkin sebenernya banyak juga yang ngebatin tapi nggak enak mau bilangnya. Hahaha. Thank’s Ci. :D

               Jadi pada kesempatan yang berbahagia ini ijinkanlah aku membagikan sepatah dua patah kata sehubungan dengan nama Madgirl. Ehem ehem.

Turunan dari Madsick Street

 

               Alkisah, pada awal tahun 2000an (aku lupa tepatnya tahun berapa dan lagi males ngecek), Ibing mendirikan cloth line namanya Madsick Street. Waktu itu the business went so good soalnya belum banyak distro dan cloth line kaya sekarang. Semua produknya selalu sold out. 


               Di ujung lain bumi, aku waktu itu masih SMP dan ingusan, tapi punya cita-cita pengen punya cloth line juga. Cita-cita itu aku pendem aja sampai pada tahun 2012 aku kenal sama Ibing trus aku curhat-curhat doong, soal cita-citaku itu. Sebenernya itu entah kebetulan atau memang takdir kok aku curhatnya sama Ibing, soalnya sebelum kenal Ibing aku juga sempet pacaran sama orang yang jualan merchandise metal yang mereknya nggak perlu aku sebutin di sini soalnya mayan femes, ntar aku dikira ngaku-ngaku doang. Lol


               Singkat cerita, Ibing bilang “Kalau mau bikin cloth line bareng aja.” Eh, bukannya bikin cloth line beneran, kami malah pacaran. #yawlo -,-



               Tahun 2013 aku pindah ke Magelang dan kami masih tetep nggak pernah ngebahas soal cloth line. Hahaha. Sampai kemudian pada tahun 2014 aku bilang sama Ibing “Bikin dong, Madsick yang versi cewek.” Waktu itu aku terinspirasi sama Rumble yang bikin Rumble Girl. Nhaaa, dari situ lah aku menemukan ide brilian. “Namanya Madgirl aja.” 


Everything went Mad

               Kami lalu jadi seneng banget sama kata Mad yang membuat segala sesuatu kami kasih nama depan Mad. Hahaha. Lihat aja ada Madventura, Madmonkey, dan Madbelbie. 


               Segala sesuatu yang dinamai mad ini bener-bener buat kesenangan kami. Bisa dibilang idealisme lah. Kalau buat yang komersil, kami kasih nama lain. Misal Ibing dengan Leopard dan Dewa Rusa, dan aku dengan Bantal Emesh dan Tryle. Nama-nama yang bisa dengan mudah diterima orang tanpa menimbulkan keheranan. 


Madgirl sebagai Identitas


               Karena sering pakai kata ‘mad’ di mana-mana, madgirl malah menjadi semacam identitasku pribadi. Secara sebelum ini aku malah semacam nggak niat gitu bikin kaosnya. Bikin cuma buat dipakai sendiri (woiii -_-). Tapi nama Madgirl selalu kupakai di mana-mana, termasuk nama blog ini juga. Jadilah dia identitas. Aku emang pengennya kalau ada kata madgirl, orang akan otomatis teringat pada Isthar Pelle. 

Logo


               Logo Madgirl ini Ibing yang bikin sesuai requestku. Logo ini aku kasih nama Dionade. Kepanjangannya diamond grenade. Wkwkwk. Maksa kan, kan, kan? Biarin! 

               Filosofinyaaaa. Nggak ada sih. Cuma yah, diamond itu berlian, grenade itu granat. Jadi granat berlian. *hoiiiii -,-

               Aku suka aja sama berlian karena … berlian itu mahal. :v

               Nggak deng. Ya karena dia itu keras, trus mengalami proses yang aduhai sekali yang pasti kalian semua udah pada ngerti. Basi lah, nggak usah dibahas juga. Zzzz.

               Trus soal grenade itu sebenernya itu bukan grenade, lebih ke bom sih. Bom yang pakai sumbu gitu apa namanya yah? Petasan? Ya pokoknya itu lah. Yang perlahan tapi pasti terbakar dan akan tiba saatnya meledakkan berlian itu.



               Jadi maksudnya apa sih? Maksudnya, berlian itu mewakili kebanggaan akan harta yang fana, yang akan meledak dan lenyap tak berbekas pada akhirnya. Begitu. Udah mantap belum cocokloginya? :D #timpuksayasekarang

Arti di Baliknya


               Nah, sekarang balik ke pokok permasalahan kaya yang aku ungkapin di awal postingan ini. Kenapa sih namanya Madgirl? Kok lu mau banget sih, dicap gila? 

               Khusus untuk pertanyaan satu itu, aku malah punya jawaban nyeleneh gini: jaman sekarang banyak orang gila mengaku waras. Ada berapa banyak yang berani mengakui kegilaannya? Mungkin aku jadi satu dari sedikit yang berani. Iya, aku gila. Apa yang salah dengan itu? Makanya Madgirl itu punya tagline apa coba? Proud to be Mad! Aku gila dan aku bangga. Hahahah.



               Tapi sebenernya, maksudnya sama sekali nggak ke situ. Mad di sini bukan gila yang gila. Okelah, gila. Tapi gila in the positive way (is that even possible?). 

               Maksudnya, kami berani jadi beda. Berani melawan arus dan nggak selalu follow the crowd. Berani stand out dengan apa adanya kami. Dengan segala kekurangan, dan tetap happy dengan itu. 



               Dan yahh, seperti yang selalu terjadi di belahan bumi manapun. Setiap orang yang berbeda, ide-idenya nyeleneh, nggak selalu ngikutin arus, dan melakukan hal-hal yang totally nggak kepikiran sama orang lain selalu disebut gila. Selalu. 

               Misalnya orang yang jaman dulu itu kekeuh banget pengen nemuin bohlam lampu. Disebut gila. Orang yang nawarin resep ayam goreng dan ditolak ribuan kali tapi nggak nyerah, disebut gila. Ada orang kepengen bisa terbang, disebut gila. Ada pejabat yang nekat jujur, bersih, melayani, dan anti korupsi, disebut gila. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

               Spirit semacam itu yang kami ambil. Kaya quote yang kami amini banget itu. “No great genius ever existed without some touch of madness.” 



               Kerja keras, apalagi yang absurd buat ngejar passion, biasanya memang menyebabkan kesan gila. Penelitian-penelitian baru, sebelum orang tahu apa manfaatnya, dibilang gila. Penemuan-penemuan baru, disebut gila. Kok jadi inget kisah mbah Sadiman yang nanam hutan sendirian sampai ratusan hektar. Dia sampai dapet gelar besar buat usahanya itu: EDAN. 



               If you wanna do something different, something great, you need to be a little bit mad, really. Kalau yang kamu lakuin itu standar-dtandar aja kaya orang ‘waras’ kebanyakan, ya jangan expect kalau bakal mencetak sejarah. Jadi madness semacam itulah yang kami maksud. Mad in the positive way (so it is possible now, eh?), mad yang bikin kamu jadi proud. Bukan gila yang hilang kesadaran sampai kalem aja jalan-jalan tanpa celana. Dan to be honest, I won’t judge those crazy people who wandering around streets. Mereka gila dan bahagia dalam kegilaannya itu kok. Sungguh, apa yang salah dengan itu? 

Campaign


               Mungkin kalian belum tahu karena aku nggak melakukan campaign ini secara massif dan terstruktur, apalagi sampai pakai jasa buzzer segala (dear, influencer. Maukah kalian buzzing my campaign for free? Hahah). 

               Jadi Madgirl itu punya campaign. Selain yang Proud to be Mad yah, aku punya campain Proud to be Brown. Ini buat cewek-cewek (khususnya Indonesia) yang punya kulit coklat sawo busuk kaya aku yang lantas minder sama cewek lain yang putih-putih. Yah, kan kita tahu sendiri. Standar cantik orang Indonesia itu harus putih. 



               Aku sendiri menerima bully-an perihal kulit itemku ini dari kecil. Bully-an itu datang terutama dari orang-orang terdekat: keluargaku sendiri. Tanteku yang anaknya kebetulan putih selalu mengejek karena aku item. Ibuku sendiri malu punya anak item karena beliau kulitnya kuning bersih. Padahal aku mewarisi kulit item ini dari suaminya sendiri, bapakku itu. Hahaha. 

               Waktu jaman remaja dulu aku sempet sih, merasa down. Merasa jelek di antara temen-temenku yang cantik-cantik banget dan putih. Merasa buruk rupa, dst. Tapi makin lama aku malah suka. 

               Waktu itu aku suka banget olahraga. Renang dan basket outdoor yang membuat kulitku makin kelihatan gelap. Tapi apa itu membuatku jadi nggak disukai cowok-cowok? Ternyata enggak. Yang naksir juga banyak. *penting??*




               Trus makin dewasa, lingkungan pergaulanku makin luas, aku makin menghargai kulitku sendiri. Betapa bule-bule berkulit pucat itu sangat iri dengan warna kulit kaya gini. Kelihatan sehat banget dan punya glownya sendiri. 

               Dulu aku pernah foto-foto sama cewek-cewek putih, dan anehnya, aku bukannya tenggelam karena kelihatan paling kusam, tapi malah kelihatan paling stand out dan warna kulitku kelihatan baguuuus banget. 



               Tentu saja dengan begitu bukan berarti aku nggak merawat kulit. Aku merawat kulit lah tetep. Luluran, pakai body scrub, dll. Tapi tujuannya bukan biar putih. Biar bersih aja dan kelihatan glowing sehat. Efeknya kelihatan banget. At least meskipun item, warna kulitku rata seluruh badan. Sama semua warnanya kaya gitu. Yang beda cuma muka yang kadang keliahatan lebih cerah, kadang kelihatan lebih kusem, tergantung aku berapa lama panas-panasan di bawah matahari. Hahaha. 



               Mungkin gara-gara aku pede, aura kecantikan kulitku jadi memancar dan orang berangsur-angsur nggak melabeli ‘item’ lagi, tapi eksotis. #uhuk Bahkan beberapa kali dikomen “Mbak Pelle itu rajin berjemur ya, kulitnya coklat rata banget.” Bukan berjemur sih, panasan lebih tepatnya. Lol. 

               So yeah, buat kalian yang punya kulit coklat kaya aku, jangan minder. Nggak perlu bersedih apalagi kalau cuma gara-gara iklan produk pemutih. Kulit coklat itu juga cantik, kulit item pun juga cantik. Bahkan albino pun cantik. Yang bikin cantik itu ya diri kita sendiri. Penerimaan kita sendiri. I’m proud to be brown. Are you? 

               Udah ah, itu dulu aja. Perasaan tadi niatnya mau nulis banyak deh soal fakta-fakta tentang Madgirl ini, tapi aku lupa. Besok-besok sambung lagi. Zzzz. Udah sih, intinya #BeliKaosSaya. :p
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Image source: Not your ordinary gift

               Kalau lagi nonton MMA di tivi gitu, aku suka komentar jauuuuh lebih heboh daripada komentatornya. 

               “Harusnya dikunci aja dulu yang kuat, ya Bing.”
               “Yahh, kurang pas tendangannya.”
               “Coba pas kena rahang, pasti langsung pingsan.”
               “Kayaknya bakalan menang yang biru deh. Walau badannya kecil tapi otot semua.”
               “Kayaknya yang merah nggak bakal menang kalau caranya agresif gitu. Yang biru lebih tenang dan terukur.”

               Daaan sebagainya. Enteng aja gitu komentar panjang lebar kaya ahli. Padahal aku ngerti soal MMA? Enggak. Praktik bela diri dalam keseharian? Blas. 

               Komentar sok tahu itu emang gampang kok. Nggak perlu jadi ahli, nggak perlu bekal ilmu pengetahuan. Ngemeng aja sekenanya. Namanya juga sok tahu. Kalau tahu beneran biasanya malah nggak bakal kebanyakan omong, tapi mengamati dulu, karena bener-bener paham. Orang kaya aku cenderung enteng mengomentari segala sesuatu justru karena aku nggak tahu apa-apa. Celakanya, dengan berkomentar sok tahu, aku sudah merasa pintar. 

               Kalau dalam hal ngomentar pertandingan di tipi sih oke-oke aja. Sesekali merasa sok pintar demi menghibur diri sendiri itu boleh. Hahaha. Ya maklum, di realita level kecerdasanku kalah sama lumba-lumba. Toh komentar sok tahuku nggak ada efeknya ke pertandingan. Yang main ya biasa-biasa aja. Fighter yang kukatain nggak bakalan menang ternyata malah bisa menang dengan keagresifannya yang melumpuhkan. Dari situ aku tahu kalau masing-masing fighter memang punya cara sendiri untuk meraih kemenangan. Ada yang agresif, ada yang terukur dan menang dengan sekali tendangan telak, ada yang mengulur waktu untuk membuat lawannya kelelahan, dll. 

               Sejak aku tahu itu, apa coba? Aku nggak berani ngomentar sotoy lagi. Bahkan kalau ditanya Ibing “Menurut Kecil, ini bakal menang yang mana?” aku jawab dengan “Nggak tahu. Lihat aja nanti.” Karena broooo, aku nggak tahu pasti. Yang badannya kelihatan bagus belum tentu staminanya bagus. Yang kelihatannya lemah ternyata malah gesit banget, dll. Itu padahal kalau aku ngomentar sok tahu juga nggak ada pengaruhnya lohh ke fighter-fighternya. Lha gimana dengan dunia nyata? Komentar-komentar sotoy yang mungkin berdampak ke orang yang dikomentari?

Sotoy dan Saran-saran Gratisan


               Dulu, aku juga enteng banget, boy, kalau ngomen sotoy ke orang yang aku kenal. Merasa paling paham masalah kehidupan, aku berani banget sok ngasih saran ini itu. 

               “Halah, aku juga pernah kaya gitu. Gini gini gini, aja.”
               “Temenku pernah ada yang jauh lebih parah dari kamu. Mbok nggak usah lemah!”
               “Kamu tuh nggak cocok jadi penyanyi. Cocoknya jadi upik abu aja,” dll. 

               Banyak banget saran sok tahu yang kulemparkan ke orang. Mungkin iya, aku pernah mengalami masalah serupa. Mungkin iya, banyak orang di luar sana yang pernah mengalami masalah lebih gawat. Tapi waktu itu aku belum paham kalau masing-masing orang itu fight their own fight. 

               Masalah ortu cerai yang kualami nggak mungkin sama dengan yang temenku alami. Masalah ditinggal pacar nikah, juga mungkin menghantam perasaannya beda lagi. Kalau aku dikasih mental kuat untuk menghadapi itu, aku harusnya bersyukur. Bukannya sombong dan trus menganggap temen yang nangis mewek putus asa itu lemah. Yang dirasain orang-orang itu beda-beda, oke? Kita nggak pernah tahu apa yang dia rasakan di dalam hatinya. Makanya aku berusaha keraaas buat nggak sok tahu lagi. 

               Tentu saja hasrat sok tahu itu masih ada. Namanya juga orang nggak pinter. Pasti hawanya pengen kelihatan pinter. Kalau ada temen posting masalah di media sosial, duuuuh, pengen banget ngasih saran rasanya. Kan aku pernah mengalami yang lebih berat dari itu. Pasti saranku brilian luar biasa dan applicable nggak peduli kondisi dia gimana, ya kan ya kan ya kan? Ada pikiran-pikiran semacam itu. Tapi lalu ada Haf yang mengingatkan. 

               “Ingaaat, Pelle. Kamu nggak tahu seujung kuku pun masalah dia, latar belakang, dan kondisi saat ini gimana. Nggak usah sok tahu!” di situ aku mengaktifkan rem darurat. Kalau postingannya sedih dan aku pengen menunjukkan simpati, paling aku kasih reaksi sedih atau paling banter kirim pesen bilang “Sabar yaa,” trus kasih tanda bintang peluk. Udah, gitu aja, nggak akan komen “Kamu harusnya gini, kamu harusnya gitu.” 

               Kalau pun cerita “Dulu aku pernah gini juga,” atau “Temanku dulu pernah mengalami kaya gitu juga,” itu paling cuma buat berbagi cerita aja, biar dia nggak merasa sendirian. Bukan buat menghakimi “Kamu lemah deh, kaya kami doong, kuat.” Bukaaaan.

               Soal rem mengerem ini memang nggak gampang. Wong udah sadar aja masih sering kelepasan. Apalagi kalau nggak sadar blas. Hiks hiks hiks. Aku kadang ngeri kalau ada yang posting masalah trus banyak yang dengan entengnya ngasih saran dan nasihat menurut pandangannya sendiri. Udah gitu bukannya karena simpati, tapi karena pengen menunjukkan kalau diri sendiri lebih baik aja. T__T

               Aku sendiri pernah menerima komentar sok tahu nggak? Ha ya seriiing. Komentar-komentar dan saran-saran yang bikin angkat alis. Gemesnya, saran-saran dan komentar itu bahkan berdatangan sendiri tanpa diminta. Tanpa aku nanya-nanya. 

Jadi aku hidup biasa-biasa aja gitu, tenang dan damai, trus tiba-tiba ada orang yang menilai kehidupanku nggak bahagia trus ngasih saran aku harus begini harus begitu. Kan mumet. Kalau aku nggak lakuin saran-saran gratisan itu karena aku nggak suka dan bahkan nggak sesuai sama apa-apaku, aku dibilang suka cari alasan. 

               “Ya nggak bakalan sukses kalau kamu kaya gitu terus,” katanya. Lhaaa, kamu siapa sih? Bidadari kesleo? Emang kamu tahu cita-citaku apa? Emang kamu tahu standar sukses buatku itu gimana? Emangnya bahkan tahu apa yang aku mau? Yaelaah,  tuh, kangkung di gigi bersihin dulu! *emot nyengir sambil keringet netes di dahi

Gemar Bicara Tak Gemar Mendengarkan

 

               Setelah mengamati perilaku norakku sendiri, aku akhirnya menyimpulkan kalau aku itu orangnya gemar bicara tapi tak gemar mendengarkan. Nyimak enggak, udah nyerocos aja ngasih komentar panjang lebar, saran yang menurutku baik dan benar. #sigh

               Semakin bertambahnya usia, aku paham. Orang yang menceritakan masalahnya itu kadang nggak minta saran kok. Nggak selalu butuh nasihat. Kadang cuma pengen didengarkan aja. Pengen berbagi. Istilah bahasa Jawanya itu ‘sambat’. Karena dengan demikian, beban di hatinya akan berkurang. Sesederhana itu, bosque. 

               Logika aja sih, kalau udah ada orang yang cukup mendengarkan, dia nggak akan posting ke sosmed. Dia sampai posting di sosmed itu ya karena dia butuh lebih banyak ‘telinga’ untuk ‘mendengarkan’. Butuh sambat. Dan plis, itu manusiawi. Jadi jangan dianggap lemah. 

               Well, beklah. Aku juga pernah ngasih saran buat jangan posting massalah di sosmed. Tapi itu sebatas saran, bukan berarti aku benci sama mereka yang curhat di sosmed loh. Aku ngerti banget lah, kebutuhan curhat itu sebesar apa dan kaya gimana rasanya. Kenapa kok aku ngasih saran begitu? Karena yhaa, sosmed isinya kebanyakan orang yang gemar komentar tak gemar menyimak postingan. Wkwkwk. Apalagi curhatnya panjang. Duh, skip, langsung komen ajah biar cepet. Dan akhirnya komentarnya nggak nyambung. Nggak on point. 

               Curhat sekali-sekali buat melegakan perasaan itu silakan. Tapi harus sadar risikonya. Bukannya lega, bisa jadi malah tambah dongkol karena banyak komentar sok tahu yang nggak nyambung sama point yang kamu maksud. Atau tambah sedih karena malah dihakimi. Hahaha. 

               Eh, aku bilang sekali-sekali lho ya. Bukannya curhat setiap saat setiap waktu. Kalau terus-terusan kaya gitu malah melas di kamunya, sis.  Mungkin kamu memang butuh bantuan profesional, dan bukan hanya curhat di medsos.

               Duh, maap, aku malah mbleber ke mana-mana. Intinya, sebagai seorang curhaters, aku berusaha mengurangi kadar curhatku. Kalau bisa sih malah jangan sampai ada orang yang tahu masalahku apa. Soalnya males sih, banyak yang kepo cuma biar bisa ngetawain doang. Kan jahat. 

               Kedua, sebagai nyimakers, aku berusaha untuk mengaktifkan rem darurat di saat-saat memang dibutuhkan. Nggak akan ngasih saran kecuali diminta. Kalau ada yang curhat, kudengerin aja dengan baik tanpa kebanyakan sok tahu. Apalagi kalau curhatnya cuma curhat lewat di timeline tanpa bener-bener bermaksud curhat ke aku. Kalau aku nggak suka dan nggak bisa mengatakan hal yang manis-manis buat menghibur, yaudah skip aja. Nggak harus berkomentar sok tahu soal masalah yang tengah ia hadapi. Kecuali dia memang minta saran secara personal. Itu juga aku hati-hati banget, bosque. Sungguh, ada tanggung jawab yang besar dari keberanian memberi saran. Apalagi kalau dasarnya cuma sok-sokan. *tobat
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

               Jujur aja ya, aku itu sebenarnya anaknya insecure, minderan, dan hobi membanding-bandingkan diri sendiri sama orang lain. Terutama sama mbak-mbak cerdas cemerlang yang pengetahuannya luar biasa dan hidupnya bermanfaat. He’em, aku nggak pernah iri sama cewek cantik atau cewek kaya, aku mindernya sama cewek pinter. T__T

               Nggak sehat banget lah buat jiwaku, aku tahu itu. Soalnya aku jadi merasa makin kecil, makin nggak ada apa-apanya, makin merasa nggak berguna, makin menyadari kalau hanya serpihan kecil remah ceriping singkong, dan seterusnya. 

               Kalau baca status teman yang bermanfaat dan luar biasa menginspirasi, aku langsung minder melihat postinganku sendiri yang isinya cuma guyon-guyon nggak lucu. 

               Baca postingan temen yang isinya syer-syeran tulisan dia di media-media yang disegani, makin minder. Apalagi setelah melihat isi blog pribadinya braaaaad banget. Jangankan blog pribadi. Status fesbuknya aja brad, berisi, berkualitas, cerdas, bernas, dll. Dia cuma mau masukin tulisan berbobot lah pasti kalau buat blog. Nha aku? Udah susah payah mengerahkan konsentrasi seharian aja postingan blognya tetep yha gitu deh. *nangis menjerit

               Sekarang setelah menyadari itu ya aku berusaha memperbaiki diri lah pastinya. Bukan dengan berusaha menjadi seperti mereka, karena itu sama saja aku menolak untuk menerima diri sendiri apa adanya dan malah berusaha menjalani hidup sebagai orang lain. Aku memperbaiki diriku dengan cara nggak membanding-bandingkan diri sendiri sama siapapun lagi. Karena kalau terus dibandingkan nggak ada habisnya, sis. Selalu ada yang jauh lebih baik daripada kita, yang lebih hebat, dst. Kalau dibandingkan terus, kapan bahagianya?

               Kemarin aku ada obrolan menarik sama mbak Agnes Dara. Bahwa tiap orang itu punya perannya masing-masing. Ada yang jadi magnet cinta kaya Mbak Agnes, ada yang (mengutip kata mbak Agnes) aneh bin ajaib kaya aku. 

               Aku trus mikir bener juga sih. Orang yang hebat banget pinter cerdas cemerlang luar biasa juga belum tentu bisa dapetin ide segila aku. Yah, maksudku, kegilaan memang bukan sesuatu yang umumnya dibanggakan sama orang, tapi tetep aja kan? 

               Bangsa sebelah merasa minder sama bangsa kita karena merasa kalah kreatif lohh, tau nggak? Produk-produk kreatif macam lagu dan hiburan lain aja mereka harus impor. Mungkin mereka cerdas, iya. Pintar, iya. Berpendidikan, iya. Tapi kurang kreatif dan itu ternyata menyedihkan. 

               Aku diberkahi alam semesta dengan ide-ide baru setiap hari. Masa aku nggak bersyukur dan malah galau memikirkan hal-hal yang aku nggak miliki? 

               Membaca orang lain untuk menjadi terinspirasi itu bagus, melihat prestasi orang lain untuk memacu semangat sendiri juga bagus. Tapi membandingkan hanya untuk sedih-sedih dan merasa kekurangan, itu salah. Sangat salah.

Menyadari Kekurangan dan Potensi Diri

               Sebelumnya, aku tipe anak yang mudah sekali menemukan berbagai kekuranganku. Aku pemalas, kurang fokus, gampang bosan, pelupa, dll. Banyak banget. kalau disuruh menyebutkan daftar kekurangan dalam semenit, aku mungkin bisa langsung menuliskannya dalam 1000 kata (oke, ini lebay). 

               Kelebihannya? Nggak. Aku nggak bisa menyebutkan kelebihanku. Lebih tepatnya, nggak berani menyebutkan kelebihan yang aku punya. Bahkan kalau ada orang yang memujiku dan menyatakan kelebihanku, reaksi pertamaku adalah menyangkal. Meskipun di luar aku bilang “Terima kasih,” tapi dalam hati aku menyangkal. 

               Tentu saja ini ada sebabnya. Aku lahir dan tumbuh besar di lingkungan yang lebih gampang menjatuhkan daripada mendorong potensi. Aku juga dulunya dikelilingi teman-teman ‘racun’ yang selalu menemukan kejelakanku dan bukannya kelebihanku. Jadi waktu itu, sekalipun aku sadar aku punya kelebihan tertentu, aku nggak berani mengakui. Dan oh, sedihnya, yang seperti itu ternyata tercetak di alam bawah sadar. 

               Sekarang setelah sadar, susah payah aku bangun kembali rasa percaya diriku. Maksudnya, tahu diri itu perlu seperti misalnya aku sadar kalau aku nggak punya bakat menggambar, maka aku nggak akan maksa untuk menjadi tukang gambar. 

               Tapi ada kelebihan-kelebihan yang memang harus diterima, misalnya ide-ide baru yang nggak tiap orang punya. Ide aneh, unik, dan lain daripada yang lain, bakat untuk menemukan kelucuan di manapun dan dalam situasi seperti apapun, dll. Itu harus aku terima, dan bukannya disangkal. Lha kelebihannya ya cuma itu itu kok, masa masih mau disangkal juga?

Tiga Langkah Hidup Bahagia

Menyadari dan Menerima Kekurangan Diri

               Ini penting. Bukan biar kita minder, tapi lebih biar kita tahu diri. Kalau udah tahu diri dan sadar akan kekurangan, kita bisa memperbaikinya. Misalnya, aku sadar banget kalau salah satu kekuranganku itu nggak fokus, gampang banget teralihkan perhatiannya. Aku mengakalinya dengan cara membuat to do list. Goalku apa? Langkah-langkah apa yang harus kulakukan untuk meraihnya? Dan itu dikerjain satu-satu sesuai urutan. Dan itu sukses membantuku fokus.
 
               Kekurangaku yang lain itu pelupa. Maka aku menulis reminder di mana-mana. Di tembok, di atas kasur, di hape, di buku catatan, dll. Dan itu lumayan membantu meskipun kadang aku harus menulis reminder tentang reminderku sendiri. -_-

               See? Dengan menyadari kekurangan kita, kita jadi bisa menemukan solusi untuk memperbaikinya.

Menyadari dan Menerima Kelebihan Diri

               Ini nggak kalah pentingnya. Dan aku yakin, bukan aku saja yang tadinya nggak berani mengakui kelebihan diri sendiri. Aku tahu alasannya klise lah. Takut dibilang sombong, dibilang ngebrag, dll. 

               Hey, maksudnya mengakui di sini itu mengakui ke diri sendiri. Tahu, sadar, oh, aku punya kekebihan ini ini ini. Aku bagus kalau mengerjakan ini, dll. Bukannya diumbar ke orang-orang, eh aku cantik lohh, aku cerdas berwawasan lohh, dan semacamnya. Itu sih namanya songong (meskipun dalam porsi yang pas dalam rangka meningkatkan kepercayaan diri, songong itu boleh. Hahaha). 

               Kalau menyadari kekurangan penting buat memperbaikinya, menyadari kelebihan penting buat meningkatkannya. Orang yang nggak tahu potensinya di mana akan cenderung hilang arah. Nggak tahu hidup harus ngapain. Mencari-cari, meraba-raba, atau lebih parahnya asal nabrak. Ngerjain gitu aja apa yang disodorkan di depan muka tanpa menyadari beneran bisa apa enggak. Memangnya kenapa kok masih banyak orang yang masih stress sama kerjaannnya? Hayooo, think again!

               Aku dulu juga sudah melewati fase nabrak-nabrak itu. Ngerjain apapun itu yang bisa dikerjain. Motivasinya lebih karena butuh uang aja sih buat makan. Hahaha. Makanya nggak heran kalau pas kerja dulu aku stress. Soalnya bukan hanya aku nggak punya potensi di situ, akunya juga nggak suka. That’s not my thing. 

               Mengenali potensi juga bisa jadi tricky buat orang yang tertarik ke banyak hal kaya aku. Jadi memerlukan pemikiran yang lebih dalam lagi. Aku suka nulis? Suka. Bagus nggak? Belum. Solusinya? Latihan terus. 

               Aku suka nyanyi? Suka bangeeet. Bagus nggak? Belum. Solusinya? Latihan terus. 

               Aku suka dagang? Suka. Bisa nggak? Bisa. Bagus nggak kemampuan dagangnya? Bisa dibilang hebat banget selama produknya aku suka. Pengalaman udah dari kecil ikut ibu jualan baju, sering jualan apa saja mulai snack sampai aksesoris sejak SD. 

               Dari ketiga hal yang menarik minatku itu, mana yang harusnya aku fokuskan sebagai pilihan karir? Yes, dagang. Kenapa? Karena di situ aku paling bagus dibanding dua bidang lainnya. Aku mungkin bisa nulis, bisa nyanyi, tapi kalau mau berkarir di situ butuh waktu karena aku nggak sebagus itu. Masih butuh banyak latihan dan kerja keras lagi.

Berhenti Membandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain

               Sampai sini aku udah tahu kekuranganku apa, kelebihanku apa, dan potensiku paling bagus di mana. Jadi, daripada sibuk membandingkan diri sendiri sama orang yang emang udah sukses jadi penulis, misalnya, aku mending fokus mengerjakan ‘my thing’. Nggak usah sibuk mikirin prestasi orang lain “Duh, dia udah sampai sana sana sana, udah nulis di mana-mana, udah diundang ke mana-mana,” dan lain-lain. Toh yang tulisannya bagus belum tentu bisa kalau disuruh jualan. Beneran ini. 

               Aku nggak perlu membandingkan diriku sama orang yang sering menang lomba blog karena jago bikin infografis. Sadar kalau gambar dan desain itu bukan ‘my thing’. Jadi memang tidak untuk diperbandingkan. Ya bagaimana mau dibandingin wong urusannya aja udah beda kok. Itu kan jadi kaya membandingkan kualitas sayur-sayuran sama fitur smartphone. Nggak nyambung. 

               Sadar, menerima diri sendiri, berhenti membandingkan. Nyari inspirasi boleh, membandingkan jangan. Sekarang aku nggak perlu malu lagi mengakui kelebihanku meski kelihatannya nggak se-cool bakat orang-orang. 

               Dulu kalau lagi kehilangan motivasi, aku akan stalking akun orang-orang hebat dan membanding-bandingkan mereka dengan diri sendiri, trus merasa makin terpuruk. Sekarang kalaupun stalking akun mereka, aku serap inspirasinya saja, trus ngaca sambil bilang “Girl, you're rock!”
Share
Tweet
Pin
Share
6 komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit conseat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amei.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Juni 2019 (2)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (15)
  • Februari 2018 (1)
  • Januari 2018 (1)
  • Oktober 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (2)
  • Juni 2017 (3)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (2)
  • Maret 2017 (8)
  • Februari 2017 (10)
  • Januari 2017 (3)
  • Desember 2016 (6)
  • Oktober 2016 (4)
  • September 2016 (6)
  • Agustus 2016 (5)
  • Juli 2016 (3)
  • Juni 2016 (8)
  • April 2016 (1)
  • Maret 2016 (6)
  • Oktober 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • Kesumat Sang Raja Jerawat
  • Ngeblog seaktif Facebook-an. Gimana sih caranya?
  • Mengukur Kualitas Diri Tidak dengan Membandingkan
  • PESAN MORAL LOMBA-LOMBA AGUSTUSAN
  • PENTINGNYA MEMPERHATIKAN LINGKUNGAN PERGAULAN ANAK

Yang Nulis

Isthar Pelle
Lihat profil lengkapku

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates